
Alisa terpaku membisu, diam dan tidak bisa berkata apapun. Ia terlalu kaget saat mendengar ucapan Reyhan barusan. Dengan memaksakan diri, Alisa memutar kepalanya untuk menatap Reyhan yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.
" Apa aku masih membuat jantungmu berdebar seperti dulu ? " Tanya Alisa.
" Ya, kau membuatku merasakan hal itu, Alisa " Akui Reyhan. Mereka saling bertatapan untuk beberapa detik berlalu. Reyhan kehilangan kendali atas dirinya.
Alisa tersenyum kecut, menertawai keadaan mereka yang begitu menyedihkan. Pria yang sudah bertunangan dengan wanita lain, masih berdebar untuknya. Dan ia yang sedang berusaha melupakan pria itu pun masih juga berdebar ketika menatap wajah yang terlalu banyak mengisi hari-harinya dulu.
" Sayangnya kau sudah bertunangan Rey. Dan aku sedang berusaha melupakanmu "
Wajah Reyhan seketika langsung berubah, pria itu tampaknya baru menyadari apa yang baru saja terjadi diantara mereka berdua.
" Kau boleh keluar, jangan dipikirkan perkataanku barusan. Mungkin karena aku sedang merasa marah pada Juliet, jadinya aku mengatakan hal yang tidak-tidak "
" Hm, kurasa karena itu kau mengatakan hal yang tidak berguna. Aku keluar " Setelah mengucapkan hal itu, Alisa langsung berbalik dan melangkah pergi dari ruangan Reyhan. Meninggalkan Reyhan yang hanya bisa menatap kepergian wanita yang pernah mengisi hatinya. Dulu....
Dia hanya masa lalumu Rey, dia tidak akan pernah kembali padamu lagi karena kau telah meninggalkannya lima tahun yang lalu. Kaulah orang yang memutuskan pertunangan itu, bukan Alisa.
Reyhan menghela nafas dalam-dalam, mencoba menetralkan semua rasa sesak di dalam dadanya. Ia tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba merasa sesak seperti ini.
" Sial sekali ! " Umpat Reyhan sembari memukul meja kerjanya.
Alisa keluar dengan langkah cepat, menatap lurus kedepan. Tak lama ia tersenyum pedih, kata-kata Reyhan barusan membuatnya ingin berteriak histeris di dalam kantor ini. Andai ia tidak punya urat malu, Alisa mungkin sudah lama melakukannya.
" Aku memang harus melupakanmu Rey, kalau tidak. Maka aku malah akan menjadi wanita penghancur hubungan orang lain. " Gumam Alisa.
" Al, kau mau kemana ? "
Alisa menghentikan langkahnya lalu kemudian menoleh kebelakang.
" Nathan ! " Pekik Alisa dengan begitu semangat. Inilah orang yang dicarinya tadi pagi. Saking bersemangatnya, ia bahkan sampai lupa jika dirinya sudah memekik nyaring hanya untuk memanggil nama pria itu. Padahal jarak mereka tidaklah begitu jauh.
" Kenapa kau terlihat senang sekali melihatku ? Apa kau mulai ada feeling denganku hm ? " Nathan tersenyum geli.
" Tidak. Aku hanya merasa ingin memukulmu Nat" Canda Alisa. Pria itu terkekeh. Ia melangkah mendekati Alisa sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
" Bagaimana jika siang nanti kita makan siang bersama ? Apa kau mau, Al ? "
Seketika Alisa langsung melebarkan kedua matanya dengan hebat.
" Kau sedang ingin mentraktirku ? "
Nathan mengangguk pelan sembari tersenyum.
" Aku mau kalau begitu. Aku akan menunggumu "
" Baiklah. Kau harus menungguku Al, awas bila kau ingkar janji " Ancam Nathan sembari menyipitkan kedua matanya.
" Tidak akan ingkar janji. Aku selalu suka bila diajak makan apalagi ditraktir " Seru Alisa.
Nathan langsung tergelak.
" Kalau begitu berikan nomor ponselmu padaku, Al agar aku bisa menghubungimu "
Alisa langsung memberikan nomor ponselnya pada Nathan. Setelah bertukar nomor ponsel, Nathan kembali menatapnya lamat-lamat, seperti ada sesuatu yang sedang pria itu pikirkan saat ini.
" Kau cantik " Puji Nathan. Suaranya yang berat namun dalam membuat kata pujian itu benar-benar terasa sangat keren diucapkan oleh pria itu. Namun sayang nya, Alisa tidak merasakan debaran sama sekali di jantungnya. Ia merasa jantungnya berdetak normal seperti biasa.
Kenapa kau tidak berdetak ? Kenapa kau malah berdetak normal begini jantung ! Padahal kan ada seorang pria yang baru saja memujiku cantik
Raung Alisa dalam hati.
" Bisa kau ulangi sekali lagi, Nat ? " Ujar Alisa dengan pelan.
Nathan langsung mengerutkan dahinya dalam-dalam. Ia menatap Alisa dengan geli. Wanita di depannya ini selalu membuatnya tercengang dengan tingkahnya yang absurd. Meski Nathan merasa lucu, ia tetap mengulanginya sesuai dengan permintaan Alisa.
" Kau cantik. Kau....cantik " Nathan bahkan mengulang dua suku kata itu dengan perlahan.
Tidak berdetak sama sekali ! Aaakhh !
Teriak Alisa didalam hatinya. Sungguh ironis keadaannya sekarang ini. Ia bahkan tidak berdebar sama sekali ketika ada pria yang memuji parasnya.
__ADS_1
" Terima kasih atas pujianmu, Nat " Balas Alisa dengan wajah lesu. Pundaknya perlahan bergerak turun.
" Hahaha ada apa dengan ekspresimu itu "
" Sudahlah, abaikan saja Nat. Aku sedang kecewa "
" Padahal aku sudah memujimu dua kali dan kau masih saja kecewa ? " Ujar Nathan terkejut.
" Aku pun bingung pada diriku sendiri, Nat. Apa kau punya solusinya ? " Alisa mengangkat wajahnya, menatap Nathan dengan kedua matanya yang penuh harap. Terkadang ia merasa begitu yakin akan bisa melupakan Reyhan, tapi terkadang ia juga merasa tidak begitu yakin akan bisa melupakan pria itu. Posisi hatinya saat ini sedang gawat. Ia butuh seseorang yang bisa membantunya menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang ia derita saat ini.
" Mungkin saja aku punya, tapi apa kau yakin ingin bercerita padaku ? Jika aku tahu masalahmu, aku mungkin bisa memberikan solusinya untukmu "
Alisa terdiam, wajahnya terlihat sedang mempertimbangkan ucapan Nathan. Ia sedang berpikir. Sebenarnya ia tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun kecuali ibunya. Tapi.....sekarang ia sedang mengalami kekhawatiran pada hatinya sendiri. Akhirnya Alisa mau memberitahukan sedikit saja inti permasalahannya kepada Nathan.
" Sebenarnya aku kesulitan untuk melupakan mantan" Ungkap Alisa dengan suara yang pelan. Ia tidak mau semua orang kantor mendengar kebodohannya ini.
" Dan apa mantanmu itu adalah.....Reyhan Wijaya" Sambung Nathan dengan kedua matanya yang menatap Alisa penuh selidik.
" Darimana kau bisa tahu ? "
Nathan terkekeh pelan, ia mengusap pelan puncak kepala Alisa dengan lembut.
" Karena aku seorang pria, Al. Aku tahu bagaimana perasaannya ketika melihatmu sedang bersamaku " Jelas Nathan. Alisa langsung kebingungan. Ia tidak bisa memahami dengan sempurna maksud perkataan Nathan padanya.
" Aku tidak mengerti. Bisa kau jelaskan lebih rinci lagi Nat ? "
" Sudahlah. Aku harus pergi menemui mantanmu dulu, baru setelah itu kita akan makan siang bersama. Dan aku akan memberikan solusinya padamu. Sekarang pergilah " Usir Nathan.
" Kau ini ! " Alisa memukul kesal bahu pria itu. Nathan hanya tertawa kecil. Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan Alisa yang masih bingung dan kesal dengannya.
Sudah kuduga bahwa Reyhan wijaya memang memiliki hubungan denganmu. Aku bisa merasakan kecemburuannya saat melihatmu asyik berbicara denganku di restoran waktu itu. Aku akan membantumu Al. Aku akan membuatmu melupakannya, dan aku akan merebutmu darinya....
Nathan tersenyum tipis. Ia terus melangkah maju menuju ruang kerja seorang Reyhan Wijaya. Pria yang akan menjadi rivalnya nanti. Nathan sudah tahu bahwa dirinya langsung menyukai Alisa sejak pertama kali ia melihat wanita itu berdesakan dengan penumpang lain di dalam bus waktu itu. Ia tahu bahwa hatinya sudah tertarik pada wanita manis yang tengah membawa amplop cokelat. Namun Nathan masih menunggu waktu yang tepat untuk mendekati wanita itu. Dan kini saatnya ia menunjukkan seberapa besar keinginannya untuk memiliki Alisa. Membuat wanita itu menjadi miliknya seorang.
To be continued....
__ADS_1
Happy reading, love you guys 😘