Mister Glow Up

Mister Glow Up
Chapter 23


__ADS_3

Selama di dalam perjalanan yang dilakukan Alisa hanyalah diam seribu bahasa. Ia bahkan hanya memandang lurus kedepan tanpa berniat untuk mengajak Reyhan berbicara. Sedangkan Reyhan, ia berulang kali melirik pada Alisa yang mirip persis seperti patung.


" Ehem....." Reyhan berdehem pelan.


" Kau ingin mengatakan sesuatu padaku ? " Tanya Alisa tiba-tiba. Seketika itu juga Reyhan langsung menarik tatapannya dari wajah Alisa. Ia berpura-pura sibuk menatap jalan raya di depannya


" Apa kau benar-benar marah padaku ? "


" Aku memang marah padamu, Rey. Aku tahu bahwa kita berdua dua orang yang saling mengenal. Tapi, tidakkah kau berpikir bahwa tindakanmu pagi ini bisa menimbulkan masalah ? " Kali ini nada suara Alisa terdengar sangat serius.


" Aku hanya ingin bertemu dengan ayahmu. Sudah lama kami tidak berjumpa. Hanya itu saja " Reyhan beralasan.


" Baiklah. Untuk kali ini kumaafkan, tapi tidak ada yang kedua kalinya. Kuharap kau bisa menjaga statusmu itu dengan baik. Aku tidak mau masalah datang kepadaku termasuk keluargaku " Tegas Alisa.


" Maaf Al "


Alisa terdiam sejenak, untuk beberapa detik yang singkat ia merasa bersedih. Menurutnya baru kali ini sejak pertemuan pertama mereka, Rey memanggilnya dengan nama sapaan akrabnya.


Tujuanmu adalah melupakannya Al. Tetap pada pendirianmu, ini hanyalah hal kecil dan kau harus bisa melewati semuanya ini sampai akhir.


" Tidak apa-apa Rey, sudah kumaafkan " Sahut Alisa.


Alisa selalu menggumamkan kalimat yang berisi kata-kata semangat untuk terus melupakan keberadaan pria yang saat ini sedang menyetir di sampingnya. Begitu mereka berdua sampai di kantor Lynn Wijaya, Alisa langsung membuka sabuk pengaman dengan cepat. Seolah-olah berada di dalam mobil Reyhan terlalu lama seperti sebuah kutukan baginya. Reyhan menunduk sedikit untuk melihat Alisa yang sudah lebih dulu keluar dari dalam mobil.


" Siapkan semua keperluan untuk rapat pagi ini " Ujar Rey dari dalam mobil.


" Baiklah. Akan aku siapkan. Ada lagi ? " Tanya Alisa. Reyhan hanya menatapnya lama dan tidak berkedip sama sekali.


" Apa ? " Tanya Alisa. Reyhan tersenyum kecil lalu hanya menggeleng.


" Tidak ada. Masuklah lebih dulu, tidak perlu menungguku " Ujar Reyhan pada akhirnya.


Merasa Reyhan tidak memerlukannya lagi, akhirnya Alisa pergi meninggalkan Reyhan lebih dulu. Ia masuk ke dalam ruangan kerja pria itu, mengambil infokus, perlengkapan untuk menulis, lembaran kertas penting untuk rapat pagi ini. Reyhan berjalan cepat menuju ruangan sekretarisnya.


" Mirna, apa file yang kuminta tadi malam, sudah kau siapkan ? " Tanya Reyhan begitu dia membuka pintu ruang kerja Mirna. Gadis itu sempat terkejut, lalu setelah itu ia buru-buru berdiri dan melangkah ke arah Reyhan.


" Sudah saya siapkan semua. Saya hanya tinggal perlu mengirimnya saja "


Reyhan mengangguk singkat.

__ADS_1


" Baiklah. Kirimkan sekarang juga, karena sebentar lagi kita akan melakukan rapat pagi ini " Reyhan berbalik, namun saat ia hendak melangkahkan kakinya, ia teringat akan sesuatu. Ia kembali berbalik dan menatap Mirna.


" Apa kau sudah menghubungi Pak Nathan ? " Tanya Reyhan.


" Sudah pak. Beliau sudah mengetahui bahwa rapat akan diadakan pagi ini "


" Kerja bagus, terima kasih " Setelah itu Reyhan langsung berbalik cepat dan pergi.


Alisa sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan rapat. Ia bergegas memasang infocus, meletakkan lembaran lembaran kertas itu pada setiap sisi meja berbentuk oval yang berukuran panjang. Ia kemudian berlari ke sisi yang lain, Alisa meletakkan semua perlengkapan tulis di atas podium kecil yang biasa digunakan Reyhan untuk menyampaikan perkembangan saham, inflasi dan lain sebagainya kepada semua rekan bisnisnya. Bagi Alisa bekerja satu kantor dengan sang mantan tidaklah mudah, namun ia sudah bertekad dan akan bersungguh-sungguh untuk melupakan mantannya tersebut. Sejak ia tahu bahwa Reyhan sudah bertunangan maka dari situlah tekadnya di mulai.


" Kau sudah disini rupanya " Mirna masuk tiba-tiba sembari menepuk pelan bahu Alisa. Wanita itu itu menoleh kaget lalu tersenyum.


" Ya, tadi aku pergi bersama bos besar " Akui Alisa dengan jujur.


" Kau pergi dengannya? Satu mobil bersama ? Apa kau tidak merasa ketakutan ? " Tanya Mirna tanpa jeda sedikitpun.


" Untuk apa takut dengannya ? Memangnya dia hantu "


" Kau tidak lihat hah, bos besar itu jauh lebih seram dari hantu " Mirna bergidik ngeri.


" Kau terlalu paranoid dengannya. Ya aku akui suaranya memang nyaring ketika ia sedang memberikan perintah. Tapi menurutku itu hal yang biasa terjadi Mir. Hampir semua atasan ketika memerintah selalu dengan suara yang nyaring "


" Mungkin temannya, atau adik laki-lakinya " Alisa mengambil tempat duduk tepat disamping Mirna.


" Kurasa bukan Al. Dia itu kan seorang model terkenal, pasti banyaklah pria-pria mapan dan tampan yang tertarik dengannya "


Alisa terdiam sejenak. Apa benar yang disampaikan oleh Mirna ? Mungkinkah Juliet selingkuh ? Kalau ternyata hal itu benar, maka Reyhan pasti akan merasa tersakiti. Dan ia merasa sedikit kasihan pada pria itu.


" Sudahlah, jangan terlalu mempercayai gosip, Mir "


" Iya sih Al, tapi apa menurutmu hubungan pak bos dan tunangannya baik-baik saja hm? Kau kan lebih tahu dari siapapun karena kau asisten pribadinya pak bos "


" Hmm, mereka baik-baik saja. Hubungan mereka malah semakin harmonis " Jawab Alisa. Meski ia mencoba untuk biasa saja, namun kenyataannya hatinya merasa sedikit iri.


" Kalian berdua sudah menyiapkan semuanya ? " Suara berat dan dalam yang tiba-tiba terdengar berhasil membuat kaget Alisa dan juga Mirna. Mereka berdua sama-sama menoleh kebelakang dimana pria itu baru saja berjalan masuk dan mendekat ke arah mereka.


" Sudah Pak ! " Jawab mereka berdua dengan cepat. Mirna menoleh pada Alisa. Tampak Alisa tersenyum santai sambil menatap bos besar mereka.


" Al, apa dia mendengar pembicaraan kita? " Bisik Mirna sembari menyenggol lengan Alisa.

__ADS_1


" Bersikaplah dengan tenang Mir " Alisa balas berbisik.


" Apa kau baik-baik saja, Mirna ? " Tanya Reyhan. Sontak yang ditanya langsung melotot dengan tegang. Wajahnya langsung berubah sepucat kapas.


" Sa...sas...saya baik-baik saja Pak " Mirna langsung tergagap. Alisa ingin sekali menepuk dahi temannya ini.


" Tidak biasanya kau gugup begitu. Apa ada sesuatu Mirna ? " Reyhan menatap sekretarisnya dengan tatapan penuh selidik. Mirna semakin pucat, tangan-tangan wanita itu tampak gemetar.


" Tidak pak, dia hanya merasa gugup karena ada salah satu mantan pacarnya yang akan hadir dalam rapat ini"


" Apa ! " Reyhan langsung terkejut dan menatap Alisa.


Mirna melebarkan kedua matanya pada Alisa. Sedangkan Alisa yang telah memberikan alasan paling memalukan masih saja bisa tersenyum.


Kenapa alasanku ini malah pas dengan keadaan aku dan Reyhan ? Dasar bodoh kau Alisa ckckck


Reyhan berdehem pelan, ia berjalan melewati Alisa dan Mirna menuju podium tanpa mengatakan apapun.


" Mirna ! "


" Iya pak "


" Bisakah kau keluar sebentar, ada sesuatu yang ingin kusampaikan pada Alisa " Ungkap Reyhan.


" Baik pak, saya akan keluar " Mirna menuruti perintah Reyhan dengan cepat. Wanita itu langsung melangkah keluar dari ruangan rapat lalu kemudian menutup pintu. Hingga yang tersisa di dalam ruangan hanyalah Reyhan dan Alisa saja. Kini Reyhan memandangi Alisa dengan begitu intens dan dalam. Alisa menelan ludahnya dengan susah payah sembari menunggu dalam hati.


" Apa itu kau yang merasa gugup, Al ? " Reyhan menyipitkan kedua matanya. Alisa mencoba tersenyum lebar. Ia tidak akan mudah untuk dikalahkan oleh mantan.


" Iya Rey " Sahut Alisa. Reyhan mencoba menahan senyumannya. Namun hanya beberapa detik Reyhan merasa senang karena setelahnya ia langsung murka luar biasa.


" Aku merasa gugup karena harus bertemu dengan Nathan. Kurasa kau tidak tahu jika aku dan Nathan pernah menjalin hubungan semenjak kau pergi meninggalkanku selama lima tahun " Ujar Alisa dengan begitu santai meski ia tengah berbohong.


" Kau...." Reyhan gagal mengucapkan kata-kata. Alisa mengangguk dan tersenyum.


Pantas saja saat itu Alisa dan Nathan terlihat sangat akrab. Jadi....mereka berdua memang pernah dekat sebelumnya. Benar-benar sialan !


Reyhan menggeram tertahan. Kedua tangannya terkepal erat. Ia menatap Alisa dengan tatapan yang menyiratkan kemarahan yang tersembunyi.


" Kau boleh keluar dari sini dan bersihkan ruang kerjaku sekarang juga ! " Tegas Reyhan.

__ADS_1


" Baik Pak "


__ADS_2