
Malam harinya di depan kandang nemo, Alisa berjongkok sambil memberi makan para anak nemo yang berjumlah tiga ekor. Mereka semua semakin sehat setiap harinya. Tidak terasa ternyata sudah lama ia memelihara Nemo. Semenjak Reyhan mengembalikan Nemo padanya, Alisa tidak pernah putus asa untuk merawat kucing peninggalan sang mantan. Tapi sekarang sang mantan itu datang kembali lalu mulai mengacaukan hari-harinya.
" Kau tahu nemo, pria yang telah meninggalkan kita berdua datang kembali. Dia mengancamku dengan kekuasaan yang dimilikinya. Aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menuruti kemauannya. Harusnya kau dan aku menyumpahinya agar jatuh miskin. Bukankah hal ini lebih baik, nemo ? "
" Meoooowww ! " Nemo mengendus-ngendus kaki Alisa. Mengusap tubuhnya yang gemuk pada paha Alisa.
" Si Reyhan gila itu, semakin hari semakin bertingkah sombong. Padahal dia sudah bertunangan nemo. Dia memintaku untuk mencintainya lagi. Sungguh keterlaluan ! "
" Meoooooooww ! " Kembali Nemo bersuara.
" Jangan hanya mengeong saja nemo. Kau harus memberikan solusinya padaku " Ujar Alisa sambil mengangkat tubuh gemuk nemo dengan kedua tangannya. Hingga nemo bergelantung dengan kedua tangannya yang berada di dalam genggaman Alisa.
" Katakan apa yang harus kulakukan, nemo sayang hm? " Alisa mengoyang-goyangkan tubuh nemo.
" Meow ! Meoow ! "
" Akh ! Kau sungguh tidak membantu sama sekali ! " Raung Alisa sembari menurunkan tubuh nemo. Ia bangkit berdiri lalu kemudian dengan cepat berjalan cepat menuju kamarnya.
" Alisa " Panggil Gunawan.
Sontak Alisa langsung menoleh ke arah suara. Di ruang tamu, ayahnya sudah duduk bersama dengan ibunya.
" Ada apa yah ? " Tanya Alisa sambil melangkah ke arah ruang tamu.
" Duduk disini " Gunawan menepuk pelan kursi yang berada di sebelah kirinya. Alisa langsung mematuhi ucapan ayahnya dengan duduk di kursi yang berada tepat disamping ayahnya.
" Ayah ingin bertanya padamu nak "
" Tanya apa yah ? "
" Siapa sebenarnya pria bernama Nathan itu ? "
" Oh Nathan. Dia benar-benar teman Alisa yah. Baru beberapa bulan kami berkenalan. Dia anak yang baik dan menyenangkan yah "
" Ayah tidak mau kau terlalu dekat dengannya "
Seketika Alisa langsung mengerutkan dahinya.
" Kenapa yah ? "
__ADS_1
" Ayah tidak ingin kau merasa nyaman hingga kemudian berakhir dengan menyukai pemuda itu
" Memangnya hal itu salah yah? Lagipula kan Alisa tidak berada dalam hubungan dengan pria lain. Jadi seharusnya tidak ada masalah "
" Ayah tidak setuju kau bersama dengannya "
" Kami hanya berteman yah " Protes Alisa. Gunawan memejamkan kedua matanya sejenak. Sedangkan Ema hanya diam dan menjadi pendengar yang baik.
" Dari teman lama-lama akan menjadi orang yang kau sukai "
Alisa menghela nafas singkat. Ia mengusap dahinya dengan pelan. Memandangi ayahnya sekilas lalu berdiri. Alisa berkacak pinggang di depan ibu dan ayahnya. Menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh selidik.
" Katakan pada Alisa yah. Kenapa ayah tiba-tiba berkata seperti ini. Apa yang sedang ayah dan ibu rencanakan ? " Alisa menyipitkan matanya.
Gunawan memandangi istrinya sebentar lalu tak lama ia berujar dengan suara yang dalam dan tegas.
" Ayah ingin kau tetap menyukai Reyhan "
" Apa ?!! " Pekik Alisa dengan mata yang melotot
besar.
Kalau ayah tahu bahwa Reyhan sudah pernah mengancamku dia pasti akan merasa begitu bahagia. Ayah tidak perlu tahu jika sebenarnya aku sudah membuat pernyataan bahwa aku akan mencintai pria itu. Pria tidak tahu malu itu . Entah dia yang tidak tahu malu atau kau Alisa. Kau saja sudah berani menyatakan perasaan pada pria yang sudah bertunangan dengan wanita lain. Akh !!
Alisa meraung frustasi. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Disaat ia berniat melupakan Reyhan, disaat itu juga pria itu mengancamnya. Ditambah lagi dengan ultimatum ayahnya yang menyatakan bahwa hanya Reyhan yang pantas menjadi menantunya. Alisa benar-benar ingin berteriak tapi tidak tahu kepada siapa.
" Bukankah ayah sudah tahu jika Reyhan sudah bertunangan ? " Lirih Alisa. Nafasnya memberat sesuai dengan detak jantungnya yang berdentum berlebihan.
" Ayah tahu. Tapi dia baru bertunangan belum menikah"
" Apa ayah berniat menyuruhku untuk merebut tunangan orang lain hm ? " Desis Alisa dengan penuh kekesalan.
" Ayah ingin kau berusaha untuk mendapatkannya kembali "
" Sama saja yah ! Apa bedanya ! " Pekik Alisa dengan suara yang sedikit naik.
" Sayang...." Peringat Ema.
" Bu, apa-apaan semua ini. Kenapa ayah harus berharap pada Reyhan? Kenapa Alisa harus berusaha mendapatkan pria itu lagi. Harusnya kalian membantuku untuk melupakan pria itu ! "
__ADS_1
Ema hanya terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa pada putrinya. Ia memang tidak setuju dengan ide suaminya, tapi menentang ide dari suaminya ia tidaklah punya kuasa. Suaminya terlalu keras kepala dan ia sudah sangat hafal dengan sifat itu.
" Kau tidak punya kuasa menentang pendapatku. Selama ayah masih hidup, kalian berdua harus mengikuti apa yang ayah katakan "
" Bukankah ayah terdengar seperti seorang ayah yang egois "
" Ayah lebih memilih menjadi egois agar kehidupan putri ayah jauh lebih baik "
" Darimana ayah tahu jika bersama dengan Reyhan, hidup Alisa akan jauh lebih baik "
" Karena ayah sudah lama mengenal ayahnya Reyhan. Ayah tahu bagaimana sifat orang tuanya. Dan seorang anak kemungkinan besar akan menuruni sifat kedua orang tuanya. "
" Kalian semua sama saja " Gumam Alisa dengan suara yang pelan.
Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak mau menatap ayah dan ibunya. Ia merasa dadanya semakin sesak. Hingga akhirnya ia pun memilih untuk meninggalkan kedua orang tuanya.
" Alisa ! Ayah belum selesai bicara ! " Teriak Gunawan yang sudah berdiri.
" Sudahlah yah, biarkan saja dia " Ema menarik pelan lengan suaminya, berusaha menenangkan Gunawan sekaligus memberikan ruang bagi Alisa untuk bisa menikmati kesendiriannya. Ema bisa melihat rasa tertekan dari sorot mata putrinya itu.
Alisa membanting pintu kamarnya dengan kasar, ia menendang kesal sendal tidurnya hingga benda ringan itu terlempar jauh ke sudut ranjangnya.
" Bagaimana bisa ayah menyuruhku untuk merebut tunangan wanita lain ? Apa ayah tidak merasa malu nantinya jika aku benar-benar mau melakukan hal itu" Gerutu Alisa. Ia melangkah cepat lalu naik ke atas ranjangnya. Berbaring telentang di atas kasur mininya. Alisa menggeram tertahan sembari menatap langit-langit kamarnya.
" Kenapa setelah aku berniat melupakannya, orang-orang di sekitarku malah mempersulitku dengan memaksaku untuk kembali padanya. Sudahlah Reyhan berhasil mengancamku, kedua orang tuaku malah turut serta " Raung Alisa. Ia mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal.
Dreet ! Dreet !
Dering ponselnya yang berada di atas meja riasnya berhasil menyadarkan Alisa dari rasa frustasinya. Alisa buru-buru menegakkan tubuhnya lalu kemudian turun dari ranjangnya dan mengambil ponselnya.
" Ada apa lagi dengannya Hah ! " Pekik Alisa saat melihat nomor Reyhan yang menjadi pemanggil di ponselnya.
" Ada perlu apa ?! " Bentak Alisa begitu ia mengangkat panggilan dari pria itu. Terdengar jeda beberapa detik. Tidak ada suara Reyhan yang terdengar olehnya. Hingga saat suara pria itu terdengar, Alisa hampir menjatuhkan ponselnya ke lantai saking terkejut.
" Aku sudah di depan rumahmu " Ujar Reyhan.
Yasalaaaam !!
To be continued....
__ADS_1
Happy reading, love you guys 😘