
Alisa menyantap sarapan paginya dengan pelan sambil memikirkan kata-kata penghancur tekadnya yang baru saja diucapkan tadi malam oleh Reyhan Wijaya. Semua tekadnya yang murni untuk melupakan pria itu hilang semua. Semua terbakar sampai menjadi abu oleh ucapan singkat pria itu. Jika wajahnya tampak lesu pagi ini maka lain halnya dengan wajah ibu dan ayahnya yang terlihat begitu bahagia. Seolah sedang memenangkan undian sabun colek.
" Bisa-bisanya kau mengusir Reyhan tadi malam. Padahal kan dia baru beberapa menit saja berkunjung ke rumah kita " Ujar Gunawan.
" Dan beberapa menit itu berhasil mengacaukan semuanya yah "
Alisa kembali menyendokkan nasi goreng buatan ibunya ke dalam mulut. Mengunyahnya dengan perasaan kesal.
" Sayang, menurut ibu Reyhan itu termasuk baik loh. Jelas-jelas dulu kau yang mempermalukan dia di depan teman-temannya saat malam perpisahan. Tapi...Reyhan justru datang tadi malam lalu mengatakan bahwa ia ingin melamarmu. Ibu rasa dia benar-benar jatuh cinta padamu " Ema tersenyum lebar.
Alisa menarik nafas dalam-dalam. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar. Selera makannya tiba-tiba hilang begitu saja.
" Bu, apa ibu lupa jika dialah orang yang memutuskan pertunangan itu. Dia juga telah meninggalkanku seenaknya saja pergi keluar negeri. Dan ibu bilang dia mencintaiku kan. Jawabannya tidak bu. Kalau dia mencintaiku, dia tidak akan pernah bertunangan dengan wanita lain " Alisa berdiri dengan kasar hingga kursi yang ia duduki terdorong kebelakang dengan cukup kuat.
" Sayang jangan dendam seperti itu hm " Bujuk Ema.
" Kalau kau tidak mempermalukannya, Reyhan tidak akan membatalkan pertunangan dan pergi meninggalkanmu ke luar negeri " Ujar ayahnya. Alisa ingin membalas ucapan ayahnya tapi ia tidak mau berdebat lebih lama lagi dengan kedua orang tuanya. Tanpa membalas sepatah katapun Alisa menyampirkan tas di bahunya lalu memandangi ibu dan ayahnya dengan tatapan datar.
" Aku berangkat dulu. Ayah, ibu. Dan......" Alisa menjeda ucapannya. Ia mengamati sebentar ekspresi kedua orang tuanya yang selalu terlihat penuh harap. Ia tidak tega mengatakan hal ini tapi dirinya harus bisa melakukannya.
" Aku tidak menerima lamaran Reyhan. Aku ingin menjalin hubungan dengan pria lain. Itu keputusanku"
Setelah mengatakannya, Alisa langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
" Alisa ! " Panggil ayahnya dengan suara yang nyaring. Tapi Alisa tetap melangkah pergi mengabaikan suara ayahnya.
Pagi ini bus masih tetap ramai seperti biasa dan Alisa kembali tidak mendapatkan tempat duduk. Akhirnya ia mau tidak mau harus berdiri bersama dengan beberapa pria.
" Kurang menarik sih menurutku "
Samar-samar terdengar suara dari arah belakangnya. Alisa tidak begitu peduli. Ia kembali menatap jalanan di depannya.
" Cantik sih, tapi wajahnya kurang mulus. Aku tu suka yang mulus plus cantik juga. Kalau yang begini sih bukan tipeku "
Apa para pria dibelakangku ini sedang membicarakanku ? Ah, mungkin saja bukan. Mungkin karena aku terlalu sensitif pagi ini makanya aku merasa mereka sedang membicarakanku.
__ADS_1
Alisa mengangkat tas merah jambunya untuk mengeluarkan ponselnya. Ia berniat menelpon Mirna sahabatnya untuk bertanya apa Reyhan sudah tiba di kantor atau belum. Baru saja ia menekan nomor Mirna lagi-lagi suara pria itu berhasil mungusiknya.
" Sepertinya tas merah jambunya cukup bagus. Yah, setidaknya selera warnanya masih terbilang aman. Walaupun wajahnya dipenuhi dengan jerawat"
Sontak Alisa langsung masukkan ponselnya ke dalam tasnya lalu ia melirik kesekitar tempatnya berdiri. Ada beberapa wanita yang juga berdiri, namun mereka tidak mengenakan tas merah jambu. Dan hanya dirinyalah yang memakai tas merah jambu.
Kalian sudah salah mengghibah orang. Hari ini perasaanku tidak begitu baik dan kalian harus kuberi satu pelajaran.
Alisa menggeram dalam hati.
Alisa berbalik cepat, membuat dua orang yang berada sekitar tiga langkah darinya langsung tersentak kaget. Sebelah sudut bibir Alisa tertarik ke atas. Ia sudah tahu siapa yang sedari tadi membicarakannya. Ekspresi mereka berdua sudah terlihat jelas begitu ia sedang mengamati satu persatu wajah para pria yang berdiri di belakangnya.
" Kemari kalian berdua ! " Desis Alisa sambil melambai dengan sebelah tangannya. Dua remaja laki-laki yang masih memakai seragam putih abu-abu langsung mengalihkan wajah mereka ke arah lain.
" Kalian tidak ingin mengaku ya " Desis Alisa sambil menatap tajam dua remaja laki-laki yang masih berpura-pura tidak sedang melihatnya. Sambil mengencangkan ikat rambut di kepalanya, Alisa melangkah cepat melewati beberapa pria yang tadinya berdiri di belakangnya.
Pletak ! Pletak !
Alisa menjitak kening keduanya.
" Aw ! "
" Aw ! "
" Kau bertanya padaku, apa yang sedang ku lakukan hm ? " Ulang Alisa. Remaja itu mulai terlihat gugup. Dahinya bahkan sudah berkeringat.
" Aaakh ! Lepaskan ! " Teriak kedua remaja laki-laki itu dengan tiba-tiba. Suara mereka terdengar begitu nyaring hingga membuat sopir, kernet dan penumpang bus langsung menoleh ke arah sumber suara.
" Beraninya kalian mengataiku berjerawat ! Dasar remaja bermulut lemes ! Suka sekali menggibah orang lain. Jelas-jelas kalian sama sekali tidak mengenalku !! Memangnya aku salah apa hah ?! " Teriak Alisa dan masih terus menjambak kepala dua remaja laki-laki itu di dalam bus yang masih penuh sesak.
" Kalian memang harus di beri pelajaran. Aku tidak mau tahu. Aku tidak peduli sekalipun kalian masih SMA. Dasar bocah-bocah nakal !!! " Teriak Alisa seperti orang gila. Suara teriakan histeris kedua remaja itu pun tak kalah nyaring. Aksi mereka bertiga berhasil membuat semua orang yang berada di dalam bus tertawa bukannya menolong.
Dengan pakaian yang sudah tidak rapi lagi, Alisa berjalan masuk ke dalam kawasan kantor. Wajahnya sudah memerah karena jerawatnya sudah memanas semua. Perasaannya pun tak tentu saat ini. Entah itu senang, bahagia atau justru marah. Tapi ia rasa ia sedang marah besar saat ini. Mungkin jika ia memiliki kekuatan mengendalikan api, Alisa akan membakar habis kantor milik Reyhan yang masih berdiri tegak menjulang di depannya.
" Kau kenapa beb ? " Mirna menghampiri Alisa yang sudah duduk dengan kepala ia letakkan diatas meja kerjanya.
__ADS_1
" Aku sedang frustasi Mir "
" Why ? "
Alisa mengangkat kepalanya. Ia menatap Mirna dengan wajah yang terlihat lelah. Seolah ia sudah bekerja seharian penuh.
" Aku di lamar oleh seseorang "
" Whatss ?! Coba kau ulangi beb. Barangkali telingaku salah dengar " Mirna melebarkan kedua matanya.
" Kau tidak salah dengar Mir. Aku dilamar oleh seseorang "
" Pria ? " Tanya Mirna.
" Ya iyalah Mir, masak wanita sih. "
Mirna langsung terkekeh geli.
" Lalu kenapa wajahmu terlihat susah begini. Harusnya kau berbahagia atau menari-nari cantik begitu masuk ke dalam ruanganku "
" Masalahnya orang yang melamarku itu....mantan tunanganku lima tahun yang lalu Mir "
" Whatssss ?!! Mantan kau beb. Gila sih, aku baru tahu kalau kau sudah pernah bertunangan sebelumnya "
" Tapi kau belum tahu yang lebih gilanya lagi Mir "
Seketika Mirna langsung penasaran. " Apa itu beb? "
" Pria yang ingin melamarku itu adalah....Reyhan Wijaya. Dan dia juga mantanku lima tahun yang lalu" Ujar Alisa
" WHATSSS ?!! KAU GILA !! " Teriak Mirna dengan suara yang melengking. Alisa sampai harus menutup kedua telinganya.
" Bukan aku yang gila Mir tapi dia ! " Raung Alisa.
To be continued....
__ADS_1
Happy reading, love you guys 😘