
Alisa mengerjapkan matanya, mencoba menyesuaikan keadaan di dalam ruangan yang sedang ia tempati. Cahaya matahari yang melewati celah-celah tirai berhasil membuatnya menyadari bahwa waktu pagi telah tiba. Alisa bergegas bangun melangkah menuju kamar mandi yang memang tersedia di dalam kamar yang ia minta tadi malam pada Reyhan. Ia membasuh wajahnya berkali-kali hingga setelah merasa cukup puas, ia akhirnya berhenti.
Alisa tertegun sejenak saat menatap wujud dirinya di dalam cermin. Ia kembali mengingat bagaimana Reyhan berhasil menciumnya dengan keras dan menuntut. Ternyata pria itu suka sekali memaksa orang lain.
" Dia hampir saja merobek bibirku " Gumam Alisa sembari menyentuh lembut bibirnya sendiri. Ia kembali membayangkan saat-saat itu, dimana Reyhan menyentuhnya.
Ia hendak berbalik lalu suara bariton yang khas berhasil mengagetkannya.
" Kau ingin melakukan apa hari ini ? "
" Aku ? " Alisa menunjuk wajahnya sendiri. Reyhan menaikkan sebelah alisnya. Meski merasa sedikit gugup karena dirinya baru saja mengingat kembali ciuman panas pria itu. Alisa mencoba untuk berbicara normal dengan Reyhan.
" Jika....." Ucapan Reyhan terhenti karena Alisa sudah lebih dulu memotong ucapannya.
" Kalau kau mengizinkanku, aku ingin masuk kerja kembali " Sela Alisa dengan cepat. Ia merasa malu luar biasa tapi ya mau bagaimana lagi, sekarang dirinya menyesal telah berhenti bekerja dari perusahaan Reyhan. Ia pikir tadinya bila sudah berhenti bekerja, dirinya akan bisa menjauh dari pria itu. Tapi ternyata ia malah semakin dekat bahkan sudah menikah.
" Ibuku akan bertanya jika dia melihatmu kembali ke kantor "
" Ya, kau benar " Alisa menghela nafas sejenak.
Reyhan tersenyum tipis. Ia melangkah maju mendekati Alisa namun dengan cepat Alisa melangkah mundur.
" Kau takut denganku ? "
Alisa mengangguk cepat. " Ya, aku masih ingat bagaimana kau menyerangku tadi malam " Ujarnya dengan suara yang pelan.
Reyhan kembali tersenyum. " Itu baru setengahnya "
Alisa langsung bergidik ngeri, namun ia tetap mencoba mengangkat dagunya seolah-olah tidak merasa terintimidasi dengan perkataan pria itu.
" Se...setengahnya ? " Meski sudah berusaha untuk tidak gugup. Namun nyatanya, suaranya tetap terdengar bergelombang.
Reyhan mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia kembali melangkah maju, Alisa bergerak memundurkan diri, Reyhan semakin mendesaknya. Alisa tetap berusaha fokus mundur kebelakang. Reyhan dengan pastinya tetap melangkah maju tanpa ragu.
Bugh !
Punggung Alisa terbentur di dinding, ia terpojok. Alisa mencoba melarikan diri ke kiri namun dengan sangat cepat sebelah tangan Reyhan sudah menghadangnya, ia bergegas memutar tubuhnya ke kanan tapi kalah cepat dengan tangan kanan Reyhan. Akhirnya ia terkurung oleh badan tegap itu.
" Aw...pe...perutku sakit ! " Bohong Alisa. Ia mencoba menyelamatkan dirinya sebisa mungkin.
Senyum miring terulas dari bibir Reyhan. " Aku tahu kau sedang berbohong " Bisik Reyhan dengan suara bassnya. Sontak Alisa langsung kembali merinding. Nafas hangat pria itu membelai keningnya.
" Re...Rey... aku serius. Aku memang sakit perut "
" Kau tahu Alisa ? Kau sebenarnya sangat payah dalam berbohong "
Alisa mengangkat wajahnya, kedua matanya melebar sempurna.
Aduh, kenapa dia selalu mendekat begini sih? Mana aroma tubuhnya enak sekali. Astaghfirullah Alisa ! Sadar !!
Raung Alisa dalam hati. Keningnya mulai berkeringat dingin. Jantungnya berdebur layaknya ombak yang menghantam karang.
" Al...." Bisik Reyhan dengan nada yang terdengar menggoda.
__ADS_1
Oh Tuhanku, cobaan apalagi ini ?! Kenapa suaranya membuatku panas, dingin dan gemetaran. Tidak bisa Al, kau harus mendorongnya.
Alisa mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada pria itu.
" Aku belum siap Rey jika kau meminta hakmu. " Ujarnya dengan jujur. Ia sangat tahu jika dirinya akan menjadi istri yang durhaka bila menolak keinginan suaminya.
Andai saja dia bukan suamiku, sudah lama aku menendang miliknya. Huh sebalnya !
Gerutu Alisa dalam hati.
Tubuh Reyhan bukannya mundur, pria itu justru langsung menangkap kedua tangannya dengan satu tangan besarnya. Ia mencengkram kedua pergelangan tangannya dengan kuat. Alisa semakin panik, nafasnya mulai berhembus cepat.
" Rey...stop ! Stop ! Kumohon Rey. Aku sedang datang bulan. Jangan menyentuhku !! " Pekik Alisa sambil memejamkan kedua matanya dengan erat. Alisa menunggu dengan mata yang terpejam erat, ia sudah ketakutan setengah mati karena posisi Reyhan saat ini. Tak lama samar-samar Alisa mendengar kekehan pelan di depannya. Alisa membuka matanya cepat.
" Kenapa kau tertawa hah? Kau pikir ini lucu ! " Raung Alisa. Ia masih berusaha menormalkan degub jantungnya yang masih berkejaran.
" Kau benar-benar terlihat seperti mayat hidup Al. Lihatlah, bibirmu pucat sekali hahahaah! " Reyhan memundurkan tubuhnya. Pria itu tertawa dengan bahagianya.
" Dasar gila ! " Umpat Alisa dengan kesal.
" Kenapa kau panik sekali sih, padahal kan aku hanya ingin memelukmu saja "
" Memeluk ? Kenapa juga kau harus memelukku ? "
" Kau kan istriku Al. Aku hanya ingin berpamitan denganmu sebelum berangkat ke kantor. Yah, seperti pasangan suami istri normal "
Wajah Alisa langsung berubah total. Ia benar-benar ingin berguling-guling dan menyembunyikan wajahnya di dalam karung goni. Reyhan berhasil membuatnya salah sangka, berpikiran tidak-tidak dan mengucapkan kalimat-kalimat yang memalukan. Alisa tidak tahu harus bertingkah seperti apa saat ini. Ia buru-buru melangkah ke arah kamar mandi.
Setelah berhasil mengerjai Alisa Reyhan langsung pergi ke kantornya. Dengan langkah kaki yang lebar, ia memasuki ruang kerjanya dengan gagah seperti biasanya. Ia mulai memeriksa satu persatu dokumen yang sudah berada di mejanya.
" Masuk " Perintah Reyhan. Mirna dengan segera melangkah cepat mendekati meja atasannya itu.
" Pak, ibu anda menelpon tadi. Beliau meminta anda kembali menghubunginya "
Reyhan mengangkat wajahnya. " Ibuku menelpon pagi begini ? "
" Iya pak "
" Baiklah. Kau boleh keluar, lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan menghubunginya sebentar lagi "
" Baik pak, saya permisi " Mirna berbalik lalu melangkah cepat menuju pintu keluar.
Baru saja Mirna menutup pintu ruang kerja atasannya. Sosok cantik bertubuh tinggi semampai itu sudah datang menghampirinya.
" Oh, nona Juliet. Anda mengagetkan saya " Ujar Mirna sambil mengelus dadanya.
" Bosmu ada ? "
Mirna tersenyum sambil mengangguk ragu.
" Ada. Bos ada di dalam "
" Oke, terima kasih " Ujar Juliet lalu melewatinya. Mirna tersenyum kecut.
__ADS_1
" Aku baru saja akan mengatakan kalau bos masih banyak pekerjaan. Tapi nona tukang selingkuh itu sudah melengos pergi. Ah, benar-benar membuatku pusing kepala. " Gumam Mirna sembari melangkah menuju ruangannya sendiri.
" Sayang, aku merindukanmu "
Reyhan langsung mengangkat wajahnya, dan kedua matanya bisa menangkap jelas sosok tinggi dengan dress ketat itu sedang melangkah cepat ke arahnya.
Untuk apa dia datang kemari ?
" Sayang, kenapa beberapa hari ini kau jarang menghubungiku? " Tanya Juliet lalu mengambil tempat duduk di depan meja kerja Reyhan.
" Maaf, aku sibuk bekerja " Jawab Reyhan seadanya.
" Jangan terlalu sibuk sayang, aku khawatir kau akan jatuh sakit " Juliet mengulurkan sebelah tangannya lalu mengusap lembut lengan Reyhan.
Pria itu melirik sekilas pada lengannya, dimana tangan tunangannya sedang sibuk mengusap perlahan disana. Reyhan merasa tidak nyaman dan aneh. Dengan cepat ia menarik sebelah tangannya menjauh.
" Jangan khawatir, aku baik-baik saja "
Juliet tersenyum mengerti. " Oh iya sayang, apa kau sudah menelpon ibumu pagi ini ?" Tanya Juliet.
" Setelah pekerjaanku selesai, aku akan menghubunginya "
Dreet....drettt.......( Dering ponsel Juliet berhasil menghentikan obrolan mereka berdua )
" Halo bu, aku sekarang sedang bersama dengannya"
Reyhan meletakkan dokumen yang dipegangnya. Ia memandangi Juliet dengan serius.
" Baik bu, kami akan kesana. Aku akan merayunya, sampai dia mau " Juliet tersenyum sambil melirik ke arahnya. Reyhan mengerutkan dahinya.
" Ibuku ? " Tanya Reyhan begitu Juliet mengakhiri panggilannya. Wanita itu mengangguk.
" Iya sayang. Ibu menyuruh kita untuk datang mengunjunginya "
" Memangnya ada hal penting ? "
" Itulah akibatnya jika kau sibuk bekerja sayang. Kau jadi tidak tahu kan " Juliet terkekeh pelan. Reyhan semakin bingung. Entah apa maksud perkataan Juliet.
" Apa maksudmu ? "
Juliet berdiri dari kursinya. Wanita itu melangkah pelan lalu, mengitari mejanya dan kemudian merangkul lengannya.
" Ibuku dan ibumu sedang memilih tanggal pernikahan kita sayang. "
Seketika Reyhan langsung berdiri dari kursinya. " Apa katamu ?! "
" Mereka meminta kita untuk bergabung juga. Agar kau dan aku bisa memberikan masukan untuk tanggal pernikahan kita sayang "
Reyhan terdiam dan tak bisa bersuara. Ia terlihat sedang berpikir keras.
" Kalau begitu kita pergi sekarang " Ujar Reyhan lalu melepaskan rangkulan Juliet. Ia berjalan cepat menuju pintu keluar. Reyhan bahkan mengabaikan panggilan wanita itu.
Aku harus melakukan sesuatu
__ADS_1
To be continued....
Happy reading, love you guys 😘