
Seperti diterjang ombak, Alisa merasa terkejut luar biasa. Ia bahkan tidak mampu berkata apa-apa saat Nathan mengatakan hal tersebut. Sorot matanya, mimik wajahnya dan gerakan tubuhnya menunjukkan bahwa Nathan memang serius. Alisa menyandarkan punggungnya dengan kasar pada sandaran kursi, menghela nafas sejenak. Ia terdiam untuk beberapa detik berlalu.
" Al, apa kau baik-baik saja ? " Nathan bertanya dengan nada suara yang terdengar begitu khawatir.
" Aku tidak apa-apa Nat. Aku hanya tidak tahu harus merespon apa padamu. Mungkin aku memang terlalu lemah untuk bisa melupakan Reyhan. Dia memenuhi banyak kenangan di dalam kehidupanku dulu " Jelas Alisa. Ia baru mulai bisa membuka diri pada Nathan. Itu karena Alisa menganggap Nathan hanya sebagai seorang teman. Tapi, jika pria itu memintanya untuk jatuh cinta begini ia tidak yakin dirinya bisa. Ia mungkin akan mengecewakan Nathan.
" Tenanglah Al, aku hanya memintamu untuk jatuh cinta padaku. Kau hanya perlu mencoba. Kan aku belum tentu membalas rasa cintamu " Nathan terkekeh geli.
" Dasar pemain perasaan ! " Alisa melemparkan kain kecil yang biasa digunakan oleh orang-orang ketika akan mengelap bibir mereka selesai menyantap hidangan. Nathan tertawa, begitu juga dengan Alisa. Suasana yang tadinya serius kini berubah menjadi santai.
Aku tidak ingin membuatmu jadi menjauhiku Al karena perkataanku barusan. Mungkin aku terlalu terburu-buru memberi sinyal padamu. Lain kali aku harus lebih berhati-hati. Kau mungkin akan pergi begitu saja bila aku menyatakan perasaanku yang sebenarnya padamu.
Gumam Nathan dalam hati. Meski begitu, Nathan tetap bisa tertawa bersama Alisa saat ini.
Ketika jam makan siang berakhir, Alisa dan Nathan baru saja tiba di perusahaan. Alisa keluar dengan cepat, sedangkan Nathan membuka kaca mobil hingga dengan mudah Alisa melihat pria itu. Gadis itu sedikit menunduk dan tersenyum pada Nathan.
" Kau ingat janjimu Nat ? "
" Menemanimu ke sekolah dan membeli es doger akhir pekan ini " Jawab Nathan dengan cepat. Senyum cerah langsung terlihat di garis bibir Alisa.
" Bagus, berarti kau ingat. Aku hanya ingin mengetesmu saja. Awas kalau lupa "
" Tidak akan. Jika aku lupa, kau harus mengingatkanku sayangku "
" Iyuuuh, jangan memanggilku begitu Nat ! " Alisa bergidik ngeri. Sedangkan Nathan malah tertawa melihat respon Alisa.
" Aku hanya sedang bercanda, Al. Jangan terlalu menganggap serius perkataanku "
" Iya sayangku " Balas Alisa sambil terkekeh.
" Bagaimana jika kita menggunakan panggilan ini ketika mantanmu ada disekitar kita. Mungkin ini akan menjadi lebih seru, Al. Tidakkah kau ingin mencobanya? " Tanya Nathan.
Alisa tampak berpikir. Matanya berputar keatas seperti sedang menimbang perkataan Nathan.
" Lalu apa keuntungannya jika kita melakukan hal ini didepannya ? " Alisa balik bertanya.
" Mungkin kau akan bisa tahu dia cemburu atau tidak padamu "
" Harusnya aku tidak perlu peduli dia cemburu atau tidak padaku. Kan aku sedang berusaha melupakannya "
" Tapi hingga sekarang kau belum bisa melupakannya bukan ? " Nathan tersenyum miring. Alisa mengangguk lesu.
" Dan kau juga tidak bisa jatuh cinta padaku bukan ? " Lanjut Nathan. Alisa mengangkat wajahnya kembali lalu mengangguk lagi.
" Kalau begitu kita harus menjalankan rencana ini. Melihat reaksi mantanmu ketika kau dan aku berakting sebagai seorang kekasih yang begitu mencintai satu sama lain. Jika dia cemburu kau mungkin bisa memiliki kesempatan untuk kembali padanya "
" Tidak mau ! "
" Pura-pura " Nathan tersenyum. Alisa memalingkan wajahnya dari Nathan. Tapi hanya sebentar saja. Setelahnya Alisa kembali menatap Nathan.
__ADS_1
" Lalu kalau dia tidak cemburu sama sekali? "
" Lupakan dia. Itu artinya sudah tidak ada namamu di hatinya. " Tegas Nathan. Alisa langsung memasang wajah sedih.
" Al, yakinlah bahwa kau akan bisa melupakannya. Sudah kukatakan bahwa aku akan membantumu kan? Jadi kau tidak perlu khawatir "
Alisa menatap kedua mata Nathan lamat-lamat. Setelah itu dengan penuh keyakinan dihatinya ia mengangguk mantap. " Baiklah. Mari kita lakukan idemu ini Nat "
Sambil berjalan santai Alisa mendekati lift, menunggu lift terbuka Alisa mengetuk-ngetukkan sebelah kakinya di lantai. Dan saat lift terbuka, Alisa langsung masuk dan bergabung dengan beberapa orang yang ada di dalam lift.
" Eh, dua hari yang lalu aku melihat tunangannya pak Reyhan jalan-jalan di pantai sama seorang pria "
Alisa menangkap bisik-bisik dari arah belakang. Dengan sigap, ia mulai memasang telinganya baik-baik.
" Mungkin saja itu pak Reyhan "
" Gak mungkin. Pria itu terlihat seperti seorang pria bule. Wajahnya itu bukan tipe-tipe wajah orang Asia pada umumnya "
" Yang bener ? "
" Iya. Mereka terlihat bermesraan dipantai. Mereka berpegangan tangan, berpelukan bahkan berciuman"
" Serius ?! "
" Aku serius "
" Kau tahu kan resikonya bila kau ketahuan menyebarkan berita bohong di kantor ini ? "
" Berarti itu cewek gak benar hidupnya ya. Sudah beruntung punya tunangan tampan, kaya, memiliki badan yang bagus. Tetap aja diselingkuhin "
Ting !
" Emang itu cewek gak tahu diri. Aku sumpahin suatu hari nanti kebusukannya ketahuan sama pak Reyhan " Ujar wanita satunya sambil melewati Alisa.
Alisa melangkah keluar sembari berpikir sendiri.
" Apa benar Juliet telah berani berselingkuh ? " Gumam Alisa seorang diri.
" Al ! " Pekik Mirna. Sontak Alisa langsung terkejut.
" Kenapa kau berteriak begitu ? "
Mirna menarik nafas panjangnya. Wanita itu berkacak pinggang sambil menunduk sejenak di depannya.
" Pak Reyhan memintamu untuk segera ke ruangannya"
" Lalu ? Kenapa kau sampai berlari seperti orang gila seperti ini ? "
" Itu karena Pak Reyhan hampir melempariku dengan plakat namanya saat dia marah tadi "
__ADS_1
" Dia marah padamu? "
" Bukan ! " Mirna menggeleng panik.
" Dia marah padamu, Al. Dia merasa tidak puas dengan hasil kerjamu yang tidak becus membersihkan ruang kerjanya "
Alisa langsung terperangah hebat.
" Kupikir aku sudah membersihkan ruangannya dengan benar tadi "
" Tidak Al ! " Mirna kembali menggeleng panik.
" Barusan ketika masuk ke ruangannya, Juliet tunangannya berteriak histeris karena ada seekor kecoa yang melintas disana"
" Apa ?! " Pekik Alisa dengan suara yang tak kalah nyaring dari Mirna.
" Karena itu Juliet bahkan menangis dan meminta diantarkan pulang. Akhirnya pak Reyhan menyuruh salah satu sopir pribadinya untuk datang ke perusahaan dan membawa pulang Juliet "
" Darimana munculnya kecoa itu hah ?! " Raung Alisa dengan frustasi. Ia mengacak-ngacak rambutnya dengan kesal.
" Mana aku tahu Al. Bukannya katamu ruangan pak Reyhan sudah dibersihkan, seharusnya tidak ada lagi hewan menjijikkan itu " Mirna langsung bergidik ngeri.l ketika harus memikirkan kecoa.
" Kecoa sialan ! " Umpat Alisa.
Alisa melangkah cepat, namun perasaannya saat ini seperti seorang penjahat yang melangkah keruang sidang. Tegang, jantungnya berdebar dan tiba-tiba dirinya merasa mulas luar bisa. Ini semua gara-gara kecoa ! Alisa benci kecoa !
Tok ! Tok ! ( Mengetuk pintu )
Alisa menggigit bibirnya dengan kuat.
Tok ! Tok ! Tok ( Mengetuk lebih banyak )
" Masuk ! "
Alisa langsung berjengit kaget. Kaki sebelahnya bahkan sudah melayang ke udara. Dengan tangan yang gemetar Alisa mendorong pintu Jati berukir itu hingga terbuka. Dan begitu ia masuk, Reyhan langsung melangkah maju dan mendorong tubuhnya ke pintu hingga pintu kembali tertutup.
" Bagaimana kau bekerja hah ?! " Bentak Reyhan sambil memegangi kedua bahunya. Pria itu mengunci tubuhnya didepan pintu yang sudah kembali tertutup.
" A....a..ku...."
" Kau mengacaukan semuanya Al ! " Teriak Reyhan dengan wajah yang memerah.
" Ma...ma..maafkan aku...."
" Kau harus mendapatkan hukuman " Desis Reyhan. Alisa terperangah hebat.
Hukuman seperti apa hah ?!
To be Continued....
__ADS_1
Happy reading, love you guys 😘