
Hujan turun dengan sangat deras pagi ini, ayah dan ibunya sudah menunggu di dalam mobil. Alisa masih mengusap kelopak mata bagian bawahnya dengan lembaran tisu. Ia sudah menangis berjam-jam sejak kejadian di taman kala itu. Saat tadi malam ayahnya mendapatkan panggilan dari keluarga Reyhan, perasaan Alisa semakin memburuk. Hingga pagi ini kedua matanya masih saja meneteskan air mata. Sama seperti langit pagi ini. Jika air hujan adalah berkah dari Tuhan maka air matanya adalah kehancuran dari perasaannya pagi ini. Ia sudah tahu bahwa Reyhan akan mengatakan semuanya pada ibu dan ayahnya.
" Alisa sedang apa dikamarnya, coba ibu susul dia " Ujar ayah Alisa pada istrinya. Dengan buru-buru ibu Alisa kembali masuk ke dalam rumah. Menyusul Alisa yang tidak kunjung keluar.
" Sayang, apa kau sudah selesai ? " Tanya ibu Alisa begitu ia sampai di depan pintu kamar.
Sontak Alisa langsung terkejut, ia kembali memoleskan bedak di wajahnya. Takut bila sudah sedikit luntur karena air matanya.
" Sebentar lagi bu, Alisa akan keluar "
" Baiklah. Cepatlah sayang, ayahmu sudah menunggu"
Alisa langsung bergegas mengambil tasnya, lalu segera menyusul ibunya.
" Kenapa kau lama sekali. Keluarga Reyhan pasti sudah menunggu kita "
" Maaf yah " Alisa menunduk saja.
" Sudahlah yah. Alisa sudah disini, sekarang kita bisa berangkat " Ibu Alisa menengahi keduanya.
Apa harus aku kukatakan saja pada ayah dan ibu, jika maksud keluarga Reyhan mengundang mereka bukan karena ingin membicarakan pertunangan kami. Namun, mereka ingin mengatakan bahwa pertunanganku dan Reyhan dibatalkan. Tapi, bagaimana caranya ? Aku tidak tahu
Alisa meremas kesepuluh jemarinya dengan gugup.
" Yah " Panggil Alisa. Ayahnya yang baru saja membuka pintu mobil lalu menoleh padanya.
" Apa lagi ? " Tanya ayahnya. Alisa semakin gugup setengah mati. Lidahnya terasa membatu, jantungnya seperti berhenti berdetak saat ini juga.
" Sayang, kenapa kau diam saja. Ayah sedang bertanya padamu " Ema memegang bahu putrinya. Sontak Alisa langsung terkesiap kaget.
" Jika tidak ada hal yang ingin kau sampaikan, lebih baik kita pergi sekarang juga. Ayah tidak mau kita terlambat " Gunawan langsung masuk ke dalam mobilnya.
" Kau tidak apa-apa sayang? " Tanya Ema pada putrinya. Alisa menggeleng cepat. Kemudian ia buru-buru masuk ke dalam mobil.
Begitu turun dari dalam mobil, wajah ayah dan ibunya tampak berseri-seri sedangkan Alisa ia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Hanya rasa pasrah saja yang sekarang ia tanamkan di dalam hatinya. Tidak ada jalan lain yang bisa ia lakukan untuk mempertahankan pertunangan mereka. Reyhan telah memutuskannya, pria itu sudah membencinya.
Begitu keluarga Alisa datang, dua orang pelayang sudah menyambut mereka di depan pintu rumah. Mereka menyapa dan menyambut keluarga Alisa dengan senyum ramahnya. Lalu setelah itu kedua pelayan itu membawa mereka masuk lebih dalam lagi hingga ketiganya sampai di dalam ruangan yang sangat megah yang sudah sangat sering mereka kunjungi. Karena ayahnya dan ayah Reyhan sudah lama berteman jadi mereka semua sering mengadakan makan malam bersama. Jadi, berada di dalam ruangan itu tidak lagi membuat Alisa canggung.
__ADS_1
" Tumben sekali kau mengajak makan bersama sepagi ini. Kurasa ini lebih cocok di sebut sebagai makan pagi bersama " Ujar Gunawan sembari tersenyum ramah. Namun Alisa bisa melihat raut wajah ayah Reyhan tidak begitu bersahabat.
" Silahkan duduk " Ucap Wijaya dengan datar dan dingin. Ibu dan ayahnya sudah lebih dulu menarik kursi dan duduk. Sedangkan Alisa, ia masih berdiri mematung sembari menatap wajah Reyhan yang sama sekali tidak melihatnya.
Dia pasti sangat membenciku sekarang
" Sayang, kenapa kau hanya berdiri saja " Tegur Ema. Sontak Alisa langsung buru-buru menarik kursi dan duduk di samping ibunya. Ia masih setia memandangi Reyhan yang hanya diam dan tak berniat untuk melirik sedikit saja padanya.
" Silahkan dimakan " Wijaya mempersilahkan keluarga Alisa untuk segera menyantap hidangan yang ada di meja. Ibu dan ayahnya masih belum merasakan aura yang berbeda dari acara perjamuan ini namun Alisa, ia bahkan tidak punya selera sama sekali untuk menyantap semua hidangan di depannya saat ini.
" Apa ada yang ingin kau bicarakan teman ? " Tanya ayah Alisa begitu mereka selesai menyantap makanan pagi ini. Untuk beberapa detik berlalu, ayah Reyhan tampak diam saja. Ayah Alisa mulai sedikit curiga dengan raut wajah temannya yang tidak biasa.
" Apa ada sesuatu yang telah terjadi Wijaya ? " Tanya Gunawan pada sahabatnya itu.
" Ayah, sebenarnya...."
" Maaf sebelumnya Pak Gunawan " Sela Reyhan dengan cepat memotong ucapan Alisa. Gadis itu menoleh dengan cepat ke arah Reyhan.
" Iya nak, ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku ? " Tanya Gunawan sambil tersenyum dan menatap Reyhan.
Reyhan tiba-tiba mendorong kursinya dan berdiri.
" Rey...." Gumam Alisa dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca. Sedikit lagi ia akan menangis didepan kedua orang tuanya dan Reyhan.
Kumohon jangan batalkan pertunangan ini, Rey ! Kumohon
" Aku ingin membatalkan pertunanganku dan Alisa, pak Gunawan "
Secepat yang ia bisa, Reyhan akhirnya bisa mengatakan hal ini di depan kedua orang tua Alisa. Ibu Alisa langsung menoleh pada putrinya. Alisa sudah menangis, ia gagal menahan air matanya.
" Kenapa kau ingin membatalkan pertunangan ini, nak ? " Tanya Gunawan yang juga sudah berdiri dari kursinya.
" Sejujurnya aku tidak pernah menginginkan Alisa "
" Apa ? "
" Dasar pembohong ! " Pekik Alisa dengan wajah yang memerah dan bersimbah air mata. Reyhan sama sekali tidak menoleh padanya. Alisa juga sudah berdiri.
__ADS_1
" Alisa ! Jaga sikapmu ! " Peringat ayahnya.
" Kenapa tidak kau katakan saja bahwa ini semua salahku hah ! "
" Apa maksudmu ? " Desis Gunawan sambil menatap tajam putrinya. Alisa mengusap kasar wajahnya, menghapus air matanya.
" Aku yang bersalah pak Gunawan, bukan Alisa "
" Dia berbohong yah ! " Teriak Alisa. Reyhan menggeram dalam hati. Ia ingin sekali menutup mulut Alisa yang sedari tadi terus saja berteriak.
Bisakah kau diam saja bodoh !
" Alisa " Desis Reyhan. Gadis itu sama sekali tidak menoleh padanya.
" Aku yang bersalah yah. Aku yang sudah menghinanya di depan semua orang. Aku.....aku mengatakan pada semua orang bahwa aku membencinya karena wajah berjerawatnya ! "
Plak !
" Yah ! " Pekik Ema dan langsung memeluk tubuh putrinya
" Pak Gunawan! " Reyhan hendak menghampiri Alisa namun sebelah tangannya di tahan oleh ibunya.
" Biarkan saja nak "
" Tapi bu....."
" Reyhan...."
Tatapan Reyhan tertuju pada Alisa yang sedang menangis di pelukan ibunya.
Maafkan aku Al ! Maafkan aku !
" Kita pulang sekarang ! " Ucap Gunawan dengan membawa wajah penuh amarahnya. Reyhan hanya bisa menatap sendu kepergian orang yang sangat ia sayangi.
To be continued.....
Happy reading, love you guys😘
__ADS_1