Mister Glow Up

Mister Glow Up
Chapter 13


__ADS_3

Tepat di jam tiga sore Alisa baru menyelesaikan tugasnya. Dengan ketekunan dan keuletan yang tanpa putus asa, akhirnya ia berhasil mendapatkan semua surat yang bertandatangan tinta biru. Sebuah tugas superior yang diberikan oleh Reyhan mantannya yang kejam.


" Untung aku masih mencintaimu Rey. Kalau tidak, aku sudah resign hari ini juga " Gerutu Alisa sambil menyusun rapi kembali lembaran-lembaran kertas itu masuk ke dalam lemari.


Ia mengambil nasi padang yang belum sempat ia makan sedari tadi. Perutnya bahkan sampai terasa perih karena belum sempat diisi. Mirna sudah keluar sejak tadi, entah kemana perginya wanita itu. Jadi, hanya ia seorang yang berada di dalam ruangan wanita itu. Buru-buru Alisa membuka bungkusan nasi itu lalu duduk bersila. Ia dengan cepat menyantap nasi padang yang dibelikan oleh Mirna. Saat nasi padangnya sudah selesai ia lahap, Alisa buru-buru membuang bungkusannya ke dalam tong sampah.


" Terima kasih Mirna. Nasi padangnya enak sekali " Ujar Alisa sambil menuliskan ucapannya diatas sepotong kertas. Ia meletakkan kertas itu di atas meja kerja Mirna. Lalu setelahnya, Alisa keluar dengan membawa surat bertandatangan tinta biru.


" Permisi pak " Ujar Alisa dari balik pintu ruang kerjanya. Suara ketokan yang berulang dan suara wanita itu berhasil membuyarkan lamunan Reyhan.


" Masuk ! " Perintah Reyhan dari dalam ruangan. Alisa langsung masuk dengan membawa setumpuk tinggi surat yang ia minta. Reyhan bahkan sempat takjub melihat kegigihan gadis itu. Alisa mampu menyelesaikan tugas darinya. Ia akhirnya selesai mengumpulkan semua surat-surat itu meskipun membutuhkan waktu yang sangat lama.


" Saya ingin memberikan ini pak " Alisa meletakkan setumpuk surat-surat tersebut diatas meja Reyhan.


" Surat bertandatangan mengenakan tinta biru" Lanjut Alisa lalu kemudian mendaratkan bokongnya di atas kursi yang berada di depan Reyhan.


Wajah pria itu terlihat bingung sekaligus tidak percaya. Alisa tersenyum miring.


" Apa semuanya benar pak ? " Tanya Alisa. Reyhan masih tampak tidak percaya. Kedua matanya masih melotot pada setumpuk surat tersebut.


Tak lama pria itu mengangkat wajahnya lalu menatap kedua mata Alisa dengan tajam.


" Apa ada yang membantumu ? "


" Tidak ada pak. Ini semua murni hasil kerja keras saya sepanjang hari ini "


Reyhan terlihat mengangguk singkat. Tak lama sorot mata pria itu berubah. Jenis tatapan licik yang sudah di ketahui oleh Alisa.


" Sayangnya kau terlambat. Rapat telah usai dan kau sama sekali tidak datang membawa surat-surat ini " Reyhan tersenyum puas. Wajahnya terlihat begitu angkuh.

__ADS_1


" Saya rasa anda bukanlah lulusan sekolah dasar pak. Anda jelas tahu bahwa mengerjakan tugas ini bukanlah perkara yang mudah. Waktu lima menit itu hanyalah omong kosong saja. Tidak ada satupun orang yang sanggup melakukan hal ini pak, termasuk anda yang merupakan lulusan dari Universitas ternama di luar negeri " Ungkap Alisa dengan lantang.


" Lama tidak berjumpa kau semakin pintar berbicara" Desis Reyhan dengan kesal.


" Akhirnya kau terpaksa harus mengingatku, Reyhan " Alisa tersenyum lebar. Rasa gugup yang ia rasakan pertama kali ketika masuk ke dalam ruangan Reyhan kini telah menghilang.


" Aku tidak pernah melupakan kesalahanmu saat itu "


" Aku pun sama. Maafkan aku karena telah melakukan kesalahan itu " Ujar Alisa dengan sangat tulus. Reyhan mendengus pelan, ia memalingkan wajahnya dari Alisa.


" Kau kira mudah " Reyhan kembali menatap kedua mata Alisa dengan sorot mata yang dingin.


" Tidak. Aku tahu itu tidak mudah bagimu. Tapi, biarkan aku memperbaiki semuanya untukmu "


" Tidak perlu. Kau tidak perlu melakukannya " Tegas Reyhan. Alisa langsung menatap sendu wajah Reyhan.


" Aku telah bertunangan " Ujar Reyhan dengan cepat dan lugas.


Sontak Alisa langsung terperangah hebat. Semua harapan yang tertanam di dalam hatinya sirna sudah. Ia berharap bahwa Reyhan masihlah pria single. Nyatanya apa yang ia harapkan itu hanyalah mimpi indahnya saja. Alisa diam termenung di depan Reyhan. Masih berusaha menenangkan perasaannya, Alisa sungguh berharap ia tidak akan pernah menangis di depan Reyhan saat ini.


Perlahan Alisa mengangkat wajahnya, ia mampu menatap Reyhan setelah beberapa detik berlalu.


" Selamat atas pertunanganmu, Rey. Maaf, karena aku terlambat mengucapkan ini padamu " Ujar Alisa sambil berusaha menahan tangis. Ia memaksakan dirinya untuk tersenyum pada Reyhan.


Sepulang dari kantor, Alisa berjalan seorang diri menyusuri jalan. Ditengah perjalanan ia terus saja meneteskan air matanya. Melangkahkan kaki dengan hati yang terluka tidaklah mudah. Alisa beberapa kali mengusap pipinya dengan punggung tangannya. Ia baru tahu jika Reyhan sudah bertunangan dengan orang lain. Itu artinya sudah ada wanita lain yang menempati posisi tertinggi di hati pria itu.


" Apa namaku sudah menghilang di hatimu, Rey " Gumam Alisa meratapi keadaanya saat ini. Ia sudah lama jatuh cinta pada Reyhan. Sejak mereka masih seorang anak kecil hingga mereka sudah mengerti bagaimana indahnya perasaan cinta itu. Alisa tidak menyangka jika Reyhan akan dengan mudah melupakannya. Sedangkan ia sendiri susah sekali untuk menghilangkan perasaan cintanya pada Reyhan.


" Aku sudah tidak punya harapan lagi hiks ! Hiks ! "

__ADS_1


" Kau jahat Rey. Secepat ini kau melupakanku. Padahal aku sangat mencintaimu " Alisa terus saja bergumam seorang diri. Di tengah langit yang cerah di sore hari ini ia menangis di jalanan. Alisa sangat berharap bahwa langit sore ini mencurahkan air hujan dari langit. Agar orang-orang tidak tahu jika ia sedang menangis.


Reyhan terdiam sendiri di dalam ruangannya. Ia masih mengingat setiap ucapannya pada Alisa. Entah kenapa hatinya merasa sedikit menyesal saat ia memberitahukan status barunya pada wanita itu. Wajah Alisa langsung berubah dan Reyhan menyadari hal tersebut. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu saat mendengar ucapannya tadi.


" Apa aku sudah menyakitinya " Gumam Reyhan. Namun, sedetik kemudian Reyhan buru-buru menggelengkan kepalanya.


" Kau tidak sedang menyakitinya Reyhan. Dia saja lebih memilih mempercayai ucapan Aldi. Sedangkan apa yang kau katakan dulu, dia bahkan tidak mau mendengarkan " Reyhan bergumam lagi. Ia bergumam untuk menguatkan perasaannya sendiri. Ia yakin bahwa dirinya telah berhasil melupakan Alisa.


" Kau sudah melupakannya. Aku sudah berhasil" Reyhan mengusap wajahnya sembari terus bergumam seorang diri.


Alisa sampai dirumahnya lebih sore dari biasanya. Setengah enam sore ia baru berjalan masuk ke dalam gang. Ibunya sudah menunggu di depan rumah.


" Darimana sayang ? " Tanya Ema pada putrinya. Alisa belum menjawab pertanyaan ibunya. Ia lebih dulu bergerak menyalami dan mencium punggung tangan ibunya.


" Alisa diterima bekerja bu "


" Benarkah itu sayang ? " Seru bu Selia dengan raut wajah bahagia.


" Iya bu "


" Syukurlah. Ibu bahagia mendengarnya sayang. Kau tidak akan kesusahan lagi untuk mengantar amplop-amplop cokelat itu. Dan ayahmu tidak akan menyindirmu lagi " Gumam Ema sambil memeluk tubuh putrinya. Alisa balas merangkul erat tubuh ibunya. Menumpukkan wajahnya di pundak ibunya. Tempat ternyaman yang bisa mengobati perasaan hatinya saat ini.


" Ayah pasti akan sangat senang mendengar ini " Gumam Alisa dengan pelan. Ia masih menitikkan air mata. Namun ibunya tidak melihat wajahnya saat ini.


" Iya sayang. Ayah pasti sangat bangga padamu " Sahut Ema sembari mengusap lembut punggung putrinya.


To be continued....


Happy reading, love you guys 😘

__ADS_1


__ADS_2