
Alisa seperti tidak lelah tersenyum dan tersenyum. Ia tidak tahan untuk tidak menunjukkan ekspresi itu di depan suaminya. Sebelum benar-benar pergi, Reyhan menurunkan kaca mobilnya hingga ia bisa dengan leluasa melihat wajah Alisa.
" Berhentilah tersenyum. Otot pipimu akan bermasalah nanti " Reyhan memajukan wajahnya hingga sedikit melewati bagian sisi kaca mobilnya.
" Iya sayang, aku mengerti " Alisa mengangguk sembari tersenyum malu-malu. Terkadang ia akan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
" Apa tidak ada ciuman selamat tinggal sayang ? " Goda Reyhan.
Rasanya Alisa ingin melompat-lompat sambil berteriak histeris setiap kali mendengar Reyhan mengucapkan kata sayang. Andai hal itu tidak memalukan, Alisa pasti akan melakukannya.
" Disini banyak pasang mata yang melihat kita "
" Apa salahnya, kita kan suami istri sekarang "
" Berangkat sekarang. Kantormu butuh seseorang yang akan memimpin rapat hari ini "
" Tidak ada rapat hari ini " Beritahu Reyhan.
Alisa menggeram pelan. " Jika aku memberikan ciumanku, apa kau akan berangkat ? "
" Iya " Reyhan mengangguk cepat.
Alisa melihat ke kiri dan ke kanan. Saat beberapa pelayan Reyhan sudah berjalan masuk ke dalam rumah. Ia dengan buru-buru melangkah maju, lalu menundukkan tubuhnya. Kedua tangannya membingkai wajah prianya. Alisa mendaratkan satu ciuman cepat di kening suaminya.
" Merepotkan sekali " Bisik Alisa sembari menarik bibirnya dengan cepat.
" Yah, kenapa disana ? Kau salah tempat " Rengek Reyhan dengan kecewa.
Alisa tersenyum geli, ia mendelik ke arah jalan. Memberi kode pada Reyhan untuk segera pergi ke kantor.
" Di bibir belum "
" Ah, sudahlah ! Cepat pergi sana ! " Pekik Alisa dengan frustasi. Reyhan tergelak. Pria itu akhirnya menekan pedal gas hingga membuat mobilnya melesat pergi.
Di kursi kebesarannya Nathan terlihat merenung sambil menatap satu gambar di ponselnya. Sudah lama ia tidak pernah mengobrol langsung dengan Alisa. Wanita itu susah sekali untuk diajak ketemuan sekarang ini. Nathan merindukannya.
" Ada apa dengannya ? Kenapa dia seperti mencoba bersembunyi dariku ? " Gumam Nathan sembari berpikir keras.
" Permisi pak ! " Suara lembut berhasil menyadarkan Nathan dari lamunan singkatnya. Tampak dari depan pintu sekretaris imutnya melangkah masuk.
" Ada apa Adel ? " Nathan menatap sekretarisnya yang sedang berjalan pelan mendekat ke arahnya.
" Saya ingin memberitahu bapak jika rapat dengan para pemegang saham sebentar lagi akan dimulai. Semuanya sudah menunggu bapak diruangan "
__ADS_1
" Baiklah. Kau sudah menyiapkan semua yang kuminta tadi malam ? "
" Sudah pak " Adel menyerahkan beberapa dokumen tebal pada atasannya tersebut.
" Baiklah. Kita pergi sekarang "
Saat sampai dikantor, Reyhan langsung dikejar oleh sekretarisnya yang berlari sembari memeluk beberapa dokumen ditangannya.
" Syukurlah anda sudah sampai pak "
" Memangnya ada apa Mirna ? "
" Ibu anda baru saja masuk ke dalam ruangan rapat "
" Ibuku ada disini ? " Reyhan berhenti melangkah. Ia menoleh dan memandangi Mirna yang berdiri di belakangnya.
" Iya pak. Ibu anda datang sangat awal ke kantor. Dia memeriksa ruang kerja anda. Karena tidak menemukan bapak disana, dia bertanya pada saya pak. Saya bingung harus menjawab apa pak. Akhirnya dia memilih untuk menunggu di ruangan rapat. "
" Apa ibuku ada menanyakan hal lain, Mirna ? "
" Ada pak " Mirna mengangguk cepat.
" Katakan ! "
" Dia bertanya apakah Alisa sudah mendapatkan pekerjaan lain ? "
" Lalu, saya bilang padanya kalau Alisa sampai sekarang masih belum mendapatkan pekerjaan dimanapun pak. "
" Ada lagi ? "
" Tidak ada pak. Setelah saya memberitahukan hal itu padanya, ibu anda langsung pergi "
" Baiklah. Terima kasih Mirna " Ujar Reyhan lalu memutar arah langkah kakinya menuju ruangan rapat. Sebelum benar-benar masuk ke dalam ruangan rapat Reyhan sudah menyiapkan banyak jawaban yang akan ia keluarkan untuk setiap pertanyaan yang akan ibunya ajukan nanti.
Dengan begitu serius Alisa menonton satu persatu channel youtube milik banyak chef. Ia mendengarkan dengan seksama setiap kata demi kata yang para chef itu katakan. Bagaimana cara menggoreng daging ayam, ikan hingga sapi hingga matang dengan sempurna, tidak mentah dan juga tidak terlalu gosong. Bagaimana cara membuat dessert, memotong sayuran, membuat sayur asam, lodeh, oper dan sebagainya yang selama ini baru diketahui olehnya.
" Kau benar-benar menyedihkan Al. Sampai dua puluh tahun sudah umurmu dan kau baru mengetahui hal penting seperti ini. Bagaimana bisa Reyhan mau menikahiku ? Aku sendiri saja hampir tidak bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan bahwa aku hanya bisa makan saja dan pengetahuanku mengenai dapur benar-benar sangat buruk " Gerutu Alisa pada diri sendiri. Ia mematikan ponselnya dengan kesal.
Memijat pelan pelipisnya yang sedikit berdenyut. Alisa terlalu syok mengetahui bahwa dirinya masih jauh dari kata istri ideal. Jika dipersentasikan dalam sebuah angka dirinya hanya bisa mendapatkan angka tiga puluh persen saja untuk seorang istri yang mahir dalam urusan dapur. Oh Tuhan ! Alisa ingin berguling-guling sambil berteriak. Ini baru urusan dapur, belum urusan ranjang dan sikapnya pada suami. Ia nol besar !!!
Alisa ingin melemparkan ponselnya karena kesal, namun satu panggilan masuk berhasil membuatnya langsung gelagapan.
" Halo bu "
__ADS_1
" Sayangku, ibu rindu. Hari ini main ke rumah ya ? "
" Aku izin dulu pada Reyhan ya bu ? "
" Iya sayang. Beritahu dia lebih dulu, minta izin sama suami itu harus. Istri yang baik harus seperti itu "
" Baik bu. Oh ya bu, kalau aku diizinkan pergi aku pengen belajar memasak bu "
" Tumben tertarik untuk belajar memasak ? " Terdengar nada geli dari seberang telepon.
" Kan sekarang alisa sudah menjadi seorang istri bu. Masa iya aku gak bisa masak sama sekali "
Ema tertawa geli mendengar keluh kesah putrinya yang terdengar begitu khawatir dengan kekurangannya tersebut.
" Ibu akan mengajarimu semua hal tentang dapur agar putri ibu bisa menyenangkan suaminya "
" Alisa sayang ibu. Mmuaach ! "
" Ternyata putri kecil ibu sudah dewasa. Ibu senang sayang. Ibu juga menyayangimu"
Setelah berbicara lama dengan ibunya. Alisa mencoba menghubungi ponsel suaminya. Tiga kali ia mencoba namun sama sekali tidak ada jawaban. Hingga pada panggilan keenam barulah panggilannya tersambung. Betapa bahagianya perasaan Alisa.
" Halo beb "
" Hei, kenapa kau yang menjawab ponselnya ? "
" Dia sedang rapat beb. Ada ibu mertuamu juga loh disini "
" Sumpah ? "
" Iya. Dia sedang mengawasi putranya yang sedang menjelaskan didepan sana "
" Apa ada sesuatu yang terjadi disana beb ? Kenapa tiba-tiba ibunya datang kekantor dan ikut rapat ? Apa jangan-jangan Juliet juga disana ? "
" Jangan khawatir dia tidak ada disini bebe. Untuk saat ini tidak ada hal serius yang terjadi "
" Ah, syukurlah. Oh ya apa Reyhan yang menyuruhmu menjawab panggilanku ini? "
" Iya beb. Kau sudah menelponnya beberapa kali. Ia tidak bisa mengangkat panggilanmu ini karena ibunya terus saja mengawasinya. Jadi, suamimu itu memintaku untuk membawa ponselnya keluar ruangan agar aku bisa menjawab panggilanmu "
" Oh, baiklah. Oh iya beb, beritahu dia aku ingin meminta izin untuk pergi ke rumah ibuku hari ini "
" Baiklah akan aku beritahu beb. Ada lagi ? "
__ADS_1
" Tidak ada. Itu saja kurasa. Jangan lupa beritahu aku jika dia sudah memberikan izin ya ? " Ujar Alisa.
" Siap nyonya besar "