Mister Glow Up

Mister Glow Up
Chapter 61


__ADS_3

Alisa sudah bosan berjalan mengelilingi pentahouse milik pria itu. Kolam renang yang besar, taman yang luas, ruang gym yang keren, bioskop mini dan juga lapangan tenis yang bersih. Semua itu sudah Alisa datangi. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan oleh seorang istri.


" Jadi begini rasanya menjadi seorang istri. Duduk dirumah, tidak bisa melakukan apapun karena semua pekerjaan rumah sudah dikerjakan oleh orang lain. Ingin memasak, aku tidak bisa memasak. Menjahit, berkebun...ah, sama saja. Aku tidak punya jiwa seni seperti itu. " Gerutu Alisa seorang diri. Ia sedang duduk di taman sambil melihat kolam ikam koi.


Warna-warna ikan itu terlihat begitu indah. Bervariasi, dan unik. Alisa mengayunkan sebelah tangannya ke dalam air kolam hingga beberapa ikan terlihat panik lalu berenang kabur menuju tempat persembunyiannya. Ia bangkit berdiri, memutar tubuhnya dan melangkah pelan.


" Aku ingin masuk kerja. Tidak bisakah dia memberiku pekerjaan kembali " Gumam Alisa sambil berjalan dengan sedikit menunduk.


" Ya, aku tahu jika semua yang telah kulakukan itu salah. Tapi, saat itu aku sedang kesal, aku merasa terhina. Jadinya, aku mengundurkan diri begitu saja dari pekerjaan itu. Aish ! aku ini benar-benar bodoh " Gerutunya.


Alisa terus berjalan sambil menunduk. Ia terus saja menggerutu panjang lebar. Menyalahkan dirinya sendiri atas ucapannya tempo lalu.


" Tidak kerja, tapi semua di fasilitasi olehnya. Rasanya aku hanya bisa menjadi parasit di dalam kehidupannya"


" Aku tidak merasa kau seperti parasit "


" Eh ! " Alisa mengangkat wajahnya terkejut dan kedua matanya langsung bertubrukan dengan mata hitam pekat itu.


" Kenapa kau sudah pulang ? "


" Karena pekerjaanku sudah selesai "


" Lalu, bagaimana bisa aku tidak mendengar suara langkah kakimu ? " Gumam Alisa dengan pelan.


" Karena kau sibuk berpikir seorang diri " Ujar Reyhan sambil berjalan mendekat.


Sontak jantungnya yang tadinya berdetak normal langsung bertambah cepat detakannya. Alisa mendongak sambil memandangi Reyhan yang jauh lebih tinggi darinya.


Sungguh indah ciptaanmu ya Tuhan.


" Aku lapar. Masakan sesuatu untukku " Ujar Reyhan sambil tersenyum tipis.


Hah Masak ?! Memasak makanan katanya !!


" Aku tidak pernah memasak Rey " Alisa langsung berkata jujur. Ia memang tidak pandai memasak, pernah sekali ia mencoba memasak namun bukannya memasak makanan ia hampir saja meledakkan dapur dirumahnya. Sejak saat itulah, ibunya tidak pernah menyuruhnya untuk memasak.


" Lalu kau bisa apa Al ? " Desah Reyhan. Ia menunduk menatap istrinya sembari berkacak pinggang.


" Aku hanya bisa makan saja, Rey " Jawab Alisa dengan begitu polos. Reyhan hampir saja menyemburkan tawa namun ia berusaha menahan diri.

__ADS_1


" Ya Tuhan Al. Kau itu sudah menjadi seorang istri dari pria yang mapan sepertiku. Bagaimana bisa kau tidak mempersiapkan dirimu dengan baik hm ? " Reyhan berusaha menahan tawa ketika berbicara seperti ini. Berakting serius di depan Alisa.


" Siapa suruh kau menikahiku hah?! Aku memang tidak punya kelebihan apa-apa ! " Suara Alisa naik satu oktaf.


Reyhan menggeleng pelan.


" Siapa bilang kau tidak punya kelebihan "


Alisa mematung, wajahnya perlahan mulai memanas.


" Memangnya apa kelebihanku di matamu ? " Tanya Alisa penasaran. Suaranya yang tadinya nyaris berteriak kini perlahan berubah lembut. Sedikit malu-malu. Ia tidak menyangka Reyhan masih mengingat kelebihannya.


Reyhan menutup mulutnya dengan kepalan tangannya. Berdehem pelan berusaha untuk tidak lebih dulu tertawa.


" Kelebihanmu ada di sana " Dengan tiba-tiba Reyhan menyentuh lembut dada Alisa yang terlihat memiliki ukuran lebih besar.


" Dasar otak kotor ! " Pekik Alisa sambil menepis tangan pria itu dari sana dengan panik.


Reyhan tergelak puas sambil memegangi perutnya.


" Kau menakutiku Reyhan ! " Raung Alisa sambil bergerak mundur memeluk tubuhnya sendiri dengan sikap protektif. Berusaha melindungi dadanya dari serangan pria di depannya.


" Apa?! Ke....kepa....Reyhan ! " Raung Alisa dengan suara yang melengking.


" Awas saja kalau kau berani bersikap tidak sopan seperti itu. Akan aku potong tanganmu itu "


" Memangnya kau berani " Reyhan maju selangkah lalu sedikit mendekatkan wajahnya pada Alisa. Wanita itu mendengus kasar, ia memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gerakan yang cukup kasar.


" Tentu saja aku berani ! Tanganmu itu harus di beri pelajaran. Biar besok-besok kau tidak bisa melakukan hal-hal yang buruk padaku "


Alisa melangkah cepat melewati Reyhan sembari menggerutu kesal. Semburat merah di wajahnya masih terlihat jelas dan Alisa bersyukur Reyhan tidak mencoba menahannya.


Alisa berjalan cepat menuju Dapur. Mencoba melihat situasi disana. Apa para pelayan Reyhan sudah menyiapkan makanan atau belum. Saat ia sampai di dapur, Alisa tidak melihat siapapun ada di dapur. Biasanya mungkin ada satu atau dua orang


Sekarang, benar-benar kosong.


" Kemana mereka semua ? Tumben sekali dapur sepi begini. Biasanya para pekerja Reyhan sudah sibuk memasak ini dan itu. " Gumam Alisa.


Dengan langkah yang pelan, ia memasuki dapur. Melirik kesana kemari namun tidak ada siapapun yang terlihat. Alisa mendekati kulkas lalu membukanya. Kedua matanya langsung membesar saat melihat ada banyak bahan makanan yang tersusun rapi dan bersih. Tidak ada satupun bahan makanan yang dibiarkan tergeletak di dalam kulkas begitu saja melainkan semuanya sudah dimasukkan ke dalam plastik box berukuran sedang yang membuat isi didalam kulkas terlihat rapi.

__ADS_1


" Apa yang harus kumasakkan untuknya ? " Alisa menggigit bibir bawahnya dengan gugup.


" Kau ingin memasak ? " Reyhan berjalan mendekati Alisa. Pria itu sudah tidak memakai jas dan dasinya. Kemeja putih mahalnya mencetak jelas otot-otot lengannya.


Alisa menoleh ke arah sumber suara. Bibirnya mencebik kecil.


" Aku hanya ingin memasak makanan untuk diriku sendiri bukan untukmu " Alisa berdalih. Ia kembali membelakangi Reyhan, berpura-pura sibuk mengeluarkan beberapa box plastik berisikan bahan makanan dari dalam kulkas.


" Sangat tidak ahli berbohong " Reyhan berdecak pelan.


Alisa kembali menoleh dan menatap tajam Reyhan yang sudah berdiri tepat di belakang punggungnya.


" Jangan macam-macam disini Rey. Kau lihat kan banyak sekali pisau disini " Peringat Alisa. Hal itu ia lakukan mengingat baru saja Reyhan memegang dadanya tanpa permisi.


" Aku tidak takut. Lagipula apa salahnya, aku kan suamimu. Hal yang kulakukan tadi itu wajar Al. Dan juga Halal kok " Senyum miring terulas dari wajah Reyhan.


Alisa menutup rapat mulutnya namun giginya mengerat kuat menahan kesal.


" Kenapa diam ? " Reyhan maju, mendekati Alisa.


" Kau tidak bisa membalas kan ? Karena apa yang kukatakan memang benar adanya " Lanjutnya dengan senyum penuh kemenangan.


Tak menjawab, Alisa membalikkan tubuhnya hingga kembali membelakangi pria itu.


" Aku akan memasak, jangan disini. Kemejamu bisa kotor " Ujar Alisa. Ia tidak ingin membahas permasalahan yang tadi. Karena ia tidak akan bisa membalas Reyhan. Apa yang pria itu katakan memang benar adanya. Lebih baik ia memilih diam daripada harus mengakui kebenaran itu.


" Aku ingin membantumu "


" Duduk dan tunggu saja disana Rey. Aku harus membuatkan sesuatu yang bisa kau makan " Gerutu Alisa dengan kesal.


Reyhan tersenyum. " Jadi, kau memasak untukku ya bukan untuk dirimu sendiri seperti yang barusan kau katakan " Bisik Reyhan.


Sontak Alisa langsung terdiam, ia baru sadar jika dirinya sudah keceplosan memberitahukan niatnya yang mulia ini.


" Sudah kubilang, kau memang sangat buruk dalam berbohong Al " Reyhan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang istrinya. Memeluk Alisa dari belakang. Pria itu tersenyum puas sedangkan Alisa masih membeku diam dan merasa menyesal luar biasa.


Bisa-bisanya kau berkata jujur Al. Reyhan pasti merasa bahagia luar biasa saat ini. Dia bahagia karena kau lebih dulu mengaku . Aish !


To be Continued....

__ADS_1


Happy Reading, love you guys😘


__ADS_2