
" Alisa ! "
" Alisa ! Hei ! "
Sontak Alisa langsung terkejut dan langsung menatap Hana dengan kedua alisnya yang saling bertaut.
" Kenapa kau melamun? Liftnya sudah terbuka, ayo cepat masuk ! " Hana menarik lengan Alisa dengan cepat masuk ke dalam lift. Beberapa orang menatap heran mereka berdua. Namun Alisa masih merasa belum puas merenung. Ketika lift terbuka, Hana sudah lebih dulu berjalan keluar. Namun Alisa masih diam dan termenung di dalam lift.
" Ya Tuhan ada apa dengannya ! " Hana berlari kembali kebelakang lalu menarik tangan Alisa hingga wanita itu kembali tersentak kaget.
" Ada apa denganmu ? "
" Aku ? " Tanya Alisa bingung. Hana mengangguk cepat.
" Iya. Kau kenapa hm. Kenapa kau tiba-tiba melamun seperti ini ? Sampai-sampai kau tidak sadar jika pintu lift sudah terbuka dan akan menutup kembali " Jelas Hana.
" Aku tadi seperti itu ya. Maaf " Alisa menggaruk-garuk tengkuknya.
" Sudahlah. Kita harus segera mencari ruangan untuk interview "
" Baiklah "
Diperjalaanan Alisa dan Hana bertanya pada salah satu pegawai perusahaan yang mereka temui. Seorang pria muda dengan baik hatinya, mengantar Hana dan juga Alisa menuju ruang interview. Sebelum pergi pemuda itu sempat bertanya sebentar.
" Namanya siapa ? " Tanya pria itu. Hana yang masih menatap ke arah lain tidak mendengar pria itu bertanya.
" Siapa? Aku ? " Alisa menunjuk dirinya sendiri. Pria itu menggeleng.
" Bukan. Teman kamu " Pria itu tersenyum. Alisa melirik sekilas pada Hana.
" Namanya Hana "
" Nama yang cantik seperti orangnya " Puji pria itu. Hana yang memang sibuk menatap ke arah lain, tidak mendengar ucapan pria tersebut.
" Apa saya bisa mendapatkan nomor ponselnya ? " Tanya pria itu lagi. Alisa mulai jengah, pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Ia sedang memikirkan Reyhan.Dan parahnya pria muda didepannya ini terus saja bertanya tanpa henti.
" Mohon maaf saya tidak punya nomor ponselnya. Jika kau menaruh hati padanya, tanyakan langsung pada orangnya " Jawab Alisa dengan jengkel.
Dengan kasar Alisa berjalan melewati pemuda itu lalu mengambil tempat duduk yang tersedia di dekat pintu ruangan untuk interview. Hana yang melihat Alisa sudah lebih dulu duduk langsung menghampirinya.
" Sepertinya sebentar lagi, interview akan segera dimulai " Hana menunjuk ke arah beberapa orang yang terlihat sibuk di ujung meja yang tidak jauh dari tempat mereka berdua duduk. Hana menatap kearah sana, ia mengangguk pelan sambil menghembuskan nafas dengan lesu.
" Aku harap dia tidak bekerja disini " Gumam Alisa.
" Heh, dia siapa ? " Hana menyenggol pelan lengan Alisa.
" Ah, bukan apa-apa Han. Hanya seorang teman "
" Teman atau mantan ? " Goda Hana.
" Teman. Hanya teman "
Beberapa orang sudah mulai masuk ke dalam ruangan melewati mereka berdua. Hana dan Alisa terus saja memandangi orang-orang tersebut hingga mereka semua menghilang dibalik pintu.
" Interviewnya akan segera di mulai " Salah seorang wanita muda keluar dari pintu dan berujar pada mereka yang sedang menunggu diluar. Hana dan Alisa langsung bersiap-siap. Jika Hana sibuk melihat cermin kecil. Alisa justru sibuk mengikat dasi blousenya.
" Evalina ! " Panggil wanita tadi. Seorang wanita bertubuh tinggi semampai dengan rambut panjang berkilau bak seorang model iklan shampo melenggang masuk ke dalam ruangan.
" Cantik banget ya " Hana melihat wanita tadi tanpa henti.
" Iya cantik " Sahut Alisa dengan malas.
" Zafira ! " Lagi, wanita muda itu memanggil para pelamar satu persatu.
__ADS_1
Hana dan Alisa kembali menoleh. Seorang wanita cantik lagi-lagi melangkah maju dengan raut wajah yang anggun dan pakaian yang berkelas.
" Dia juga cantik. Aaaa.....aku jadi merasa jelek ! "
" Apalagi aku Han " Sambung Alisa dengan malas. Ia tidak habis pikir kenapa para pelamar terlihat cantik-cantik semua. Apa perusahaan ini sedang mencari seorang model ? Kalau pun iya, kenapa mereka menghubunginya.
Selama dua puluh menit Hana dan Alisa menunggu antrian dipanggil.Hampir semua pelamar yang sudah dipanggil itu memiliki penampilan yang menarik. Hingga pada menit yang kedua puluh dua, barulah giliran nama Hana yang dipanggil oleh wanita muda itu. Sambil berusaha tersenyum, Hana masuk ke dalam ruangan. Meski tadi Hana sempat memekik panik saat namanya dipanggil. Tapi, begitu melangkah maju, Hana bisa mengontrol perasaannya dengan baik. Ia tidak kelihatan gugup sama sekali.
" Aku harus seperti Hana nanti saat dipanggil " Gumam Alisa menyemangati dirinya sendiri. Sepuluh menit Hana di interview di dalam sana. Begitu keluar, Hana langsung tersenyum cerah.
" Apa pertanyaannya mudah ? "
" Lumayan "
" Kau merasa senang ? "
" Iya Al. Firasatku mengatakan sepertinya aku diterima bekerja disini " Jawab Hana lalu duduk.
" Hm begitu ya "
" Alisa ! "
" Itu aku ! " Pekik Alisa sambil membenarkan rambutnya seadanya.
Begitu masuk, Alisa merasa semua orang menatap ke arahnya. Dengan tangan yang gemetar ia duduk di depan keempat orang yang bersetelan rapi di depannya. Dua orang pria dan duanya lagi wanita muda.
" Namamu Alisa Saraswati "
" Iya "
" Lulusan S1 Akuntansi " Tanya wanita muda itu lagi. Alisa mengangguk sambil tersenyum.
" Iya "
" Karena saya merasa lebih tertarik saat melihat perusahaan baru seperti ini. Saya berharap bisa menjadi bagian didalamnya yang bisa ikut serta membangun perusahaan baru ini untuk bisa berjaya seperti perusahaan lain. Saya pikir itu menyenangkan sekali " Jawab Alisa.
Tumben aku bisa bicara dengan lancar begini.
Wanita muda itu mengangguk lalu kembali melontarkan pertanyaan.
" Apa yang akan kamu lakukan jika kamu bekerja dengan seorang atasan yang sangat disiplin, pintar dan ulet ? "
" Saya akan mencoba mengikuti sistem kerjanya. Saya harus bisa seperti atasan saya. Disiplin, pintar serta ulet. Meski awalnya saya pasti akan merasa kesulitan, tapi saya rasa saya mampu mengatasi hal itu "
Dua pria muda itu tersenyum.
Semoga saja jawabanku sesuai dengan keinginan mereka
" Kamu sanggup bekerja lembur disini ? "
" Sanggup "
Demi uang saya sanggup !
" Baiklah nona Alisa, kami rasa anda sudah cukup banyak memberikan jawaban. Terima kasih dan anda sudah boleh keluar "
" Terima kasih " Alisa bangkit berdiri lalu setelah itu ia melangkah pergi keluar dari ruangan interview.
" Bagaimana? " Tanya Hana penasaran.
" Firasatku mengatakan bahwa aku diterima Han " Alisa meniru jawaban Hana. Ia tertawa pelan lalu kembali duduk. Hana mengikuti.
" Setelah jam makan siang akan ada interview lagi "
__ADS_1
Alisa langsung menoleh pada Hana.
" Bagaimana kau bisa tahu ? "
" Mereka yang bilang. Sebelum aku keluar mereka mengatakan hal itu padaku. Kau tidak diberitahu Al ? "
Alisa menggeleng.
" Apa mereka lupa ya, atau mungkin aku tidak lanjut ke interview kedua ? " Terdengar nada kecewa dari ucapan Alisa.
" Tenanglah. Mungkin mereka lupa memberitahumu "
Kedua pundak Alisa bergerak turun. Wajahnya langsung berubah lesu dan kecewa.
" Firasatku mengatakan bahwa sepertinya aku ditolak oleh perusahaan ini " Alisa menundukkan wajahnya dengan perasaan sedih. Hana merangkul bahunya sambil tersenyum kecil.
" Ayolah, jangan putus asa begini Al. Berdo'alah semoga kau diterima bekerja disini "
Apa hanya orang yang terlihat menarik saja yang diterima bekerja disini ? Oh dunia, kau kejam sekali !
Meski semangatnya sudah hampir memudar, namun Alisa tetap saja menunggu hingga waktu makan siang berkahir. Setelah nama beberapa pelamar di panggil, kini giliran nama Hana yang terdengar. Hana dengan begitu semangat melangkah masuk sedangkan Alisa dengan tegang menunggu kelanjutan nama yang akan di panggil berikutnya.
Apa namaku akan dipanggil juga ya ?
Gumam Alisa dalam hati. Ia benar-benar berharap bahwa nama dirinya juga dipanggil untuk melakukan interview kedua ini. Jika kali ini ia gagal lagi, maka kesekian kalinya ia membuat kecewa ayah dan ibunya.
Sekitar lima belas menit Hana berada di dalam ruangan itu. Alisa merasa waktu berjalan sangat pelan. Rasanya seperti setahun lamanya. Saat suara pintu dibuka oleh seseorang, Alisa langsung memandang ke arah pintu dan lagi-lagi wajah Hana tampak berseri-seri.
" Kau diterima ? " Alisa langsung berdiri dan menghampiri Hana dengan cepat.
" Belum tahu Al "
" Lalu, kenapa kau terlihat senang begitu ? " Tanya Alisa lagi.
Dengan ekspresi penuh kegembiraan Hana memegang kedua bahu Alisa dengan erat sembari menggerak-gerakkannya dengan pelan.
" Yang menginterview tadi langsung dari direktur utama perusahaan ini Al "
" Lalu ? "
" Oh Tuhan Al, Direktur itu masih sangat muda dan tampan. Suaranya ketika bertanya padaku terdengar begitu berat dan seksi. Aku rasa aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya "
Alisa langsung menghela nafas singkat.
" Oh, Jadi itu yang membuatmu sesenang ini ? "
Hana mengangguk sembari tersenyum lebar. Alisa melepaskan kedua tangan Hana dari bahunya. Ia hendak kembali duduk dan menunggu giliran apa namanya akan di panggil atau tidak. Namun belum sempat ia mendaratkan kembali bokongnya ke kursi, ucapan Hana berikutnya membuat Alisa hampir mengalami serangan jantung mendadak.
" Namanya Reyhan Wijaya Al. Pria tampan di dalam itu bernama Reyhan Wijaya. Namanya sesuai dengan orangnya " Ujar Hana sambil tersenyum penuh kagum.
" Apa ?!! " Pekik Alisa dan langsung berdiri dari kursinya. Hana menoleh terkejut.
" Alisa ! " Panggil seorang wanita dari balik pintu ruangan tersebut. Sontak Alisa langsung menatap horor wanita itu.
Sebaiknya aku pulang saja ! Biar saja aku gagal mendapatkan pekerjaan ini. BIAR SAJA !!!
Ayah, Ibu ! Maafkan Alisa !
Pekiknya dalam hati.
To be continued....
Happy reading, love you guys 😘
__ADS_1