Mister Glow Up

Mister Glow Up
Chapter 5


__ADS_3

Lima tahun sudah dan perasaannya masih tetap sama....


Namun wajahnya dan kekayaannya telah berubah. Jerawat besar tumbuh di setiap inci kulit wajahnya lalu ditambah beruntusan yang kian banyak semakin menambah koleksi jerawatnya. Entah do'a apa yang sudah Reyhan panjatkan setiap malam untuknya.Hingga kehidupannya benar-benar terpuruk dan menyedihkan. Perusahaan ayahnya bangkrut, rumahnya disita kemudian ia yang memiliki wajah bersih kini berjerawat parah. This is real karma !


" Alisa bangun nak ! Sudah pagi sayang " Pekik Ema sambil berlari masuk ke dalam kamar putrinya.


" Alisa ! Bangun sayang ! "


" Satu menit lagi bu " Gumam Alisa sambil mengeratkan selimut tebalnya.


" Sudah pagi Alisa, ayahmu bisa marah besar jika kau terlambat bangun " Ema menarik paksa selimut yang membalut tubuh Alisa. Semakin ibunya menarik selimut tersebut, Alisa semakin kuat menahan benda tebal itu.


" Alisa bangun ! Anak perempuan tidak boleh tidur lama seperti ini. Tidak akan ada pria yang mau menikahimu nanti "


" Mana ada pria yang mau dengan wanita berjerawat sepertiku bu " Gumam Alisa setengah sadar. Matanya masih terpejam, tapi otaknya sudah bisa merespon ucapan ibunya.


" Ada. Ibu yakin ada. Ayo bangun sekarang sayang ! " Ujar Ema yang semakin kuat menarik selimut itu. Alisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Bu ! Aku masih ingin tiduran " Raung Alisa dengan suara seraknya.


" Tidak boleh sayang. Ayahmu pasti marah besar jika kau seperti ini "


Alisa menendang-nendang liar sambil menggerutu kesal. Ia masih berbaring dan memejamkan kedua matanya. Ema berhenti sejenak, ia menarik nafas panjang sambil berkacak pinggang.


" Jika kau tidak bangun juga, ibu akan membuang Nemo dan anak-anaknya ke jalanan. Lagipula ibu sudah lelah bertahan selama ini. Membiarkan kau memeliharanya sedangkan ibu sangat alergi dengan bulu-bulu mereka " Ujar Ema sambil tersenyum kecil.


Sontak Alisa langsung menegakkan tubuhnya sambil menyingkirkan selimut tebal itu ke sembarang arah. Ia menendang selimut tebal itu hingga terjatuh dari kasurnya.


" Tidak boleh bu ! Ibu tidak boleh membuang mereka ! "


" Kalau begitu bangunlah. Mereka butuh diberi makan, dimandikan. Kalau majikannya malas seperti ini mau jadi apa mereka semua hm ? "

__ADS_1


Alisa sama sekali tidak membalas ucapan ibunya. Ia mengacak-ngacak rambutnya sendiri lalu kemudian buru-buru keluar dari kasurnya. Ia kemudian melangkah cepat keluar kamar sambil sesekali terdengar menggerutu kesal. Ema hanya bisa tersenyum melihat tingkah putrinya. Alisa membersihkan wajahnya sebentar lalu tak lama ia keluar dari dalam kamar mandinya, menuju dapur. Disana ayah dan ibunya pasti sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan bersama.


" Sudah setahun kau menganggur, kapan kau akan mencari pekerjaan ? " Sindir ayahnya.


Dan sudah setahun juga ayah menyindirku seperti ini, setiap kali aku bergabung untuk sarapan. Apa ayah tidak punya kalimat sindiran lain hm ?


Rutuk Alisa dalam hati. Ia dengan segera mengambil sambal tempe lalu nasi dan mentimun. Selama lima tahun ini, ia sudah terbiasa sarapan pagi dengan menu yang hampir sama setiap harinya. Tempe, tahu atau telor goreng atau hanya dengan sayur bening saja. Tidak seperti saat mereka masih kaya dan makmur dulu, meja makan mereka selalu dipenuhi dengan lauk pauk yang banyak. Menu tempe ini bahkan sangat jarang ia temui. Tapi bagi Alisa tahu, tempe dan telur juga lauk pauk kan. Sehat dan bergizi lagi. Syukuri ! Ingat. Disyukuri !


" Alisa bukan tidak mencari pekerjaan yah. Alisa sudah mencari kesana kemari tapi belum juga diterima" Alisa menyendokkan tempe dan nasi ke dalam mulutnya. Dengan santai dan tenang ia mengunyah makanannya.


" Usia ayah semakin hari semakin bertambah. Ayah semakin tua, suatu saat ayah tidak akan kuat lagi untuk bekerja. Mungkin sekarang ayah masih mampu untuk bekerja tapi ayah tidak tahu beberapa tahun yang akan datang "


Alisa masih mengunyah dan mengunyah sambil berpikir pagi ini ia harus kemana lagi membawa ijazah S1 akuntansinya. Apa yang dikatakan oleh ayahnya benar adanya, fisik ayahnya sewaktu-waktu bisa saja menurun. Apalagi sekarang, ayahnya hanya bekerja sebagai buruh angkut di pasar tradisional.


" Alisa akan mencari pekerjaan yah secepatnya " Sahut Alisa begitu ia sudah menelan makanannya.


" Entah kapan itu secepatnya " Gunawan mendesah lelah.


" Amin. Ibu selalu mendo'akanmu sayang "


Alisa tersenyum lebar pada ibunya. " Makasih bu "


" Tapi jangan menjelekkan dirimu sendiri sayang, itu tidak baik "


" Alisa tahu bu. Tapi ini kenyataannya bu " Alisa terkekeh kecil. Ia kembali menyendok tempe bahkan lebih banyak dari yang pertama.


" Berhemat Alisa. Kau hanya ingin makan lauk saja! " Protes Gunawan pada putrinya. Alisa langsung memejamkan kedua matanya erat-erat sembari menarik nafas dalam-dalam.


" Baik yah. Tapi tempenya enak banget. Jadi gimana coba ? "


" Ya, pakai nasi biar lama kenyangnya " Ujar Gunawan dengan kesal. Dengan patuh Alisa menyendok nasi putih dua sendok penuh.

__ADS_1


" Untuk bekal hari ini, biar kuat nyari kerjaan " Gumam Alisa.


Begitu turun dari angkutan umum, Alisa langsung bergerak menuju perusahaan yang menjadi targetnya. Alisa sudah membawa banyak amplop coklat yang berisi surat lamaran dan fotokopian dokumen penting miliknya.


" Permisi, saya ingin memasukkan lamaran kerja di perusahaan ini "


" Simpan saja disini " Ujar pegawai wanita itu dengan sedikit judes.


" Baiklah " Alisa buru-buru meletakkan satu amplop coklat di atas meja wanita itu.


Alisa kembali menaiki angkutan, menuju perusahaan lain sambil berdesakkan dengan orang-orang lain yang selalu ramai di jam-jam seperti ini. Panas, debu, asap kendaraan membuat jerawatnya semakin meradang. Wajahnya memerah dan terasa berdenyut sakit. Beberapa pria secara terang-terangan memandangi nya.


" Pasti kau sedang bingung, kenapa bisa ada manusia seunik aku, ya kan ? " Gumam Alisa dengan suara pelan.


" Penuh dengan bintang-bintang kejora di wajahnya" Lanjut Alisa lagi.


Alisa melotot pada pria itu dan si pria yang terus-terusan memandanginya langsung memandang ke arah lain.


Baru ditatap sedikit sudah takut duluan.


Alisa tersenyum kecil.


Seharian penuh ia memasukkan lamaran kerjanya ke perusahaan-perusahaan yang ada di kota Jakarta. Bahkan perusahaan yang tidak membuka lowongan pekerjaan pun ia masukkannya juga berkas lamarannya disana. Siapa tahu mereka berminat memperkerjakannya kan. Alisa selalu optimis setiap waktu.


Saat pulang kerumah, Alisa sudah disambut oleh Nemo dan anak-anaknya. Nemo bahkan sudah mempunyai anak dari pejantan liar sedangkan ia masih single dan kesepian. Menyedihkan sekali sih dirinya ini.


" Nemo ku sayang, maafkan aku karena masih menganggur. Aku belum bisa memberikan makanan yang layak untuk kalian sayangku. Kalian hanya kuberi udang rebon mix nasi. Tidak apa ya " Ujar Alisa sambil mengusap-ngusap tubuh Nemo.


" Yang penting kalian lauk udang. Meski aku hanya lauk tempe. Coba saja kalian suka makan tempe itu akan lebih mudah untukku "


To be continued...

__ADS_1


Happy reading, love you guys😘


__ADS_2