
" Kau yakin nak? " Tanya Wijaya begitu mereka sampai. Reyhan sudah lebih dulu berdiri di depan pintu rumah Alisa. Reyhan berbalik lalu mengangguk dan tersenyum pada ayahnya.
" Reyhan yakin yah. " Jawab Reyhan lalu berbalik dengan cepat. Ia saat ini sedang mengamati rumah Alisa. Ia pun masih mengenakan setelan jas kerjanya. Reyhan merasa tidak sabaran ingin segera masuk dan melihat ekspresi Alisa saat melihatnya nanti. Mungkin Alisa akan langsung menendangnya nanti.
Saat pintu terbuka dan yang dilihatnya adalah wajah kedua orang tua Alisa. Reyhan buru-buru memberi hormat dan langsung menjabat tangan Gunawan
" Nak Reyhan, kenapa...." Ucapan Gunawan terhenti begitu saja. Ia melirik pada Wijaya yang ternyata sedang berdiri tidak jauh dari Reyhan.
" Wijaya "
" Lama tidak berjumpa Gunawan " Ujar ayah Reyhan sambil tersenyum. Gunawan langsung berjalan maju lalu kemudian memeluk Wijaya dengan sangat erat. Menepuk punggung sahabat lamanya itu.
" Kukira kau tidak akan mau datang lagi ke rumahku sahabat " Gumam Gunawan sembari tersenyum lebar. Sebelah tangannya menepuk pelan punggung sahabat lamanya itu. Gunawan masih memeluk Wijaya dengan sangat erat begitu juga dengan Wijaya. Keduanya berpeluk sangat erat sembari tersenyum bahagia. Sudah sangat lama mereka tidak pernah bersua. Sejak kejadian putusnya pertunangan Alisa dan Reyhan. Wijaya dan Gunawan tidak pernah bertemu lalu duduk dan mengobrol layaknya sahabat lama.
Namun kali ini tanpa Gunawan duga, sahabat lamanya itu tiba-tiba datang ke rumahnya.
" Kau masih tetap gemuk seperti dulu " Wijaya terkekeh sembari merangkul bahu Gunawan.
" Dan kau masih tetap pria gemuk yang sangat benci pada sayuran " Ujar Gunawan lalu tertawa. Wijaya pun ikut tertawa lepas.
Ema tiba-tiba bergabung lalu tampak terkejut saat melihat tamu yang tidak ia sangka bisa datang ke rumah. Dan tamu itu bahkan sudah berdiri di depan pintu rumah mereka. Pantas saja saat di dalam ia mendengar suara suaminya yang terdengar sedikit bersemangat.
" Sayang. Hari ini kita kedatangan tamu yang tak terduga " Ungkap Gunawan sambil melangkah mendekati istrinya. Ema tersenyum dan menyapa Wijaya.
" Ayo masuk nak Reyhan dan pak Wijaya. Kebetulan hari ini saya sudah memasak banyak "
" Iya benar. Ayo kita masuk saja. Sudah lama juga aku tidak pernah mengobrol panjang lebar denganmu " Gunawan tersenyum lebar.
Alisa masih sibuk mematut dirinya di depan cermin riasnya.
" Entah apa yang ayah pikirkan sampai-sampai aku di suruh menghubunginya dan meminta maaf " Alisa bersidekap sembari memasang wajah cemberut.
Merasa bosan memandangi cermin yang hanya terus memantulkan wujudnya yang masih berjerawat. Alisa akhirnya memilih untuk menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ia jadi malas untuk mandi dan melakukan aktivitas apapun. Lagipula ia juga sudah tidak bekerja di perusahaan Reyhan. Jadi, ia bebas melakukan apapun hari ini dan seterusnya.
" Mau jalan-jalan tapi tidak ada partner. Apa aku harus menelpon Mirna ? Hem...tapi dia pasti sedang sibuk bekerja " Gumam Alisa.
Alisa bergerak memindahkan posisi tubuhnya jadi berbaring menyamping. " Atau aku telepon Nathan saja ya. Ah ! Dia mungkin sedang sibuk bekerja juga "
" Aaah ! Hanya aku sendiri yang pengangguran ! " Pekik Alisa sambil mengacak-ngacak rambutnya.
Ema menyajikan bihun goreng juga teh hangat untuk Reyhan dan juga Wijaya. Untung saja ia memasak cukup banyak pagi ini. Sehingga ia bisa dengan cepat menyajikan makanan itu untuk kedua orang yang datang pagi-pagi sekali ke rumahnya.
__ADS_1
" Silahkan dimakan nak Reyhan. Ujar Gunawan
Reyhan mengangguk dan tersenyum kecil. " Iya pak"
Gunawan beralih menatap sahabatnya. " Kau juga Wijaya. Silahkan di cicipi "
Di dalam kamarnya, Alisa sibuk berguling kesana kemari untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia sudah mematikan ponselnya untuk sementara waktu agar Reyhan tidak bisa menghubunginya. Pria itu akan menyusahkannya jika sampai membuka mulut. Karena setiap ucapannya akan membuat otaknya tiba-tiba gagal bekerja.
" Kalau boleh bapak tahu kenapa tiba-tiba nak Reyhan datang kemari ? " Tanya Gunawan. Reyhan tersenyum sembari meletakkan gelas teh dengan perlahan.
" Ada sesuatu yang penting om yang ingin Reyhan sampaikan pagi ini "
Wijaya hanya diam dan membiarkan putra semata wayangnya untuk berbicara secara gentleman. Ema dan Gunawan tampak terkejut seketika, mereka menduga-duga jika kedatangan Reyhan pagi ini adalah untuk membuat perhitungan atas perbuatan tidak sopan Alisa karena telah mengusir ibunya. Perasaan Gunawan dan istrinya semakin tak menentu.
Gunawan mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Meski perasaannya sedang bergemuruh hebat.
" Kalau boleh bapak tahu hal penting apa itu nak ? "
Reyhan kembali tersenyum. Gunawan dan istrinya semakin mengerutkan kening mereka.
Assalamua'laikum !
" Wa'alaikumussalam " Semua menjawab salam dari pria tersebut. Gunawan langsung berdiri dan dengan cepat pria paruh baya itu.
" Maaf, bapak siapa ? " Tanya Gunawan.
" Saya Amirudin pak, penghulu yang di panggil oleh bapak Reyhan Wijaya "
Sontak Gunawan langsung melebarkan kedua matanya dengan terkejut.
" Maaf sebelumnya om dan tante. Mungkin ini terlihat terlalu mendadak, tapi inilah yang membuat saya datang kemari pagi-pagi sekali " Reyhan sudah berdiri.
Gunawan dan Ema sama-sama Memandang I reyhan dengan wajah tidak percaya mereka.
" Pak Amirudin ini adalah penghulu dari kantor urusan agama yang Reyhan panggil untuk datang kemari. Karena Reyhan ingin menikahi Alisa, putri om Gunawan dan tante....Pagi ini juga " Ungkap Reyhan dengan suara tenang dan tegasnya.
" APA ???! " Teriak Ema dan Gunawan bersamaan.
Alisa sudah hampir jatuh tertidur, setelah perutnya terisi penuh ia jadi merasa ngantuk luar biasa. Berhubung juga saat ini masih pagi juga, jadi sepertinya tidak masalah baginya untuk kembali memejamkan kedua matanya sebentar.
Tok ! Tok ! Tok !
__ADS_1
" Alisa buka pintu kamarnya sayang ! " Pekik Ema.
Alisa langsung terlempar ke batas kesadarannya. Suara ketokan panik terdengar dari balik pintu kamarnya.
Tok ! Tok ! Tok !
" Alisa cepat buka pintu kamarnya sayang ! "
" Ya Tuhanku, ibu kenapa sih " Gerutu Alisa sambil menegakkan tubuhnya lalu turun dari ranjangnya. Ia melangkah gontai, meski suara ibunya sudah begitu heboh di luar kamarnya.
" Ada apa bu ? Kena...."
" Aww ! " Pekik Alisa. Belum sempat ia menyelesaikan ucapananya. Ibunya sudah langsung menarik sebelah tangannya dengan cepat.
" Bu ! Ada apa ini ?! " Raung Alisa dengan panik.
" Sayang, kita tidak punya banyak waktu sekarang ! " Ujar Ema sambil melangkah tergesa-gesa. Ia menarik putrinya menuju kamar mandi.
" Bu ! " Panggil Alisa
" Mandi sekarang ! " Perintah Ema. Bukannya masuk ke dalam kamar mandi, Alisa malah memasang wajah penuh kebingungan.
" Ayo sayang ! " Ema mendorong tubuh putrinya. Alisa bergeming di tempat. Ia sengaja memberatkan tubuhnya agar tidak melangkah kemanapun.
" Katakan dulu ada apa bu ? Baru setelah itu aku akan mandi "
Ema memejamkan kedua matanya dengan sabar.
" Ada Reyhan. Dia sedang berbicara dengan ayahmu di ruang tamu " Beritahu Ema.
" Kenapa dia datang kemari bu? Bukannya aku sudah mengusirnya. Apa ayah yang...."
" Dia datang untuk menikahimu nak "
" APAAAAA ?! " Pekik Alisa dengan wajah horornya.
Menikah ? Siapa yang akan menikah? Ia dan Reyhan. Oh Tuhan, apa aku sedang bermimpi buruk ?! Aku ingin bangun sekarang ! Tolooooong !!!
To be continued
Happy reading, love you guys 😘
__ADS_1