
" Alisa, cium tangan suamimu " Bisik ibunya sambil menyentil pelan pipi putrinya. Gadis itu masih terdiam membisu di tempatnya duduk. Ia masih belum percaya jika dirinya sudah menjadi istri Reyhan. Pria yang menjadi mantan tunangannya dulu. Pria yang melepaskannya dan juga Nemo. Pria yang meninggalkannya lima tahun lamanya. Kedua mata Alisa bergulir turun memandangi pakaian yang ia kenakan sendiri.
Oh Tuhan! hanya sepasang piama tidur bergambar donald bebek yang sudah tidak baru lagi. Alisa memejamkan kedua matanya sejenak.
Mungkin ini semua hanya sekedar mimpiku saja. Lihat saja aku masih mengenakan pakaian tidur. Aku harus bangun !
" Cubit aku bu " Alisa memutar tubuhnya hingga jadi menghadap ibunya.
" Kenapa minta di cubit sayang? " Ema tersenyum sembari mengusap pelan anak-anak rambut yang menjuntai di dahi putrinya.
" Aku rasa aku sedang bermimpi bu. Bangunkan aku ! Tolong bu ! "
" Kau tidak sedang bermimpi nak " Ema membingkai garis wajah putrinya dengan kedua tangannya yang lembut. Menatap kedua mata Alisa dalam-dalam.
Alisa terdiam, mencerna semua perkataan ibunya. Kemudian ia melirik pelan pada Reyhan yang masih menandatangani sesuatu di atas kertas putih yang dipegang oleh pak penghulu. Alisa kembali menatap ibunya lalu menitikkan air matanya. Alisa langsung memeluk erat tubuh ibunya. Ema merangkul putrinya sambil mengucapkan kata-kata penenang.
" Apa aku bisa menjadi seorang menjadi istri yang baik bu ? " Gumam Alisa sambil sesegukan di dalam pelukan ibunya. Ia menangis sedih sekaligus sedikit merasa bahagia. Namun ia tidak sepenuhnya bahagia karena setelah ini mungkin kehidupannya tidak lagi tenang seperti dulu lagi. Alisa mengusap wajahnya sambil berusaha menenangkan degup jantungnya yang berpacu cepat. Ia membalikkan tubuhnya dan itu hampir bersamaan dengan Reyhan yang juga berbalik.
Deg !
Alisa terdiam, wajahnya mungkin sudah terlihat aneh karena ia merasa gugup luar biasa. Sudut kiri bibir pria itu terangkat lalu tak lama satu kedipan mata menyergap Alisa. Hatinya langsung meleleh hanya karena kedipan itu.
" Kemari lah, kau belum mencium punggung tanganku" Ujar Reyhan sambil tersenyum.
Kenapa tiba-tiba aura ruangan ini jadi berubah panas begini hah ?!
Alisa meremas kedua tangannya. Perlahan tapi pasti, ia menggeser tubuhnya ke arah Reyhan yang terlihat santai saja. Sedangkan dirinya sekarang sedang merasa panas sekaligus dingin. Mencium tangan mantan tunangan itu memang tidak mudah. Butuh jiwa raga yang sehat untuk menerima kenyataan ini. Reyhan benar-benar sesuatu yang mustahil baginya. Namun siapa sangka jika hal mustahil itu menjadi kenyataan.
" Cepetan Al, gerakmu seperti keong. Aku harus segera pergi ke kantor "
" Siapa suruh kau menikahiku " Balas Alisa dengan menggerutu. Reyhan menaikan kedua alisnya.
" Aku tahu kau bahagia sekarang. Berhenti berpura-pura menggerutu seperti ini "
Cup !
Alisa mencium punggung tangan Reyhan dengan cepat. Hanya dalam sepersekian detik saja bibirnya menempel disana.
" Belum terasa. Cium yang benar Al "
" Sudah kulakukan "
" Kau belum melakukannya dengan benar " Reyhan kembali mendorong sebelah tangannya pada wajah Alisa.
" Kau ini...." Geram Alisa. Ia menarik tangan Reyhan dengan lalu kembali menunduk dan mencium punggung tangan itu.
" Kau baru boleh mengangkat kepalamu sampai kubilang boleh " Bisik Reyhan sambil menekan belakang kepala Alisa.
__ADS_1
Satu menit....
" Nah, begitu. Itu baru istri soleha namanya " Ujar Reyhan sambil tersenyum senang. Sedangkan Alisa yang baru mengangkat wajahnya langsung mengumpat pelan.
" Tinggalah dirumah ibu dan ayahmu dulu. Nanti malam aku akan datang menjemputmu dan kita akan tinggal di rumahku "
" Semoga saja kau sibuk dan tidak pernah datang kesini " Alisa membalikkan badannya dengan cepat. Ia membelakangi Reyhan dengan kesal.
Reyhan mendekat dan Alisa bisa merasakannya meskipun ia tengah membelakangi pria itu.
" Sekalipun sibuk aku akan tetap datang Al. Mana mungkin aku melewatkan malam pertama kita sebagai sepasang suami istri " Bisik Reyhan.
" REYHAN !! " Teriak Alisa dengan nyaring.
" Kau ini kenapa? " Sergah Gunawan sambil menatap tajam Alisa.
Seketika Alisa baru menyadari jika tatapan semua orang yang ada di dalam rumahnya sedang tertuju padanya.
Bagus Alisa , bagus. Kau berhasil membuat semua orang menatapmu sekarang.
Alisa memejamkan kedua matanya sejenak, menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi aneh dan bodoh dalam waktu yang bersamaan dan itu semua gara-gara Reyhan. Mantan tidak tahu di untung !
" Tidak ayah mertua, Alisa hanya terlalu bersemangat "
Ah, syukurlah dia membantuku menjawab.
" Dia bersemangat karena sudah menikah denganku. Wah, aku tidak menyangka sayang. Ternyata kau benar-benar sudah jatuh cinta padaku " Reyhan memeluk Alisa dari belakang.
" Hahaha " Tawa berderai langsung memenuhi ruangan. Alisa ingin melontarkan kata-kata makian namun ia tidak bisa melakukannya. Karena sekarang, Reyhan sudah menjadi suaminya. Dan ia praktis harus menghormati pria yang saat ini sedang memeluknya.
" Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti malam. Awas saja kau..." Geram Alisa.
" Kita lihat saja nanti malam, apa kau berhasil atau tidak " Balas Reyhan dengan suara yang pelan. Tidak ada sesiapapun yang mendengar ucapan mereka berdua. Semua orang yang berada di dalam ruangan hanya tahu bahwa Reyhan dan Alisa sedang berpelukan karena mereka merasa bahagia atas terselenggaranya pernikahan itu.
Mirna langsung berdiri siap saat melihat atasannya sudah datang kembali ke kantor. Dengan keahlian mata penuh curiga nya. Mirna memenadangi atasannya itu nak dan turun. Menurut pengamatannya, atasannya itu tampak sedang bahagia dan itu terlihat jelas dari raut wajahnya.
" Mirna "
" Iya pak, saya" Mirna langsung berlari menuju atasannya dengan langkah kaki panik yang terdengar cukup jelas.
Reyhan berhenti tiba-tiba membuat Mirna langsing kelabakan. Ia berusaha mengerem tubuhnya agar tidak menabrak tubuh atasannya. Jika hal itu sampai terjadi, maka bisa dipastikan karirnya akan berakhir hari ini juga.
" Saya ingin meminta tolong "
" Tolong. Baiklah pak. Saya siap menolong "
" Pergi ke toko bunga dan belikan satu bucket bunga Mawar merah berukuran besar. "
__ADS_1
" Bucket bunga Mawar pak " Ulang Mirna dengan ekspresi terkejut.
" Iya. Suruh karyawan yang bekerja disana untuk menghiasi bucket bunga itu dengan desain yang paling bagus "
Lagi-lagi Mirna melebarkan kedua matanya.
" Baik Pak, saya akan memberitahu mereka"
Reyhan mengangguk singkat. Ia hendak melangkah pergi namun rupanya ia tidak jadi melangkah.
" Ada lagi pak? " Tanya Mirna. Reyhan tampak ragu sejenak.
" Satu lagi "
" Baiklah. Satu lagi. Apa itu pak? "
" Jangan lupakan kartu ucapannya "
" Ah, baik pak. Saya akan memberitahu karyawan toko untuk menyertakan kartu ucapan. Mau ditulis dengan kalimat seperti apa pak?
" Saya ingin kamu yang menuliskan pesan di kartu ucapan itu "
" Saya pak "
" Iya. kamu "
" Isi pesannya pak ? "
" Alisa, ini adalah hadiah malam pertama pernikahan kita " Ujar Reyhan dengan suara yang sangat pelan.
" Jadi bapak dan Alisa sudah menikah pak ?! " Ujar Mirna sambil tersenyum lebar. Ia tidak menyangka ternyata tebakannya benar.
" Ya. "
" Sudah malam pertama juga pak? "
" Belum. Rencananya malam in.." Reyhan menghentikan ucapannya seketika. Ia langsung menatap tajam sekretarisnya itu
" Saya do'akan...."
" Kenapa kau berani bertanya hal tidak sopan seperti itu pada atasanmu, Mirna ! " Bentak Reyhan. Ia baru tersadar jika dirinya sudah berbicara panjang lebar pada sekretarisnya yang suka sekali bertanya.
" Aduh, maafkan saya pak ! Maafkan saya ! " Mirna buru-buru melangkah pergi.
To be continued....
Happy reading, love you guys.😘
__ADS_1
Maafkan author readers tercinta. Upnya lama sekali 😆. Author sibuk jualan readers di bulan puasa ini 🙏🙏. Semoga kalian masih bisa menikmati cerita ini 😘