
Mirna baru saja memberikan jadwal Reyhan hari ini bahwa pria itu akan bertemu dengan seorang rekan bisnis sekaligus sahabat pria itu. Alisa sudah akan masuk ke dalam ruangan pria itu dan menggebrak meja pria itu sekaligus menyuruh Reyhan membatalkan keinginan terkutuknya. Reyhan kira ia bisa datang dan pergi sesuka hati lalu bertunangan dengan wanita lain kemudian ingin melamarnya juga. Disaat status pria itu masihlah milik wanita lain.
" Dimana dia akan bertemu dengan rekan bisnisnya, Mir ? " Tanya Alisa.
" Di restoran India kalau tidak salah. Aku mendengar mantanmu itu menelpon begitu kami selesai rapat"
Saat ini Alisa dan Mirna sedang makan siang bersama di warung langganan mereka. Alisa mengelap bibirnya dengan tisu. Ia bersandar sembari melipat kedua tangannya di dada.
" Sepertinya aku harus menemuinya disana "
" Jadi, kau akan kesana nanti sore sepulang kerja? " Tanya Mirna.
" Iya. Aku akan pergi kesana " Alisa mengangguk pasti.
" Kau mau melakukan apa beb ? "
" Aku ingin meminta Reyhan menarik kembali ucapannya tadi malam. "
" Kau benar-benar tidak ingin dilamar olehnya beb ? "
" Menurutmu apa aku harus menerima lamaran dari pria yang sudah bertunangan beb ? " Alisa mendelik tajam pada Mirna.
" Kalau aku sih beb mau-mau aja. Asalkan dia memutuskan pertunangannya dengan wanita itu" Mirna terkekeh geli. Alisa menggeleng pelan sembari menghela nafas lelah.
" Kalau aku jelas tidak akan pernah mau beb. Itu artinya pria itu bukanlah jenis pria yang setia pada satu wanita. Masih bertunangan kok melamar wanita lain "
" Tapi kau kan mantan tunangannya dulu. Dia pasti belum bisa move on darimu beb. Kau tahu beb, sampai sekarang aku masih belum percaya dengan berita ini. Kau rupanya seorang mantan dari direktur utama perusahaan ini. " Mirna berbicara sambil melototkan kedua matanya. Disertai kedua tangannya yang bergerak naik dan turun. Memperagakan perasaannya yang masih belum percaya dengan hubungannya dengan Reyhan.
" Kau sudah selesai kan? " Alisa menjatuhkan tatapannya pada piring Mirna.
" Sudah "
" Kalau begitu kita kembali ke kantor. Sebentar lagi waktu istirahat makan siang sudah hampir berakhir " Alisa sudah lebih dulu bangkit berdiri.
" Siaaap calon nyonya direktur utama " Canda Mirna. Wanita itu ikut berdiri sambil terkekeh geli.
" Tidak akan pernah beb. Jangan mengada-ngada ! " Alisa langsung melengos pergi.
Pukul setengah lima sore, Alisa baru keluar dari gedung perusahaan. Berpapasan dengan itu, mobil Reyhan juga baru keluar dari parkiran. Untung saja ia sudah memesan ojek lebih awal, sehingga Alisa tidak perlu menunggu lama. Baru beberapa detik saja mobil pria itu keluar dari parkiran, bang ojek pesanannya pun tiba. Buru-buru Alisa memakai helm yang diberikan oleh bang ojek lalu kemudian naik ke atas motor.
" Ke restoran India ya mas " Beritahu Alisa.
Beberapa menit kemudian, mobil Reyhan akhirnya berhenti di depan restoran India. Alisa dan bang ojeknya juga berhenti namun berada dengan jarak yang sedikit jauh dari mobil pria itu. Alisa buru-buru turun dari atas motor. Ia melangkah pelan sambil mengendap-ngendap. Begitu mobil pria itu terbuka, Alisa dengan panik membalikkan tubuhnya. Ia memutar kepalanya sedikit, mencuri pandang ke arah mobil pria itu. Tampan disana Reyhan keluar bersama dengan tunangannya.
Pakai acara gandengan tangan lagi. Dasar pria labil !
Umpat Alisa dalam hati. Saat Reyhan dan Juliet sudah lebih dulu masuk ke dalam restoran India. Barulah Alisa melangkah namun tetap dengan waspada. Takut-takut jika Reyhan mengetahui keberadaannya.
Suasana didalam restoran India benar-benar sangat ramai. Beberapa pelayan wanita dan pria yang berlalu lalang semuanya mengenakan pakaian khas orang India. Belum lagi sound system di dalam restoran yang memutar lagu dengan lirik chupke chupke nehi nehi. Membuat Alisa rasanya ingin menari cantik di dalam restoran.
" Meja mereka dimana ya ? " Gumam Alisa sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
__ADS_1
Begitu kedua matanya berhasil menangkap sosok Juliet, Alisa langsung bergegas kesana. Ia pura-pura duduk di meja kosong yang tidak jauh dari meja ketiga orang yang tampaknya sedang berbincang asik.
Tak lama seorang pria pelayan datang menghampiri Alisa.
" Ingin pesan apa nona ? "
Alisa langsung menoleh kaget. " Oh iya, mana buku menunya ? " Tanya Alisa. Ia hanya menatap sekilas pria pelayan yang sedang berdiri disampingnya. Alisa tidak begitu fokus pada pria pelayan itu. Ia kembali menatap Reyhan dan juga Juliet. Tunangan pria itu tampak menikmati obrolan tersebut. Ekspresi wajah Reyhan pun tidak jauh berbeda dari Juliet, terlihat begitu menikmati pembicaraan bisnis tersebut.
" Nona, ingin pesan apa ? " Kembali pelayan pria itu bertanya pada Alisa.
" Aku pesan yang ini " Tunjuk Alisa asal-asalan pada buku menu.Kedua matanya masih memandangi Reyhan
Setelah lima menit berlalu, akhirnya pelayan pria itu kembali dengan membawa dua buah mangkuk yang berukuran lumayan besar.
" Pesanan anda nona " Ujar pria pelayan berpakaian khas orang India. Pria itu meletakkan dua mangkuk besar di depan Alisa sambil tersenyum.
" Hah, kenapa banyak sekali ? " Alisa melotot kaget tidak percaya dengan pesanannya sendiri. Pria itu tampak kebingungan sejenak.
" Tapi nona memesan ini barusan " Lagi pria pelayan itu tersenyum ramah.
" Aku ? Memesan ini ? " Alisa menunjuk dirinya sendiri. Pria pelayan itu dan tersenyum lagi.
" Ah, baiklah. Sepertinya memang aku " Sahut Alisa. Setelah pria pelayan itu berlalu pergi, Alisa langsung bergumam seorang diri
" Apa aku akan mati kekenyangan setelah menghabiskan semua makanan ini ? "
Sambil menyantap makanan pesanannya, Alisa terus saja memantau keduanya dari tempat ia duduk. Belum habis semua makanannya, Reyhan dan Juliet tampak sudah bersalaman dengan rekan bisnis pria itu. Mereka sudah berdiri dan Alisa langsung buru-buru meminum air putihnya. Bahkan ia hampir tersedak saking terlalu cepat meneguk minumannya.
" Sayang, aku ke toilet dulu ya " Bisik Juliet pada Reyhan.
" Reyhan, kita harus bicara " Ujar Alisa tiba-tiba. Ia sudah menarik kursi lalu duduk di depan pria itu. Reyhan sampai terkejut karena kemunculannya, yang seperti hantu saja.
" Al, kenapa kau ada disini ? " Tanya Reyhan sambil melebarkan kedua matanya.
" Aku menguntitmu " Jawab Alisa dengan sangat jujur. Reyhan tersenyum geli.
" Kau jujur sekali Al "
" Kita perlu bicara sekarang juga Rey ! "
Reyhan menautkan kedua alisnya. " Bicara apa? "
" Aku ingin kau menarik kembali kata-katamu yang ingin melamarku " Tegas Alisa. Sorot matanya memancarkan keseriusan yang nyata.
" Aku tidak bisa. Sudah kuputuskan kalau aku akan melamarmu, maka aku akan melakukannya. Tapi, kau mungkin harus menunggu dengan sabar. Karena aku sedang menyiapkan waktu yang tepat untuk melakukannya" Ujar Reyhan sambil tersenyum. Alisa buru-buru menggeleng.
" Dengar. Aku tidak akan menunggumu. Lupakan acara lamaran gilamu itu. Aku tidak berminat untuk menikah denganmu ! " Seru Alisa dengan penuh kekesalan.
Reyhan melipat kedua tangannya di depan dada sambil bersandar santai di kursi.
" Aku tahu kau masih menyukaiku Al. Mengakulah "
__ADS_1
" Percaya diri sekali ! Aku bahkan sudah melupakanmu semenjak lima tahun yang lalu " Tegas Alisa.
" Bohong. Kau sedang mencoba membohongiku "
Memang kunyuk !
" Aku tidak bohong. Apa yang kukatakan padamu saat ini berasal dari sini " Alisa menepuk-nepuk dada kirinya. Reyhan terkekeh geli sembari menggeleng pelan.
" Kau tidak jujur Al. Mengakulah, lagipula tidak ada yang mengenal kita disini. " Ungkap Reyhan.
" Maaf nona, anda belum membayar makanan pesanan anda " Ujar pelayan pria yang tadinya menyajikan makanan untuknya. Alisa langsung mendongakkan wajahnya, tersenyum pada pria pelayan itu.
" Maafkan aku. Berapa semuanya ? " Tanya Alisa sambil tersenyum kecil. Ia mulai membuka dompetnya.
" Total pesanan anda semuanya seharga satu juta seratus lima puluh ribu nona" Ujar Pelayan pria itu sambil tersenyum.
Duaaaaar !
Seperti terdorong dari jurang yang paling tinggi Alisa langsung terkejut luar biasa.
" Kau sedang bercanda ?! " Pekik Alisa. Pelayan pria itu sampai terlonjak kaget mendengar suaranya.
" Be....benar nona "
" Hah ?! " Alisa buru-buru mengecek dompetnya. Memeriksa isi dompetnya. Dan ternyata ia hanya membawa uang sebanyak seratus lima puluh ribu rupiah saja di dalam dompetnya saat ini.
Matilah ! Mau bayar pakai apa ?
Gumam Alisa dalam hati sembari memejamkan kedua matanya.
" Restoran ini memang terkenal memiliki harga makanan yang sangat fantastis, Al " Ujar Reyhan sambil tersenyum.
" Rey....." Rengek Alisa sambil memasang wajah memelasnya. Reyhan tergelak di tempat. Menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya. Ia menertawai Alisa dengan begitu bahagia.
" Pakai ini saja " Reyhan menyodorkan black card miliknya pada pelayan pria itu. Pelayan itu buru-buru pergi meninggalkan mereka berdua dan tak lama pelayan pria itu kembali lagi sambil.menyerahkan black card milik Reyhan.
Alisa menundukkan wajahnya dengan perasaan malu luar biasa. Ia tidak menyangka bahwa dirinya harus meminjam uang pria di depannya ini karena pesanan bodohnya.
Sial sekali ! Bukannya berhasil membuat Reyhan menarik kata-katanya kembali. Aku malah membuat hutang padanya.
" Aku akan membayar hutangku padamu " Kali ini suara Alisa tidak senyaring dan percaya diri seperti tadi sebelum ia mendengar harga makanan pesanannya.
" Tidak perlu Al "
" Kenapa ? Aku tidak ingin punya hutang denganmu, Rey "
Reyhan tersenyum tipis. " Kau memang tidak berhutang denganku Al. Lagipula kan sebentar lagi kau akan menjadi istriku, Al "
Duaaaar !
Ya Tuhanku ! Bagaimana caranya aku menyingkirkan perasaanku pada pria ini kalau begini caranya.
__ADS_1
To be continued....
Happy reading, love you guys 😘