
Alisa keluar dari dalam ruangan Reyhan dengan perasaan kesal luar biasa. Ia bahkan menendang-nendang udara saking kesalnya. Sambil memijat pelipisnya Alisa akhirnya melangkah lesu ke arah ruangan Mirna. Ia ingin mengadu pada temannya itu, meski Mirna tidak akan bisa membantunya. Tapi Alisa tetap melangkah kesana.
" Ada apa dengan wajahmu Al ? Apa bos besar melemparimu dengan barang-barang miliknya ? "
Alisa menggeleng lemah. Ia langsung duduk dikursi dengan kasar. " Dia menyuruhku untuk ikut ke Brazil "
" Apa ?! Menyuruhmu untuk ikut ke Brazil ! " Pekik Mirna
" Iya. Aku tidak mau Mir " Alisa menjatuhkan kepalanya ke atas meja kerja Mirna. Membaringkan wajahnya yang masih terasa panas di atas meja kaca.
" Ya Tuhan Al ! Kalau aku jadi kau hari ini aku sudah menyiapkan semua pakaianku " Mirna berteriak kegirangan sembari bertepuk tangan.
" Kalau begitu kau saja yang pergi " Ungkap Alisa dengan lesu.
" Kalau bisa. Tapi kan bos besar mengajakmu, Al "
" Hm "
" Hei, kenapa kau bersikap seakan-akan kau dipecat olehnya ? "
" Masalahnya aku sudah memiliki janji dengan seseorang, Mir. Aku akan pergi makan es doger ke sekolahku dulu " Alisa mengangkat kepalanya dengan malas, menatap Mirna dengan kedua matanya yang tampak tak bersemangat.
" Yaelah Al. Cuma makan es doger doang. Kau kan bisa pergi kesana dengan orang itu setelah pulang dari Brazil " Mirna menepuk pelan pundak Alisa sembari tersenyum.
Tak lama sorot mata Mirna mulai berubah. Wanita itu menyipitkan kedua matanya lalu tersenyum menggoda.
" Bilang saja pada gebetanmu itu Al. Kalau kau tidak bisa pergi makan es doger dikarenakan dapat tugas kerja dari bos untuk pergi ke Brazil. Kurasa dia pasti akan mengerti. Tenanglah " Mirna tersenyum geli sembari menaik turunkan kedua alisnya.
" Dia bukan gebetanku Mir ! "
" Kalau begitu dia mantanmu ? " Mirna tertawa.
" Bukan juga ! " Alisa memutar kedua bola matanya dengan malas.
" Berarti teman tapi mesra "
" Bukan juga ! "
Alisa kembali dari kantor sekitar pukul lima sore. Ia diantar oleh Nathan hingga kedepan rumahnya. Meski ia tidak menelpon pria itu, Nathan ternyata sudah lebih dulu menunggunya di depan kantor. Alisa sempat merasa tidak enak dan berniat menolak ajakan Nathan tapi pria itu memaksanya. Karena ia sudah merasa lelah pikiran dan juga raganya, akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang bersama Nathan.
" Terima kasih Nat, sudah mengantarku pulang hari ini"
" Oke Al. Jadi, minggu depan kita tunda dulu ya " Nathan tersenyum kecil. Alisa perlahan mengusap dahi sambil mengangguk pelan.
" Iya Nat. Kita tunda dulu. Permintaan mantan susah untuk ditolak. Ya, mengingat diakan atasanku saat ini. Kalau bukan atasanku, sudah aku tolak mentah-mentah "
__ADS_1
Nathan terkekeh geli.
" Baiklah, aku mengerti Al. Jaga diri baik-baik. Oh iya sekaligus jaga jarak ketika bersama mantan " Peringat Nathan sambil tertawa. Alisa pun ikut tertawa.
" Sudahlah.Cepat pulang sana, kau bisa membuatku tertawa sampai maghrib tiba " Rutuk Alisa sembari mengibas-ngibaskan tangannya ke udara.
" Aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi sayang " Ujar Nathan.
" Hei ! Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu. Lagipula disini tidak ada mantanku " Teriak Alisa pada Nathan yang sudah bersiap menekan pedal gas. Pria itu menoleh sekilas lalu tertawa dan setelahnya mobil berwarna putih itu melesat cepat keluar dari komplek perumahannya. Alisa mendesah lelah sekaligus frustasi.
" Kau kan bisa pergi sendirian, kenapa juga harus membawaku ikut serta. Benar-benar manusia yang merepotkan " Gerutu Alisa sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Seminggu kemudian......
Pagi ini Alisa sudah berada dibandara bersama dengan Reyhan, ibu pria itu dan tentunya Juliet. Tidak ada tatapan ramah dari ibunya Reyhan apalagi Juliet . Yang ada selama beberapa jam ia berdiri, Alisa hanya terus mendapatkan tatapan tajam dari mereka berdua. Reyhan sedang berbicara dengan keduanya. Dan Alisa menunggu sedikit jauh di belakang mereka.
" Sayang, kenapa aku tidak boleh ikut hm ? Aku pengen ikut ke Brazil. Aku pengen jalan-jalan disana"
Reyhan tersenyum tipis. Ia mengusap pelan puncak kepala Juliet. Alisa memutar malas kedua bola matanya.
" Lain kali saja. Karena perjalanan bisnis kali ini aku tidak akan sempat bersantai sayang. Jadi intinya tidak akan ada jalan-jalan disana. Aku berjanji akan mengajakmu kesana untuk liburan bersama " Ujar Reyhan. Juliet akhirnya tersenyum kecil dan mengangguk. Patuh dan menuruti ucapan Reyhan.
" Hati-hati ya nak. Jaga diri disana. Jangan lupa makan, jangan terlalu kelelahan. Ibu akan sangat khawatir jika keadaanmu tidak sehat " Lina memeluk putranya dengan erat. Reyhan membalas pelukan ibunya.
" Aku akan mengingat semuanya bu. Aku mencintaimu bu " Gumam Reyhan
" Tetap jaga kesehatanmu sayang. Kami menunggumu disini "
" Sayang, ibu benar. Jaga diri disana. Aku mencintaimu" Juliet menarik sebelah tangan Reyhan dengan lembut. Reyhan tersenyum kecil, memandangi tangan Juliet dengan sangat lama. Tak lama sorot matanya kembali naik untuk menatap kedua mata Juliet.
" Aku juga...." Kata-katanya berhenti di udara.
Apa aku harus mengatakan bahwa aku juga mencintainya.
" Reyhan " Panggil Lina. Reyhan menoleh kaget pada ibunya.
" Kau juga apa hm ? Katakan saja, jangan malu dengan ibumu ini " Lina tersenyum geli. Reyhan kembali memandangi Juliet.
" Aku juga mencintaimu "
Hambar.
Reyhan bahkan tidak bisa merasakan indahnya kata-kata tersebut. Juliet tersenyum lebar mendengar ucapan dari tunangannya. Namun Reyhan hanya diam untuk beberapa detik berlalu. Hingga kemudian suara operator bandara kembali terdengar, Reyhan baru bisa kembali fokus. Ia menoleh kebelakang, dan ternyata Alisa sudah lebih dulu melangkah.
" Aku pergi dulu. Jaga diri kalian " Ujar Reyhan lalu mengikuti Alisa dari belakang. Wanita itu sama sekali tidak menoleh padanya, hingga mereka masuk ke dalam pesawat, Alisa sama sekali tidak memandangnya.
__ADS_1
Mereka berdua duduk di kelas bisnis. Kursi yang Reyhan tempati berada tepat di samping Alisa. Reyhan melirik sekilas pada Alisa yang tampak tegang. Raut wajah wanita itu benar-benar pucat dan Reyhan tidak menunggu waktu lama untuk menarik sebelah tangan Alisa lalu menggenggamnya dengan erat. Sontak Alisa langsung terkejut dan menyentak tangannya dengan cepat.
" Apa yang kau lakukan ?! " Sergah Alisa.
" Aku tahu kau masih takut dengan ketinggian, Al " Reyhan berniat menarik tangan Alisa kembali namun Alisa berusaha menyembunyikan sebelah tangannya dari Reyhan.
" Itu dulu, sekarang tidak lagi Rey " Bantah Alisa.
" Kau berbohong Al " Reyhan mendengus sinis.
" Aku tidak berbohong. Aku memang takut ketinggian tapi sekarang tidak lagi " Alisa berusaha keras menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan tenang. Padahal ia sedang mengalami ketakutan luar biasa di dalam batinnya. Ia memang sangat takut dengan ketinggian dan itu tidak pernah berubah hingga sekarang.
" Lalu kenapa wajamu pucat ? "
" Aku pucat ? " Alisa buru-buru mengambil kaca kecil dari dalam tasnya dan memperhatikan dengan seksama kondisi wajahnya saat ini.
Ya Tuhan ! Bibirku pucat sekali !
Teriaknya dalam hati. Namun Alisa langsung menaruh kaca miliknya kembali ke dalam tas.
" Itu karena aku kurang darah. Makanya wajahku kelihatan pucat. Aku kemarin baru saja periksa di puskesmas dekat rumahku " Bohong Alisa.
" Kau sakit ? "
" Tidak. Aku hanya kurang tidur beberapa hari ini. Keseringan begadang " Jawab Alisa asal-asalan. Sepertinya sekarang, ia mulai pandai berbohong.
" Kenapa kau harus begadang ? " Tanya Reyhan penasaran. Alisa menggeram dalam hati. Ia menggertakkan gigi-giginya dengan kuat. Memejamkan kedua matanya sebentar lalu kembali menoleh pada Reyhan.
" Karena aku suka menonton film-film yang ada di televisi. Akhir-akhir ini banyak sekali film bagus yang berlalu lalang di televisi " Ujar Alisa.
" Kau tidak membohongiku kan " Reyhan menyipitkan matanya.
" Mau aku bohong ataupun tidak, hal itu tidak akan merugikanmu kan ? "
Reyhan terdiam dan hanya menatap Alisa dengan lama.
" Ya, kau benar " Reyhan memalingkan wajahnya dari Alisa.
Sementara Alisa langsung mengambil selimut yang disediakan oleh maskapai penerbangan dan langsung menutupi wajahnya dengan benda tebal tersebut. Reyhan tampak kaget melihat tingkah Alisa namun ia tidak bertanya sedikitpun pada wanita itu.
Huaaa aku takut sekali ! Kenapa tidak naik kapal saja hah. Aku ingin naik kapal saja ke Brazil. Ya Tuhan ! rasanya aku ingin pipis !
Raung Alisa didalam hati. Dan syukurlah Alisa masih punya selimut untuk menutupi ketakutannya saat ini. Poor Alisa !
To be continued....
__ADS_1
Happy reading, Love you guys 😘