
Alisa ingin meraung dan meminta turun dari dalam mobil saat dirinya harus duduk di kursi belakang bersama dengan ibunya Reyhan. Wanita paruh baya itu menatapnya dengan penuh amarah. Alisa sampai harus menatap kaca mobil sambil mengamati keramaian kota di sepanjang perjalanan.
" Sayang, apa Brazil menyenangkan ? " Tanya Juliet. Reyhan yang sedang menyetir langsung menoleh sekilas pada tunangannya.
" Ya, sangat menyenangkan sekali "
" Aku ingin pergi kesana. Kau sudah janji kan sayang untuk mengajakku ke Brazil "
Alisa memasang tajam telinganya. Meski wajahnya ia hadapkan pada kaca mobil namun telinganya tetap bisa menangkap suara Reyhan dan juga Juliet yang duduk di kursi depan.
" Iya. Kalau aku tidak sibuk. Masalahnya beberapa bulan kedepan akan ada banyak pekerjaan yang harus segera di capai oleh perusahaanku. Aku tidak mau beberapa perusahaan yang telah bekerja sama dengan perusahaanku merasa kecewa "
Juliet tampak kecewa dan Reyhan menyadari hal itu.
" Tapi nak, kau itu bisa saja mengatur waktumu khusus untuk tunanganmu. Lagipula kau kan pemilik perusahaan, jadi ibu rasa hal ini bukanlah sesuatu yang sulit bagimu "
" Iya sayang, ibu benar. Kita pergi kesana ya " Juliet menggenggam lengan Reyhan. Memandangi tunangannya dengan mata yang berbinar penuh harap.
Reyhan melirik sekilas pada Juliet lalu tak lama kemudian ia mencuri pandang lewat spion tengah. Memandangi Alisa yang masih setia menatap kaca mobil.
" Ya sayang, ayolah " Mohon Juliet dengan suara yang manja. Alisa ingin melompat turun andai mobil yang ditumpanginya tidak sedang melaju.
" Sayang, kau mendengarkanku kan ? "
Sontak Reyhan langsung menoleh kaget pada Juliet.
" Iya sayang, aku masih mendengarmu "
" Mau ya ? " Rengek Juliet.
" Baiklah. Tapi, tidak dalam waktu dekat ini "
Juliet langsung tersenyum lebar. " Tidak apa-apa. Yang penting kau sudah berjanji akan mengajakku pergi ke Brazil. Aku senang sekali sayang "
" Begitu dong nak. Lagian kan Juliet itu calon istrimu dan juga calon ibu dari anak-anakmu kelak. Setelah kalian menikah, kau pasti akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluargamu "
Nyeeees ! Sakit !
Alisa memejamkan kedua matanya dengan, berusaha bernafas dengan normal padahal saat ini ia sedang merasa sesak di dadanya.
__ADS_1
Calon istri dan ibu dari anak-anak Reyhan kelak ? Lalu dirinya ini sebagai apa ? Sebagai apa coba ?! Wanita simpanan ??
Teriak Alisa di dalam hati. Dengan terpaksa Alisa membuka kedua matanya. Menahan rasa malu sekaligus kesal. Kedua mata Alisa langsung beradu pandang dengan kedua mata Lina.
" Bagaimana kabar ibu ? Maaf, saat kita bertemu suasana tidak begitu baik. Sekali lagi aku ingin minta maaf bu " Tiba-tiba saja Alisa berani mengajak ibunya Reyhan untuk mengobrol. Ia sudah tidak tahan berdiam diri, diabaikan dan ini semua gara-gara Reyhan. Coba saja pria itu tidak memaksanya untuk ikut serta, ia tidak akan mungkin merasa kesal seperti ini. Merasa diabaikan persis seperti orang bodoh
" Sejak kapan kau mulai berani mengajakku berbicara"
" Aku hanya ingin meminta maaf padamu bu. Itu saja "
" Bukankah kau terdengar tidak sopan hm ? " Lina menatap tajam Alisa. Sontak Alisa angsung tersentak kaget dengan ucapan ibunya Reyhan.
" Maksud ib..."
" Berhenti memanggilku ibu. Panggil aku nyonya Wijaya. Apa kau mengerti ? " Ungkap ibunya Reyhan dengan nada suara yang terdengar kurang bersahabat.
Alisa tertegun sebentar. Sudah bertahun-tahun lamanya kejadian itu terjadi. Namun ibunya Reyhan masih juga membencinya. Sudah berulang kali juga Alisa meminta maaf namun ibunya Reyhan tampaknya sangat sulit memberi maaf padanya. Alisa hampir menangis.
" Maaf nyonya Kusuma. Aku harusnya mengingat hal itu. Sekali aku minta maaf " Ujar Alisa.
" Bu...." Panggil Reyhan.
Reyhan memejamkan kedua matanya dengan singkat.
" Maafkan dia. Alisa mungkin tidak sengaja"
" Jangan lemah pada bawahanmu nak. Kau bisa dimanfaatkan olehnya " Sindir Lina. Tatapannya masih tertuju pada Alisa. Kedua tangan Alisa terkepal erat, berusaha menahan diri untuk terus mendengar ucapan sinis dan tajam dari ibunya Reyhan.
" Bu..." Peringat Reyhan.
" Apa yang ibu katakan emang benar Reyhan. Seorang pegawai yang tidak tahu diri akan berani pada atasan yang tidak tegas "
" Bu, Alisa tidak seperti itu "
" Tapi sayang, ibu benar. Kenapa kau jadi terdengar seperti sedang membelanya " Sambung Juliet. Reyhan berdecak kesal. Keputusannya membawa Alisa ikut serta di dalam mobil memang bukanlah hal yang bagus. Ibunya masih saja membenci Alisa. Tujuannya membawa Alisa ikut serta itu karena ia ingin ibunya perlahan-lahan mulai bisa memaafkan Alisa. Reyhan juga berniat menjauhkan Alisa dari Nathan. Tapi apa yang terjadi sekarang, ia justru menambah kekacauan dalam hubungan ini. Ditambah lagi dengan keberadaan Juliet yang semakin memperburuk interaksi antara Alisa dan juga ibunya. Harusnya tadi, ia biarkan saja Alisa pulang bersama Nathan.
" Reyhan, ibu sudah bilang jangan membawanya pulang bersama dengan kita. Memangnya dia siapa? Dia kan hanya karyawanmu saja "
Alisa masih bersabar. Namun hatinya sudah semakin panas. Mungkin jika ia berada lebih lama lagi di dalam mobil Reyhan. Ia tidak bisa menjamin suasana masih tetap kondusif seperti sekarang ini.
__ADS_1
" Bu, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Jadi, kumohon berhentilah berkata seperti ini "
" Kalau kau tahu nak, kau tidak akan membawa wanita ini ikut serta dengan kita. Biarkan saja dia menunggu di bandara "
" Pak Reyhan, tolong hentikan mobil ini ! " Ujar Alisa tiba-tiba. Sontak Reyhan langsung menginjak pedal rem dengan cepat. Membuat mereka semua tersentak kuat ke depan.
" Saya turun disini saja pak " Ujar Alisa sambil membuka pintu mobil. Ia dengan cepat menuju bagasi belakang untuk mengambil kopernya. Reyhan tidak tinggal diam, pria itu juga turun dari mobil lalu menghampiri Alisa yang baru saja mengangkat koper miliknya.
" Al, maafkan aku "
" Tidak perlu minta maaf. Lebih baik kau kembali masuk ke dalam mobil. Aku tidak ingin ada masalah lagi. Sudah cukup kau membuatku pusing kepala hari ini "
" Kau marah ? " Tanya Reyhan sembari memperhatikan wajah Alisa dengan lama. Wanita itu menoleh lalu sedetik kemudian Alisa menggeleng.
" Tidak. Percuma saja jika aku memarahimu. Secara kekuasaan saja aku sudah kalah telak " Alisa menarik cepat pegangan kopernya membuat benda persegi panjang itu bergerak mengikuti gerakannya. Ia melangkah tanpa menoleh pada Reyhan yang masih berdiri dan terdiam.
Bagi Alisa hubungannya dengan Reyhan bukanlah sesuatu yang mudah. Sekalipun ia menyatakan perasaannya dan Reyhan juga membalas rasa cintanya. Alisa justru semakin merasa bahwa ia dan Reyhan tidak akan pernah bisa berjalan bersama sebagai dua orang yang saling mencintai. Tidak akan pernah.....
" Al ! " Panggil Reyhan sambil berusaha mengejar Alisa yang sudah lebih dulu pergi dengan menyeret kopernya ke pinggir jalan.
" Reyhan ! Biarkan saja dia " Teriak ibunya Reyhan dari dalam mobil. Reyhan menyugar rambutnya dengan frustasi.
" Reyhan ! Tunggu apa lagi, kembali kesini nak ! " Teriak Lina pada putranya itu.
Sebelum berbalik Reyhan masih sempat menoleh pada Alisa yang kini sedang berdiri di pinggir jalan. Wanita itu sama sekali tidak mau memandanginya. Reyhan akhirnya masuk ke dalam mobilnya. Wajahnya terlihat muram hingga akhirnya Juliet mengajukan pertanyaan yang membuat Reyhan semakin bertambah kesal.
" Kenapa kau terlihat seperti seorang pacar yang begitu perhatian pada Alisa "
" Cukup ! " Bentak Reyhan.
" Nak. Tenanglah. Kau tidak perlu membentaknya "
Juliet sudah menitikkan air matanya.
" Maafkan aku sayang " Ungkap Reyhan sembari menarik pelan sebelah tangan Juliet. Baru kali ini ia membentak Juliet hingga membuat tunangannya itu menangis.
" Maafkan aku " Ungkap Reyhan.
To be continued......
__ADS_1
Happy reading, love you guys😘