
Suara ribut dari arah dapur sudah terdengar subuh-subuh begini. Alisa yang masih bergelung di dalam selimut tebal langsung terbangun ketika lama-kelamaan suara itu semakin nyaring terdengar oleh telinganya. Dengan berusaha menghela tubuhnya untuk bisa duduk bersandar. Lalu kemudian Alisa berusaha untuk membuka kedua matanya yang terasa berat untuk diangkat. Ia menghela nafasnya sejenak, mencoba berdiam sebentar agar darah ditubuhnya perlahan naik ke otaknya.
" Jam berapa sekarang " Ujar Alisa dengan suara serak khas bangun tidur. Ia melirik ke arah lemari tingginya. Dimana jam dinding miliknya terpasang disana.
" Pukul setengah lima ya "
" Aku harus pergi mandi " Alisa membuka selimutnya lalu turun dengan langkah yang lesu. Kedua matanya terasa membengkak karena terlalu banyak menangis. Begitu ia sudah berdiri tepat di depan cermin kamar mandinya, Alisa memutar tubuhnya dan memandangi pantulan dirinya yang ada disana.
" Oh Tuhan ! " Pekik Alisa sembari menutup mulutnya. Matanya langsung melebar sempurna saat wajahnya yang mengerikan terpampang jelas disana. Mata bengkak, rambut yang berantakan, jerawat yang bermunculan dan wajah yang terlihat sembab.
" Kenapa mataku jadi bengkak begini sih ! Bagaimana ini " Alisa merasa frustasi sendirian di dalam kamar mandi.
" Mana jerawat besar pada bermunculan lagi ! " Alisa menekan-nekan wajahnya dengan panik.
" Ini semua gara-gara Reyhan. Pria itu yang telah menyengsarakan hidupku ! " Raung Alisa lagi. Ia sudah tidak tahu harus memoles wajahnya seperti apa lagi. Mata bengkak tetap akan tampak pikirnya. Dan jerawat yang menggila di wajahnya lebih parah lagi.Tidak bisa tertutupi oleh BB Cream. Kecuali, ia mengoles habis dua wadah BB cream di wajahnya.
Setelah selsai mandi Alisa langsung mengenakan pakaian kantorannya lalu memasang kaos kaki dan memasukkan semua keperluannya kedalam tote bag nya yang berwarna biru muda. Ia menggapai kacamata hitamnya lalu kemudian segera berlari keluar dari dalam kamarnya.
" Selamat pagi sayang ! " Sapa Ema begitu melihat putrinya turun dari lantai atas.
" Pagi bu, ayah ! " Alisa menarik kursi lalu duduk di depan ayahnya.
" Kau sudah bekerja ya? " Tanya Gunawan sambil menatap serius putrinya.
" Iya yah. Aku diterima bekerja disana. Sejak kemarin malahan, aku sudah diperintahkan untuk langsung bekerja "
" Bekerjalah dengan jujur, penuh tanggung jawab dan bertutur kata yang baik pada setiap orang " Pesan ayahnya. Alisa langsung mengangguk. Namun dalam hati ia hanya bisa bergumam.
Baru kemarin aku mengatakan hal yang kasar pada atasanku, yah.
" Alisa akan mengingat pesan ayah "
Tak lama ibunya ikut bergabung di meja makan dengan membawa dua piring masakannya. Piring yang satu berisi cah kangkung pedas sedangkan piring satunya berisikan omelet telur.
" Makan dulu sebelum pergi kerja sayang. Makan yang banyak agar kuat bekerja " Ema menyemangati putrinya. Alisa tersenyum singkat. Ia kemudian mulai menyendok makanan ke dalam mulutnya. Mengunyah dengan cepat lalu kemudian menelannya. Rasanya selalu sama, makanan ini selalu enak rasanya. Karena dari tangan terbaiklah makanan ini terbentuk sempurna.
" Ini enak sekali bu " Puji Alisa. Ema tersenyum bahagia.
" Tambah lagi sayang " Ujar Ema lalu memasukkan potongan omelet ke dalam piring putrinya lagi.
Seperti hari kemarin, hari ini pun ia kembali menaiki angkot yang penuh sesak. Karena tidak mendapat kursi terpaksa Alisa juga ikut berdiri. Sambil berdiri ia berusaha untuk meyakinkan hatinya bahwa mulai saat ini, dirinya harus fokus bekerja. Membantu orang lain dengan tenaganya, tersenyum dan mulai mencoba melupakan seseorang yang hidup selama ini di dalam hatinya.
__ADS_1
" Kau kira aku tidak bisa melupakanmu hm. Kau lihat saja Rey, lihat saja bagaimana hidup ini berjalan. Bagaimana nantinya aku akan berhasil melupakanmu. Aku tidak perlu menjauhimu hanya untuk melupakanmu. Aku hanya perlu terbiasa melihatmu hingga kemudian aku tak lagi berminat padamu. Kurasa itu adalah jalan terbaik yang akan kupilih." Gumam Alisa penuh tekad.
" Semangat " Bisik seseorang dari belakang.
" Eh ! Siapa itu " Alisa langsung memutar kepalanya, melihat sosok dibelakang tubuhnya.
" Nathan ! " Pekik Alisa lagi dengan wajah terkejutnya. Nathan terkekeh geli.
" Hai Alisa ! Senang bisa bertemu lagi " Ujar Nathan lalu tersenyum lebar. Alisa menatap Nathan naik dan turun. Mengamati sejenak pakaian pria didepannya. Pakaian yang Nathan kenakan sama seperti saat mereka bertemu. Jaket jeans, T-shirt putih dan celana jeans yang sudah tampak lusuh. Lalu ditambah dengan sepatu sneaker hitam.
" Kau mau pergi kemana pagi begini ? " Tanya Alisa sambil memutar tubuhnya hingga jadi menghadap Nathan.
" Aku tidak tahu kemana tujuanku. Aku hanya ingin jalan-jalan saja "
Alisa menggeleng-geleng kecil.
" Carilah pekerjaan Nat, memangnya orangtuamu tidak menceramahimu setiap pagi "
Nathan menggeleng. Ia menaikkan kedua bahunya dengan santai.
" Kau suka melawan mereka ya ? " Tebak Alisa asal-asalan.
" Bagaimana denganmu hm. Apa kau ingin mengantar amlop-amplop coklat itu lagi ? " Nathan memandangi tas Alisa. Wanita itu langsung terkekeh geli saat mengetahui Nathan sedang mencari benda penting itu yang selalu ia bawa hampir setiap hari.
Sambil tersenyum tipis, Alisa menggeleng.
" Tidak lagi. Aku sudah bekerja " Beritahu Alisa.
" Pantas saja kau terlihat sombong begitu "
" Aku tidak sombong. Darimana kau bisa menyimpulkan hal seperti itu ? " Elak Alisa.
" Dari jerawatmu "
" Apa ? "
" Iya. Mereka terlihat banyak muncul dari waktu yang kemarin saat kita bertemu " Nathan menunjuk kening, pipi dan dagu Alisa dari jauh tanpa menyentuh kulit wajahnya.
" Itu tidak ada hubungannya dengan jerawatku ! " Raung Alisa dengan kesal. Ia memukul lengan Nathan dengan sebelah tangannya. Pria itu tertawa bahagia.
" Dasar pengejek ! Aku tidak suka kau mengejek mereka ! "
__ADS_1
" Maafkan aku. Tapi, karena merekalah aku tertarik untuk menyapamu "
" Pergi jauh ! "
" Sudah kubilang aku minta maaf " Nathan masih tertawa.
" Tidak mau ! "
" Aku akan tetap disini saja " Tolak Nathan. Alisa menggertakkan gigi-giginya dengan kuat.
" Aku malas berbicara denganmu " Alisa berpura-pura merajuk. Ia membalikkan tubuhnya jadi membelakangi Nathan.
" Mereka sangat manis, Al. Aku akan berdo'a setiap harinya agar jerawat itu terus tumbuh diwajahmu. Kau selalu terlihat menggemaskan dengan bintang-bintang kecil itu "
" Nathan !!! " Pekik Alisa. Nathan malah kembali tertawa.
Hingga sampai di depan pagar kantornya, Nathan masih saja mengikutinya dari belakang. Alisa beberapa kali melihat kebelakang dan pria itu masih tetap memasang senyuman tulusnya.
" Kenapa kau mengikutiku hingga kemari ? "
" Aku tidak mengikutimu. Aku hanya mengantarmu saja "
" Kenapa kau harus sibuk mengantarku? Aku masih bisa berjalan seorang diri "
" Karena kau temanku "
" Aku tidak berteman denganmu " Cecar Alisa. Ia kini sudah membuka pagar kantornya lalu masuk ke dalam. Nathan masih berada diluar pagar. Pria itu melambaikan sebelah tangannya pada Alisa.
" Meski kau sudah membuatku jengkel pagi ini. Tapi...terima kasih banyak " Ujar Alisa dengan sangat cepat.
" Sama-sama Al. Dan tolong jangan pakai cream apapun ya. Pertahankan jerawatmu, aku sangat menyukainya " Akui Nathan.
" Nathan ! " Bentak Alisa dengan geram. Nathan kembali tergelak.
Setelah Alisa masuk ke dalam gedung, barulah Nathan pergi sambil melirik pada tulisan besar di atas gedung perusahaan Reyhan.
" Oh, jadi tempat kerjamu itu di Lynn Wijaya.... Sepertinya nanti kita akan sering bertemu " Nathan tersenyum sangat lebar.
To be continued....
Happy reading, love you guys 😘
__ADS_1