
Setelah Reyhan pergi bersama Juliet, Alisa baru keluar dari dalam restoran. Ia kebingungan sendiri. Ia bingung untuk mengolah perasaannya saat ini. Entah itu senang atau marah, Alisa tidak tahu sekarang !
Ia tetap melangkah pergi meninggalkan restoran. Saat ia sudah tiba di kantor, Reyhan dan Juliet pun baru saja tiba. Alisa hanya menatap mereka sekilas, setelah itu ia langsung melengos pergi masuk ke dalam gedung perusahaan dengan perasaan malu.
" Gimana beb, apa bos mau menarik kata-katanya kembali ? " Tanya Mirna begitu Alisa masuk ke dalam ruangannya.
Alesa menghela nafas sejenak. Tak lama ia menggeleng pelan. " Tidak mau "
" Jadi, tu mantan tetap pada pendiriannya "
" Iya "
" Aduh, kayaknya mulai sekarang aku sudah harus belajar memanggilmu dengan panggilan bu boss Alisa " Mirna terkekeh pelan.
" Hah aku pusing ! " Alisa menjatuhkan kepalanya di atas meja kerja Mirna.
" Ya gaklah beb. Justru kau tidak akan pernah pusing memikirkan nasib kehidupanmu kalau kau menikah denganya "
" Aku pusing Mir " Alisa bergumam dengan wajah yang masih ia tempelkan diatas meja kerja Mirna.
" Tidak perlu pusing beb. Rileks " Mirna mengusap-ngusap puncak kepala Alisa sambil terkekeh pelan.
" Dia sungguh keras kepala Mir "
" Bagus dong, kau harus mengikuti kemauannya setiap hari jika menikah dengannya "
" Jangan mengejekku Mir ! " Rengek Alisa. Mirna tergelak sendiri melihat tingkah sahabatnya itu.
Pagi ini Alisa sudah bersiap-siap untuk pergi ke sekolahnya dulu bersama Nathan. Ia sudah mematut dirinya di depan cermin sedari pagi. Mencocokkan beberapa helai pakaian yang akan ia kenakan hari ini. Pilihan Alisa jatuh pada longdress bermotif bunga daisy berwarna nude yang sangat feminim. Alisa juga memadukannya dengan tas hitam dan sepatu pink softnya.
" Kau terlihat cantik sekali " Puji Nathan begitu Alisa berjalan keluar dari dalam rumahnya. Pria itu sudah lebih dulu membukakan pintu mobil untuk Alisa.
" Terima kasih atas pujiannya " Alisa berhenti sejenak lalu tersenyum. Ia kemudian masuk lebih dulu ke dalam mobil. Baru setelah itu Nathan menyusul.
" Kau tahu Al, aku belum pernah membawa seorang tuan putri sebelumnya "
" Jangan berlebihan ! " Alisa terkekeh geli.
" Hei ! Aku tidak berlebihan "
" Sudahlah Nat, kau membuatku malu "
Alisa menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Nathan menatapnya dengan sangat lama. Alisa mengerutkan dahinya dengan bingung.
" Ada apa ? " Tanya Alisa. Nathan tidak menjawabnya namun pria itu malah tiba-tiba mendekat hingga membuat wajah mereka menjadi begitu dekat. Alisa mematung di tempat. Ia menahan nafasnya saat hangat nafas pria itu menerpa wajahnya.
__ADS_1
Apa dia mau menciumku ? Matilah aku !
Gumam Alisa dengan panik. Ia sudah bersiap akan mendorong Nathan jika dua detik lagi pria itu semakin mendekat padanya.
" Sabuk pengamanmu belum terpasang " Ujar Nathan sambil tersenyum kecil.
" Ah, i.....iya ! Aku lupa " Alisa buru-buru ingin memasang sabuk pengaman. Namun ia kalah cepat dari Nathan. Pria itu sudah lebih dulu menarik sabuk pengaman itu lalu memasangkannya pada tubuh Alisa.
" Aku tidak ingin tuan putri cidera " Ujar Nathan sambil tersenyum. Alisa terdiam sambil terus memandangi wajah Nathan.
Dia sangat tampan, tapi kenapa aku sama sekali tidak merasakan debaran itu. Nathan juga sangat baik, tapi kenapa aku tidak merasakaan apapun. Aku bahkan tidak merasa gugup meski berdekatan dengannya seperti ini. Lalu kenapa disaat berduaan dengan Reyhan, aku selalu merasa tegang dan gugup. Apa itu artinya aku masih sangat mencintainya ??
" Al, kau kenapa ? " Nathan mengguncang pelan bahu Alisa.
" Um iya maaf ! " Alisa terkejut kaget.
" Kau sedang memikirkan apa ? " Tanya Nathan.
" Tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang tidak penting "
Nathan terdiam sejenak. Ia hanya menatap Alisa untuk beberapa detik berlalu.
" Baiklah. Jika ada yang mengganggu pikiranmu, ceritakan saja padaku ya ? "
Alisa mengangguk sambik tersenyum. " Baiklah. Aku mengerti Nat "
" Al, apa kau merasa nyaman bekerja dengannya ? " Tanya Nathan.
" Ya, begitulah Nat. Aku merasa sedikit kaku setiap kali memberikan hasil pekerjaanku padanya." Alisa menghela nafas singkat.
" Kau bisa pindah ke kantorku jika kau mau. Kau akan diterima tanpa syarat "
Alisa menoleh cepat dan dengan kedua matanya yang berbinar.
" Benarkah Nat ? Perusahaanmu mau menerimaku? "
Nathan mengangguk. " Tentu saja "
" Aku mau Nat ! " Seru Alisa. Ia merasa begitu bahagia mendengar tawaran ini. Karena baginya ini adalah kesempatan baginya untuk menjauhkan diri dari seorang Reyhan Wijaya.Jika dulu ia berpikir bahwa ia akan bisa melupakan pria itu dengan terbiasa bekerja bersama dengan Reyhan. Namun, setelah melihat bagaimana sepak terjang pria itu selama ini. Alisa jadi merasa bahwa dirinya tidak akan pernah berhasil melupakan sang mantan. Sekarang ia memang harus merubah plan A nya menjadi plan B. Menerima tawaran Nathan adalah pilihan terbaik. Dan ia tidak akan pernah melihat dan mendengar pria itu lagi.
" Kau mau ? "
" Tentu saja. Kapan aku bisa mulai bekerja ? "
" Besok pun bisa. Kau sudah menyiapkan surat pengunduran diri ? "
__ADS_1
" Ah, iya kau benar. Aku melupakan bagian itu. Kalau begitu aku akan membuatnya malam ini, dan besok aku akan menyerahkannya pada Reyhan "
" Kau yakin bisa melakukannya? " Nathan tersenyum kecil.
" Aku yakin ! " Jawab Alisa dengan begitu semangat.
Begitu mereka sampai di sekolahnya dulu, Alisa langsung membawa Nathan menuju Bapak penujual es doger. Terlihat belum ada siswa yang berkumpul disana.
" Belum ada siapapun Nat. Kita harus segera pergi kesana " Alisa sudah lebih dulu berlari.
" Pelan-pelan Al ! " Teriak Nathan sembari mengikuti Alisa dari belakang.
Setelah memesan es doger, Alisa mengajak Nathan untuk masuk ke dalam lingkungan sekolahannya dulu. Memang tidak ada yang berubah dari sekolahannya ini. Semuanya tampak sama seperti beberapa tahun yang lalu. Hanya saja warna dari kelas-kelasnya sudah berbeda semua. Alisa mengajak Nathan ke taman belakang sekolahannya, tempat favorit ia dan Reyhan selama mereka bersekolah dulu.
" Kita duduk disini saja " Alisa sudah lebih dulu duduk di kursi dekat kolam buatan. Baru setelah itu Nathan menyusul dan duduk di samping Alisa.
" Tempat yang nyaman untuk bersantai " Nathan berkomentar sambil menyendokkan es doger ke dalam mulutnya.
" Disini memang sudah menjadi tempat favortiku untuk bersantai pas waktu istirahat. "
" Apa Reyhan juga biasa ikut bersantai disini ? "
Alisa langsung menoleh dan mengangguk.
" Dulu, kami berdua sering bersantai disini. Tapi, aku tidak pernah mengajaknya lagi setelah perpisahan kami " Alisa memandang jauh ke depan. Kedua matanya tampak sedikit berkaca-kaca.
" Kalau kau membawanya kemari, kau akan semakin kesulitan untuk melupakannnya Al "
Alisa kembali menatap Nathan. " Kau benar Nat. Aku tidak mungkin mau mengajaknya kemari "
Nathan tersenyum lalu kembali bersemangat untuk menyendokkan es doger ke dalam mulutnya.
" Enak sekali " Gumam Nathan.
" Iya enak sekali. Ini memang es doger langgananku Nat " Ujar Alisa sambil tersenyum lebar.
" Apa aku boleh bergabung ? "
Alisa dan Nathan sama-sama menoleh ke arah sumber suara yang tiba-tiba bergabung dalam suasana bahagia yang baru saja tercipta diantara mereka berdua.
" Kau...! " Pekik Alisa sambil berdiri. Reyhan tersenyum santai.
" Aku sudah menduga jika kau pasti akan memilih untuk duduk disini. Untung saja ayahmu sempat mendengar obrolan kalian sebelum kau dan pria ini benar-benar pergi dari rumah " Ujar Reyhan sambil berkacak pinggang. Pria itu memasang senyum angkuh di depan mereka berdua.
Huaaa ! Ayah, Kenapa kau melakukan ini padaku !!
__ADS_1
To be continued....
Happy reading, love you guys 😘