Mister Glow Up

Mister Glow Up
Chapter 4


__ADS_3

Gunawan berteriak marah pada putrinya begitu mereka tiba di rumah. Alisa bahkan sudah menangis tersedu-sedu di dalam dekapan ibunya. Ema pun ikut menangis, ia berusaha menenangkan suaminya agar tidak lepas kendali lalu memukul Alisa kembali.


" Yah, mungkin ini sudah takdir mereka. Alisa dan Reyhan tidak berjodoh "


" Bu, ayah tidak menyangka bahwa Alisa bisa berbuat bodoh seperti itu. Mempermalukan tunangannya sendiri didepan orang ramai. Apa yang kau pikirkan saat itu hah ?! " Bentak Gunawan pada putrinya.


Gunawan menarik nafas dalam-dalam, mencoba bersabar meski ternyata sangat sulit untuknya.


" Yah, ibu mohon hentikan kemarahan ayah pada Alisa. Dia baru saja lulus sekolah, emosinya mungkin belum stabil pada saat itu. Sudahlah yah, mereka tidak berjodoh. Kita tidak bisa memaksakan takdir "


Tidak berjodoh dengan Reyhan, itu bukan keinginanku. Aku ingin selalu berjodoh dengannya.


Alisa memejamkan kedua matanya dengan erat, namun air matanya terus saja mengalir deras. Untung saja hangatnya pelukan ibu membuat hatinya sedikit terobati.


" Bawa dia kamarnya bu, ayah tidak ingin melihat wajahnya " Gunawan langsung pergi begitu saja membawa kemarahan dan kekecewaannya pada putri semata wayangnya. Gunawan dan Wijaya sudah lama mengharapkan hal ini sejak mereka masih duduk dibangku kuliah. Mereka menjalin persahabatan yang cukup lama, hingga niat itu muncul ketika mereka sama-sama telah menikah dan memiliki kehidupan. Apalagi saat tahu bahwa Wijaya memiliki seorang anak laki-laki dan ia memiliki seorang anak perempuan. Niat untuk menjodohkan anak mereka pun semakin kuat.


Alisa dan Reyhan sudah selalu dekat sejak mereka masih kecil. Dan hal itu memanglah yang diharapkan oleh Gunawan dan Wijaya. Seolah semuanya semakin mudah saat dengan sepenuh hati Alisa dan Reyhan menerima pertunangan yang sudah diatur oleh kedua orang tua mereka. Namun, kini semuanya hancur begitu saja karena Alisa yang tidak pandai menjaga tingkah lakunya.


" Kita ke kantor sekarang " Ujar Gunawan pada sopirnya.


Didalam kamar, Alisa masih menangis tersedu-sedu, merasa sedih karena pertunangannya harus berakhir seperti ini. Ia mencintai Reyhan, dan Alisa yakin jika pria itu memiliki perasaan yang sama padanya. Saat itu ia hanya cemburu dan apa yang keluar dari mulutnya sudah tidak bisa terkontrol lagi. Meski pipinya masih berdenyut sakit, namun Alisa sama sekali tidak merasakan rasa sakit itu. Yang bisa ia rasakan saat ini hanyalah rasa sakit di dadanya.


" Bu, Alisa tidak pernah berniat untuk mempermalukan Reyhan bu. Alisa sangat menyayanginya bu " Alisa menangis terisak di dalam pelukan ibunya.


" Sudahlah nak, semua sudah terjadi. Jangan menangis lagi hm. " Tangan-tangan lembut Ema terus saja mengusap rambut putrinya. Berharap sentuhannya ini bisa menguatkan perasaan Alisa yang pastinya sangat tertekan.


" Kita obati dulu lebam di pipimu ya "


" Tidak mau bu " Alisa menggeleng pelan.


" Jangan seperti ini sayang. Ayolah, biarkan ibu mengobati pipimu " Bujuk Ema.


" Bu, Alisa tidak mau. Biarkan saja seperti ini bu. Alisa hanya ingin dipeluk " Alisa masih menangis terisak.


Ema akhirnya mengalah. Ia membiarkan Alisa menangis di dalam pelukannya sampai pada akhirnya suara tangisan Alisa tidak lagi terdengar. Ema menatap wajah putrinya dan ternyata Alisa jatuh tertidur. Ema menatap sendu wajah putrinya hingga tak terasa air matanya kembali menetes.


Ia tidak tega melihat Alisa tertekan seperti ini. Namun apa mau dikata semua sudah berakhir. Pria yang putrinya inginkan telah membatalkan pertunangan ini. Ema perlahan-lahan mengangkat kepala Alisa lalu menempatkannya diatas bantal. Lalu dengan sangat pelan Ema bangkit dari atas tempat tidur dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh putrinya.


" Ibu harap kebaikan selalu menyertaimu sayang " Gumam Ema sembari mengecup lama kening putrinya.


Reyhan duduk sendirian di dalam kamarnya sembari menatap keluar jendela. Hujan masih turun, suara jatuhnya air hujan masih terdengar jelas begitu juga juga dengan aroma basah rerumputan. Wajah Alisa yang bersimbah air mata saat satu tamparan keras mendarat di pipinya, masih terus membayang di pikirannya. Reyhan tidak tega, demi Tuhan !


" Aku tidak bermaksud menyakitimu Al. Maafkan aku " Gumam Reyhan sambil mengusap kasar wajahnya berkali-kali.


Menjelang malam, Alisa sama sekali tidak turun untuk makan malam bersama orang tuanya. Ia lebih memilih duduk di balkon sembari memandang langit malam.


" Aku tahu kau akan sangat membenciku kelak. Tapi kuharap, kau akan selalu mengingat sedikit kebaikanku dulu agar kau masih bisa tersenyum padaku besok " Ujar Alisa sembari tersenyum pedih. Satu bulir cairan bening kembali jatuh dari sudut matanya. Alisa mengusapnya dengan cepat.


Paginya, Alisa sudah bersiap-siap lebih cepat dari biasanya. Pasalnya, pagi ini adalah foto-foto bersama di hari kelulusan mereka.Tadi malam, ia sudah berpikir sangat lama. Alisa memutuskan untuk berjuang sekali lagi untuk mempertahankan pertunangan mereka. Sekalipun ia harus memohon pada Reyhan, maka Alisa akan melakukannya.


Alisa buru-buru melangkah keluar dari dalam mobil, begitu benda tersebut berhenti di depan pagar sekolahannya. Alisa sudah bisa melihat banyak teman-temannya yan sudah lebih dulu datang dan mulai memadati aula sekolahan. Sambil tersenyum penuh tekad, Alisa buru-buru berlari masuk ke dalam. Tujuan utamanya adalah menemukan Reyhan lalu meminta maaf pada pria itu dan memohon pada Reyhan agar tidak membatalkan pertunangan mereka.


Saat Alisa sedang berjalan menyusuri lorong sekolah, ia tak sengaja melihat Aldi dan Vina yang sedang duduk berdua di dekat kantin sekolahannya yang kebetulan tutup.Merasa penasaran, Alisa mendekati kedua orang tersebut. Saat masih beberapa langkah, Alisa belum bisa mendengar isi pembicaraan keduanya. Namun saat ia kembali melangkah, suara Aldi sayup-sayup mulai tertangkap oleh indera pendengarannya.


" Aku merasa senang karena rencana kita berhasil malam itu "


" Siapa lagi tokoh utamanya " Vina tersenyum bangga.

__ADS_1


" Apa kau melihat bagaimana ekspresi wajahnya saat Alisa mempermalukannya di depan orang ramai "


" Seperti orang bodoh " Vina Tertawa. Aldi pun ikut tertawa.


Mereka sedang membicarakan Reyhan. Rencana apa?


Alisa berjalan perlahan, sebisa mungkin ia memelankan langkah kakinya. Ia tidak ingin Aldi dan Vina menyadari keberadaanya.


" Kau memang manusia licik Aldi. Kau menelponnya, lalu mengatakan padanya bahwa Alisa sudah lebih dulu berada di ballroom hotel. Sebenarnya darimana kau mendapatkan ide gila itu hah ? "


" Dari otakku lah. Apa kau tidak tahu jika aku jauh lebih pintar dari si jelek Reyhan " Aldi kembali tertawa. Alisa menggertakkan gigi-giginya dengan kuat. Kedua tangannya sudah terkepal erat.


" Hei, tanpa bantuanku juga rencanamu ini tidak akan berhasil tau " Gerutu Vina


" Iya, terima kasih atas aktingmu yang luar biasa hebat.


" Jadi ini semua rencana kalian berdua ? "


Sontak Vina dan Aldi langsung menoleh kaget pada Alisa. Mereka tidak menyangka jika Alisa sudah berdiri di belakang. Aldi langsung berdiri dan hendak mendekati Alisa. Namun Alisa dengan cepat sudah melangkah mundur.


" Kenapa kau harus melakukan hal ini, Aldi ? " Desis Alisa dengan kepalan tangannya yang gemetar.


" Alisa, aku bisa jelaskan semua ini "


" Tidak perlu ! " Teriak Alisa. Ia langsung berbalik pergi sembari menangis.


Ternyata dirinya sendirilah yang telah membuat kesalahan. Reyhan sama sekali tidak bersalah dalam hubungan mereka. Rasa cemburunya benar-benar membutakan mata hati dan pikirannya. Alisa berlari kesana-kemari namun ia tidak menemukan keberadaan Reyhan. Bahkan teman-temannya sudah banyak berkumpul di aula. Tampaknya acara akan segera dimulai. Namun Reyhan tidak terlihat sama sekali.


" Dimana dia ? " Gumam Alisa dengan cemas.Ia berlari kembali ke pintu depan dan Alisa mendapati mobilnya masih berada disana.


" Itu nona, tadi ada teman nona. Namanya Reyhan"


" Dia ada disini ! Pergi kemana dia pak ? " Ujar Alisa dengan panik.


" Dia hanya berhenti sebentar disini non. Dan dia hanya menitipkan ini pada bapak " Sopir Alisa memberikan sebuah kandang yang berisi kucing betina yang sudah lama dipelihara oleh Reyhan.


Alisa menatap lama kucing itu lalu kemudian ia langsung buru-buru mengambil kandang kucing itu lalu kemudian masuk ke dalam mobil.


" Antarkan saya ke rumah Reyhan pak ! " Pekik Alisa pada sopirnya.


Flashback....


Reyhan tampak cemberut saat melihat Alisa membawa seekor kucing liar yang masih kecil padanya. Kucing itu terlihat kurus, kotor dan menjijikkan.


" Kenapa kau membawa binatang itu kemari hah ? " Protes Reyhan sambil memandang jijik kucing kecil di tangan Alisa.


" Aku ingin kau merawatnya untukku Rey "


" Tidak mau ! " Tolak Reyhan. Alisa langsung mencebikkan bibirnya dan tampak akan menangis. Kedua matanya sudah mulai berkaca-kaca.


" Tapi Rey, aku menyayanginya. Harusnya kau mau memelihara kucing ini untukku, jika kau benar-benar menyayangiku "


" Aku memang sayang padamu. Kau dan kucing itu berbeda Al. Kenapa tidak kau saja yang memeliharanya? "


" Kau tahu kan Rey ibuku alergi bulu kucing "


Reyhan menghela nafas dalam-dalam. Akhirnya dengan terpaksa Reyhan mengambil kucing kecil itu dari tangan Alisa. Seketika senyum bahagia langsung terukir di wajah cantik Alisa.

__ADS_1


" Jangan dilepas ya Rey. Jika kau melepaskannya, itu artinya kau juga melepaskanku. Selama kau masih memeliharanya, artinya kau juga masih memelihara perasaanku "


Reyhan terkekeh geli mendengar celotehan Alisa.


" Jadi, kucing jelek ini adalah bukti keterikatan kita berdua ? "


" Hm. Jika kau tidak ingin memeliharanya lagi itu artinya kau juga tidak menginginkanku lagi " Alisa mengangguk semangat.


" Baiklah "


" Kita beri nama apa kucing ini ? "


" Nemo "


" Itukan nama seekor ikan Al " Reyhan tertawa geli.


" Biar saja "


Alisa masih mengingat dengan jelas kilasan kenangan itu.


" Kau tidak mungkin melepaskanku kan Rey " Alisa sudah menangis. Ia menggenggam kandang Nemo dengan sangat erat.


Saat mobil sampai di rumah Reyhan, Alisa langsung turun dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam rumah Reyhan. Dua orang pelayan rumah segera menghampirinya.


" Dimana dia ? " Tanya Alisa tanpa basa-basi.


" Tuan Reyhan sudah pergi nona " Jawab si pelayan.


" Pergi kemana ?! "


" Ke bandara "


" Apa !!! " Pekik Alisa. Tanpa sempat mendengar apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh pelayan itu, Alisa buru-buru kembali masuk ke dalam mobil lalu meminta sopirnya untuk segera mengantarnya ke bandara.


Sepuluh menit dan Alisa sudah berada dibandara. Dengan wajah bersimbah air mata dan sebelah tangannya membawa kandang Nemo, Alisa berlari membelah kerumunan mencari keberadaan Reyhan.


" Kau tidak boleh pergi begitu saja Rey " Gumam Alisa sambil menangis terisak. Ia masih terus berlari melewati beberapa orang.


" Kau tidak boleh meninggalkanku Rey " Gumam Alisa lagi.


Reyhan yang sudah menyeret kopernya, tersenyum pada ibunya. Ia akan meninggalkan negara ini, tanah kelahirannya. Termasuk meninggalkan kenangan manis yang pernah tercipta disini.


" Hati-hati sayang, ibu akan selalu merindukanmu. Temukan orang lain disana ya ! " Teriak ibu Reyhan, Lina Wijaya.


" Aku akan kembali lagi bu. Aku mencintaimu " Reyhan melambai pada ibunya.


Prang !


Kandang nemo terlempar jatuh ke lantai, hingga Nemo yang sudah dewasa langsung melompat keluar begitu kandangnya terbuka karena benturan. Semua orang menatap aneh Alisa yang sudah meraung dan terduduk dilantai sambil memanggil nama Reyhan.


" Reyhan ! Aku mohon jangan tinggalkan aku, kumohon !! " Raung Alisa dengan isakan yang memilukan.


Dia meninggalkanku, dia tidak mencintaiku lagi. Reyhan membenciku


To be continued....


Happy reading, love you guys 😘

__ADS_1


__ADS_2