
Begitu alarm di ponselnya berbunyi, Alisa langsung terlonjak kaget dari tidurnya. Ia bergegas turun dari ranjangnya sembari berjalan sempoyongan. Melangkah keluar kamar. Karena terbangun tiba-tiba, darah belum mengalir sempurna ke kepalanya, mungkin itulah penyebabnya ia merasa pusing dan jantungnya berdebar cepat. Baru tadi pagi ia mengantar berkas lamarannya dan tadi sore ia sudah mendapat panggilan dari perusahaan. Saking senangnya, tadi malam ia sudah menyetrika semua pakaian yang akan dipakainya untuk interview kerja hari ini.
" Semoga aku lulus dan diterima bekerja " Gumamnya sembari menggosok giginya dengan cepat. Tujuh menit saja, dan Alisa sudah selesai mandi. Ia bergegas mengambil pakaiannya. Rok pensil semata kaki dan blouse berwarna cream menjadi pilihannya pagi ini. Ia mematut dirinya di depan cermin sebentar, hanya berapa detik saja untuk mengoleskan sedikit pelembab anti jerawat. Tapi, tetap saja wajahnya masih berjerawat meski pelembab yang ia gunakan sudah bertuliskan ' Anti Jerawat '
Dari dapur suara ribut sudah mulai terdengar, ibunya sudah terbangun dan menyiapkan sarapan untuk keluarga. Dia memang ibu yang cekatan, penyayang dan sabar.
" Pagi bu ! " Sapa Alisa sembari menarik kursi lalu duduk. Ia melirik ke sekitar, ayahnya belum terlihat pagi ini.
Kemana pak tua kesayanganku, apa dia telat bangun hari ini hehe !
" Ayah dimana bu, kenapa tidak ada disekitaran meja makan ini. Biasanya ayah sudah disini jika aku datang" Alisa menuangkan air putih kedalam gelasnya lalu meneguknya hingga tandas.
" Kau yang bangun keawalan sayang. Ayah masih membersihkan halaman samping. Nanti juga ayah akan bergabung setelah selesai dengan kegiatannya " Ema berjalan ke arah meja makan sambil membawa sepiring sambal telur dan sayur lodeh.
" Enak nih kayaknya " Alisa menjilat-jilat bibirnya sambil menatap piring berisi makanan yang dibawa ibunya.
" Sudah rapi sayang "
" Iya bu. Hari ini ada interview kerja "
" Wah, benarkah ? Semangat sayang. Ibu do'akan semoga kau mendapatkan pekerjaan kali ini " Ema tersenyum memandangi putrinya yang sibuk menyendok telur serta sayur lodehnya.
" Do'a ibu yang terbaik " Alisa bergerak cepat menyendok nasi beserta lauk ke dalam mulutnya.
" Masakan ibu selalu yang terbaik " Pujinya dengan mulut yang masih dipenuhi nasi.
" Kunyah dan telan dulu, nanti tersedak " Ujar Ema sambil tersenyum geli.
Tak lama Gunawan ikut bergabung di meja makan. Ia menatap putrinya naik dan turun seolah sedang meneliti penampilan Alisa pagi ini.
" Ada interview kerja hari ini ? " Gunawan menarik kursi lalu duduk disamping istrinya. Sambil mengangkat wajahnya sejenak, Alisa mengangguk. Sedetik kemudian ia sudah kembali menunduk untuk menyendok habis makanan di dalam piringnya.
" Perusahaan apa ? " Tanya Gunawan lagi.
" Perusahaan baru yah "
" Oh. Kau sudah belajar ? " Tanya Gunawan lagi. Alisa meletakkan sendoknya dan menatap ayahnya.
" Memangnya harus belajar dulu yah. Alisa rasa tidak perlu yah. Kan ini bukan ujian nasional " Senyum lebar terulas dari wajah cantik Alisa.
__ADS_1
" Ya, setidaknya kau tidak bingung saat ditanya nanti "
" Asalkan mereka tidak bertanya kapan aku akan menikah, aku tidak akan bingung yah " Gurau Alisa sambil terkekeh kecil.
" Ini anak benar-benar " Geram Gunawan. Alisa malah tertawa santai melihat kekesalan ayahnya.
" Sudah yah. Biarkan saja dia. Alisa akan semakin senang jika melihat ayah kesal begini " Ema mencoba menenangkan suaminya.
Merasa sudah selesai dengan makanannya, Alisa buru-buru meneguk air putih hingga tandas. Lalu segera mengambil tas selempangnya.
" Salim dulu yah " Ujar Alisa sembari mengulurkan sebelah tangannya pada Gunawan. Meski sedikit kesal, Gunawan menyambut uluran tangan putrinya itu.
" Jawab yang benar nanti " Pesan Gunawan.
" Siap yah " Alisa tersenyum pada ayahnya. Ia kemudian beralih ke ibunya dan mencium punggung tangan ibunya.
" Jangan gugup, jangan minder dan satu lagi jangan..."
" Jangan lupa tersenyum " Sela Alisa dengan cepat. Ia sudah hafal tiga pesan dari ibunya ini. Ema langsung terkekeh geli.
" Ayah, ibu aku pergi dulu ya " Alisa melangkah pergi meninggalkan kedua orang yang ia cintai, yang selalu menjadi tujuan utama hidupnya. Sosok yang harus ia bahagiakan lebih dulu di bandingkan dengan dirinya sendiri. Ini adalah moto hidupnya.
" Besar sekali, persis seperti impianku " Gumam Alisa sembari mendongakkan wajahnya. Takjub dengan bangunan tinggi di depannya saat ini. Omong-omong apa ia akan diterima ya bekerja di perusahaan sebagus dan semewah ini ? Satu kata yang pasti optimis. Ya, ia harus optimis ! Karena ini adalah visinya. Alisa mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.
" Permisi, mau interview juga ya ? " Seseorang tiba-tiba menyapa Alisa. Sontak Alisa langsung menoleh dengan cepat.
Seorang gadis cantik dengan wajah glowing ssedang tersenyum padanya.
Sumpah ! Mulus sekali. Bahkan nyamuk saja bisa kepleset jika hinggap di wajahnya. Pakai produk apa sih dia ?
Gumam Alisa dalam hati. Ia takjub sekali melihat gadis muda yang juga mengenakan setelan rapi sepertinya.
" Iya. Namamu siapa? " Tanya Alisa sambil tersenyum ramah. Karena wajahnya sedikit tertarik, jerawatnya pun terasa sedikit berdenyut.
Tolong jerawat, jangan banyak tingkah dah. Buat hariku menyenangkan ! Aku lagi mau kenalan ini.
" Aku Hana Azura "
" Aku Alisa Saraswati " Alisa buru-buru mengulurkan tangannya pada Hana. Dan dengan ramah Hana menyambut uluran tangannya.
__ADS_1
" Senang bisa berkenalan denganku, Alisa "
Apalagi aku. Rasanya wajahku seperti ikutan glowing
" Aku juga Hana. Kau terlihat sangat cantik " Puji Alisa. Hana tersenyum malu-malu.
" Kau juga " Hana balas memuji. Alisa langsung tergelak, membuat Hana sedikit kaget.
" Kau orang pertama yang memujiku. Terima kasih ya"
Hana mengangguk cepat.
" Sama-sama "
" Kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam. Siapa tahu kan yang lebih dulu sampai bakalan dapat nilai plus dari perusahaan ini " Ungkap Alisa dengan semangat empat lima nya.
Hana pun jadi ikut bersemangat. " Ayo ! "
Mereka berjalan masuk ke dalam perusaahaan dengan perasaan yang berdebar luar bisa. Kalau sudah seperti ini Alisa mulai merasa tubuhnya berkeringat dingin lalu diikuti dengan rasa mulas yang tiba-tiba datang. Padahal ia tidak makan sambal. Kemudian tangannya sedikit gemetar.
" Kau kelihatan gugup Alisa " Ujar Hana.
" Sedikit " Alisa mengeluarkan tisu dari dalam tasnya dan menyapukan ke keningnya sendiri. Hana tersenyum geli melihat tingkah Alisa.
" Bukan sedikit, kau kelihatan sangat gugup " Hana mencoba menahan tawanya.
" Itulah, aku memang selalu seperti ini Hana jika sudah masuk ke dalam perusahaan "
" Tenanglah " Hana menepuk pelan pundak Alisa
" Iya tenang " Gumam Alisa sambil mengusap dada kirinya. Mereka berdua sudah berhenti di depan lift. Keduanya berdiri di belakang orang-orang yang juga sedang berdiri menunggu di depan pintu lift.
Begitu lift berbunyi dan kemudian terbuka. Disaat itu jugalah Alisa merasa ingin pingsan saja. Satu sosok tinggi dan tampan keluar dari dalam lift sambil diikuti oleh beberapa orang bersetelan jas hitam di belakangnya. Alisa tidak mungkin salah mengenali sosok tersebut, pria yang baru saja keluar itu adalah mantan tunangannya dulu, Reyhan Wijaya.
Meski wajah pria itu sudah tak berjerawat lagi, tapi Alisa masih bisa mengenali pemilik rupa itu. Meski tubuhnya sudah berotot dan atletis begitu, tapi Alisa masih sangat mengenal sorot mata itu. Hanya saja tampilan Reyhan sudah terlihat seperti seorang eksekutif mahal yang dingin dan tak murah senyum. Bukan lagi seperti pemuda manis yang jahil seperti yang ia kenal dulu.
" Kau kembali " Gumam Alisa sambil melirik kemana tubuh itu melangkah pergi.
To be continued....
__ADS_1
Happy reading, love you guys 😘