Mister Glow Up

Mister Glow Up
Chapter 26


__ADS_3

Malam hari didalam kamar mandi, Alisa menggerutu sendiri sembari menahan rasa mulas yang tiada duanya. Bahkan rasa mulas kali ini jauh lebih mengerikan disaat ia mengalami diare. Begitu kembali dari kantor, ia langsung merasakan sakit perut yang membuatnya harus rela bolak balik ke kamar mandi.Karena kebodohannya sendiri, mau tidak mau ia harus berlama-lama berada di dalam kamar mandi.


" Oooh....kapan rasa mulasnya akan berhenti. Rasanya aku sudah hampir pingsan " Gumam Alisa sambil memejamkan matanya. Ia meremas perutnya sembari terus berjongkok.


" Ini semua gara-gara si kunyuk itu. Huaaa....ternyata melupakan seseorang sepertinya sulit sekali " Raung Alisa di dalam kamar mandi.


" Nak, kamu kenapa hm ? " Terdengar ibunya menggedor pintu kamar mandi.


" Sakit perut bu "


" Memangnya kamu makan apa tadi dikantor ? "


" Makan sambal bu ! " Pekik Alisa sambil memejamkan kedua matanya.


" Bukannya kamu tidak pernah makan sambal, kenapa sekarang kamu malah berani untuk memakannya? "


" Karena Alisa bodoh bu ! " Pekik Alisa.


" Ada denganmu sayang? "


" Sudahlah bu, jangan hiraukan Alisa. Ibu tidur saja duluan "


" Ibu menunggumu di meja makan. Kau harus minum air hangat dengan gula dan garam " Setelah mengatakan hal tersebut Ema lantas berbalik dan pergi.


Beberapa menit kemudian Alisa sudah keluar dari dalam kamar mandi. Rambutnya terlihat kusut, ia pun berjalan dengan sedikit membungkukkan badannya. Setidaknya dengan begitu ia bisa mengurangi rasa mulas yang terus saja meremas perutnya.


" Minum ini " Perintah ibunya. Alisa langsung mengambil gelas tersebut lalu kemudian meneguknya hingga tandas. Alisa menghela nafas singkat, ia bersandar dengan wajahnya yang terlihat lemah.


" Kenapa harus maksain diri untuk makan sambal kalau kau tidak tahan. Jadinya sakit perut begini kan "


" Alisa hanya penasaran bu "


" Gak ada gunanya penasaran dengan sambal sayang "


Alisa tersenyum kecut.


" Gimana pekerjaanmu disana? Apa kau merasa betah sayang ? "


" Alhamdulillah betah bu " Jawab Alisa dengan lesu.


" Kenapa jawabannya kok kayak gak semangat gitu sih sayang ? " Ema tersenyum pada putrinya.

__ADS_1


" Do'akan Alisa ya bu, semoga saja nanti Alisa masih bisa mendapatkan pekerjaan yang lain "


" Apa karena Reyhan ? "


Alisa mengangguk pelan. Ema menatap sendu putri semata wayangnya.


" Aku kesusahan untuk melupakannya bu " Akui Alisa dengan jujur.


" Ibu akan selalu mendukungmu sayang. Apapun yang ingin kau lakukan, ibu akan selalu berdiri disampingmu. Jangan menyerah ya " Ema mengusap perlahan puncak kepala putrinya.


" Huaaa....Alisa sayang ibu ! " Rengek Alisa dengan sangat manja.


Didalam kamarnya Alisa masih berbaring sambil menatap kosong langit-langit kamarnya. Pemandangan tadi siang masih saja berlalu lalang di pikirannya.


" Kalau begini terus aku bisa gagal melupakannya" Gumam Alisa dengan sangat frustasi. Ia kembali menegakkan tubuhnya dengan cepat. Syukurlah rasa mulas diperutnya sudah mulai berkurang.


" Apa aku harus mencoba menjalin hubungan dengan seorang pria hm ? " Alisa berpikir sejenak.


" Oh iya Nathan. Dia pasti bisa membantuku melupakan Reyhan " Alisa akhirnya bisa tersenyum lebar. Baiklah besok pagi sekali ia akan bertemu dengan pria itu kembali. Karena perusahaan Nathan sedang melakukan kerjasama dengan perusahaan Reyhan.


" Saat aku berhasil melupakanmu suatu hari nanti, aku akan tertawa dengan puas dihadapanmu, Rey "


" Tumben dia tidak muncul di dalam bus kali ini. Apa dia naik mobil pribadinya? "


Begitu sampai dikantor, Alisa langsung bergegas mengambil peralatan bersih-bersih lalu kemudian pergi menuju ruang kerja Reyhan. Harusnya ia mengetuk lebih dahulu, namun Alisa lupa melakukan hal itu. Hingga begitu ia sudah membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam. Kejadian yang tidak terduga berhasil di tangkap oleh kedua matanya.


" Oh maaf pak, saya tidak sengaja " Ujar Alisa lalu dengan cepat menundukkan wajahnya. Ia memejamkan kedua matanya dengan kesal. Merasa kesal pada dirinya sendiri yang tidak sempat mengetuk pintu sebelum masuk.


Juliet yang baru saja mengalungkan kedua tangannya di leher Reyhan langsung terkejut dan melotot marah pada Alisa. Reyhan dengan panik membenarkan kerah jasnya yang sebenarnya masih sangat rapi.


" Beraninya kau masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu " Juliet menatap tajam Alisa. Wanita itu masih setia menundukkan wajahnya.


" Maaf nona Juliet. Saya lupa. Maafkan saya sekali lagi "


" Dasar tidak sopan " Gerutu Juliet lalu melangkah ke arah sofa. Wanita itu duduk dengan kesal disana.


" Kau ingin membersihkan ruangan ? "


" Iya pak " Alisa mengangkat wajahnya dengan cepat hingga mata mereka saling bertatapan.


Alisa bisa melihat rasa malu yang terukir jelas di seraut wajah tampan itu. Reyhan melangkah ke arah kursi kebesarannya lalu duduk disana.

__ADS_1


" Kau boleh mulai membersihkan " Ujar Reyhan.


" Baik pak " Sahut Alisa dengan cepat. Setelah perintah itu keluar dari mulut Reyhan. Tidak menunggu waktu lama Alisa langsung membersihkan ruangan kerja mantannya. Juliet yang duduk di sofa tampak begitu kesal padanya. Alisa hanya berani mencuri pandang.


" Sayang, temani aku belanja hari ini ya? "


" Aku masih banyak pekerjaan sayang. Lain kali saja ya " Reyhan melirik pada Alisa. Wanita itu terlihat sibuk membersihkan ruangannya. Juliet tampak kecewa, wanita itu langsung bangkit berdiri dengan kasar.


" Kurasa kau sangat sibuk, jadi aku tidak perlu berlama-lama berada disini " Terdengar nada marah dari ucapan Juliet. Reyhan mengusap dahinya dengan kasar, ia akhirnya bangkit berdiri lalu mengejar Juliet yang sudah melangkah ke arah pintu.


" Baiklah, aku akan menemanimu. Kau ingin membeli apa ? "


Juliet bergeming dan tidak menjawab sama sekali. Alisa yang sibuk membersihkan ruangan, sesekali melihat pada pasangan tersebut.


Apa Juliet sedang berakting ? Atau dia memang benar-benar merajuk ?


Alisa tersenyum miring. Ia berusaha keras untuk tidak mempedulikan pasangan di depannya.


" Bicaralah sayang, aku tidak suka kau merajuk " Reyhan mulai merasa jengah. Dari dulu hingga sekarang, ia memang tidak bisa bersabar membujuk seorang wanita yang sedang merajuk. Juliet masih tetap diam dan tak ingin berbicara.


Reyhan menarik nafas panjang. Ia mengusap pelan dahinya. Seketika ia ingin memarahi Juliet namun Reyhan mampu mengendalikan dirinya.


" Sayang, kau tahu kan aku tidak suka membujuk seseorang yang sedang merajuk " Desis Reyhan.


" Baiklah. Aku hanya memintamu mengantarku untuk pergi berbelanja. Tapi kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu yang tidak ada habisnya " Juliet akhirnya mau berbicara setelah Reyhan terlihat benar-benar akan marah. Wanita itu melangkah ke arah Reyhan lalu menggandeng lengan pria itu.


Alisa mencebikkan bibirnya dengan malas. Ia merasa kesal sendiri.


" Setelah jam makan siang berakhir, aku akan mengantarmu " Putus Reyhan. Ia melepaskan tangan Juliet dari lengannya lalu kembali duduk.


" Aku tunggu ya sayang. Kalau begitu aku akan pergi ke rumah sahabatku sebentar " Juliet tersenyum cerah. Wanita itu keluar dari ruangan dengan langkah elegannya.


" Saya sudah selesai pak " Ujar Alisa. Ia sudah akan membawa peralatan bersih-bersihnya. Tanpa diduga Reyhan berujar pelan padanya. Dan kata-kata pria itu masih bisa ia dengar dengan sangat jelas. Alisa terpaku di depan pintu.


" Sepertinya aku mulai terpengaruh oleh keberadaanmu "


Sungguh ??? Reyhan merasa terpengaruh juga oleh keberadaannya. Ternyata ia tidak sendirian.


To be continued.....


Happy reading, love you guys😘

__ADS_1


__ADS_2