
Hana menarik lengan Alisa yang hendak pergi begitu saja. Siapa yang tidak panik dan ketakutan, saat akan bertemu langsung dengan pria yang pernah menjadi bagian dari kenangan manis yang ia miliki. Seorang pria yang sudah pernah ia sakiti dengan lidahnya sendiri. Kini pria itu kembali dengan nasib yang jauh lebih baik darinya. Sedangkan dirinya si pemberi luka malah bernasib sengsara.
" Kau mau kemana ? " Bisik Hana.
" Aku tidak mau lanjut Han. Lepaskan tanganku ! " Balas Alisa.
" Katanya kau sangat berharap bisa diterima bekerja disini. Lalu...Kenapa kau ingin pulang begitu saja setelah namamu di panggil ? "
" Aku berubah pikiran Han. Tolong, lepaskan tanganku Hana " Mohon Alisa sembari menatap sendu kedua mata Hana.
" Dengar Al, kau bersikap aneh. Cobalah untuk tenang. Apa kau yakin ingin pulang hm, mencari pekerjaan itu susah Al " Ujar Hana. Alisa terdiam, wajahnya terlihat bingung. Alisa tahu bahwa semua yang dikatakan oleh Hana benar adanya.
Jika kau kabur maka kau tidak lebih dari seorang pengecut Al !
Rutuk Alisa pada dirinya sendiri.
" Coba pikirkan lagi Al. Kedua orang tuamu pasti sangat berharap kau mendapatkan pekerjaan ini "
Alisa langsung merasakan kedua matanya mulai memanas. Ia sudah memiliki moto hidup dimana ia akan lebih dulu membahagiakan kedua orang tuanya sebelum kebahagiaannya sendiri. Lalu, bila ia menyerah sekarang. Itu artinya ia tidak pernah menerapkan moto hidupnya ini. Ia akan kembali gagal seperti hari-hari yang lalu.
Hajar saja Al ! Pasang wajah anti penyokmu dan Masuk ke dalam ! Fighting !!!
Alisa menyemangati diri sendiri. Berusaha memasang pengaman di hatinya agar ketika masuk ke dalam ruangan dan bertemu dengan pria masa lalunya ia tidak akan menangis. Alisa membuka pintu dengan perlahan, melangkah pelan sepelan mungkin. Menyesuaikan diri dengan suasana di dalam ruangan hingga kemudian
Boom !!
Jantung meledak sempurna. Hatinya langsung bergetar dan tangan-tangannya bergetar samar. Ia gagal menyembunyikan rasa gugupnya. Sosok itu bahkan belum menoleh dan menatap kedua matanya. Namun ia sudah hampir kejang-kejang sendiri. Alisa tercenung di tempat. Hanya menatapnya dari samping, ia sudah sangat yakin bahwa itu seratus persen Reyhan Wijaya, mantan tunangannya dulu. Pria yang ia cintai sejak ia masih kanak-kanak hingga sekarang.
" Silahkan duduk "
Alisa langsung kaget dan menoleh pada sumber suara. Ternya itu adalah suara dari wanita yang baru saja memanggilnya barusan.
" Baiklah. Terima kasih " Alisa buru-buru duduk dan memandang sendu ke arah depan. Tiga orang pria sedang duduk di depannya. Mereka semua belum menatapnya. Semuanya masih sibuk menunduk, melihat kertas-kertas yang ada di atas meja.
Dia tampan, wajahnya kinclong dan tubuhnya terbentuk sempurna. Lima tahun tidak melihatnya, dia semakin sempurna. Inilah hukuman untukku, Rey. Kau berhasil membuatku menyesal karena telah menyakitimu dulu.
" Miss Alisa Saraswati " Panggil pria yang tampaknya berumur sekitar empat puluhan lebih.
__ADS_1
" Iya. Saya "
" Anda terlihat gugup sekali " Pria itu tersenyum kecil. Alisa masih fokus pada Reyhan yang masih belum juga menoleh padanya.
" Hanya sedikit saja "
" Benarkah ? "
Alisa masih setia menatap Reyhan yang belum juga mau mengangkat wajahnya.
" Sepertinya anda gugup karena harus di interview oleh Direktur Utama kami, Reyhan Wijaya. Bukan begitu pak ? " Pria tua itu sedang bercanda. Alisa hanya diam saja sambil menunggu respon dari Sang Direktur.
" Jangan banyak bercanda, cepat selesaikan interview ini. Karena aku tidak punya banyak waktu untuk bercanda " Ujar Reyhan dengan dingin.
" Oh maaf pak " Pria tua itu berdehem pelan.
Tatap aku Rey ! Aku mohon
Reyhan menatapnya, pria itu melihat ke arahnya. Dan Alisa hampir menangis seketika itu juga. Untuk beberapa detik berlalu, mereka hanya saling bertatapan. Alisa meneliti lewat sorot mata pria itu. Disana ia tidak melihat apapun, tatapan kagum atau mungkin merindu tidak ia temukan di kedua mata hitam pekat itu.
" Kenapa anda memilih perusahaan ini, miss Alisa ? "
" Miss Alisa, anda masih mendengarkan kami ? "
Alisa terkesiap kaget.
" Maaf, bisakah anda mengulangi pertanyaannya, pak ? " Tanya Alisa dengan raut wajah malu-malu.
" Kenapa anda lebih memilih perusahaan ini ketimbang perusahaan-perusahaan lain di luar sana ? "
" Saya memilih perusahaan ini karena sa..."
" Miss Alisa "
Ucapan Alisa berhenti begitu saja karena Reyhan sudah lebih dulu memanggil namanya dengan embel-embel miss. Seolah-olah pria itu baru mengenalnya kali ini.
" Apa anda datang kemari hanya untuk bermain-main saja ? "
__ADS_1
" Apa ? Maaf....Saya tidak pernah bermaksud untuk bermain-main Re....um...maksud saya Pak "
" Apa anda tahu bahwa perusahaan kami sangat disiplin waktu ? Dan anda meminta dengan santainya pada kami untuk mengulangi pertanyaan yang sudah sangat jelas sekali. Tidakkah anda pikir bahwa sikap anda terlalu santai ? " Reyhan menyipitkan matanya dengan tajam. Sindiran tajam dari bibir pria itu membuat Alisa menggeram dalam hati. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat di kedua sisi tubuhnya.
Sabar Al....sabar. Ini cobaan
" Kurasa anda tidak terlalu butuh pekerjaan ini, miss Alisa " Tegas Reyhan sembari bersandar pada kursinya dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada.
Alisa menggeleng panik.
" Tidak Pak ! Saya benar-benar sangat membutuhkan pekerjaan ini. Tolong maafkan kesalahan saya. Maafkan sikap tidak sopan saya " Seru Alisa dengan wajah gusarnya.
" Anda memang tidak pernah sopan, miss Alisa "
Alisa menelan ludahnya dengan susah payah. Ia menatap kedua mata pekat itu yang terus saja memancarkan tatapan sinis padanya.
Kau dendam hah ! Iya, aku tahu aku sudah salah. Tapi kau terlihat tidak profesional sama sekali Rey ! Kau tidak cocok jadi seorang Direktur perusahaan !!
Gerutu Alisa dalam hati. Bisa-bisanya Reyhan mempermasalahkan hal ini, padahal jelas-jelas pria tua itu tidak masalah ketika ia meminta ulang pertanyaan tadi.
" Silahkan keluar dari sini. Saya rasa interview ini tidak perlu dilanjutkan kembali "
" Pak " Pria tua itu menoleh ke arah Reyhan.
Namun dengan angkuhnya, Reyhan berujar tegas.
" Semua keputusan berada di tanganku, Manajer Yuda"
Pria tua itu langsung diam dan mengangguk. Reyhan kembali memutar kepalanya, hingga ia kembali bertatapan dengan Alisa.
" Miss Alisa, anda boleh keluar ! "
" Pak...Saya minta maaf tapi tolong bisakah anda memberikan saya kesem...." Alisa buru-buru bangkit berdiri dan hendak melangkah namun suara Reyhan yang berat dan dalam kembali terdengar di dalam ruangan.
" Silahkan keluar " Tegas Reyhan lagi. Pria itu sama sekali tidak mau mendengar ucapan Alisa. Kedua bahu Alisa tertunduk perlahan. Ia menghela nafas dalam-dalam sambil menahan rasa geram dalam hatinya.
" Baiklah. Terima kasih karena sudah menyempatkan waktu anda untuk saya, Direktur Utama Reyhan Wijaya" Ujar Alisa sembari menekankan empat kata terakhir dengan rasa kesal luar bisa. Ia menunduk sejenak lalu setelah itu dengan cepat Alisa melangkah keluar dari dalam ruangan. Membawa sebagian hatinya yang retak karena ucapan Reyhan.
__ADS_1
To be continued.....
Happy reading, love you guys😘