
Tatapan matanya tidak berhenti memandangi sosok cantik yang sibuk memasak di depannya. Sudah berapa kali ia melihat wanitanya itu menjatuhkan spatula ke lantai. Bukan hanya itu saja, pekikan ketakutan Alisa saat menggoreng daging ayam juga berhasil membuatnya tertawa.
" Kau bisa membuat daging ayamnya gosong, jika kau tidak membaliknya. Daging ayam itu tidak akan bisa berbalik sendiri jika kau hanya melihatnya dari jauh seperti itu Al " Celoteh Reyhan sembari tertawa geli.
" Aku takut Rey, lihatlah minyak-minyak itu meletup kesana kemari " Tunjuk Alisa dari jauh dengan spatula di tangannya.
Reyhan menggeleng sembari berdiri dari kursinya. Ia melangkah kearah Alisa sambil menggulung lengan kemejanya hingga ke kedua sikunya.
" Berikan spatulanya padaku "
" Ini " Alisa memberikan benda spatula tersebut yang sedari tadi hanya di genggam saja olehnya.
Reyhan mengecilkan api kompor terlebih dahulu, sebelum membalikkan daging ayam tersebut.
" Oh, jadi begitu caranya " Gumam Alisa sambil memperhatikan Reyhan secara seksama dari balik punggung pria itu.
" Dari jaman nenek moyang memang begini caranya memasak Al "
Ekspresi wajah Alisa langsung berubah kesal. Ia tahu Reyhan sedang meledeknya saat ini. Namun ia sama sekali tidak membalas ucapan pria itu. Alisa merasa memang itulah kekurangan paling puncak dari dirinya. Baru posisi keduanya adalah fisiknya yang di penuhi jerawat dan bruntusan.
Setelah ia selesai membalik semua daging ayam itu, Reyhan menutup penggorengan itu sambil menunggu daging ayam tersebut benar-benar matang dengan sempurna.
" Hei ! Apa yang kau pikirkan saat ini ? "
Alisa yang sejenak melamun, langsung menoleh kaget pada Reyhan yang kini sedang menyandarkan punggungnya pada kitchen set sambil bersedekap. Memandanginya dengan kilat geli di kedua matanya.
" Apa? " Tanya Alis sembari mengangkat kedua tangannya.
Dengan kedua alisnya yang terangkat, Reyhan tersenyum miring. " Kau sedang melamunkan apa ? Apa jangan-jangan kau sedang melamunkanku "
" Enak saja, aku tidak sedang melamun " Elak Alisa.
" Al, bagaimana jika malam ini kita pergi ke suatu tempat ? "
Alisa melebarkan kedua matanya. " Kemana? "
" Rahasia. Aku ingin memberikan hadiah pernikahan untukmu "
__ADS_1
" Ah, tidak perlu. Kita hanya menikah siri "
" Apanya yang tidak perlu, menikah siri itu benar dan nyata Al. Bukan seperti menikah kontrak, apalagi menikah palsu "
" Ya, tapi kan..."
" Apa kau kesal karena aku menikahimu seperti ini Al ?"
Alisa tercenung sebentar.
Tidak pernah sekalipun ! Aku justru merasa bahagia karena kau sudah bersedia menikahiku . Apa-apaan aku ini. Kenapa aku harus berpikiran seperti ini sih !
Sudahlah mengaku sajalah Al, kau sangat mencintainya kan ?
Suara hatinya yang lain terdengar sama seperti yang pertama.
" Al " Panggil Reyhan
" I...iya. Aku sedikit kesal " Jawab Alisa.
Apa jawabanku bisa membuatnya percaya ?
" Maafkan aku Al. Aku sebenarnya tidak ingin menikahimu seperti ini. Tapi, kupikir lebih lama berdiam dan tak melakukan apapun aku mungkin akan kehilanganmu "
Rasanya Alisa ingin terbang saat ini. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dadanya. Jantungnya nyaris berhenti saat pria itu mengatakannya. Apalagi tatapan kedua mata itu yang begitu hangat dan penuh perasaan. Tidak seperti saat pertama kali ia berjumpa dengan pria itu ketika interview kerja. Ia sama sekali tidak menemukan tatapan hangat yang sangat dirindukannya. Tanpa terasa Alisa sudah berjalan pelan, mendekat seinci demi seinci ke arah pria itu.
Reyhan tersenyum tipis, sebelah tangannya dengan cepat menyelip ke belakang pinggang wanita itu. Menariknya dengan lembut hingga tidak ada jarak yang tersisa diantara mereka. Reyhan pikir dirinya memang harus lebih dulu mencium istrinya, atau jika tidak satu detik kemudian saat wanita itu menyadari inti nya kedekatan mereka. Dapat dipastikan dia akan memberontak. Reyhan tidak ingin terlambat.
Tanpa kata, Reyhan merendahkan kepalanya hingga ia bisa menghirup aroma Alisa untuk memenuhi indera penciumannya. Ia sangat menyukai hal tersebut. Aroma yang tetap sama seperti dulu. Manis dan lembut, persis seperti pertama kali ia mengenal wanita itu. Namun tanpa ia duga Alisanya.....
Wanita itu berjinjit lalu kedua tangannya merangkul erat lehernya kemudian Alisa mendaratkan sebuah ciuman yang manis di bibirnya. Reyhan terpaku....
" Aku selalu mencintaimu Rey. Selalu mencintaimu " Bisiknya saat menarik bibirnya menjauh. Reyhan masih terpaku, tidak percaya jika Alisa lebih dulu menciumnya.
" Apa ciumanku begitu buruk Rey ? " Tanya Alisa dengan wajah yang tersipu malu. Ia pikir Reyhan pasti terdiam karena merasakan ciumannya yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pria itu.
Oh Tuhan ! Sekarang, Reyhan pasti merasa ilfeel padanya. Alisa ingin pura-pura pingsan.
__ADS_1
Alisa memejamkan kedua matanya. Kedua tangannya masih melingkari tengkuk pria itu. Ia merasa malu luar biasa.
Seharusnya tadi kau tidak perlu menciumnya. Kau itu tidak pernah mencium pria Al !
Ya Allah, ciumanku pasti sangat buruk.
Raung Alisa dalam hati.
" Sedikit buruk tapi...aku menyukainya "
Alisa langsung membuka matanya. Menatap Reyhan dengan sangat gugup sekaligus senang.
" Jadi, kau...."
" Ya, aku sangat menyukai ciumanmu itu Al. Tapi aku ingin lebih banyak lagi "
Setelah mengatakanya, Reyhan langsung mengangkat tubuh Alisa hingga membuat wanita itu memekik kaget karena dalam keadaan tidak siap. Ia mendudukkan Alisa diatas kitchen set setelah ia menyingkirkan beberapa barang dari atasnya hingga jatuh ke lantai, menciptakan bunyi keributan di dapur.
" Re...Rey " Cicit Alisa. Ia sudah tidak bisa mendeskripsikan bagaimana keadaan jantungnya saat ini. Reyhan menarik cepat kedua kakinya lalu melingkarkannya di pinggang kokoh pria itu. Dan Alisa hampir mati sesak saking gugupnya. Ia tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria termasuk Reyhan. Dan ini adalah kali pertamanya.
" Ciumanmu akan membaik Al, karena aku dengan sukarela akan mengajarimu caranya " Ujar Reyhan sembari tersenyum.
Alisa ingin membalas ucapan pria itu namun ia tidak pernah sempat melakukannya karena Reyhan sudah lebih dulu menciumnya dengan panas. Alisa terbakar seketika. Tubuhnya memanas dan darah mudanya seketika langsung bergejolak hebat. Ciuman itu menarik sisi lain dirinya yang liar dan panas. Alisa belum pernah merasakan hal seperti ini. Bukannya menolak, tubuhnya malah semakin mendekat pada pria itu.
" Ikuti gerakanku Al " Bisik Reyhan di sela-sela ciuman tersebut. Alisa patuh dan mengikuti perkataan pria itu. Rasanya sungguh berbeda dari ciuman yang pertama tadi. Alisa merasa tubuhnya semakin memanas dan ia mulai bergerak gelisah. Nafasnya berubah semakin cepat. Dan saat ciuman pria itu turun ke lekukan lehernya Alisa mengeluarkan suara aneh dari mulutnya. Suara yang membuat ciuman pria itu semakin liar dan membara.
" Re...Rey...a...a..kku..." Alisa tersengal hebat. Ia merasa seluruh tubuhnya menegang hebat. Puncak dadanya pun mencuat dengan tidak tahu malu. Alisa tahu ia menginginkan sesuatu yang lebih daripada ciuman panas ini tapi......
Aroma aneh menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.
" Rey ! Ayam kita gosong ! " Pekik Alisa sambil mendorong Reyhan dengan tiba-tiba.
Reyhan berbalik dan melihat diatas kompor. Di dalam penggorengan, daging ayam yang tadinya berwarna emas kecoklatan kini sudah berubah menjadi hitam legam bak arang.
" Sepertinya lebih baik kita makan di luar saja Al " Ujar Reyhan sembari mematikan kompor dengan asap yang sudah mengepul.
To Be Continued....
__ADS_1
Happy reading, love you guys😘