
Sesuai ucapan Reyhan di dapur, mereka akhirnya memutuskan untuk makan malam bersama di luar. Alisa berpura-pura menyibukkan diri dengan ponselnya. Ia merasa gugup dan tidak tahu harus berbicara seperti apa dengan pria yang baru saja mendengar pernyataan cintanya. Ditambah mereka sudah berciuman dengan begitu intens, Alisa langsung merasa tubuhnya kembali panas saat memikirkan hal tersebut.
" Kenapa kau sibuk dengan ponselmu Al ? Apa kau sedang berkirim pesan dengan seseorang ?
" Tidak ada siapa-siapa. Aku hanya sedang melihat youtube kok "
" Apa Nathan masih menghubungimu? "
" Masih "
Reyhan langsung melirik tajam.
" Hanya sesekali saja. Dia hanya bertanya kabarku" Alisa memandangi Reyhan yang tampak tidak senang.
Reyhan mendengus pelan. " Aku sangat tidak suka Al. Sudah kukatakan sebaiknya kau beritahu pria itu bahwa sekarang kau sudah menikah. Atau aku yang akan memberitahunya. "
" Rey, aku malas untuk membahas masalah ini lagi. Aku akan memberitahunya, tapi tidak sekarang. Aku perlu bertemu langsung dengannya dan berbicara. Bagaimanapun dia sudah banyak membantuku selama ini " Jelas Alisa. Ia pasti akan memberitahu Nathan tentang statusnya sekarang yang telah berubah seratus delapan puluh derajat.
" Aku tidak mengizinkanmu bertemu langsung dengannya "
Alisa memijit frustasi pelipisnya. Inilah yang membuat dirinya tidak pernah memberitahu Nathan statusnya sekarang. Ia pikir sangat tidak sopan jika ia hanya memberitahu Nathan lewat panggilan telpon. Padahal ia dan Nathan sudah berteman beberapa bulan. Alisa sendiri sebenarnya sudah lama bisa merasakan adanya perasaan lebih pria itu. Tapi ia selalu bersikap pura-pura tidak tahu. Itu semua dilakukannya karena ia masih mengharapkan Reyhan kembali padanya.
" Aku hanya menganggapnya sebagai seorang teman saja "
" Tapi dia tidak Al. Dia menyukaimu "
" Rey, bisakah kau mengontrol sedikit perasaanmu itu. Aku saja tidak berlebihan saat melihat kau masih sering bertemu dengan tunanganmu. Aku lelah kau selalu membatasiku. Bahkan aku juga tidak boleh pergi bekerja " Protes Alisa. Reyhan selalu menceramahinya panjang lebar jika sudah membahas Nathan. Padahal pria itu tidak melakukan apa-apa. Bahkan sampai detik ini ia belum pernah bertemu langsung dengan Nathan.
" Aku tidak ingin kau melirik pria lain selain aku "
" Lalu kau boleh melirik wanita lain bahkan sampai bertunangan dengannya. Apa kau pikir ini adil? " Alisa menyipitkan matanya.
" Aku bertunangan dengannya karena aku merasa kecewa padamu saat itu. Hatiku tidak baik-baik saja, Al. Juliet datang dan membuat perasaanku sedikit terobati dengan kehadirannya kala itu. Seiring berjalannya waktu hingga tahun-tahun berlalu kebersamaan kami seperti tak terpisahkan. Aku pikir aku sudah berhasil melupakanmu. Aku merasa senang sekaligus bangga dengan pencapaian itu. Tapi ternyata dugaanku salah besar. Aku kembali berdebar dan gugup saat melihatmu di depan lift saat itu "
" Di depan lift ? " Kening Alisa berkerut berusaha mengingat kejadian waktu itu.
"Jadi, saat itu kau sudah melihatku ? " Tanya Alisa dengan kedua matanya yang melebar. Ia tidak menyangka Reyhan menyadari keberadaannya saat itu.
__ADS_1
" Hm.."
" Dan kau bersikap seolah-olah kau tidak melihatku saat itu ? "
" Right "
" Kau benar-benar menjengkelkan " Alisa mencubit lengan Reyhan dengan kesal. Berkali-kali sembari menggerutu.
Reyhan hanya tergelak, ia tidak bisa menghindar dari serangan itu karena ia sedang memegang setir.
" Hentikan Al ! Itu membuatku geli ! hahaha "
" Aku akan berhenti sampai kau meminta maaf padaku "
" Iya, iya ! maafkan aku " Reyhan mengalah.
Alisa berhenti mencubit lengannya, namun wanita itu masih memasang wajah kesalnya.
" Kau bisa saja membuatku kehilangan konsentrasi Al. Kita berdua bisa dalam bahaya karena ulahmu barusan "
" Biar saja " Alisa melipatkan kedua tangannya di depan dada.
" Mana boleh begitu. Kita baru saja menikah Al. Kita juga belum memiliki anak-anak yang lucu " Goda Reyhan.
Alisa sontak menoleh dan menggeleng panik. " Siapa juga yang ingin mempunyai anak " Ujarnya dengan nada suara yang terdengar panik.
Reyhan tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya. " Orang menikah ya pasti untuk memiliki anak Al. Mustahil kau menikah tapi kau tidak ingin memiliki anak. Seorang anak itu adalah karunia dari Allah. Dan kita sebagai manusia tidak boleh menolaknya. " Jelas Reyhan panjang lebar.
Alisa mengusap wajahnya dengan kasar, berulang kali sambil menahan pekikan.
" Oh, apa mungkin sebenarnya kau ingin memiliki anak tapi kau tidak berani untuk membuatnya. Karena kau takut dengan proses pembuatannya. Apa yang ku katakan benar kan Al ? " Satu alis Reyhan terangkat naik. Pria itu tersenyum miring padanya.
Plak !
" Aw ! Kenapa kau malah memukulku ?! "
" Jangan bahas hal ini lagi. Kau sudah bosan hidup hah?! "
__ADS_1
" Apa salahnya Al, kita kan suami istri sekarang. Pembahasan ini sah-sah saja malahan sangat di anjurkan "
" Reyhan ! "
" Ayolah Al, kita berdua sudah bukan anak kecil lagi. Kau bukan lagi Alisa kecil yang sering mandi tanpa menggunakan baju renang. Wah, aku ingat sekali saat dulu, kau lebih senang berenang dengan tubuh yang polos daripada harus mengenakan pakaian renang. Tapi kau terlihat lucu waktu itu Al "
" Reyhan, aku akan memukul bibirmu jika kau tidak berhenti untuk mengatakan hal-hal yang absurd "
" Memangnya kau berani memukul bibirku Al ? " Tanya Reyhan.
Alisa menarik nafas dalam-dalam, meremas kedua tangannya dengan kuat. Ia tidak mungkin bisa melakukan hal tersebut pada suaminya. Ia hanya menggertak saja. Jika ia melakukannya, ia praktis menjadi istri yang durhaka. Reyhan memang sangat ahli membuat orang kesal setengah mati tanpa bisa melakukan pembalasan.
" Diam dan jangan bahas hal ini lagi "
" Aku tidak bisa memastikannya Al. Kita sudah sampai"
Reyhan tersenyum pada istrinya itu. Ia dengan santai menaik turunkan kedua alisnya. Alisa menatap suaminya itu sejenak, lalu kemudian dengan segera membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran meninggalkan Reyhan lebih dulu. Saat makan Alisa hanya menjawab pertanyaan seadanya. Sedangkan Reyhan ia suka sekali mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang menjebak dan membuat Alisa harus ekstra bersabar ketika menjawabnya. Selesai menghabiskan makan malam mereka, keduanya kembali ke rumah. Keduanya berhenti di dekat tangga sambil saling menatap satu sama lain sebelum masuk ke kamar masing-masing.
" Hmm...Kau tidak mau tidur dikamarku Al ? "
Alisa terhenyak, kedua matanya menegang. Ia merasakan jantungnya berpacu cepat ketika pertanyaan itu meluncur dari bibir Reyhan.
" Terlalu beresiko "
" Resikonya pasti ada Al. Namun kau tidak akan mengalami kerugian karena kau pasti akan mendapatkan pertanggungjawaban penuh dariku " Reyhan terkekeh pelan. Alisa memalingkan wajahnya segera sembari mendengus tidak suka.
" Aku pergi Rey. Selamat malam " Putus Alisa. Mengabaikan Reyhan yang baru saja ingin memulai pembicaraan tentang bayi. Sebelum Reyhan membahas lebih jauh lagi, Alisa pikir lebih baik dirinya pergi dan masuk ke dalam kamarnya.
Reyhan tersenyum kecil sebelum berujar lembut pada Alisa.
" Selamat malam my princess. Aku pasti akan memimpikanmu malam ini " Ujarnya. Kalimat itu praktis membuat Alisa hampir mengalami serangan jantung tiba-tiba.
Tanpa berani menoleh, Alisa melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar lalu menutup pintunya dengan cepat.
" Kurang ajar pria itu, dia selalu bisa membuatku wajahku memerah dan kepanasan" Rutuk Alisa sembari mengusap pelan dadanya yang terasa berdebar hebat. Ia bersandar di balik pintu sambil masih mengingat setiap potongan kalimat yang terlontar dari bibir suaminya.
" Dia benar-benar perayu ulung. Pantas saja aku selalu gagal melupakannya " Gumam Alisa.
__ADS_1
To be Continued.....
Happy reading, love you guys😘