
Reyhan berjalan cepat sambil melewati beberapa pegawai yang sibuk menyapanya. Mirna baru saja memberitahunya bahwa Alisa meminta ijin untuk tidak masuk bekerja hari ini. Meskipun Mirna tidak memberi tahukannya, Reyhan tetap akan mengizinkan Alisa untuk tidak masuk kerja. Alisa boleh mengambil masa istirahat sebanyak-banyaknya. Sebanyak yang ia butuhkan.
" Mirna, tolong persiapkan rapat pagi ini ? " Ujar Reyhan sambil menyerahkan dokumen yang baru saja ia tandatangani. Saking sibuknya perusahaan miliknya. Ia yang baru saja masuk ke dalam ruangan sudah langsung di suguhi dengan dokumen perjanjian kontrak kerja dengan perusahaan lain yang dibawakan oleh sekretarisnya.
" Baik pak " Mirna mengangguk cepat. Reyhan melepaskan jasnya lalu menyampirkannya di sandaran kursi kerjanya. Reyhan duduk dengan cepat dan langsung membuka laptop miliknya.
" Pak, tadi barus saja ibu anda menelpon ke perusahaan " Lapor Mirna. Reyhan mengangkat wajahnya dan memandangi Mirna dengan tatapan bertanya-tanya.
" Ibu menelpon kemari ? Lalu apa yang disampaikannya padamu ? " Tanya Reyhan penasaran. Jarang sekali ibunya menelpon ke perusahaan. Biasanya jika ada hal-hal yang tidak terlalu penting ibunya akan menelponnya langsung.
Mirna terlihat bingung. Wanita itu menunduk sejenak sambil meremas jemarinya. Reyhan menyipitkan kedua matanya. Gerak-gerik Mirna terlihat tidak biasa.
" Apa ibuku mengatakan sesuatu yang tidak baik hari ini ? "
Sontak Mirna langsung mengangkat wajahnya dengan buru-buru. Mirna menatap kedua mata Reyhan langsung.
" Ibu bapak meminta saya untuk memberitahukan kepala bagian HRD untuk memecat Alisa " Beritahu Mirna.
" Apa kau bilang ? Ibuku mengatakan apa ? " Tanya Reyhan tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan oleh sekretarisnya. Mirna menarik nafas panjang, ia kembali menatap atasannya dengan perasaan takut.
" Ibu bapak meminta kepala bagian HRD untuk memecat Alisa. Dan beliau meminta saya menyampaikan hal ini langsung ke kepala HRD. Ibu bapak juga berpesan bahwa saya tidak perlu memberitahukan hal ini pada bapak. Jadi, saya mohon jangan beritahukan pada ibu anda, jika saya yang menceritakan semuanya pada bapak " Mirna meremas kedua tangannya dengan gugup.
Ya, bagaimanapun dirinya hanyalah seorang sekretaris di kantor ini. Bu Lina sebagai nyonya besar tentu saja bisa dengan mudah menendangnya keluar dari perusahaan milik anaknya. Bahkan atasannya sendiri pak Reyhan mungkin akan bertekuk lutut jika sudah berhadapan dengan ibunya sendiri.
" Baiklah Mirna, kau tidak perlu khawatir tentang hal itu. Saya tahu apa yang harus saya perbuat " Reyhan mengangguk mengerti.
__ADS_1
" Terima kasih pak. Kalau begitu saya permisi " Ujar Mirna dan langsung berbalik cepat. Melangkah terburu-buru keluar dari dalam ruang kerja Reyhan.
Sedetik berlalu Reyhan tampak berpikir. Hingga akhirnya ia baru memutuskan apa yang harus ia lakukan selanjutnya saat mendengar ponsel miliknya berdering.
" Halo "
" Aku melihat Juliet sedang bersama dengan seorang pria " Beritahu seseorang dari seberang telepon.
" Pantau mereka. Untuk saat ini ibuku tidak akan mudah percaya jika hanya melihat foto-foto Juliet yang sedang berjalan bersama dengan banyak pria. Ia sudah pernah mengatakan padaku, bahwa Juliet sering terlihat bersama pria-pria itu karena tuntutan profesinya sebagai seorang model " Ungkap Reyhan dengan perasaan kesal. Ia tidak kesal karena mengetahui sedikit demi sedikit sifat asli tunangannya.
Ia hanya kesal karena dirinya sendiri yang belum bisa berhasil meyakinkan ibunya bahwa tunangannya itu memiliki sifat yang kurang baik. Wanita itu mudah mendua, tidak setia padanya. Dan Reyhan baru menyadari hal ini sejak beberapa bulan yang lalu saat sahabat wanitanya, Sarah. Memergoki Juliet sedang makan bersama dengan seorang pria. Awalnya ia tidak percaya dengan perkataan Sarah meskipun Sarah menunjukkan foto yang berhasil diambil oleh wanita itu. Pikirannya pun menyangka persis seperti yang ibunya pikirkan, bahwa itu mungkin teman Juliet. Namun kecurigaannya semakin kuat saat dirinya dan Juliet tengah makan bersama di sebuah restoran. Tiba-tiba seorang pria menghampiri meja mereka dan menyapa Juliet. Dan dari situ ia baru menyadari bahwa interaksi Juliet dengan pria itu terlihat begitu akrab bahkan lebih dari seorang teman atau sahabat biasa.
" Oh ya ampun, ibumu benar-benar sangat perhatian pada Juliet. Sampai-sampai tunanganmu itu berselingkuh, dan ibumu masih juga tidak mau percaya dengan semua bukti foto-foto ini" Ujar Sarah sambil terkekeh.
Reyhan kembali fokus pada ponselnya. Ia menghela nafas panjang sambil terlihat berpikir sejenak.
Sarah tertawa pelan dari seberang telepon.
" Baiklah sobat. Aku harap kau tetap bisa memimpin perusahaanmu dengan baik. Oh ya, bagaimana kabar mantanmu yang selalu membuat kau sesekali teringat padanya ? " Tanya Sarah.
" Apa dia sudah menikah atau bertunangan dengan pria lain ? " Sarah kembali terkekeh.
Reyhan memejamkan kedua matanya sebentar. Ia bernafas lebih cepat saat Sarah malah menanyakan hal yang sama sekali tidak inginkan akan terjadi pada kehidupan percintaan Alisa.
" Dia tidak akan pernah menikah atau bertunangan dengan siapapun. Karena aku yang akan menikahinya" Sergah Reyhan dengan jantungnya yang juga berdentum kuat.
__ADS_1
" Hahahaha ! Santai sobat. Aku hanya bercanda ! Hahahaa ! " Sarah tergelak.
Reyhan sendiri rasanya ingin melempar ponselnya. Temannya itu malah kesenangan karena berhasil membuatnya kesal begini. Reyhan mengutuk Sarah dalam hatinya.
" Awas saja kau berani bertanya hal-hal yang tidak mungkin akan pernah terjadi pada Alisa. Aku akan mengirim orang-orangku untuk menyita rumahmu " Ancam Reyhan. Ia hanya berpura-pura mencoba menakuti Sarah. Namun wanita itu justru tertawa mendengar ancaman darinya.
" Coba saja sobat. Maka aku akan pindah dan tinggal di rumah mantanmu, Alisa. Kurasa kau tidak akan keberatan bukan ? "
" Tidak ada yang boleh menyusahkannya ! "
" Santai sedikit kenapa? Aku tidak ingin membuatnya kesusahan. Aku hanya ingin mencari perlindungan pada orang yang bisa membuatmu galau bertahun-tahun. Kurasa perasaanmu akan porak poranda jika dia mengatakan akan segera menikah. Hahaha ! "
" Sarah " Geram Reyhan.
" Santai kawan ! Aku hanya bercanda. Jangan di ambil hati " Sarah masih tergelak diseberang telepon. Sementara Sarah bahagia Reyhan justru terlihat seperti seseorang yang sedang ingin memangsa siapapun yang lewat di depannya saat ini.
Tuuuut !
Reyhan langsung mematikan panggilan dari Sarah. Ia bahkan tidak membiarkan temannya itu berbicara lebih banyak lagi. Atau jika ia membiarkan temannya berbicara lebih lama, maka ia akan menghancurkan barang-barang yang ada di sekitarnya saat ini juga.
Reyhan mencoba menghubungi nomor Alisa namun ponsel wanita itu sama sekali tidak bisa dihubungi. Akhirnya setelah mencoba beberapa kali, Reyhan sama sekali tidak berhasil menghubungi Alisa.
" Kemana dia ? Apa dia sengaja membuat ponselnya tidak bisa dihubungi ? " Gumam Reyhan sembari menggenggam erat ponselnya.
" Aku harus pergi ke rumahnya " Putus Reyhan setelah beberapa detik ia berpikir sendirian.
__ADS_1
To be continued...
Happy reading, love you guys 😘