
Alisa menangis di dalam toilet, ia menangis tanpa bersuara dan itu sungguh sangat menyakitkan. Alisa tahu dirinya sudah pernah melakukan kesalahan. Tapi, apakah harus seperti ini pembalasan untuk segala yang telah ia perbuat. Apa pendosa sepertinya tidak bisa lagi mendapatkan pengampunan? Tidakkah orang-orang itu berpikir bahwa mereka mungkin juga pernah melakukan kesalahan, hanya saja tidaklah sama dengan kesalahan yang ia perbuat.
" Aku cukup sadar diri jika aku memang layak mendapatkan semua perlakuan seperti barusan. Tapi aku juga manusia, aku merasa berat jika harus menanggung kemarahan selama bertahun-tahun dari orang-orang yang aku kenal " Gumam Alisa sembari mengusap kasar wajahnya. Ia membuka keran air lalu dengan kasar membasuh wajahnya guna membersihkan air matanya yang sedari tadi tidak mau berhenti untuk mengalir.
" Aku masih butuh pekerjaan ini, karena itulah aku masih berkeliaran didekatnya " Alisa mengangkat wajahnya, menatap dirinya sendiri di dalam cermin yang terlihat begitu menyedihkan.
" Al, kau kenapa ? " Tanya Mirna yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam toilet.
" Tidak ada apa-apa Mir, aku sedang mencuci wajahku saja " Alisa memaksakan diri untuk tersenyum pada Mirna.
" Aku seperti mendengar ada suara orang menangis tadi " Mirna memandangi Alisa dengan penuh teliti.
" Tidak ada yang menangis disini. Kau salah dengar Mir " Alisa membetulkan ikat rambutnya dengan cepat. Ia berpura-pura sibuk, agar Mirna tidak terlalu fokus memperhatikan wajahnya.
" Apa yang kau lakukan di dalam ruang kerja bos besar, Al ? Rasanya kau berada didalam sana begitu lama. Bahkan hingga rapat selesai pun kau belum juga keluar " Mirna melangkah ke sisi kanan tubuhnya. Berdiri didepan cermin yang ada disebelah kanan tubuh Alisa. Wanita itu sibuk mengoleskan lipstik dan bedak di wajah juga bibirnya.
" Bos menyuruhku membersihkan ruang kerjanya "
" Kenapa harus kau? Bukannya di kantor ini kita sudah memiliki OB ya "
" Kah tidak tahu jika aku diterima bekerja disini itu sebagai asisten pribadi sekaligus tukang bersih-bersih" Alisa menghela nafas singkat, ia melangkah lebih dulu baru setelah itu Mirna mengikutinya dari belakang.
" Sebentar lagi makan siang, ke warung yuk Al " Ajak Mirna.
" Ayuklah. Aku sudah merasa kelaparan. Warung langgananmu dimana? "
" Ikut aku sayang " Mirna merangkul bahu Alisa sambil tertawa geli.
Warung ayam yang menjadi langganan Mirna memang sangat ramai di jam makan siang begini. Hampir semua pengunjung disana adalah karyawan perusahaan Reyhan. Mirna dan Alisa hampir tidak mendapatkan kursi, untung saja ada dua orang pengunjung yang tampaknya baru selesai. Akhirnya dengan cepat Mirna dan Alisa menggantikan meja yang baru saja di tinggalkan kedua orang tersebut.
" Disini tu ayamnya enak banget Al. Makanya setiap jam makan siang tempat ini selalu ramai " Jelas Mirna.
" Aku baru tahu. Kalau benaran enak, aku mau pesan dua untuk ibu dan ayahku nanti " Alisa tersenyum. Beginilah dirinya, ia akan dengan mudah tersenyum kembali meski dirinya mengalami banyak masalah. Bagi Alisa masalah tetap harus di hadapi, nanti pun juga masalah itu akan selesai. Itulah yang selalu Alisa katakan pada dirinya sendiri. Saat nasi ayam mereka tiba, Mirna langsung berseru kegirangan seperti seseorang yang setengah tahun tidak makan ayam. Alisa sampai tertawa melihat tingkah temannya.
" Eh, bukannya itu bos dan tunangannya ya " Ujar Mirna sambil menyuapkan nasi ayam. Alisa yang baru saja mencuci tangannya mengangkat wajah dan menoleh ke seberang jalan.
Tampak disana Juliet sedang jalan bersama dengan Reyhan dan ibunya. Mereka semua tampak bahagia, tersenyum bersama-sama. Tatapan Alisa jatuh pada tangan Reyhan yang digandeng mesra oleh Juliet. Kedua matanya langsung tiba-tiba memanas.
Lupakan Reyhan, Al. Lupakan dia !
Alisa buru-buru memalingkan wajahnya dari pasangan yang sedang bermesraan di depan sana. Ia menyiapkan nasinya lalu dengan cepat menambahkan sambal yang sangat banyak.
" Woi tu sambal pedas Al ! " Pekik Mirna terkejut. Alisa tidak mempedulikan suara temannya. Ia tetap makan nasi tersebut. Mengunyahnya dengan sedih, tak terasa air matanya langsung meluncur turun. Ia menangis. Alisa menangis sambil tersenyum kecil, namun mulutnya masih terus mengunyah nasi tersebut.
__ADS_1
" Apa aku bilang tadikan, itu sambal pedas banget Al. Sampai nangis begini kan " Mirna menyerahkan tisu pada Alisa. Dan Alisa dengan cepat menyambut tisu tersebut.
" Iya, kau benar. Sambalnya pedas sekali, aku sampai menangis begini " Alisa mengelap hidungnya dengan tisu. Ia masih terus terisak, namun mulutnya terasa terbakar. Tapi, Alisa terus menyuapkan nasi bercampur sambal kedalam mulutnya.
" Doyan banget dengan sambalnya " Mirna mengerutkan dahinya bingung.
" Iya, sambalnya enak sekali " Lirih Alisa sambil masih terus meneteskan air mata.
Ini air mata kenapa mengalir terus ? Kapan keringnya hah ?!
" Nih tisu habisin dah " Mirna menggeser kotak tisu hingga ke depan tubuh Alisa. Wanita itu mengangguk sambil terus mengunyah makanannya. Sedangkan air matanya terus saja mengalir begitu saja.
Kenapa mereka harus lewat didepan mataku?
Di restoran mewah, Reyhan, Juliet dan ibunya sudah memesan banyak makanan yang akan menemani makan siang mereka kali ini.
" Kapan kalian akan menentukan tanggal pernikahan?" Tanya Ibu Reyhan.
" Juliet sih terserah sama dia, bu. Kapan dia bilang kami menikah aku akan setuju " Juliet tersenyum bahagia sembari menyentil pipi tunangannya. Ibu Reyhan terkekeh geli melihat tingkah calon menantunya.
" Aku belum bisa memastikan tanggalnya bu "
" Jangan terlalu lama menunda sayang, kalian kan sudah lumayan lama bertunangan "
" Kalau bisa sih nak secepatnya. Ibu sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu "
Ucapan ibunya Reyhan langsung disambut dengan tawa manja Juliet.
" Ibu bahkan sudah mencari-cari perlengkapan bayi, ya kan bu ? "
" Iya. Ayah Reyhan sampai bilang kalau ibu yang terlihat sangat semangat dibandingkan dengan kalian berdua " Ibu Reyhan tertawa geli. Juliet pun sama, ia juga ikut tertawa. Mereka tertawa bersama. Sedangkan Reyhan, ia malah terdiam di kursinya.
Flashback....
" Kalau kita menikah nanti, kau ingin punya anak berapa, Al ? "
" Eh, kenapa kau tiba-tiba bertanya hal ini padaku ? Tidak biasanya" Alisa terkekeh kecil. Ia menatap Reyhan dengan sorot mata yang memancarkan rasa geli luar biasa.
" Aku hanya bertanya saja. Jangan menatapku begitu " Protes Reyhan.
" Darimana kau bisa mendapatkan ide seperti ini hm?" Alisa tersenyum sembari menatap Reyhan tanpa henti.
" Al, aku malu ditatap seperti itu "
__ADS_1
" Oh, pangeran pemaluku. Kenapa sih kau manis sekali ? " Rayu Alisa. Reyhan tersenyum mendengar ucapan Alisa.
" Jadi, kau ingin punya anak berapa nanti ? "
" Aku mau sepuluh. Apa kau kuat ? Hahahaa ! " Bisik Alisa sambil tergelak puas.
" Dasar anak nakal " Reyhan balas berbisik.
Reyhan masih terdiam sembari mengenang masa lalunya bersama Alisa. Sahabat, tunangan sekaligus wanita yang sangat ia sayangi. Tapi sayangnya hubungan manis mereka kini hanya tinggal kenangan saja. Sudah berakhir lima tahun yang lalu.
" Sayang, makananmu belum habis "
Reyhan bergeming.
" Sayang, makananmu masih banyak. Kau tidak apa-apa kan sayang ? "
" Reyhan ! " Panggil ibunya.
" Uh...iya ! Ada apa ? " Tanya Reyhan sembari tersentak kaget. Ia menatap Juliet dan ibunya dengan wajah kebingungan.
" Ditanyain tuh sama Juliet. Kamu kenapa sih nak? Malah melamun begitu "
" Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan bu " Reyhan mengusap dahinya dengan kaku. Ia tidak menyangka dirinya bisa menghabiskan waktu beberapa detiknya untuk kembali memikirkan masa lalunya bersama Alisa.
Di warung ayam.....
Mirna menggeleng sembari membuka mulutnya dengan lebar. Ia tidak menyangka Alisa mampu menghabiskan satu mangkok sambal pedas yang ada dimeja mereka.
" Kau akan sakit perut nanti ? "
" Biar saja. Yang penting aku puas " Sahut Alisa sambil menyapukan tisu ke wajah dan hidungnya yang telah memerah.
" Tuh, tisunya pada nempel di wajahmu, Al " Mirna mengambil satu persatu potongan kecil tisu di wajah Alisa.
" Makasih Mir " Alisa tersenyum kecil.
" Kau lebih doyan sambal daripada ayam. Benar-benar manusia cabe " Mirna tertawa geli.
" Terima kasih atas pujianmu " Alisa kembali tersenyum.
Sebenarnya aku tidak pernah bisa makan cabe, Mir. Karena aku tidak tahan pedas. Tapi pemandangan hari ini jauh lebih pedas, jadi aku perlu sambal untuk melawannya. Kuharap rasa pedas ini segera berakhir, begitu juga dengan hatiku. Semoga saja hatiku masih baik-baik saja
To be continued.....
__ADS_1
Happy reading, love you guys 😘