Mutiara

Mutiara
Karna Sehelai Baju


__ADS_3

"Karna itu Pram mengajak Mutiara kesini. Karna di kosnya dia hanya tinggal sendirian. Jadi ijinkan Mutiara tinggal disini untuk sementara waktu." Ucapan Pram tentu saja membuat Mutiara terkejut. Begitupun dengan kedua orang tua Pram. Rose dan Surya.


"Itu ide yang bagus, Pram. Sebaiknya memang begitu. Bagaimanapun kejadian yang menimpa Mutiara pasti sangat berpengaruh pada kondisi psikisnya. Jadi tidak apa-apa dia tinggal disini sementara waktu sampai Mutiara tenang kembali." Ucap Rose dengan penuh kelembutan. Ucapan Rose diikuti anggukan dari suaminya Surya.


Mutiara tak menyangka bahwa keluarga Pram akan menerimanya tinggal di rumah mereka sementara waktu. Dan yang paling membuat Mutiara terkejut adalah saat Pram meminta ijin pada kedua orang tuanya agar ia bis tinggal di rumahnya sementara waktu. Walaupun sebenarnya tak akan jadi masalah kalaupun Mutiara tetap tinggal di kosnya. Karna Mutiara sudah sangat terbiasa tinggal sendiri dan menghadapi kerasnya hidup. Tapi sepertinya Tuhan berkehendak lain. Seakan Tuhan memberinya jalan untuk semakin dekat dengan bos incarannya ini. Memang benar di balik sebuah peristiwa pasti ada hikmah di dalamnya. Peristiwa yang menimpanya di kantor dan ketika Aryo datang ke kosnya saat ada Pram membawa hikmah tersendiri untuk Mutiara. Satu langkah lebih dekat untuk menaklukan hati Pram.


"Pram, antar Mutiara ke kamar tamu." Ucap Rose pada Pram. "Kamu bisa istirahat dulu di kamar." Selanjutnya Rose beralih pada Mutiara.


"Terima kasih, Nyonya." Mutiara menggenggam tangan Rose setelah mengucapkan terima kasih sembari menyunggingkan senyumnya. Rose membalas dengan anggukan kepala tak lupa dengan senyumnya yang mengembang.


Rose memang adalah seoarang wanita yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Rose tak pernah memandang rendah mereka yang memilih status sosial yang berbeda darinya. Rose berpikir semua manusia itu sama dan pantas mendapatkan perlakuan yang sama. Tak perlu membedakan seseorang dari mana mereka berasal. Pun saat bertemu dengan Mutiara, Rose memperlakukannya dengan baik seperti seorang tamu yang datang kerumahnya. Bukan sebagai bawahan putranya di kantor.


Melihat Pram dan Mutiara berjalan beriringan, Rose merasakan sesuatu yang berbeda pada keduanya. Sejak tadi Rose juga mengamati tindak tanduk Pram pada Mutiara menunjukkan sesuatu yang berbeda. Sorot mata Pram seperti menyimpan rasa cinta dan simpati pada Mutiara. Rose menyunggingkan senyumnya melihat keduanya. Setelah keduanya tak terlihat lagi, Rose kembali duduk di tempatnya semula, melanjutkan obrolan sore dengan suaminya.


"Kamu bisa menempati kamar ini, istirahatlah." Ucap Pram setelah menunjukkan kamar tamu yang akan ditempati Mutiara.


"Baik, Pak. Terima kasih." Ucap Mutiara. Kamar tamu yang akan di tempati Mutiara sangat luas. Sekilas saat masuk kamar Mutiara sempat melihat sekeliling kamar yang begitu nampak mewah.


"Baiklah saya tinggal dulu. Saya mau mandi dulu. Kamu juga bisa membersihkan tubuhmu. Kamar mandi ada di sebelah sana." Pram menunjuk sebuah pintu di sebelah kiri pintu masuk kamar ini. Mutiara mengangguk kemudian Pram balik badan hendak meninggalkan kamar Mutiara.

__ADS_1


"Ehm... Maaf pak Pram." Ucapan Mutiara seketika menghentikan langkah kaki Pram.


"Iya?" Ucah Pram setelah berbalik badan berhadapan dengan Mutiara.


"Ehm, saya tadi tidak sempat membawa barang-barang saya termasuk pakaian. Saya tidak mungkin memakai lagi pakaian yang saya kenakan... Karna sudah saya pakai sejak pagi...apakah ada pakaian yang bisa saya pakai?" Tanya Mutiara.


"Ah, begitu rupanya." Pram berpikir sejenak. "Tunggu disini akan saya ambilkan." Ucap Pram kemudian.


Pram meninggalkan kamar tamu, kemudian menaiki tangga menuju ke kamarnya. Setelah dikamarnya Pram membuka lemari pakaiannya. Di sana ada beberapa tumpuk pakaian wanita yang tidak lain adalah pakaian mendiang istrinya, Winda. Pram berdiri termenung. Bagian lemari yang digunakan untuk menyimpan pakaian Winda sudah lama tak ia buka. Kenangan-kenangan bersama Winda selalu terngiang di kepala Pram saat melihat barang-barang yang berhubungan dengan Winda. Tapi mau bagaimana lagi, saat ini salah satu dari tumpukan pakaian itu akan ia berikan dan dikenakan oleh wanita lain. Entah bagaimana perasaannya nanti saat pakaian itu di pakai wanita lain.


Dengan asal, Pram mengambil salah satu dress pendek milik Winda. Kemudian ia keluar dari kamarnya dan kembali ke kamar tamu. Saat masuk ke kamar tamu, Pram sangat terkejut melihat penampilan Mutiara. Pram lupa mengetuk pintu. Pram melihat tubuh Mutiara yang hanya di balut dengan handuk dengan kondisi rambut yang basah. Tubuh sintal itu nampak jelas di mata Pram. Sontak saja Pram berbalik badan.


"Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan, Bapak. Setelah bapak keluar dari kamar ini saya langsung membersihkan badan. Ternyata sampai saya selesai mandi bapak masih belum datang. Sayang menunggu cukup lama." Ucap Mutiara setelah mengambil pakaian di tangan Pram. Tanpa berkata apa-apa lagi Pram keluar dari kamar yang ditempati Mutiara. Dadanya masih berdebar. Mutiara hanya tersenyum melihat tingkah laku Pram. Ambil baju aja lama banget. Pikir Mutiara.


"Pasti karna dress ini, itu sebabnya Pram sangat lama mengambilnya. Dress ini pasti milik mendiang istrinya. Cantik sekali. Selera orang kaya memang istimewa." Ucap Mutiara bermonolog sambil berlenggak-lenggok di depan cermin besar di samping ranjang. Dress itu melekat sempurna di tubuh Mutiara. Sangat cantik. Panjangnya sedikit di atas lutut. Dress berwarna cream sederhana tapi begitu nampak cantik saat di kenakan.


"Beruntungnya Winda menjadi istri dari orang kalangan atas seperti ini." Mutiara kembali bermonolog.


Tok tok tok...

__ADS_1


Terdengar suara pintu di ketuk. Mutiara berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Non, diminta nyonya Rose untuk ke ruang makan. Beliau dan seluruh keluarga sudah menunggu untuk makan malam." Ucap asisten rumah tangga di rumah Pram.


"Baiklah, saya segera kesana." Ucap Mutiara. Ia berjalan mengikuti asisten rumah tangga itu menuju ruang makan. Dan benar saja, Pram dan kedua orang tuanya sudah berada di meja makan. Semua mata tak berkedip saat melihat Mutiara. Mutiara bingung kenapa semua orang menatapnya seperti itu. Dan akhirnya Mutiara menyadari tatapan mata itu karna pakaian yang ia kenakan. Mutiara mencoba menguasai dirinya.


"Mutiara, ayo duduk disini." Ucap Rose memecah kecanggungan. Rose meminta Mutiara duduk di sebelahnya. Lalu diikuti anggukan dari Mutiara. Kemudian Mutiara duduk di samping Rose.


Pram memandang Mutiara tanpa berkedip. Mutiara memang sangat cantik tapi pakaian yang dikenakan Mutiara membuat dadanya berdenyut nyeri. Pram masih belum bisa sepenuhnya melupakan Winda.


"Maaf, Ma, Pa. Pram ke kamar dulu." Ucap Pram pada kedua orang tuanya.


"Pram, kamu kan belum makan, Nak." Rose tahu apa yang ada di pikiran Putranya itu.


"Nanti saja, Pram lupa belum mengirim email penting pada relasi penting perusahaan." Ucap Pram. Setelah itu ia meninggalkan ruang makan. Pun tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Mutiara. Mutiara seperti menyadari sesuatu. Tapi ia hanya diam tak mengatakan apapun.


"Mungkin suatu hal yang penting, kita lanjutkan saja makan malamnya." Ucap Surya, ayah Pram.


Mutiara merasa seperti ada yang menghujam jantungnya. Nyeri sekali. Ia tahu penyebab Pram tiba-tiba bersikap seperti itu. Tapi ia tetap melanjukan makan malam untuk menghormati Rose dan Surya yang sudah begitu baik padanya.

__ADS_1


__ADS_2