
Keesokan harinya saat bangun tidur, saat akan mengambil ponsel Pram melihat sesuatu di atas nakas di samping tempat tidurnya. Seperti sebuah pakaian yang dilipat. Seingatnya ia tak meletakkan apa-apa di atas nakas selain ponsel. Kalaupun asisten rumah tangganya meletakkan pakaiannya pasti menunggu Pram bangun dulu. Akhirnya Pram bangun dan memerriksa sendiri.
"Ini kan pakaian Winda yang kuberikan pada Mutiara kemarin? Kenapa ada di sini?" Pram berminolog.
Buru-buru Pram keluar dari kamarnya menuju kamar Mutiara dengan membawa pakaian yang di berikannya pada Mutiara kemarin. Saat akan mengetuk pintu kamar Mutiara, Mutiara telah lebih dulu membukanya. Melihat Pram ada di depan pintu kamarnya membuat Mutiara terkejut.
"Pak Pram? Ada apa, Pak?" Tanya Mutiara setelah menguasai dirinya. Dan tentu saja Mutiara melihat apa yang ada di tangan Pram. "Oh tentang baju bu Winda, kemarin malam saya sudah mencucinya, Pak. Tadi pagi-pagi sekali saya meletakannya di kamar pak Pram. Maaf kalau saya lancang masuk kamar pak Pram tanpa ijin. Saya hanya merasa tidak enak kalau terus memakai baju bu Winda." Lanjut Mutiara.
Pram tak tahu harus berkata apa. Tak seharusnya memang ia bersikap seperti itu pada Mutiara. Ia sendiri yang memberikan pakaian itu pada Mutiara. Memang benar kenangan-kenangan bersama Winda tak bisa Pram lupakan sampai detik ini. Tapi Mutiara tak tahu apa-apa, seharusnya ia bisa menahan diri.
"Tidak, seharusnya saya yang minta maaf. Tidak seharusnya saya bersikap seperti kemarin. Bagaimanapun kamu tamu saya." Ucap Pram akhirnya. "Kamu mau kemana?" Tanya Pram saat melihat Mutiara seperti hendak pergi. Bukankah ini hari sabtu dan kantor libur.
"Saya mau pulang, Pak. Tidak baik saya berlama-lama disini. Mohon maaf saya tidak bisa berpamitan pada yang lain, mohon sampaikan rasa terima kasih saya pada Nyonya Rose dan Tuan Surya." Jelas Mutiara.
"Kenapa kamu harus pulang? Bukankah saya mengatakan lebih baik selama beberapa waktu kamu bisa tinggal di rumah saya untuk menenangkan diri? Lagi pula disini kamu tak akan kesepian, ada mama." Pram heran pada dirinya sendiri kenapa ia harus melarang Mutiara pergi. Sepertinya Mutiara juga sudah tampak baik-baik saja.
"Saya hanya merasa tidak enak, Pak. Apa kata orang nanti kalau saya tinggal di rumah bos." Sebenarnya bukan itu alasan sebenarnya. Setelah kejadian semalam ia merasa seperti di awasi.
"Sejak kapan seorang Mutiara mengkhawatirkan perkataan orang? Bukankah selama ini kamu tak memperdulikan hal itu?" Lagi-lagi Pram merasa aneh dengan dirinya. Bagaimana mungkin dirinya terus mencoba melarang Mutiara pergi dari rumahnya.
"Saya tau tapi..." Mutiara tak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Tapi apa?" Tanya Pram.
"Sebenarnya.... Semalam saya melihat tikus di kamar, saya tak berani berteriak dan tak bisa tidur semalaman." Terpaksa Mutiara berbohong. Tentu saja Mutiara sangat nyaman tinggal di rumah mewah ini. Tapi perasaan seperti diawasi tak bisa di tepisnya.
"Tikus?? Bagaimana bisa? Selama tinggal disini saya tak pernah melihat seekor tikus." Ucap Pram tak percaya.
"Tapi begitulah kenyataannya, Pak." Mutiara mencoba meyakinkan Pram. Setidaknya pindah kamar pun akan lebih bagus.
"Baiklah, aku akan menyuruh Asisten rumah tangga untuk membersihkan kamarmu." Ucap Pram. Kalau seperti ini tetap saja Mutiara merasa tak nyaman. Memang ini bukan rumahnya tapi kalau diawasi seperti ini bukankan keterlaluan. Ia merasa seperti penjahat saja.
"Tidak, tidak. Walaupun di bersihkan tetap saja, saya tidak nyaman di kamar itu karna sudah pernah melihat tikus di sana." Lagi-lagi Mutiara mencoba meyakinkan Pram.
Setidaknya biarkan aku tidur di kamar lain, Pram. Batin Mutiara.
"Kalau boleh saya pindah ke kamar lain saja." Ucap Mutiara to the point. "Tapi kalau pak Pram tak berkenan saya pulang saja." Imbuh Mutiara.
"Baiklah, aku ku suruh asisten rumah tangga merapikan kamar yang lain dan memindahkan barang-barangmu." Ucap Pram akhirnya. Mutiara sangat senang dengan keputusan Pram tapi tentu saja Mutiara tak menunjukkan kebahagiaannya tinggal di rumah mewah seperti yang ia inginkan selama ini.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Pram. Mutiara menggelengkan kepalanya. Ia memang belum sarapan karna sejak tadi tak ada yang memanggilnya untuk sarapan. Setelah itu Pram mengajak Mutiara ke ruang makan. Benar saja para ART sedang menghidangkan menu sarapan yang terlihat sangat menggugah selara.
Sementara itu dari lantai dua, dua pasang mata sedang mengamati pembicaraan Mutiara dan Pram. Mereka tersenyum melihat keduanya dari atas.
__ADS_1
"Mutiara, gadis yang cerdas. Dia tahu kita mengawasinya. Dengan cerdasnya dia ingin pindah kamar." Ucap Surya sembari tertawa setelah melihat Pram dan Mutiara berlalu.
"Tapi aku menyukainya. Aku yakin Mutiara pantas bersanding dengan Pram. Dia juga pasti bisa menghadapi mereka yang selalu mengusik dan mengrong-rong Pram." Ucap Rose sembari melipat kedua tangannya di dada. "Pram akan bahagia dengan gadis itu." Ucapan Rose diikuti anggukan kepala dari Surya.
Setelah itu, Rose dan Surya menyusul Pram dan Mutiara menuju ruang makan.
****
Pagi ini, Pram dan Mutiara datang ke kantor bersama. Karna memang mobil Mutiara masih di kantor. Sejak kejadian di kantor waktu itu Mutiara berada di rumah Pram. Pram tak mengijinkannya mengambil mobilnya di kantor. Mutiara pun tak membantah sedikitpun.
Kemarin setelah bicara kembali dengan Rose, Mutiara sudah menyetujui permintaan Rose untuk membuat Pram jatuh cinta padanya. Mutiara berpikir bukankah selama ini ia mampu dengan mudah menakhlukan hati laki-laki kaya seperti Pram. Jadi hal itu pun akan sama saat ia akan menakhlukan hati Pram. Rose sangat senang mendengar Mutiara menyetujui permintaannya. Ia memeluk Mutiara dengan erat saat itu. Dengan cara yang tak biasa Mutiara akan membuat Pram melabuhkan hatinya pada Mutiara.
Entahlah, bagaimana mungkin targetnya kali ini seperti dibukakan jalan dengan lebar dan tanpa hambatan. Malah orang tua Pram sendiri yang menginginkan Mutiara bersama Pram. Tentang kecurigaan Mutiara bahwa orang tua Pram mengawasinya masih belum terbukti. Tapi insting Mutiara tak pernah salah. Mutiara hanya akan mengikuti alurnya dulu. Ia ingin tahu kenapa orang tua Pram melakukan itu padanya. Apa tujuan mereka?
Setelah pindah kamar memang perasaan seperti di awasi itu memang sudah tidak ada. Bisa jadi orang tua Pram menyadari bahwa Mutiara tahu mereka sedang mengawasinya. Dan memang begitulah adanya. Mutiara akan menunggu waktu yang tepat untuk untuk memastikan langsung tujuan mereka mengawasinya. Saat ini ia hanya perlu pura-pura tak terjadi apa-apa.
Saat Pram dan Mutiara keluar dari dalam mobil yang sama dan berjalan beriringan, semua karyawan Pram yang baru sampai di kantor memandang heran keduanya. Kenapa mereka berangkat bersama?
"Duh dasar cewek matre. Sok-sokan jalan bareng si bos. Sengaja tuh nebeng mobil mewah si bos." Ucap Shiren saat melihat Mutiara turun dan mobil bosnya.
"Iya, sok cantik lagi." Timpa Siska.
__ADS_1
"Kalau kalah saing bilang sayang." Ucap Diko saat ia mendengar dua teman kantornya itu menjelek-jelekan Mutiara. "Mutiara memang cantik kok." Imbuh Diko lagi. Ekspresinya seperti mengejek kedua gadis itu. Kemudian berlalu masuk ke kantor. Tentu saja hal itu membuat kedua gadis itu geram.
"Aku heran dengan semua laki-laki di kantor ini, nggak Atha nggak Diko nggak juga si bos semuanya ada di pihak cewek matre itu. Diapain sih mereka sampe segitunya bela cewek itu." Shiren tampak kesal setiap melihat Mutiara. Kemudian berlalu pergi dengan menghentakkan kakinya karena kesal.