
"Bukankah kamu sudah memaafkan pak Aryo? Tapi kenapa kamu masih memanggilnya pak Aryo? Apakah selama di sana kamu diperlakukan dengan tidak baik?" Rose mencerca Mutiara dengan banyak pertanyaan.
Hal sederhana tapi begitu sulit untuk dilakukan bagi Mutiara. Memanggil ayah, ya hanya memanggil ayah pada Aryo tapi lidah Mutiara seakan kelu untuk sekedar mengucapkannya. Luka itu seperti sudah terpatri di dalam hatinya. Jadi untuk bisa memanggil ayah dirinya masih membutuhkan waktu.
"Mutiara butuh waktu, Ma." Hanya itu yang keluar dari mulut Mutiara.
"Baiklah, mama mengerti." Ucap Rose sembari membelai rambut Mutiara dengan begitu lembut.
Rose mencoba memahami apa yang di rasakan Mutiara dan apa yang sudah dilaluinya selama ini. Ia tak lagi membahas tentang masalah itu, Mutiara harus menyembuhkan sendiri luka di dalam hatinya jika Rose masih saja membahas hal itu bukankah malah tidak akan baik bagi Mutiara. Begitulah yang ada di pikiran Rose saat ini. Rose memilih mengalihkan pembicaraan yang lain, hanya tentang mereka berdua.
Rose mempersilahkan Mutiara untuk istirahat di kamarnya setelah mereka berbincang tentang banyak hal. Sejak pulang dari kantor Rose sama sekali tak membiarkan Mutiara menjauh darinya. Rose benar-benar ingin menghabiskan waktunya untuk bercengkrama dengan Mutiara. Mutiara memang akan menikah dengan Pram dan akan tinggal di rumahnya setelah mereka menikah. Hanya saja Rose tahu setelah hari itu Mutiara akan banyak disibukkan dengan pekerjaannya yaitu menggantikan Aryo untuk mengelola restoran-restoran milik Aryo.
****
"Uhuk uhuk uhuk." Sejak kemarin batuk Aryo semakin parah. Aryo menolak saat Santi, istrinya, mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Santi tidak tega melihat keadaan suaminya itu, terlebih Aryo meminta Santi untuk merahasiakan jika dirinya kini tengah sakit pada anak-anak mereka, terutama pada Mutiara. Aryo tak ingin karna kesehatannya yang memburuk mengacaukan rencana pernikahan putri sulungnya itu. Ia pun tak ingin mengusik kebahagiaan Mutiara karna dirinya.
"Seharusnya ayah berjuang untuk sehat jika ayah ingin mendampingi anak-anak lebih lama." Santi mencoba menasehati suaminya itu. "Ayah harus berjuang untuk sehat."
Memang yang dikatakan Santi ada benarnya, Aryo masih ingin terus mendampingi anak-anaknya. Ia pun ingin menebus semua kesalahannya pada Mutiara, ia harus memberikan kebahagiaan dan kasih sayang yang dulu tak sempat ia lakukan. Setelah mempertimbangkan nasehat istrinya, akhirnya Aryo bersedia untuk memeriksakan kesehatannya.
"Ibu, akan membuat janji dengan dokter di rumah sakit besok." Santi mengutak-atik ponsel ditangannya untuk membuat janji dengan dokter. "Terima kasih ayah mau mendengarkan ibu." Santi memeluk suaminya itu setelah meletakkan ponselnya.
__ADS_1
Suami-istri itu saling berpelukan, saling menguatkan dan saling mendukung. Aryo juga berterima kasih pada Santi karna istrinya itu selalu di sampingnya dan mendukungnya sekaligus berterima kasih karna Santi mau menerima Mutiara.
"Ibu sudah menganggap Mutia sebagai putri ibu sendiri, ayah tidak perlu berterima kasih." Ucap Santi sembari menangkupkan kedua tangannya pada wajah suaminya.
Selama Santi menikah dengan Aryo, tak pernah sekalipun Aryo menyakitinya. Ia selalu bersikap baik padanya, menyayanginya dan melindunginya. Memang berbanding terbalik saat Aryo menikah dengan ibu kandung Mutiara, saat itu Aryo lebih suka main perempuan, minum minuman keras, sehingga kehidupan Aryo dengan istri sebelumnya berjalan tidak baik ia hanya menorehkan luka pada Mutiara dan ibunya. Sejak kehidupannya berhasil secara ekonomi, Aryo mulai berubah. Saat ingin meminta maaf pada Mutiara dan ibunya, semuanya sudah terlambat. Sampai pada akhirnya Aryo jatuh hati pada Santi yang saat itu bekerja sebagai asistennya. Santi yang lemah lembut, bersedia membantunya mencari keberadaan Mutiara membuatnya jatuh hati. Mengenal Santi memberi dampak besar pada Aryo. Kini Aryo menjadi seorang laki-laki yang baik untuk Santi dan menjadi ayah yang baik untuk Tiara dan Bintang. Kedua anaknya itu sangat menyayangi Aryo.
"Ibu yakin Mutia sebenarnya sangat menyayangi ayah, hanya saja Mutia masih memerlukan waktu untuk terbiasa menunjukkan rasa sayangnya. Bertahun-tahun tidak bertemu tentu saja berbeda dengan Tiara dan Bintang yang selalu bertemu dengan ayah. Beri Mutia sedikit waktu." Santi mencoba melapangkan hati suaminya.
"Ayah sungguh menyesali semua itu, perbuatan ayah di masa lalu hanya menorehkan luka di hati Mutia."
"Yang terpenting sekarang jaga kesehatan ayah agar ayah bisa memberikan apapun yang tak sempat ayah berikan dulu." Kata-kata bijak Santi membuat tenang hati Aryo. "Sekarang ayah istirahat, besok kita ke rumah sakit."
****
Malam semakin larut, Mutiara sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Entahlah Mutiara tak tahu apa yang mengganggunya sehingga ia tak bisa tidur. Mutiara memilih keluar dari kamarnya, ia ingin menghirup udara segar. Saat keluar dari kamarnya, lampu sudah di matikan hanya cahaya temaram dari lampu taman yang menembus celah horden yang sudah tertutup. Seluruh penghuni rumah nampaknya sudah terlelap. Tanpa rasa takut Mutiara berjalan keluar, membuka kunci dan memutar knop pintu. Mutiara berada di teras samping saat ini, tempat keluarga Pram bercengkrama di sore hari.
Lamat-lamat Mutiara melihat ada seseorang yang tengah berdiri di pinggir kolam renang yang posisinya tepat di depan teras samping. Cahaya yang temaram membuat Mutiara tak dapat dengan jelas melihat siapa yang berdiri disana. Mutiara mendekat mencoba mencari tahu.
"Pak Pram?" Mutiara mencoba memastikan.
Benar. Mutiara tak salah, sosok yang berdiri di pinggir kolam renang itu adalah Pram. Pram menoleh pada Mutiara saat Mutiara memanggilnya. Mutiara bertanya-tanya apa yang dilakukakan laki-laki itu di malam selarut ini di pinggir kolam renang. Tak mungkin mau bunuh diri kan? Pikir Mutiara. Pasti tidak mungkin Pram sangat mahir berenang tak mungkin ia tenggelam di kolam renang yang tak terlalu dalam ini.
__ADS_1
"Sedang apa disini?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut keduanya secara bersamaan.
Pram mengalihkan pandangannya, begitu pun Mutiara. Keduanya saling diam selama beberapa saat. Tak ada yang mereka ucapkan.
"Kenapa pak Pram belum tidur?" Mutiara memecah keheningan.
"Saya baru bisa tidur setelah menghirup udara segar seperti ini." Jawab Pram. "Kamu sendiri kenapa belum tidur?
"Entahlah, mungkin seperti pak Pram, saya juga memerlukan udara segar." Jawab Mutiara sekenanya.
Dan lagi-lagi mereka diam, sunyi. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Mutiara, ia yang dulu selalu mencari topik pembicaraan dengan bosnya itu, kini juga menjadi pendiam tak terlalu banyak bicara. Pram, memang seperti itulah karakternya, tak akan berbunyi jika tidak diketuk.
"Sudah lama kamu tidak banyak bicara." Kali ini Pram yang memecah keheningan.
"Mungkin lebih baik kalau saya tidak banyak bicara."
"Kenapa?"
Mutiara menghela nafas, "entahlah, kecewa dengan keadaan, mungkin."
Seketika Pram mengarahkan pandangannya pada Mutiara tapi saat itu Mutiara sudah berbalik arah berjalan masuk ke dalam rumah. Pram menatap Mutiara sampai hilang dari pandangannya. Pram tahu apa yang membuat Mutiara kecewa, tapi saat ini tak ada yang bisa ia lakukan.
__ADS_1