Mutiara

Mutiara
Buatlah Pram Jatuh Cinta Padamu, Mutiara!


__ADS_3

Setelah makan malam, Mutiara berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Ia merasa tak nyaman dengan apa yang terjadi dengan Pram. Tapi Rose mengatakan ingin berbincang sebentar dengan Mutiara. Tentu saja Mutiara tak bisa menolak keinginan Rose. Mutiara mengikuti Rose dari belakang menuju ruangan yang nampak seperti ruang kerja karna di dalam ruangan itu hanya ada meja dan kursi di sudut ruangan membelakangi jendela kaca yang besar. Kemudian berjajar rak-rak buku besar di dua sisi dinding di samping kanan dan kiri jendela besar itu. Di tengah- tengah ruangan terdapat dua sofa panjang saling berhadapan mengapit sebuah meja dan satu kursi dengan model yang sama dengan sofa panjang berada membelakangi meja kerja di sudut ruangan itu. Semua furnitur di dominasi warna coklat dan hitam.


Rose mengajak Mutiara duduk di salah satu sofa panjang di ruangan itu. Mutiara menuruti apa yang diinginkan wanita yang masih nampak cantik itu walaupun sudah berusia senja.


"Kamu pasti bingung kenapa Pram tiba-tiba bersikap seperti itu padamu." Ucap Rose setelah mereka duduk. Mutiara hanya mengangguk. Entahlah kenapa dadanya terasa nyeri saat melihat sikap Pram di ruang makan tadi. Padahal biasanya di tolak laki-laki pun ia tak akan merasakan perasaan yang seperti ini.


"Pakaian yang kamu kenakan itu adalah pakaian milik mendiang istrinya, Winda." Tanpa ragu Rose mengatakan hal itu. "Kamu tahu hal itu kan?" Ucap Rose selanjutnya. Mutiara hanya mengangguk. Ia tak ingin banyak bicara disini.


"Saya harap kamu bisa mengerti dengan apa yang terjadi dengan Pram. Pram tak menyingkirkan barang-barang milik Winda tapi juga tak bisa melihat barang-barang itu di depan matanya. Ia menyimpan di dalam lemari kamarnya tapi tak pernah membuka lemari itu. Dan untuk pertama kalinya ia membuka lemari itu dan memberikan salah satu pakaiannya padamu. Saya rasa Pram memang masih belum sepenuhnya mengikhlaskan mendiang istrinya. "Jelas Rose panjang lebar.


"Saya minta maaf telah membuat pak Pram menjadi seperti itu. Saya akan segera mengembalikan pakaian ini." Ucap Mutiara akhirnya.


Dia yang memberikannya padaku, tapi kenapa dia seolah mengkambinghitamkan aku karna aku memakai pakaian mendiang istrinya. Dia juga yang mengajakku ke rumah ini tanpa bertanya dulu padaku. Batin Mutiara.


"Tidak, tidak, bukan seperti itu. Ini semua bukan salahmu, Mutiara." Ucap Rose sangat lembut. "Saya hanya merasa sedih saat melihat Pram seperti itu. Kalau saja saya bisa meringankan beban di hatinya itu akan saya lakukan, saya akan melakukan apapun untuk melihatnya bahagia." Terlihat jelas sekali Rose sangat menyayangi putra semata wayangnya itu. Air mata Rose menggenang di pelupuk matanya dan segera meleleh karna tak terbendung lagi.


"Saya mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kita cintai, saya bisa mengerti apa yang pak Pram rasakan." Ucap Mutiara sembari menggenggam tangan Rose untuk menenangkan Rose.


"Maukah kamu menolong saya?" Tanya Rose setelah ia menghapus lelehan air mata di pipinya.

__ADS_1


"Apa yang bisa saya bantu, Nyonya?"


"Buat Pram mencintaimu." Ucapan Rose membuat Mutiara terkejut. Mutiara tak menyangka Rose akan mengatakan hal seperti itu padanya. Walaupun itulah yang diharapkan Mutiara tapi saat ini ia tak bisa berkata-kata. Hal itu terlalu membuatnya terkejut sehingga lidahnya kelu tak mampu mengatakan apapun.


"Saya tahu kamu gadis yang cocok untuk Pram." Ucap Rose lagi.


"Tapi Nyonya belum mengenal saya sepenuhnya." Mutiara menatap Rose dalam.


"Saya tahu kita baru dua kali bertemu. Tapi saya yakin kamu gadis yang luar biasa. Gadis yang baik, yang bisa membuat Pram bahagia." Ucap Rose mencoba meyakinkan Mutiara.


Seharusnya Mutiara bisa langsung mengatakan "ya" pada Rose tapi entah kenapa kata-kata itu tak bisa keluar dari mulutnya. Seharusnya lampu hijau dari Rose akan mempermudah tujuannya menakhlukan Pram tapi entah kenapa Mutiara tak bisa langsung mengiyakan. Jalan sudah terbuka lebar, tapi Mutiara malah ragu.


Dengan tersenyum Rose menjawab, "saya yakin kamu pasti bisa membuat Pram jatuh cinta padamu." Menurut Rose, hal itu akan terjadi karna sebenarnya ia telah melihat benih cinta di mata keduanya. Tapi tentu saja Rose tak mengatakan hal itu. Apalagi ini pertama kalinya Pram mengajak seoarang wanita ke rumahnya semenjak kepergian Winda. Walaupun saat ini Mutiara hanya sekretarisnya tapi Rose tahu ada ketertarikan di diri Pram pada Mutiara.


"Tinggalah disini, sampai kamu bisa membuat Pram mencintaimu." Ucap Rose lagi.


Mutiara tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Rose. Benar-benar tak masuk akal. Bagaimana jika Rose tahu seperti apa dirinya. Wanita matrealistis yang sangat menyukai uang. Yang hanya mau menjalin hubungan dengan laki-laki kaya hanya karna uang. Entah apa yang akan Rose lakukan jika ia tahu hal itu.


"Bagaimana dengan tuan Surya? Apakah beliau mengetahui hal ini?" Tanya Mutiara. Rose mengangguk.

__ADS_1


"Kami merencanakan akan mencarikan seorang istri untuk Pram, tapi melihatmu datang kerumah ini bersama Pram, kami sepakat tentang apa baru saja kita bicarakan." Jelas Rose.


"Bolehkan saya memikirkannya terlebih dahulu, Nyonya?" Ya, Mutiara merasa tak baik jika ia langsung menyetujui permintaan Rose. Karna bagaimanapun juga untuk bisa mendekati Pram dan membuatnya jatuh cinta padanya adalah dengan mengambil hati kedua orang tuanya. Kelemahan lelaki biasanya ada pada orang tuanya atau orang terkasihnya.


"Baiklah, kamu boleh memikirkannya dulu." Ucap Rose sembari tersenyum.


"Ehm, Nyonya, bolehkan saya meminjam mobil untuk mengambil barang-barang saya di rumah? Saya tidak mungkin memakai pakaian ini terus karna hanya akan membuat pak Pram semakin sedih. Mobil saya masih ada di kantor." Tanya Mutiara.


"Tidak perlu Mutiara, saya sudah meminta seseorang untuk membeli beberapa baju dan keperluanmu selama kamu di sini. Saat ini mungkin semuanya sudah ada di kamarmu. Saya tahu kamu membutuhkannya karna saat kamu datang, kamu tak membawa apa-apa."


Waaah, orang kaya memang sangat berbeda, satu jentikan jari sudah terlaksana apa yang ia mau. Mutiara sudah sering menjumpai orang-orang kaya seperti ini, yang bisa melakukan apa saja karna mereka memiliki banyak uang. Itulah sebabnya Mutiara sangat menyukai uang, ia bisa membeli apa yang ia mau.


Tak ada lagi yang diucapkan Mutiara selain ucapan terima kasih pada Rose. Rose tersenyum sebagai jawaban.


"Ah, Mutiara, pertimbangkan dengan baik, kami sangat mengharapkan bantuanmu. Kami ingin Pram kembali tersenyum dan bahagia seperti dulu." Ucap Rose saat Mutiara membuka pintu hendak meninggalkan ruang kerja itu. Mutiara mengangguk sembari tersenyum sebagai jawaban.


Mutiara kembali ke kamarnya dan benar saja sudah banyak barang-barang di atas ranjang. Mutiara membuka beberapa paper bag dan box di atas ranjangnya itu. "Waaah..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Mutiara. Semua barang-barang di hadapannya itu adalah barang-barang mahal. Yang untuk bisa membelinya saja Mutiara harus menabung beberapa waktu. Dan kini ia memiliki semua barang-barang mahal itu. Mulai dari pakaian branded, tas, sepatu, bahkan skincare dan make up yang biasa Mutiara pakai juga ada di hadapannya.


"Bagaimana Nyonya Rose tahu tentang skincare dan make up yang biasa aku pakai?" Mutiara bermonolog.

__ADS_1


Apakah orang ini menyelidiku? Batin Mutiara. Mutiara sengaja tak mengatakan hal itu dengan suara karna ia khawatir ada sesuatu yang sedang memantaunya saat ini. Dan lagi ukuran beberapa sepatu yang di berikan Rose begitu pas di kakinya. Dari mana ia tahu ukuran kakinya?


__ADS_2