
sore menjelang,mutiara mempersiapkan segala keperluan nya untuk berjualan nasi uduk. Meskipun masih sedikit lemas namun ia tetap berjualan hari ini. Biar bagaimanapun ia harus tetap mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya walaupun Alex telah kembali tapi ia tak mau bergantung hidup dengan Alex.
"aku tidak boleh manja." pikirnya
ketika itu terdengar suara pintu terbuka tanpa di ketuk! Belum sempat menghampiri tiba-tiba saja Alex datang dan memeluknya erat. mutiara hanya diam tak mengerti apa yang sedang terjadi? Pria itu terlihat sedih dan tak berdaya
" kenapa?" tanya mutiara dalam dekapan Alex
" kau masih bertanya aku kenapa?" Alex balik tanya
" mengapa kau menyembunyikan ini dariku? Jadi ini alasan mu meminta aku untuk pergi?" Alex menyerahkan obat yang ada di saku celananya. Mutiara sedikit terkejut dan diam seribu bahasa,pada akhirnya Alex tau semua ini. Mutiara tersenyum simpul,meremas obat itu dan menatap Alex
" ya,ini alasanku." ucap mutiara
" mengapa harus kau sembunyikan? Tidak kah kau ingin berjuang bersamaku?"
" berjuang? Berjuang untuk apa? Melawan kematian? Jangan bodoh kak. hidupmu masih panjang,sedangkan aku? Sudahlah biarkan aku menantikan kematian itu sendiri." mutiara terisak luka hati dan ketakutan itu datang kembali. Mengoyak hati yang sudah terlanjur terluka sehingga membuat seluruh tubuhnya bergetar tak kuasa membuatnya untuk tetap berdiri berhadapan dengan Alex.
__ADS_1
Alex merangkul tubuh istrinya tersebut,mengapa hanya mutiara yang selalu mengalami penderitaan bertubi-tubi? Tidak bisakah tuhan memberiku sedikit saja beban yang ia pikul? Mutiara menangis sejadinya di pelukan Alex. Tak ada lagi penolakan ketika Alex memeluknya, Alex pun tak kuasa menahan air matanya,belum siap rasanya mempersiapkan diri untuk berpisah kembali dengan istrinya dan ini mungkin saja perpisahan yang terakhir.
" kita pulang ya? Jangan menyiksa ku dengan keadaanmu yang seperti ini. Aku mampu merawatmu,jadi ku mohon kembalilah." pinta Alex tulus
" tapi kak,"
" mulai hari ini jangan pernah membantah lagi kata-kata ku." ucap Alex tegas
Mutiara mengangguk pelan,bangkit berdiri mengikuti kemauan Alex untuk pulang kembali ke rumah.
" tunggu dulu," ucap mutiara tiba-tiba
" dagangan ku." jawab mutiara seraya menunjuk kearah nasi uduk yang sudah lengkap dengan lauk pauknya.
" bagi-bagi kan saja,Nanti aku yang bayar." Alex tersenyum seraya meraih dagangan mutiara untuk di bagikan kepada orang-orang sekitar rumahnya.
mutiara POV
__ADS_1
Pada akhirnya dia mengetahui apa yang terjadi pada diriku. ternyata memang sulit untuk lepas dari cengkraman nya,aku pikir 2 tahun tak bersama bisa menghilangkan semua rasa yang ada pada diriku begitu saja ternyata tidak! Dia memang beda,dan terlalu baik untuk ku. Aku bisa melihat kecemasan dalam dirinya setiap kali ia menatapku,bagiku segala rasa sakit ini sudah menjadi teman dalam perjalanan hidupku belakangan ini. Allah terlalu baik padaku sehingga ia mengirimkan seorang pria yang berhati Malaikat seperti Alex.
Pada akhirnya aku pun harus menyerah,menyerah untuk meninggalkan tempat tinggalnya kembali. Entah tindakan ku ini benar atau salah yang pasti saat ini aku ingin menuruti kata-kata suamiku (Alex. Aku mengemasi barang-barang milikku kedalam tas ransel ku dan meninggalkan sebuah tulisan didepan pintu rumahku jika kegiatan belajar diliburkan untuk sementara waktu. Aku yakin mereka akan sedih,tapi aku tak punya pilihan lain.
Alex membawaku ke rumah nya. Mama menyambut ku dengan hangat,memeluk dan mencium kedua pipi ku dan aku tersenyum pendapat perlakuan itu. Kisah kelam kembali terekam dalam memori ingatanku ketika aku meniti satu persatu tangga rumah ini,ya memori saat aku terjatuh dan kehilangan anak kembarku. Aku berhenti di depan pintu kamar si kembar
" boleh aku masuk?" tanya ku pada Alex
" tapi janji kau tidak akan bersedih." ucap Alex. Aku mengangguk pelan.
Sekuat apapun ku coba untuk menahannya air mata ku jatuh juga ketika aku memasuki ruangan tersebut. Ternyata bukan hanya tak bisa menemani Alex hingga tua tapi,aku juga tak bisa memberikan Alex keturunan! itu yang selama ini membuatku sangat sedih.
" nak,sebentar lagi ibu akan menyusul kalian." berbisik dalam hati
" sebaiknya kita keluar saja,dan kau tak perlu masuk kamar ini lagi." Alex memintaku untuk keluar dari kamar itu agar aku tak berlarut-larut dalam kesedihan.
" maaf kan aku kak,"
__ADS_1
" kau tidak perlu meminta maaf." jawab Alex dengan wajah lesu. Aku memahami apa yang sedang Alex rasakan saat ini jika aku boleh memilih lebih baik aku tak perlu hadir dalam kehidupan nya agar dia tak perlu merasakan kesedihan yang bertubi-tubi.