Mutiara

Mutiara
Luka


__ADS_3

"Loh mbak kenapa barang-barang di kamar kak Mutia di keluarin semua?" Tanya Tiara pada Iyem, asisten rumah tangga di rumahnya. Ia tak mengerti kenapa barang-barang dari kamar Mutiara dikeluarkan dari kamar kakaknya itu.


"Non Mutia yang meminta saya mengeluarkan, Non." Jawab Iyem. Sebenarnya Iyem merasa tak enak pada Tiara karna ia tahu barang-barang ini Tiara sendiri yang membeli dan merapikan kamar kakak tirinya itu. Dan dengan tanpa perasaan Mutiara memintanya membuang semuanya.


Tiara tampak sedih. Ia bertanya-tanya kenapa Mutia melakukannya. Apakah kakaknya itu tak menyukainya? Sebaiknya Tiara menanyakan langsung pada Mutiara.


"Dimana kak Mutia, Mbak?" Tanya Tiara.


"Ada di dalam, Non." Jawab Iyem.


Setelah mendapat jawaban dari Iyen Tiara langsung masuk kamar Mutiara. Ia mendapati Mutiara sedang berdandan. Sesaat ia sangat kagum dengan kecantikan kakaknya itu. Ia cantik sekali menggunakan dress selutut berwarna merah dibalut blazer berwarna hitam. Saat masuk Mutiara merasakan suasana yang berbeda. Kamar kakaknya itu kini di dominasi warna merah, mulai dari sprei dan gorden.


Ah mungkin kakak tak menyukai warna yang kupilihkan untuk kamarnya. Bodohnya aku, seharusnya aku bertanya dulu padanya. Gumam Tiara.


"Wah kakak cantik banget hari ini, kamar kakak juga tampak berbeda." Ucap Tiara yang langsung memeluk Mutiara dari belakang. Mutiara yang tengah memoles make up di wajahnya merasa terganggu dengan kehadiran Tiara yang tiba-tiba memeluknya. Mutiara melepas pelukan Tiara dengan kasar.


"Kamu pasti mau menanyakan kenapa barang- barang yang kemarin saya keluarkan." Mutiara bisa menebak tujuan Tiara masuk ke kamarnya setelah merapikan pakaiannya yang kusut karna pelukan Tiara. Tiara yang lagi-lagi terkejut karna sikap kasar Mutiara mencoba menguasai dirinya. Dalam hati ia berkata bahwa kakaknya ini belum terbiasa dengan kehadirannya jadi Tiara harus memaklumi itu.


"Ah, ituuuu, sebenarnyaaaaa, iya... Kakak nggak suka ya?" Jawab Mutiara merasa tak enak. Tapi memang tadinya Tiara ingin menanyakannya, tapi setelah masuk kamar Tiara tak enak hati harus menanyakannya. Bagaimanapun ini kamar Mutiara, dan Mutiara berhak melakukan apapun pada kamarnya. Tiara hanya berusaha menyambut kakaknya dengan baik. Itu saja.

__ADS_1


"Saya nggak suka." Jawab Mutiara tanpa basa-basi.


"Maaf ya kak, soalnya Tiara nggak tahu gimana selera kakak." Tiara mencoba memaklumi kakaknya itu. Mungkin selera remaja dan wanita dewasa memang tak sama. Pikir Tiara.


"Aku seneng deh kakak tinggal disini. Aku jadi ada temennya disini. Aku selalu membayangkan punya seorang kakak perempuan, akhirnya sekarang menjadi kenyataan." Tiara tampak bersemangat, ia terlihat bahagia dengan kehadiran Mutiara di rumahnya.


"Saya disini bukan buat menemani kamu." Lagi-lagi Mutiara berkata ketus pada Tiara.


Sejujurnya Tiara merasa kecewa pada sikap Mutiara tapi bagaimanapun Mutiara adalah kakaknya, jadi Tiara harus selalu bersikap baik dan menyayanginya. Tiara ingat betul bagaimana usaha ayahnya untuk mencari dimana keberadaan Mutiara, karna itu pun Tiara tak ingin mengecewakan ayahnya dengan bersikap tidak baik pada Mutiara.


Tiara adalah seorang gadis yang lembut, ia dibesarkan dengan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tuanya. Karna itu ia tumbuh menjadi gadis yang ceria dan penuh cinta. Berbeda dengan Mutiara yang tak seberuntung Tiara, akhirnya tumbuh menjadi gadis yang dingin dan ambisius. Tak ingin lagi hidup menderita karna itu mati-matian Mutiara bekerja keras dan berusaha menggoda laki-laki kaya agar ia bisa hidup dengan layak dan tak kekurangan. Melihat Tiara yang ceria dan penuh cinta diusia belia, membuat Mutiara terluka karena dulu di usia Tiara ia harus menghadapi kehidupan yang keras dan tanpa kasih sayang dari orang tua. Atau lebih tepatnya Mutiara cemburu pada Tiara.


"Hmmm, ayo kita sarapan bareng kak, ibu tadi memintaku memanggil kakak." Tiara mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia masih berharap kakaknya ini suatu saat nanti juga bisa menyayanginya.


"Seharusnya kamu tak perlu bersikap berlebihan padaku, aku tak pernah menganggapmu saudaraku." Ucap Mutiara lirih, tapi hal itu jelas di dengar oleh Tiara sehingga Tiara langsung berlari keluar dari kamar Mutiara dengan bercucuran air mata. Tiara menyesalkan kenapa Mutiara bersikap seperti itu padanya. Melihat Tiara yang menangis Mutiara sama sekali tak peduli.


Di ruang makan...


"Ibu tidak tahu apa makanan kesukaanmu jadi ibu memasak banyak lauk untukmu, Mutia." Ucap Santi saat Mutiara sudah duduk di meja makan.

__ADS_1


Mutiara hanya melihatnya sekilas dan tak peduli dengan apa yang diucapkan Santi. Mutiara hanya mengambil sedikit nasi, lauk dan sayur. Kemudian makan dengan tenang tanpa bicara dan peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Selama ini Mutiara terbiasa makan sendiri sebelum pindah ke rumah Pram. Jadi ia terbiasa makan dalam keheningan.


"Kak, coba yang ini deh, ini masakan ibu yang paling enak loh." Tiara mengambilkan rendang untuk Mutiara dan menaruhnya di piring Mutiara. Tiara masih bersikap ramah pada Mutiara walaupun Mutiara sudah memperlakukannya dengan buruk. Melihat putrinya menyayangi kakaknya baik Aryo maupun Santi terlihat bahagia.


"Apakah saya memintamu mengambilkan ini untuk saya?" Mutiara menatap tak suka pada Tiara. Nada bicara Mutiara pelan tapi terdengar menusuk membuat Tiara takut pada Mutiara.


"Maaf kak, Tiara nggak tahu kalau kakak nggak suka." Tiara menunduk dan sungguh-sungguh meminta maaf.


"Ambil kembali!" Bentak Mutiara. Dengan segera Tiara mengambil kembali lauk yang diberikannya pada Mutiara. Air matanya menggenang di pelupuk mata Tiara. Ia berusaha menahan diri untuk tidak menangis.


"Bisa nggak sih bersikap baik? Tiara sudah sangat berbaik hati padamu jangan perlakukan adikku seperti itu." Bintang, kakak Tiara yang diam saja sejak kedatangan Mutiara, kini angkat bicara, ia tak suka adiknya diperlakukan semena-mena oleh Mutiara. Bintang menatap tajam pada Mutiara.


"Apakah aku meminta adikmu melakukannya?? Tidak! Itu semua kemauannya sendiri!" Mutiara membalas tatapan Bintang. "Astagaaaa, kalian sudah membuat nafsu makanku hilang!" Mutiara meninggalkan meja makan dengan perasaan kesal.


"Kak Bintang, sudahlah!" Air mata yang sejak tadi Tiara tahan kini lolos juga. "Tiara nggak apa-apa. Jangan membentak kak Mutia." Pinta Tiara pada Bintang.


"Setelah dia memperlakukanmu dengan buruk kamu masih membelanya?" Bintang tak habis pikir dengan adiknya ini, bisa-bisanya....


Bintang pun meninggalkan meja makan dengan kesal. Bintang lebih merasa kesal pada Tiara karna masih saja membela orang yang sudah memperlakukannya dengan buruk. Panggilan Santi sama sekali tak di gubris oleh Bintang. Suasana sarapan pagi ini menjadi sangat kacau karna keributan kecil yang akhirnya berbuntut besar.

__ADS_1


Santi yang melihat Tiara menangis segera menghampiri putrinya itu kemudian memeluknya untuk menenangkan Tiara. Santi pun tak habis pikir kenapa Mutiara harus bersikap seperti itu pada Tiara. Padahal Santi tahu benar Tiara sangat menyayangi Mutiara, Tiara sangat bahagia dengan kehadiran Mutiara di rumah ini. Terlihat bagaimana antusiasnya Tiara saat mendengar Mutiara akan tinggal di rumah mereka. Tiara menata dan merapikan kamar Mutiara sendiri dan tidak mau dibantu oleh asisten rumah tangga di rumah mereka.


Melihat kekacauan yang pertama kali terjadi di rumahnya, Aryo pun merasa kecewa pada Mutiara. Aryo menghela napas pelan, kemudian pergi menemui Mutiara. Ia harus membicarakan hal ini dengan Mutiara. Tujuannya mengajak Mutiara tinggal disini adalah agar ia bisa dekat dengan keluarga barunya. Karna ia tahu keluarga barunya menerima Mutiara dengan tangan terbuka. Tapi kalau dipikir lagi, Aryo menyadari sikap Mutiara itu karna dirinya. Mutiara tak bisa menerima Aryo bahagia dengan keluarga barunya.


__ADS_2