Mutiara

Mutiara
Lamaran


__ADS_3

"Ayah tahu, kamu masih membutuhkan waktu untuk terbiasa dan beradptasi disini." Ucap Aryo pada Mutiara dengan lembut. "Tapi bisakah kamu bersikap baik pada mereka?" Aryo duduk disamping Mutiara yang tengah duduk di taman. Mutiara hanya melihat Aryo sekilas tapi tak ingin bicara.


"Tiara hanya berusaha menunjukkan perhatiannya padamu, ia sama sekali tak bermaksud membuatmu tak nyaman." Jelas Aryo. "Sejak dulu Tiara selalu mengatakan ia ingin punya seorang kakak perempuan. Saat ayah menceritakan tentangmu ia sangat antusias dan tidak sabar ingin bertemu denganmu."


Mutiara masih tetap diam, seakan tak mendengarkan tapi sebenarnya ia mendengarkan setiap kata demi kata yang keluar dari mulut Aryo.


"Mereka menganggapmu sebagai keluarga, rasa sayang itu akan tumbuh jika kalian bisa saling menghargai dan saling membantu. Ayah ingin kalian hidup dengan harmonis, apalagi setelah ayah tiada nanti. Kamu hanya memiliki mereka dan mereka hanya memiliki kamu."


Lagi-lagi Mutiara pura-pura tak mendengar apa yang diucapkan Aryo padanya. Ia lebih memilih mengutak-atik ponselnya. Walaupun Mutiara tahu Tiara sama sekali tak ada maksud buruk padanya, hanya saja Mutiara masih belum bisa menerima kehadiran keluarga baru Aryo. Melihat kebahagiaan mereka hanya seperti menggores kembali luka di hati Mutiara. Mutiara memilih diam saja tak ingin memperdebatkan masalah ini dengan ayahnya itu.


Melihat Mutiara diam saja, Aryo tahu kalau putri sulungnya itu mendengar ucapannya dan mencerna apa yang ia katakan. Hanya saja ia butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan sekarang dirinya telah memiliki keluarga baru. Tanpa orang tua yang mendampinginya selama ini mungkin membuat Mutiara juga susah mengekspresikan perasaannya.


"Baiklah, ayah masuk dulu. Sebaiknya kamu segera siap-siap, kamu tidak lupa kan kalau hari ini kita ada pertemuan penting." Aryo beranjak dari tempat duduknya setelah mengatakan hal itu. Mutiara ingat kalau hari ini mereka ada pertemuan penting, ia sudah siap sejak tadi tinggal mengambil tasnya saja di kamar.


"Saya sudah siap, kita akan berangkat setelah pak Aryo siap." Ujar Mutiara yang masih berkutat dengan ponselnya. Aryo menoleh pada Mutiara kemudian kembali masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.

__ADS_1


*****


Seminggu sudah Mutiara di rumah Aryo tapi sampai hari ini belum ada perkembangan dari hubungan Mutiara dan keluarga Aryo. Mutiara masih bersikap dingin pada mereka. Sedangkan Santi dan Tiara mereka masih bersikap hangat dan perhatian pada Mutiara. Jauh dilubuk hati Mutiara, ia tersentuh dengan perlakuan mereka yang masih tetap baik padanya walaupun ia selalu bersikap dingin pada mereka. Logikanya mengelak kalau keluarga Aryo benar-benar baik padanya. Bagaimana mungkin itu terjadi, Mutiara adalah orang lain bagi mereka, tak mungkin mereka akan selalu bersikap baik apalagi saat ini Aryo selalu bersama mereka. Bisa saja itu adalah akal-akalan keluarga baru Aryo, mereka harus baik pada Mutiara karna Aryo bersama mereka. Itulah yang ada di pikiran Mutiara tentang mereka.


Bintang, karna Mutiara selalu bersikap buruk pada keluarganya tentu saja ia menjadi tak menyukai Mutiara. Walaupun pada awalnya ia bisa menerima kehadiran Mutiara karna Mutiara adalah anak dari ayahnya tapi melihat sikap Mutiara Bintang tak lagi menganggap Mutiara sebagai kakak.


Hari ini keluarga Aryo disibukkan dengan persiapan lamaran Mutiara. Semuanya terlihat sangat antusias dan bersemangat mempersiapkan segalanya. Aryo mengingingkan acara lamaran nanti malam harus berjalan dengan sempurna. Ini adalah momen berharga bagi Aryo, ia sangat bahagia melihat putri sulungnya itu akan menikah dengan laki-laki yang baik dan juga akan memiliki keluarga yang baik pula yang menyayangi Mutiara seperti putrinya sendiri. Aryo ikut turun tangan sendiri mempersiapkan acara lamaran nanti malam. Santi dan Tiara dengan suka cita mempersiapkan segalanya.


Sedangkan Mutiara, karna ia tahu pernikahannya hanyalah pernikahan pura-pura ia sama sekali tak ingin ikut serta dalam persiapan lamarannya. Mutiara terlihat enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang acara seperti apa yang Mutiara inginkan atau kebaya seperti apa yang ingin Mutiara kenakan. Mutiara malah menyerahkan semuanya pada keluarga Aryo untuk mengurusnya. Ia hanya mau tahu jadi saja. Terserah apa yang ingin Aryo dan keluarganya lakukan.


Mendengar jawaban Mutiara, Aryo sedikit bingung, acara nanti malam adalah penting bagi Mutiara tapi kenapa Mutiara seperti enggan dan seperti tak tertarik. Tapi akhirnya Aryo tak mau memikirkan hal itu lagi, Aryo pikir mungkin Mutiara ingin dirinya yang mengurus segalanya sebagai cara menebus penderitaannya selama ini. Aryo kembali bersemangat mempersiapkan acara lamaran nanti malam.


Tepat pukul tujuh malam keluarga Pram datang ke rumah Aryo. Mereka hanya datang dengan keluarga dekat saja. Dengan raut wajah yang berbinar dan bahagia Aryo menerima kedatangan keluarga Pram. Aryo dan Santi menyambut mereka dengan senyum merekah yang selalu menghiasai wajah mereka saat ini. Kebahagiaan terpancar jelas di mata mereka.


Keluarga Pram datang sekaligus membawa seserahan untuk Mutiara. Seserahan yang mereka bawa tidak main-main terlihat sangat berkelas dan mahal. Tak heran karna keluarga Pram adalah keluarga dari kalangan atas, apalagi Rose sudah sangat menyayangi Mutiara seperti putrinya sendiri karna itu ia mempersiapkan seserahan yang terbaik untuk Mutiara. Dan berharap kelak Mutiara akan mampu mengembalikan pribadi Pram yang hangat dan penuh cinta seperti dulu sebelum Pram kehilangan Winda, mendiang istrinya.

__ADS_1


Pram dan keluarganya sudah duduk di ruang tamu, Aryo meminta Tiara memanggil kakaknya karna keluarga Pram sudah datang. Dengan cepat Tiara berdiri dan segera menuju kamar Mutiara, Tiara terlihat sangat bersemangat di acara malam ini.


Tok tok tok...


Tiara memgetuk kamar Mutiara.


"Kak Mutia, kak Pram dan keluarganya udah dateng, kakak ditunggu di ruang tamu." Tiara sangat berhati-hati saat itu karna ia tak mau lagi membuat Mutiara merasa tak nyaman dengannya. Tiara masih tetap ingin kakaknya itu menyayanginya seperti dirinya yang selalu menyayangi Mutiara.


Ceklek...


Tanpa menyahuti perkataan Tiara, Mutiara keluar dari kamarnya. Tiara sangat terpesona dengan penampilan kakak perempuannya itu. Mutiara terlihat sangat cantik dibalut kebaya modern berwarna putih. Kebaya itu begitu pas melekat di tubuh Mutiara yang indah.


"Waaaah, cantiknya kak Mutia." Tiara berbinar-binar menatap sosok wanita cantik di depannya. "Aku aja terkagum-kagum gimana kak Pram. Ee cie yang mau nikah."


Mutiara hanya melihat Tiara sekilas kemudian keluar dari kamarnya menuju ruang tamu dimana Pram dan keluarganya serta Aryo sudah menunggu. Sejujurnya ia tersanjung dengan pujian Tiara, hanya saja ia tak ingin menunjukkannya pada Tiara. Lagipula Mutiara tak seantusias seperti wanita-wanita lain yang akan menikah, tak ada binar-bianar kebahagiaan di matanya, ekspresinya terlihat datar saja. Ya karna Mutiara menyadari bahwa pernikahannya hanyalah pernikahan pura-pura dan Mutiara merasa dirinya tak perlu pula berpura-pura bahagia dengan acara lamaran malam ini.

__ADS_1


Yang membuat Mutiara tertarik dengan pernikahannya dengan Pram adalah apa yang ditawarkan Pram padanya, berapa besar uang yang ia dapat dari pernikahan ini. Status yang ia dapat sebagai istri seorang direktur perusahaan besar dan juga yang paling penting ia dapat merasakan kasih sayang seorang ibu dari Rose, calon mertuanya. Semenjak mengenal Rose ia bisa kembali merasakan kasih sayang seorang ibu. Belaian lembut dan pelukan hangat dari Rose membuatnya merasa bahagia.


Cinta? Entahlah, Mutiara merasa masih pantaskah ia mendapatkan cinta yang tulus dari seorang lelaki? Apakah ada lelaki yang bisa tulus mencintainya dan menerima kekurangannya? Tak ada selama ini tak ada yang mencintainya dengan tulus. Bahkan Pram yang Mutiara anggap berbeda dari laki-laki lain ternyata sama saja, hanya menganggapnya matrealistis. Meskipun memang begitulah kenyataannya.


__ADS_2