Mutiara

Mutiara
Kosong dan Hampa


__ADS_3

"Nggak nyangka ya, selain matre kamu juga nggak tahu diri. Ngaku-ngaku jadi calon istri pak Pram segala." Seperti dugaan Mutiara hal ini akan menjadi bahan olok-olokan Shireen padanya.


Mutiara lebih memilih tak memperdulikan Shireen dan kembali ke ruangannya. Cepat atau lambat gosib seperti ini akan segera menyebar ke seluruh kantor. Seperti yang sering Mutiara alami selama ini, ia akan menjadi bulan-bulanan mulut-mulut yang tak menyukainya.


"Eh, aku tanya sama kamu, kenapa malah ditinggal pergi gitu?" Merasa tak dipedulikan Mutiara, Shireen menarik tangan Mutiara.


"Terus mau kamu apa?" Mutiara merasa malas meladeni Shireen.


"Ya jawab donk kalau orang tanya?" Shireen melipat kedua tangan di dadanya menuntut jawaban dari Mutiara.


"Aku nggak ada kewajiban apa-apa buat jelasin ke kamu, paham?" Setelah mengatakan itu Mutiara meninggalkan Shireen yang masih kesal karna pertanyaannya tak di jawab oleh Mutiara.


Benar dugaan Mutiara saat berjalan keluar dari kantor, rekan-rekan kerjanya berbisik-bisik satu sama lain sambil melihat kearahnya. Sebenarnya hal ini sudah biasa ia alami, jadi seperti biasa Mutiara lebih memilih tidak peduli. Ia terus berjalan tanpa peduli berpasang-pasang mata menatapnya tak suka.


"Pantesan aja setiap hari pulang dan pergi nebeng mobil pak Pram, ternyata cewek murahan ini nekat tinggal di rumah bos. Nggak punya harga diri banget sih." Shireen mencoba memprovokasi.


Lagi-lagi bukan karna Mutiara tak mendengar tapi ia hanya menebalkan telinganya, ia tak ingin tersulut emosinya yang akhirnya akan mempermalukan dirinya sendiri. Pura-pura tak mendengar adalah cara terbaik untuk mengatasi mulut-mulut yang selalu menghinanya. Pembalasan terbaik menurut Mutiara adalah tetap diam yang pada akhirnya akan membuat mereka semakin kesal dan semakin tak menyukainya yang tentu saja akan merugikan mereka sendiri. Mutiara hanya dibenci dan hal itu tidak berpengaruh apa-apa terhadap hidupnya. Hidupnya tidak akan sengsara hanya karna dibenci mereka yang tidak menyukainya. Tidak punya uang, itulah yang akan membuat Mutiara menderita.

__ADS_1


Mutiara terus berjalan sampai akhirnya ia sampai di depan kantor untuk menunggu taksi yang lewat. Mutiara terpaksa pulang menggunakan taksi karna Pram belum kembali sampai jam kerja selesai.


"Mutiara!"


Mutiara mendengar seperti ada yang memanggilnya dari arah belakang. Tentu saja Mutiara langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Tha?" Ternyata Athaya. "Ada apa?" Tanya Mutiara setelah Atha berada di hadapannya.


"Apa bener yang temen-temen kantor bicarakan tentang kamu?" Ekspresi Atha nampak kecewa. Ia bermaksud memastikan sendiri pada Mutiara. Apakah benar yang di dengarnya tentang Mutiara dan bosnya.


"Kamu bisa menanyakan sendiri pada bos kalau kamu penasaran." Setelah itu Mutiara meninggalkan Atha yang diam terpaku, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ternyata benar tentang gosip yang beredar tentang mereka. Pikir Atha. Atha yang telah lama menyukai Mutiara benar-benar merasa patah hati. Ia tahu Mutiara tak pernah memiliki perasaan apapun padanya dan selalu menolak cinta Atha, tetap saja Atha tak pernah bisa berpaling dari Mutiara. Hatinya semakin remuk redam saat melihat Mutiara berjalan ke arah mobil Pram dan masuk ke dalamnya.


Mutiara tak peduli bagaimana perasaan Atha karna memang sejak awal ia tak menyukai Atha. Mungkin akan berbeda kalau Atha berasal dari kalangan atas. Mungkin Mutiara akan mempertimbangkannya. Karna tampan saja tak cukup bagi Mutiara. Dompet tebal diikuti wajah yang tampan akan menjadi nilai plus bagi Mutiara untuk menerima cinta seorang laki-laki. Hidupnya sudah cukup menderita jadi mutiara tak ingin menambah penderitaannya dengan menjalin hubungan dengan laki-laki biasa.


"Saya pikir pak Pram langsung pulang." Ucap Mutiara setelah masuk ke mobil Pram.


"Awalnya memang saya mau langsung pulang, tapi saya ingat kalau kamu tidak membawa mobil, jadi saya putar balik dan menjemput kamu." Jelas Pram.

__ADS_1


"Seharusnya pak Pram tidak perlu repot-repot, saya bisa pulang sendiri." Ucap Mutiara dingin.


"Kamu tidak bertanya bagaimana pertemuan saya dengan ayahmu?" Tanya Pram saat mobilnya sudah melaju.


" Saya tidak ingin tahu." Mutiara menatap lurus ke depan dan tak berkata apapun lagi. Ia hanya diam sampai mereka tiba di rumah Pram. Mutiara pun tak ingin mengatakan apapun tentang peristiwa yang telah terjadi di kantor. Biarlah bosnya itu tahu sendiri nanti. Setelah sampai tanpa mengatakan apapun pada Pram Mutiara turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Ia menghampiri Rose dan Surya yang tengah bersantai di teras samping.


Tak berapa lama setelah memberi salam pada Rose dan Surya, Mutiara pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Seharusnya Mutiara bahagia karna sebentar lagi ia akan menjadi bagian dari keluarga kaya raya, impian sejak lama kini akhirnya terwujud. Setidaknya walaupun pernikahannya dengan Pram bukan pernikahan yang sebenarnya, ia bisa menikmati kemewahan tanpa perlu lelah bekerja keras. Hanya perlu memiliki status sebagai istri Pram. Tapi entah kenapa perasaannya seakan kosong dan hampa. Ia merasa tak semangat untuk melakukan apapun. Mutiara yang selalu energik, penuh semangat entah dimana kini keberadaannya. Yang ada sekarang adalah Mutiara yang semakin merasa kesepian dan seperti wanita menyedihkan. Dinikahi tapi hanya sebagai pernikahan kontrak.


Setelah selesai mandi, Mutiara merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Ia sangat lelah jiwa dan raga. Tak butuh waktu lama akhirnya matanya terpejam dan terlelap. Mutiara bermimpi bertemu dengan ibunya di sebuah taman yang di kelilingi bunga-bunga yang indah. Ibunya mengenakan pakaian berwarna putih, parasnya sama seperti saat Mutiara masih belia. Parasnya ayu dan sangat meneduhkan. Tak heran jika kecantikan Mutiara memang di wariskan dari ibunya.


"Ibu?" Mutiara langsung berhambur ke pelukan ibunya. Ibu yang sangat ia rindukan.


"Iya, Sayang." Ibu Mutiara membalas pelukan putrinya kemudian membelai rambut putrinya itu. Dengan lembut.


"Mutia kangen sama ibu, kangen sekali." Ucap Mutiara setelah mereka duduk di sebuah bangku di taman itu sembari menggenggam kedua tangan ibunya. Ia memandangi wajah ibunya yang terlihat masih sangat cantik seperti saat ibunya masih hidup. Kerinduan yang begitu dalam begitu ia rasakan. Dan kebahagiaan yang telah lama tak ia rasakan kini membuncah, dan hal itu sangat terlihat jelas di wajah Mutiara. Antara sadar dan tidak sadar bahwa yang di alaminya sekarang seperti sangat nyata. Kalau di beri kesempatan, ia ingin melepas semua yang ia dapat selama hidupnya dengan kehadiran dan kasih sayang dari ibunya itu.


"Ibu juga, Sayang." Satu tangan ibu Mutiara membelai kepala putrinya itu dan tangan yang satunya juga menggenggam erat tangan Mutiara. "Kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat luar biasa. Maafkan ibu yang tak bisa mendampingimu. Maafkan ibu yang harus meninggalkan kamu sendirian di dunia ini." Ucap ibu Mutiara lagi dengan cucuran air mata di pipinya begitupun Mutiara mendengar ucapan ibunya hatinya seperti tersayat, pedih. Ia ingat bagaimana hancurnya Mutiara saat kehilangan tumpuan hidupnya. Kehilangan satu-satunya orang yang menyayanginya dengan tulus. Keduanya berpelukan dalam tangis, mencurahkan segala isi hati melalui air mata. Takdir harus membuat mereka terpisah di dunia yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2