Mutiara

Mutiara
Antara Bahagia dan Tidak


__ADS_3

Semua yang ada di ruang tamu menatap takjub pada sosok Mutiara yang terlihat begitu cantik malam ini. Tak terkecuali Pram, matanya tak berkedip saat menatap betapa cantiknya Mutiara malam ini. Mutiara tahu Pram sedang menatapnya tapi Mutiara berpikir tatapan itu sama saja seperti lelaki lainnya saat melihatnya. Mutiara lebih memilih langsung menghampiri dan memeluk Rose. Mutiara bisa merasakan ketenangan di pelukan Rose.


"Sayang, kamu cantik sekali." Puji Rose. " Tak salah Pram memilihmu sebagai calon istrinya. Kalian tampak serasi sekali." Belaian lembut kembali ia rasakan dari tangan Rose. Hal itu membuat Mutiara merasa bahagia. Bibirnya melengkung membentuk garis senyum, ia merasa bahagia dengan kehadiran Rose.


"Terima kasih, Ma." Ucap Mutiara setelah mendengar pujian Rose. Setelah itu Mutiara menghampiri Surya, calon ayah mertuanya kemuadian mencium punggung tangan Surya dengan takzim. Surya tersenyum pada Mutiara mengusap lembut kepala Mutiara. Kemudian Mutiara menyalami beberapa kerabat yang hadir di acara lamaran tersebut.


Mutiara memang menginginkan acara lamaran yang sederhana saja karna bagi Mutiara sama saja, pernikahan yang akan ia jalani adalah pernikahan palsu. Jadi untuk apa acara lamaran besar-besaran. Walaupun sebenarnya Mutiara menginginkan yang mewah tapi ia merasa percuma karna di acaranya ini ia sama sekali tak merasa bahagia.


Padahal seperti keinginannya akhirnya ia bisa menjadi istri konglomerat, tapi rasanya begitu hampa. Mutiara merasakan kosong di dalam dirinya. Bukan pernikahan palsu yang Mutiara inginkan sebenarnya. Ia terlanjur berjanji pada Rose saat itu untuk membuat Pram jatuh cinta padanya tapi sepertinya itu tak mungkin terjadi. Kasih sayang Rose membuatnya enggan menolak pernikahan palsu ini.


"Duduk disini, Mutia." Santi menepuk sofa yang kosong di sampingnya, ia memberi tempat untuk Mutiara diantara dirinya dan suaminya, Aryo. Tanpa membantah Mutiara duduk diantara ibu sambung dan ayahnya itu.


"Kamu cantik sekali, Mutia." Bisik Santi pada Mutiara. Mutiara hanya melihat Santi sekilas dari ekor matanya tanpa mengucapkan apapun pada Santi. Dalam hati Mutiara sebenarnya dirinya merasa tersentuh dengan perilaku Santi padanya yang tetap bersikap baik walaupun dirinya selalu bersikap buruk pada Santi. Mutiara masih belum ingin menunjukkan perasaannya, dirinya masih berpikir hal itu terjadi karna masih ada Aryo di dekat mereka. Mutiara tak ingin tertipu dengan kepura-puraan mereka semua.


Setelah Mutiara duduk di sampingnya, Aryo menggenggam tangan Mutiara. Perasaan bahagia sekaligus sedih karna kini Mutiara akan menikah dengan seorang lelaki. Aryo ingin momen ini akan terkenang di hati Mutiara dan dirinya sebagai kenangan terindah dalam hidup mereka. Putrinya kembali padanya sekaligus bertemu dengan laki-laki yang baik.

__ADS_1


Semoga kamu selalu diberi kebahagiaan dan keberuntungan, putriku. Batin Aryo sembari terus menggenggam tangan Mutiara


"Ehmm... Selamat malam, Pak Aryo dan keluarga. Maksud kedatangan kami kemari adalah untuk meminang putri pak Aryo, Nak Mutiara, sebagai calon istri putra kami, Pramudya." Surya menyampaikan maksud kedatangannya dan keluarganya ke rumah Aryo.


"Tentu saja kami sekeluarga menyetujui pinangan dari keluarga pak Surya." Aryo merestui Pram dan Mutiara. "Karna mereka saling mencintai tak ada alasan saya menolaknya. Bukan begitu, Mutia?" Mutiara yang mendengar ucapan Aryo tertegun, sedetik kemudian ia menatap Pram yang juga menatapnya. Saling mencintai? Sungguh konyol dan tragis hidupku. Batin Mutiara.


"Lihat, mereka berdua saling menatap satu sama lain. Mereka malu-malu sepertinya." Santi mencoba menggoda Pram dan Mutiara. Kedua keluarga terlihat bahagia melihat calon menantu mereka dan anak mereka itu. Akhirnya putra-putri mereka bertemu dengan pasangan dan saling mencintai. Begitulah yang ada di benak kedua keluarga.


Pada kenyataannya, tatapan itu bukanlah tatapan cinta. Entahlah bagaimana jika mereka tahu yang sebenarnya. Pram ingin pernikahan kontraknya dengan Mutiara tak ingin diketahui siapapun selain mereka berdua. Pernikahan kontrak itu memiliki tujuan yang hanya Pram sendiri yang tahu apa itu.


"Hahaha, Pak Aryo benar sekali." Surya menanggapi ucapan Aryo.


"Mari-mari, kita ke ruang makan sekarang." Ajak Aryo.


Pernikahan Mutiara dan Pram di tentukan dua bulan lagi, seperti permintaan Aryo. Saat ini Aryo ingin menghabiskan waktu bersama Mutiara dan ingin Mutiara mempelajari lebih dalam tentang bisnisnya karna sejujurnya ia membutuhkan bantuan Mutiara mengurus restoran-restoran miliknya. Melihat Bintang dan Tiara masih belum bisa membantunya, mereka masih terlalu muda untuk mengemban tugas yang bisa dibilang tak mudah itu. Rose yang awalnya ingin mempercepat pernikahan Pram dan Mutiara akhirnya mengalah. Rose mencoba memahami bagaimanapun Aryo baru berkumpul lagi dengan putrinya. Pasti Aryo masih ingin melepas kerinduan pada putrinya itu lebih lama lagi. Ia menyetujui pernikahan putranya diundur, hanya berjarak sebulan saja dari rencana awalnya.

__ADS_1


Kedua keluarga pindah ke ruang makan. Rose dan Surya mengikuti sang tuan rumah menuju ruang makan. Santi dan Tiara sudah berada di ruang makan terlebih dahulu memastikan hidangan yang mereka siapkan sudah terhidang di meja makan dengan sempurna. Mereka harus menjamu calon besan mereka dengan menu makanan yang terbaik. Tentu saja makanan yang terhidang di meja adalah menu makanan dari resto milik Aryo. Yang terkenal dengan kelezatannya.


Tinggalah Mutiara dan Pram yang masih berada di ruang tamu. Belum beranjak mengikuti keluarga mereka yang sudah berpindah ke ruang makan.


"Keluarga kita tampak bahagia dengan rencana pernikahan kita." Ucap Pram


"Sepertinya begitu." Jawab Mutiara singkat.


"Kamu bahagia?" Tanya Pram.


Seketika Mutiara tertawa mendengar pertanyaan Pram. Mutiara merasa lucu. Bahagia? Apa Pram bercanda? Bahagia dengan pernikahan kontrak? Lucu sekali. Batin Mutiara sembari menatap Pram dengan ekspresi yang entah bagaimana mengartikannya. Memang dirinya senang akan menerima uang dengan nominal yang besar dari Pram setiap Bulannya tapi Mutiara tidak merasa ada kebahagiaan di hatinya. Ia merasa kosong.


"Pak Pram bahagia dengan pernikahan pura-pura ini?" Mutiara balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Pram yang konyol itu. Tentu saja pertanyaan itu ia lontarkan dengan suara pelan sehingga tak ada yang mendengarnya.


"Orang tua saya bahagia, orang tuamu juga. Saya rasa itu sudah lebih dari cukup." Jawab Pram.

__ADS_1


Mendengar ucapan Pram hati Mutiara mencelos. Kecewa dengan jawaban Pram tentu saja. Lagi pula bagaimana bisa seorang Pram bisa memiliki perasaan pada wanita matrealistis seperti dirinya. Di mata orang lain dirinya adalah wanita yang buruk, tak akan ada cinta yang tulus datang padanya. Ternyata tak selamanya uang bisa membuat manusia bahagia, walaupun segalanya membutuhkan uang. Ya sudahlah, paling tidak punya uang masih bisa mengisi ketidakbahagiaan dalam dirinya. Dengan uang Mutiara bisa membeli kebahagiaan versinya. Mutiara tak ingin seperti dulu yang menderita dan harus banting tulang untuk memenuhi segala kebutuhannya. Biarlah tak ada cinta tapi ada uang dihidupnya. Setidaknya penderitaan yang dulu ia alami tak akan ia rasakan lagi kini. Cinta? Tak perlu lagi membicarakan tentang cinta. Tak akan kenyang hanya dengan makan cinta.


__ADS_2