Mutiara

Mutiara
Aryo Sakit


__ADS_3

Sesampainya di rumah Aryo, Mutiara disambut oleh Santi, ibu sambungnya. Tak seperti biasanya, Santi yang biasanya selalu tersenyum kini nampak sedih ada gurat kecemasan di wajahnya. Mutiara bertanya-tanya dalam hati sebenarnya apa yang sedang terjadi. Walaupun Mutiara belum mengenal baik bagaimana Santi, tapi setelah beberapa lama tinggal bersama ibu sambungnya itu Mutiara tau sesuatu sedang terjadi.


"Ada masalah apa?" Tanya Mutiara sesaat setelah dirinya turun dari mobil yang ditumpanginya.


Santi menghela napas panjang, "Kita bicara di dalam." Santi mengajak Mutiara untuk masuk ke rumah. Mau tidak mau akhirnya Mutiara menuruti apa yang dikatakan Santi.


"Apa yang sebenarnya terjadi?' Tanya Mutiara dengan tidak sabar. Setelah duduk di ruang keluarga, Santi masih diam ia tak segera mengatakan alasan kenapa Santi meminta Mutiara pulang lebih awal. "Dimana pak Aryo?" Tanya Mutiara lagi karna Santi masih belum membuka suara dan ia sama sekali tak melihat Aryo. Beberapa kali Santi terlihat menghela napas berat.


"Ayahmu sakit, Mutia." Akhirnya Santi bicara.


"Sakit? Apa maksudmu?" Tanya Mutiara. Mutiara sedikit terkejut karena selama ia tinggal dengan Aryo, ia melihat Aryo tampak sehat dan baik-baik saja.


"Tadi pagi saya mengantar ayahmu ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya karena sejak beberapa hari ini batuk yang di derita ayahmu semakin parah." Santi.


"Ayahmu meminta saya untuk merahasiakan hal ini. Beliau tidak ingin mengganggu rencana pernikahanmu dengan Pram. Tapi menurut saya sebagai putri sulungnya kamu harus tahu tentang hal ini." Ucap Santi lagi.


Mutiara diam, tapi bukan tidak peduli. Mendengar apa yang diucapkan Santi membuatnya tak mampu berkata-kata. Seketika rasa takut kehilangan bergelayut di hatinya. Perasaan seperti ini yang pernah ia rasakan dulu saat melihat ibunya terkulai tak berdaya karna penyakitnya. Dan kini dirinya merasakan hal yang sama. Semoga saja kejadian menyakitkan itu tidak akan terjadi lagi. Mutiara berdoa dalam hati, dirinya tak ingin merasakan kehilangan lagi. Walaupun dirinya masih belum belum bisa menunjukkan rasa sayangnya untuk Aryo tapi tetap saja dirinya tak ingin kehilangan Aryo. Jauh di lubuk hati terdalam Mutiara menyayangi Aryo.


"Apa yang dokter katakan?" Tanya Mutiara setelah terdiam cukup lama.


"Karna dulu ayahmu seorang perokok berat, saat ini paru-paru ayahmu sedang bermasalah." Jawab Santi.

__ADS_1


"Lalu?"


"Dengan melakukan pengobatan rutin semoga saja ayahmu bisa sembuh." Tatapan mata Santi memancarkan kesedihan yang mendalam. Mutiara bisa melihat bahwa wanita di hadapannya ini benar-benar mencintai Aryo. Setidaknya saat ini Mutiara bisa sedikit tenang karena ada Santi yang bisa menjaga Aryo. Walaupun Mutiara masih belum bisa menunjukkan rasa sayangnya pada Aryo.


"Tolong jaga pak Aryo dengan baik, saya akan membantu menghandle semua pekerjaan pak Aryo."


"Kamu tenang saja, Mutia, saya akan mengurus kesehatan ayahmu dengan baik." Ucap Santi sembari menggenggam tangan Mutiara. "Selama ini ayahmu bekerja terlalu keras sampai tidak memperdulikan kesehatannya." Air mata lolos dari mata Santi namun dengan cepat ia menghapusnya.


"Saya hanya berharap kamu mau memanggilnya ayah. Saya yakin dengan begitu ayahmu akan semangat untuk sembuh." Ujar Santi sebelum ia meninggalkan Mutiara di ruang keluarga.


Mutiara tak menanggapi apa yang dikatakan Santi tapi Mutiara sedang berusaha memahami apa yang terjadi dan mencoba melawan egonya. Ya, hanya Aryo yang Mutiara miliki saat ini, entah bagaimana Mutiara jika Aryo juga pergi meninggalkannya. Akan berbeda ceritanya jika saja Mutiara tak bertemu lagi dengan Aryo mungkin bisa saja Mutiara tidak peduli. Tapi setelah bertemu, melihat penyesalan dan kasih sayang di mata Aryo membuat Mutiara luluh karena bagaimanapun Mutiara adalah darah daging Aryo. Sebenci-bencinya seorang anak pada orang tuanya tak akan pernah bisa menang melawan cinta orang tua.


Selama Mutiara berada di rumah Pram tak seharipun terlewat Aryo selalu menghubungi Mutiara. Menanyakan kabarnya, menanyakan Mutiara sedang melakukan apa, sudah makan atau belum dan pertanyaan-pertanyaan lain yang dilontarkan Aryo selama dirinya jauh dari Mutiara. Walaupun Mutiara terkesan enggan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu tapi jauh di lubuk hatinya ia merasakan kehangatan dan kasih sayang dari seorang ayah, ayah yang ia benci tapi juga ia rindukan. Mutiara hanya kalah melawan egonya. Rindu tapi enggan mengungkapkan. Sayang tapi ia malu menunjukkannya.


Mutiara menatap Aryo, menatap laki-laki yang begitu dicintai ibunya dulu. Mutiara melihat Aryo yang sekarang selalu bersikap lembut dan hangat pada keluarga barunya, juga pada Mutiara tentu saja. Berbeda sekali dengan Aryo yang ia kenal dulu saat masih menjadi suami ibu kandung Mutiara. Aryo selalu bersikap kasar, tak pernah bersikap lembut pada Mutiara. Jika mengingat kejadian di masa lalu hatinya masih terasa sakit. Mutiara menyesalkan kenapa dulu Aryo tak bersikap selembut dan sehangat ini padanya dan ibunya. Tanpa disadari Mutiara, air matanya telah lolos dari matanya, dengan cepat Mutiara menghapus air matanya saat Aryo beralih menatapnya.


"Ada apa, Mutia?" Tanya Aryo, ia heran melihat Mutiara tiba-tiba menangis.


"Saya tidak apa-apa." Kilah Mutiara. "Saya permisi, saya sudah kenyang." Mutiara beralasan, padahal ia sama sekali belum menyentuh makanan di hadapannya. Mengetahui Aryo sedang sakit dan melihat Aryo bersikap hangat pada keluarga barunya membuat dada Mutiara terasa sesak. Ia sedih sekaligus cemburu. Tak bisa dipungkiri, Mutiara merasa sangat iri pada Bintang dan Tiara. Mereka mendapakan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya dan juga mendapatkan kehidupan yang sangat layak, berbeda dengan dirinya dulu.


Melihat Mutiara yang termenung menatap langit malam, Aryo menghampiri Mutiara. Aryo tak tau apa yang dipikirkan Mutiara tapi melihat Mutiara menangis tanpa tau sebabnya membuat Aryo merasa sedih. Aryo takut menjadi penyebab Mutiara menangis. Ia tak ingin menjadi alasan putri sulungnya itu menangis.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan disini, Nak?" Tanya Aryo saat dirinya sudah berdiri tepat disamping Mutiara. Tentu saja hal itu membuat Mutiara terkejut. Karena tanpa Mutiara sadari Aryo sudah berdiri di sampingnya. Mutiara hanya melirik Aryo dari ekor matanya.


"Tidak ada." Jawab Mutiara singkat.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Aryo lagi. "Kamu bisa menceritakan apapun pada ayah, ayah janji akan menjadi pendengar yang baik."


Mutiara tak menjawab pertanyaan Aryo. Tatapannya lurus ke depan, menatap gelapnya malam yang dihiasi cahaya bulan dan cahaya bintang yang bertabur. Mutiara sebenarnya merasa bodoh sekali, kenapa ia harus cemburu pada remaja-remaja itu. Bukankah selama ini ia bisa hidup dengan baik walaupun hidup sendiri tanpa orang tua? Ia bisa melakukan apapun dengan baik, ia pun bisa hidup dengan sangat baik.


"Mutia..." Aryo menjeda apa yang akan ia ucapkan. Mutiara menoleh padanya sebentar lalu berpaling.


"Mulai besok kamu yang akan mengurus bisnis ayah, dan ayah akan mengajarimu." Ucap Aryo lagi.


"Baiklah." Jawab Mutiara singkat.


Aryo memegang kedua pundak Mutiara kemudian sedikit memutar tubuh putrinya itu sehingga mereka bisa saling berhadapan. Aryo menatap Mutiara dengan mengembangkan senyumnya kemudian berkata, "ayah sangat menyayangimu, maafkan ayah yang dulu. Ayah akan selalu menunggu kamu bisa memaafkan ayah. Sekarang istirahatlah."


Hangat, itu yang dirasakan Mutiara. Tanpa berkata apapun Mutiara meninggalkan Aryo yang masih berdiri di balkon rumahnya.


"Tolong jaga kesehatan pak Aryo karena masih banyak yang harus pak Aryo ajarkan pada saya. Selamat malam, selamat beristirahat." Ucap mutiara saat dirinya akan masuk ke dalam rumah tanpa berbalik badan.


Mendengar apa yang diucapkan Mutiara membuat Aryo merasa damai dan bahagia. Walaupun bagi orang lain itu adalah kalimat sederhana tapi bagi Aryo apa yang diucapkan Mutiara membuat hatinya bahagia. Semoga saja tak lama lagi Mutiara bersedia memanggil Aryo ayah. Aryo menatap Mutiara sampai hilang dari pandangannya.

__ADS_1


" Maafkan aku, Dewi, telah menyia-nyiakanmu dan putri kita. Aku berjanji akan menjaganya dengan sangat baik. Aku akan menebus segala kesalahanku padanya." Aryo bemonolog sebelum akhirnya Masuk ke dalam rumahnya.


__ADS_2