Mutiara

Mutiara
Mantan Mertua


__ADS_3

Dua minggu sudah Mutiara tinggal di rumah Pram. Ia semakin akrab dengan kedua orang tua Pram. Ia sering membantu Rose saat sedang memasak di dapur. Ya memang banyak asisten rumah tangga di rumah Pram, tapi Rose kadang lebih suka turun tangan sendiri. Rose merasa senang sekali karna ia tahu ternyata Mutiara cukup piawai di dapur. Hari ini Mutiara membuktikannya dengan memasak beberapa hidangan untuk sarapan, kebetulan hari ini adalah hari minggu.


"Waaah, saya tak menyangka ternyata kamu pintar memasak." Ucap Rose berbinar-binar melihat masakan Mutiara. "Saya tak sabar untuk segera mencicipi makanan-makanan ini." Ujar Rose. Dan tentu saja hal itu membuat Mutiara bahagia atas pujian Rose.


"Dari mana kamu belajar memasak?" Tanya Rose lagi. "Hmmm,,, Pram dan papanya pasti suka ini." Rose mencicipi masakan Mutiara sembari menunggu jawaban dari pertanyaannya.


"Ibu saya, Nyonya." Jawab Mutiara. Wajahnya seketika berubah sendu saat mengingat mendiang ibunya.


"Hmm... ibu kamu pasti bangga memiliki seorang putri sepertimu." Rose memeluk Mutiara dengan penuh kasih sayang sembari menepuk-nepuk bahu Mutiara.


"Terima kasih, Nyonya. Saya merasa beruntung mengenal Nyonya, setidaknya saat ini saya merasa memiliki seorang ibu. Pelukan seperti ini membuat saya sangat bersyukur dan bahagia." Mutiara semakin mengeratkan pelukannya.


"Bagaimana kalau mulai sekarang kamu panggil saya mama?" Ucap Rose setelah melepas pelukannya pada Mutiara. Rose merasa ide ini cukup baik. Bagaimanapun jika memang Mutiara dan Pram berjodoh, Mutiara akan memjadi menantunya dan memanggilnya mama.


"Mama? Apa saya pantas mendapat kehormatan itu, Nyonya?"


"Tentu saja, kamu bisa menganggap saya ibu kamu. Bagaimana?" Mendengar ucapan Rose Mutiara kembali memeluk Rose dengan erat. Selama dua minggu di rumah ini, Mutiara merasa diperlakukan seperti keluarga sendiri. Terutama Rose, ia sangat baik. Rose selalu memperlakukan Mutiara dengan sangat baik. Walaupun memang sebelumnya mereka seperti mengawasi Mutiara tapi tak ada hal buruk yang terjadi pada Mutiara selama ia tinggal di rumah wanita paruh baya ini.


"Mutiara, tolong Panggil Pram ya, kita sarapan sama-sama." Ucap Rose saat semua makanan sudah terhidang di meja. Mutiara bergegas melepas celemek yang ia pakai kemudian segera pergi menuju kamar Pram.

__ADS_1


Beberapa kali Mutiara mengetuk kamar Pram tapi tak ada sahutan. Sepertinya Pram belum bangun. Pikir Mutiara. Mutiara berinisiatif membuka pintu kamar Pram. Ceklek! Ternyata pintu kamarnya tak di kunci. Dengan hati-hati Mutiara membuka pintu kamar Pram. Mutiara melihat ranjang Pram sudah kosong, berarti Pram sudah bangun. Dan sepertinya Pram ada di dalam kamar mandi. Mutiara tetap masuk, ia memandang sekeliling. Kamarnya sangat besar. Aroma khas Pram seperti yang biasa Mutiara hirup membuat Mutiara betah lama-lama di dalam kamar ini. Tapi Kamarnya gelap, sepertinya Pram tak suka kamar yang terang seperti dirinya. Mutiara tak akan bisa tidur jika kamarmya segelap ini. Ia akan menyalakan semua lampu agar ia bisa tidur dengan nyenyak. Mutiara berjalan ke arah jendela kamar Pram yang ditutup gorden berwarna abu-abu tua yang menutup salah satu sisi kamar Pram.


"Nah seharusnya seperti ini lebih baik. Aku bisa bernapas dengan bebas kalau ruangannya terang seperti ini. Ruangan gelap seperti tadi membuatku merasa tertekan." Ucap Mutiara bermonolog setelah membuka gorden di kamar Pram.


Dan disaat itu pula Pram keluar dari kamar mandi. Tubuhnya yang hanya di lilit handuk di bagian pinggang hingga lutut, terkejut melihat Mutiara tiba-tiba ada di kamarnya. Hampir saja handuk yang melilit di pinggang Pram jatuh untung dengan cepat ia memangang handuk itu. Jangan di tanya, Mutiara pun sama terkejutnya dengan Pram. Memang bukan pertama kalinya Mutiara melihat Pram bertelanjang dada, tapi untuk pertama kalinya Mutiara melihat tubuh Pram yang hanya di balut handuk. Sontak saja Mutiara menutup wajahnya dengan kedua tangannya walaupun ada celah sedikit di sela-sela jarinya hingga Mutiara tetap bisa melihat tubuh Pram. Tubuh tinggi proposional itu membuat Mutiara gemas.


"Astaga!! Mutiara? Kamu membuat saya terkejut. Apa yang kamu lakukan disini? Kenapa kamu membuka gorden kamar saya?" Pram mencerca Mutiara. Pram memang tak menyukai ruangan yang terang benderang di kamarnya. Hal itu membuatnya pusing. Sejak kematian Winda istrinya Pram terbiasa dengan ruangan yang gelap entah itu pada waktu siang atau malam hari. Dengan cepat Pram menutup kembali gorden di kamarnya sehingga kamarnya kembali gelap. Melihat hal itu tentu saja Mutiara bingung, siang seterang ini kenapa kamarnya di biarkan gelap seperti ini. Situasi seperti ini membuat Mutiara sesak di dalam kamar Pram.


"Saya tak terbiasa dengan kamar yang terang seperti tadi. Ada apa kamu ke kamar saya?" Tanya Pram lagi setelah menutup kembali gorden di kamarnya.


"Ah, maaf, Pak. Saya tidak tahu. Nyonya Rose meminta saya untuk memanggil pak Pram untuk sarapan bersama." Jawab Mutiara.


Astaga, kalau aku harus sekamar dengan Pram bisa mati kehabisan napas aku. Kebiasaannya aneh untung aku suka. Batin Mutiara. Kemudian Mutiara turun menuju ruang makan.


Saat sudah dekat dengan ruang makan, Mutiara mendengar suara asing yang tak ia kenal di rumah Pram sedang berbicara dengan Rose. Seorang wanita. Mungkin ada tamu, begitu yang di pikiran Mutiara. Tapi semakin lama di dengar percakapan itu malah seperti perdebatan. Entahlah, Mutiara tak ingin ikut campur dengan urusan keluarga ini. Bagaimana pun Mutiara belum menjadi bagian dari keluarga ini secara resmi. Ya walaupun Rose sudah memintanya untuk membuat Pram jatuh cinta padanya. Sedangkan Pram sendiri belum ada tanda-tanda menyukainya. Jadi Mutiara lebih memilih pergi ke kamarnya sampai tamu Rose pergi.


"Siapa dia?" Tanya tamu Rose saat melihat Mutiara. Hal itu tentu saja menghentikan langkah Mutiara.


"Gadis itu adalah calon istri Pram." Wanita itu terkejut mendengar penuturan Rose. Ia menatap tajam pada Rose.

__ADS_1


"Calon istri?" Wanita itu mencoba memastikan apa yang ia dengar tidak salah. Ekspresinya nampak tak suka setelah mendengar apa yang di sampaikan Rose. Wanita itu pun memandang tak suka padanya.


"Kamu tidak salah dengar Virda. Gadis ini adalah calon istri Pram." Rose mengulangi perkataannya.


"Jangan bercanda kamu. Winda belum lama meninggal dan sekarang Pram akan menikah lagi?" Wanita itu yang ternyata bernama Virda tersulut emosinya mendengar apa yang di ucapkan Rose.


"Keluarga Winda saja masih berduka atas kepergian Winda, bagaimana mungkin kalian sudah memikirkan tentang pernikahan lagi? Jangan gila kalian!" Virda meninggikan volume suaranya.


"Baru satu tahun Winda meninggal. Astagaaaa...." Virda berteriak.


Mutiara sebenarnya tak mengerti apa yang terjadi. Selain keterkejutaannya tentang pengakuan Rose yang memperkenalkan dirinya sebagai canton istri Pram, Mutiara bingung tentang siapa peprempuan ini. Apa hubungannya wanita ini dengan mendiang istri Pram."


" Dan kamu!" Virda menunjuk wajah Mutiara. "Berani sekali kamu mau menikah dengan suami anakku ,he?" Bentak Virda.


"Jeng Virda tolong berhentilah!!" Rose membentak Virda dengan suara tinggi.


"Kenapa harus berhenti, aku tak terima anakku di lupakan begitu saja." Virda menatap Rose sengit. Lagi-lagi mutiara hanya terbengong-bengong karena tak mengerti apa yang terjadi.


"Kami tak pernah melupakan Winda. Hanya saja Putraku juga butuh hidup dengan bahagia. Mencintai dan dicintai. Biarkan Pram hidup bahagia. Jangan terus-terusan membebani anakku atas kematian anakmu. Dan berhentilah merong-rong anakku dengan menggunakan putrimu sebagai alasan." Rose pun sudah tersulut emosinya.

__ADS_1


Ah, jadi Virda ini adalah ibu dari Winda? Batin Mutiara. Mengapa mereka harus bertengkar tentang Winda yang sudah meninggal? Mutiara sangat penasaran, banyak pertanyaan di kepalanya yang tak mungkin ia tanyakan pada orang-orang ini. Jadi ia hanya diam saja menonton pertunjukan gratis di depannya.


__ADS_2