Mutiara

Mutiara
Yang Dirindukan


__ADS_3

"Dasar wanita ******, aku akan membuatmu menyesal telah mempermalukanku di depan orang banyak." Gumam Virda setelah Mutiara sukses mempermalukannya.


"Mama yang mencoba mempermalukan Mutiara terlebih dahulu." Pram sudah melihat apa yang baru saja terjadi, ia datang sesaat setelah Mutiara telah memarkir mobilnya. Dari perjalanan bisnis di luar kota Pram langsung menuju ke kantornya. Saat akan menyusul Mutiara Pram melihat ibu mertuanya menarik tangan Mutiara. Pram memutuskan untuk melihat apa yang akan dilakukan Virda pada Mutiara.


"Seharusnya mama tidak melakukan hal itu, saya yang menginginkan Mutiara menjadi istri saya. Tidak seharusnya mama memperlakukan Mutiara seperti itu." Ucap Pram saat dirinya sudah berada di hadapan Virda.


Pram menyayangkan apa yang dilakukan ibu mertuanya itu, kenapa ia harus melakukan suatu hal yang pada akhirnya hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.


"Pra, Pram??" Virda terkejut melihat Pram.


"Saya mohon berhentilah bersikap seolah-olah Mutiara merebut saya dari Winda."


"Tapi kenyataannya seperti itu, wanita itu membuat kamu melupakan putri kesayangan mama. Mama tak bisa menerima hal itu." Virda mencoba mengeluarkan air mata buayanya. Ia ingin membuat Pram tak berpaling dari Winda dan juga tak berhenti memberinya uang untuk bersenang-senang.


Ya selama ini Virda memang hidup dari uang pemberian Pram. Kepergian Winda, putrinya, dimanfaatkan olah Virda untuk keuntungan pribadinya. Virda selalu meminta uang dengan jumlah yang tidak sedikit pada Pram. Ia selalu memanfaatkan cinta Pram yang begitu besar pada Winda untuk mengeruk harta milik Pram. Virda selalu mengatakan, 'mama sangat terpukul dengan kematian Winda, jadi bukankah sudah sepantasnya kamu memberikan mama banyak uang.'


Pram menyadari jika dirinya hanya dimanfaatkan oleh orang tua mendiang Winda tapi ia memilih diam. Pram pikir dengan selalu memberi apa yang virda inginkan dirinya bisa terlepas dari rasa bersalahnya pada orang tua Winda itu, pasalnya dirinya tak bisa menjaga Winda sehingga Winda harus kehilangan nyawanya. Walaupun dirinya sendiri sangat terpukul dan sangat kehilangan karna kepergian Winda. Dan kini Pram merasa Virda sudah sangat keterlaluan, untung saja Mutiara adalah gadis yang cerdas sehingga Pram tak perlu merasa khawatir karna Pram yakin Mutiara bisa menghadapi sikap Virda.


"Ma, saya tidak melupakan Winda tapi saya juga berhak melanjutkan kehidupan saya termasuk menikah dengan wanita lain."


"Wanita itu hanya menginginkan hartamu Pram. Dia tak sungguh-sungguh mencintaimu seperti Winda mencintaimu." Hasut Virda.


"Biar itu menjadi urusan saya, Ma."


Pram tak ingin melanjutkan perdebatan dengan mama mertuanya itu, tak ada gunanya, ia pun tak menghiraukan panggilan Virda. Pram tahu bagaimana tabiat wanita itu, ia sangat ambisius. Semenjak Winda menikah dengan Pram, Pram tahu Virda selalu merong-rong Winda, selalu meminta uang dalam jumlah yang tak sedikit sehingga Winda sering kali berbohong untuk menutupi keburukan ibunya. Virda adalah seorang wanita dari kalangan biasa dengan gaya hidup yang wah, apalagi setelah putrinya menikah dengan seorang pengusaha kaya raya, ia bergaul dengan wanita-wanita dari kalangan atas, membeli barang-barang mahal dan suka menyombongkan dirinya. Pram tahu semua akan hal itu, tapi Pram memilih diam karna bagaimanapun ia sangat mencintai Winda dan tak ada salahnya jika istrinya itu membahagiakan orang tuanya dengan harta yang dimilikinya. Hanya saja Pram sedikit kecewa karna ada kebohongan di dalamnya.

__ADS_1


****


"Maafkan atas apa yang sudah mama Virda lakukan padamu." Ucap Pram saat Mutiara di ruangannya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat terbangkalai karna harus mengerjakan semuanya sendiri saat Mutiara tak ada.


Mutiara menatap Pram sesaat setelah mendengar ucapan Pram lalu kembali mengalihkan pandangannya pada berkas-berkas di tangannya dan berkata, "saya tidak pernah peduli bagaimana orang menilai atau mencemooh saya."


Dingin. Pram menyadari sikap Mutiara yang dulu hangat kini berubah dingin padanya. Tak ada lagi obrolan-obrolan ringan yang ia lontarkan untuk mencairkan suasana seperti yang selalu Mutiara lakukan. Kini hanya hening, hanya suara-suara kertas yang dibolak-balik yang terdengar. Mutiara bicara hanya seperlunya saja atau pada saat Pram mengajaknya bicara. Pram merasa seperti ada yang hilang. Akan tetapi sesaat kemudian ia menepis apa yang ia rasakan dan mencoba untuk kembali fokus pada pekerjaannya. Sesekali ia memandang Mutiara yang sibuk dengan pekerjaannya dan seperti tak menganggap dirinya ada.


"Pak Pram sudah mendapat pengganti saya?" Tanya Mutiara saat mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang. Rose meminta Pram dan Mutiara pulang satu mobil saja, dan memerintahkan sopir mengambil mobil Mutiara di kantor.


"Ah itu, belum, belum ada yang sesuai dengan apa yang saya mau." Jawab Pram tetap fokus mengemudikan mobilnya.


"Seperti yang pak Aryo katakan saya hanya membantu pak Pram selama beberapa hari, jadi saya juga tak bisa terlalu lama menunggu."


Sesampainya di rumah, Rose menyambut kepulangan mereka. Ia memeluk Mutiara dan menggandeng tangan Mutiara mengajaknya masuk ke rumah. Mereka sampai di rumah saat matahari sudah terbenam sempurna, langit jingga sudah berubah gelap. Rose sudah menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Rose sengaja memasak sendiri hidangan-hidangan yang tersedia di atas meja makan. Kehadiran kembali Mutiara di rumahnya membuatnya sangat bahagia, seperti memiliki seorang anak perempuan yang sangat ia idam-idamkan.


"Langsung makan saja, mama sudah menyiapkan makanan kesukaan Mutiara." Ucap Rose begitu mereka sudah masuk ke rumah. Mutiara mengangguk sembari tersenyum pada Rose.


Pram melihat ekspresi yang berbeda saat Mutiara bersama Rose, Mutiara terlihat begitu bahagia, senyumnya selalu terpancar saat bersama Rose atau pun saat bersama Surya. Sangat bertolak belakang saat Mutiara bersamanya, Mutiara berubah dingin saat bersama Pram. Sebenarnya Pram tak tahu apa yang menjadi penyebab Mutiara berubah dingin padanya. Pram menebak perubahan itu terjadi setelah ia mengutarakan pernikahan kontrak dengan Mutiara.


"Mutia jadi tidak enak harus membuat mama repot seperti ini." Mutiara terharu Rose memasak makanan kesukaannya. Ya walaupun Mutiara tak pernah mengatakan apapun tapi sepertinya Rose mengamati apapun yang Mutiara lakukan, yang Mutiara suka atau tidak suka.


"Mama senang kamu menyukainya, Sayang." Ucap Rose sembari mengusap kepala Mutiara lembut. Mutiara langsung memeluk calon ibu mertuanya itu.


"Sudah lama Mutiara tak merasakan kasih sayang seorang ibu, seperti ini. Mutiara bahagia sekali." Mutiara menghapus air mata yang menetes di pipinya.

__ADS_1


"Mama juga bahagia sekali kamu hadir di kehidupan kami."


Rose dan Mutiara kembali berpelukan. Surya pun merasa terharu ia sangat tahu istrinya itu sangat ingin memiliki anak perempuan. Ia selalu bahagia saat tahu Pram akan menikah, dengan begitu Rose bisa merasakan memiliki seorang anak perempuan. Walaupun saat menikah dengan Winda, Rose harus kecewa karna Pram dan Winda tinggal terpisah dengan Rose. Saat itu Rose nampak selalu murung. Tapi kini Surya melihat kebahagiaan itu di wajah istrinya, ia pun merasakan kebahagiaan yang Rose rasakan.


Sedangkan Pram seperti orang asing di rumahnya sendiri. Orang tuanya hanya berbicara dan bersenda gurau dengan Mutiara. Mereka menganggap Pram seperti tidak ada. Dengan cepat Pram menghabiskan makanannya agar bisa segera pergi ke kamarnya.


"Pram ke kamar dulu mau istirahat." Pamit Pram.


Tapi tak ada yang menanggapi saat Pram pergi ke kamarnya. Mereka hanya berdehem saja. Kemudian kembali berbincang sambil menikmati makan malam yang bahagia. Pram menatap mereka dengan pandangan yang tak habis pikir, dialah putra di rumah ini tapi malah seperti orang asing yang tak dipedulikan di rumahnya sendiri.


"Berapa hari kamu akan tinggal di sini, Mutia?" Tanya Rose setelah mereka selesai makan.


"Seperti yang pak Aryo katakan Mutia disini hanya beberapa hari, Ma." Jawab Mutiara.


"Mama pasti akan sangat merindukanmu kalau kamu pulang." Rose sudah tahu tapi tetap saja mendengar ucapan Mutiara, ia merasa kecewa. "Mama harap setelah kamu menikah dengan Pram kamu bersedia tinggal bersama dengan kami."


Permintaan Rose ini tentu saja tak bisa di tolak oleh Mutiara, ia menganggukan kepalanya dengan mantap. Mutiara bersedia tinggal dengan Rose karna tentu saja ia sangat bahagia tinggal bersama Rose. Kasih sayang yang selama ini ia rindukan bisa ia dapatkan dari Rose.


Rose memeluk Mutiara erat sekali. Ia bersyukur Mutiara setuju untuk tinggal di rumahnya setelah Pram dan Mutiara menikah. Kini ia bisa memiliki seorang putri seperti yang selama ini ia dambakan. Walaupun tidak lahir dari rahimnya tapi Rose menyayangi Mutiara seperti putrinya sendiri.


"Hmmm, Mutia..." Rose nampak ragu mengatakan apa yang ada di pikirannya.


"Ada apa, Ma?"


"Bukankah kamu sudah memaafkan pak Aryo? Tapi kenapa kamu masih memanggilnya pak Aryo? Apakah selama di sana kamu diperlakukan dengan tidak baik?" Rose mencerca Mutiara dengan banyak pertanyaan.

__ADS_1


__ADS_2