
Tepat pukul sepuluh malam keluarga Pram meninggalkan rumah Aryo. Setelah mengantar keluarga Pram dan melepas rindu pada Rose, Mutiara langsung masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan apapun pada Aryo dan keluarganya. Mutiara tak ingin terlibat pembicaraan dengan mereka terkait lamaran ataupun rencana pernikahannya dengan Pram. Ia enggan untuk berbohong, hal itu seperti menambah beban di hatinya dan lebih meyakinkan dirinya tak ada cinta yang tulus dari seorang lelaki yang datang padanya.
Mutiara teringat saat acara makan malam tadi dengan keluarga Pram. Pram meminta ijin pada Aryo agar Mutiara kembali bekerja di kantornya dengan alasan ia sangat keteteran dengan pekerjaannya tanpa bantuan Mutiara. Mutiara berpikir untuk apa lagi dirinya bekerja sebagai sekretaris Pram kalau dirinya saat ini adalah pemilik restoran-restoran milik Aryo. Walaupun nantinya kedua anak Aryo akan mengambil hak mereka setidaknya saat ini Mutiara bisa menguasainya dan bisa memperkaya dirinya.
"Pram, Mutiara adalah calon istrimu, bagaimana mungkin kamu memintanya tetap menjadi sekretarismu di kantor?" Belum sempat Aryo menjawab permintaan Pram Rose menegur putranya itu. "Mama tidak setuju Pram, itu sangat tidak pantas." Ucap Rose lagi.
"Iya, Ma, Pram tahu itu. Hanya saja sebelum Pram mendapat pengganti Mutiara, Pram meminta ijin pada Pak Aryo untuk mengijinkan Mutiara bekerja sementara waktu sampai pram menemukan pengganti Mutiara." Pram menjelaskan.
"Tetap saja. Bagaimana mungkin calon istri seorang direktur masih tetap bekerja sebagai seorang sekretaris. Tidak! Mama tidak mengijinkan!" Kali ini Rose tak ingin dibantah.
Melihat perdebatan antara ibu dan anak itu, Aryo mencoba menengahi, "begini saja, saya mengijinkan Mutiara akan bekerja selama beberapa hari di kantormu, Nak Pram." Pram seperti memperoleh angin segar dari jawaban Aryo. Ia benar-benar keteteran tanpa bantuan Mutiara di kantor. Karna itu ia sering lembur sampai tengah malam.
"Tapi..." Aryo kembali berucap. "Hanya beberapa hari, karna saya juga ingin Mutiara segera menggantikan saya mengurus semua restoran saya. Saya sudah cukup lelah menangani semuanya sendiri. Adik-adik Mutiara masih belum mampu membantu saya. Jadi segeralah mencari pengganti Mutiara. Saya merasa waktu saya pun tak banyak, jadi saya juga tidak punya banyak waktu mengajari Mutiara kelak."
"Ayah kok ngomong gitu sih." Santi memotong ucapan Aryo. Ia tidak bisa menerima ucapan Aryo yang mengatakan dirinya tak punya cukup waktu. "Ayah sehat, ayah akan selalu bersama kami." Santi nampak berkaca-kaca. Santi memang tampak sangat mencintai Aryo. Mutiara pun sebenarnya melihat hal itu.
"Ayah sehat, Bu. Hanya saja umur kita siapa yang tahu. Selama ayah bisa ayah akan selalu bersama istri dan anak-anak ayah." Ucap Aryo sembari menggenggam tangan istri yang saat ini sangat ia kasihi itu. Santi pun meneteskan air mata dengan penuturan Aryo. Dalam hati ia berdoa agar suaminya itu selalu diberi umur panjang dan juga kesehatan agar bisa terus membersamai dirinya hingga mereka menua. Dan juga ia selalu mendoakan anak-anaknya selalu bahagia, saling mengasihi satu sama lain dan tak kekurangan satu apapun di kehidupan mereka tak terkecuali Mutiara. Santi pun menganggap Mutiara sebagai putrinya walaupun mereka baru beberapa waktu bertemu tapi ia selalu berusaha menyayangi dan mengasihi putri sambungnya itu.
Melihat Aryo dan Santi nampak rukun dan saling mengasihi seperti saat ini membuat Mutiara merasa tenang. Setidaknya Aryo sudah mendapatkan kasih sayang dari anak dan istri barunya. Dalam hati yang paling dalam dirinya menyayangi Aryo, hanya saja ia butuh waktu untuk bisa menunjukkan perasaannya pada ayahnya itu.
"Baiklah pak Aryo saya akan segera mencari pengganti Mutiara." Pram mau tidak mau akhirnya harus mengalah, bagaimanapun memang tak ada yang membantu Aryo di usianya yang sudah senja itu.
__ADS_1
"Baguslah." Ujar Aryo.
Untung saja Aryo menolak permintaan Pram, hanya beberapa hari Mutiara menjadi sekretaris Pram. Mutiara akan membuat orang-orang yang sering merendahkan dan mengejeknya akan malu melihat Mutiara yang sekarang. Calon istri seorang direktur dan juga putri pengusaha yang kaya raya. Mutiara akan membungkam mulut-mulut orang yang merendahkannya.
*****
Sesuai permintaan Pram, hari ini Mutiara kembali bekerja sebagai seketaris Pram. Sehari sebelumnya sopir Pram menjemput Mutiara dari kediaman Aryo. Rose menyambut kedatangan Mutiara dengan sambutan yang hangat. Rose sangat merindukan calon menantunya itu. Begitupun dengan Mutiara ia pun sangat merindukan calon mertuanya. Kasih sayang yang Mutiara terima dari Rose membuat hatinya yang beku menjadi hangat. Mereka baru saja bertemu hanya hitungan minggu mereka tinggal bersama tapi kasih sayang yang ditunjukkan Rose sama seperti kasih sayang seorang ibu kepada putrinya.
Sejak dulu, Rose ingin sekali memiliki seorang anak perempuan, hanya saja karena sebuah penyakit yang mengharuskan diangkatnya rahim miliknya membuat Rose tak bisa memiliki anak lagi. Pun tak terpikirkan untuk mengadopsi seorang anak. Saat Pram menikah pun ia sangat bahagia karna dirinya bisa memiliki seorang putri walaupun tak ia lahirkan dari rahimnya. Rose menganggap Winda juga sebagai putrinya sendiri. Sayangnya kebahagiaan itu tak berlangsung lama, ia harus kehilangan Winda karna kecelakaan yang menimpa Putranya dan Winda. Terpukul, tentu saja. Hanya saja Rose merasa geram dengan sikap Virda, ibu Winda, yang seakan-akan memanfaatkan kematian putrinya untuk merong-rong Pram. Rose benar-benar tak habis pikir Virda bisa memanfaatkan kematian putrinya demi uang. Ibu macam apa dia.
Kemudian setelah bertemu dengan Mutiara dan mendengar kisah hidup Mutiara Rose menjadi simpatik pada Mutiara. Hal itu membuat Rose ingin mengasihi Mutiara seperti putrinya sendiri. Gadis muda sebatang kara, harus mengalami kisah hidup yang pahit diusianya yang masih sangat muda. Karna itu Rose berpikir untuk membuat Pram dan Mutiara menikah. Walaupun awalnya Mutiara sempat berpikir jika Rose akan berniat buruk padanya tapi pada akhirnya Mutiara bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari Rose.
"Mutia juga, Ma."
"Mama nggak sabar, kamu menikah dengan Pram biar kamu bisa tinggal disini lagi seperti waktu itu." Rose menggandeng tangan Mutiara, Rose mengajak Mutiara masuk karna ia sudah memasak makanan istimewa untuk Mutiara. Mutiara sendiri merasa sangat bahagia dengan sikap Rose yang terlihat tulus menyayanginya.
Saat itu Pram sedang tak berada di rumah karna dirinya harus melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Hanya ada Rose dan Surya yang menyambutnya. Sebenarnya Mutiara merasa bersyukur dengan pernikahan kontrak ini, memiliki kasih sayang dari kedua orang tua Pram merupakan hal yang membahagiakan sekali baginya. Termasuk pertemuannya dengan Aryo, patut ia syukuri karna pertemuan itu membuat Mutiara bisa memiliki apa yang dari dulu ia inginkan, yaitu harta dan kekayaan.
****
Semua mata memandang Mutiara saat ia mulai masuk area kantor, tentu saja Mutiara mengetahui hal itu tapi ia memilih berpura-pura tidak tahu. Mutiara menatap lurus ke depan tanpa peduli pada tatapan teman-teman di kantornya. Tiba-tiba dari belakang seseorang menarik tangan Mutiara. Tubuh Mutiara terhuyung ke belakang.
__ADS_1
Plak!!!
"Dasar wanita tidak tahu malu!" Maki seorang wanita pada Mutiara yang ternyata adalah ibu mertua Pram. "Bagaimana bisa kamu berani menggoda bosmu sendiri? Tak ada laki-laki lain kah selain menantuku, Pram???"
Mutiara tak membalas makian Virda, pipinya masih terasa nyeri karna tamparan Virda. Kalau Mutiara mau, bisa saja dirinya membalas makian Virda. Akan tetapi Mutiara merasa hanya akan membuang-buang tenaganya. Menghadapi wanita seperti Virda tentu saja Mutiara harus bertindak cerdas dan berkelas. Mutiara bukan lagi wanita yang biasa yang bisa diremehkan.
"Lihat siapa kamu, kamu tak pantas bersanding dengan Pram. Jangan pikir aku akan diam saja melihatmu bahagia menikah dengan Pram." Makian-makian Virda masih berlanjut. "Aku yakin bukan karna cinta kamu menikah dengan Pram, kamu hanya mengincar hartanya. Tak akan ku biarkan kamu bisa menikmati harta Pram!!!" Virda sengaja mengeraskan suaranya agar orang-orang mendengar apa yang ia ucapkan. Tapi lagi-lagi Mutiara tak bereaksi pada ucapan-ucapan kasar yang di lontarkan Virda padanya, karna ada benarnya apa yang diucapkan Virda padanya. Pernikahannya dengan Pram bukanlah pernikahan yang didasarkan pada cinta. Sama sekali tak ada cinta.
"Seharusnya kamu berkaca, atau kamu tak punya kaca, hah? Sebagai wanita seharusnya kamu malu! Berani-beraninya kamu menggoda menantuku, hanya karena harta, dasar wanita murahan!!" Virda masih terus saja mengoceh.
"Saya rasa tidak ada salahnya saya menggoda laki-laki yang statusnya tak memiliki istri." Akhirnya Mutiara angkat bicara.
"Kalaupun memang saya menikah dengan pak Pram karena harta, apa urusannya dengan anda?" Mutiara berusaha setenang mungkin menghadapi Virda walaupun ingin sekali dirinya menjambak rambut ataupun mencakar wajah wanita tua dihadapannya itu.
"Tentu saja hal itu tak akan aku biarkan, enak saja kamu mau menikmati harta yang seharusnya dinikmati anakku!"
Mendengar ucapan Virda, Mutiara tertawa kecil, "yang seharusnya anak anda nikmati atau...anda takut tak bisa lagi menikmati harta pak Pram?" Apa yang disampaikan Mutiara membuat Virda tak berkutik.
"Jangan pikir saya tidak tahu jika selama ini anda merong-rong harta kekayaan pak Pram dengan menjadikan putri anda yang sudah meninggal sebagai alasan. Yang seharusnya berkaca itu anda, bukan saya." Mutiara menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. Ia meninggalkan Virda dengan kemenangan telak. Wajah Virda nampak merah padam mendengar ucapan Mutiara.
"Ah..." Mutiara menolehkan kepalanya menatap tajam Virda, "tak akan saya biarkan anda melakukan hal yang sama setelah saya menjadi istri Pram." Mutiara berlalu tanpa peduli lagi dengan tatapan-tatapan yang mengarah padanya. Pun ia tak peduli dengan Virda yang terlihat sangat marah dengan ucapannya dan sama sekali tak berkutik. Mutiara tahu tujuan Virda adalah untuk mempermalukannya, tapi bukan Mutiara namanya kalau tak bisa membalikan keadaan.
__ADS_1