Mutiara

Mutiara
Mencoba Berdamai dengan Masa Lalu


__ADS_3

"Jangan seperti ini! Berdirilah. Kau membuatku tampak seperti anak yang buruk yang membiarkan laki-laki yang berperan dalam adanya diriku di dunia ini berlutut seperti ini." Mutiara mengucapkan dengan masih terisak. Sejujurnya Mutiara merasa Aryo tulus meminta maaf padanya. Terlihat penyesalan yang dalam di matanya. Tatapan dan air mata Aryo menggambarkan penyesalan itu. Walaupun saat ini Mutiara belum sepenuhnya bisa memaafkan Aryo, Mutiara masih belum bisa memanggilnya ayah. Tapi mengingat pesan dari ibunya melalui mimpi membuatnya harus memaafkan Aryo. Perlahan mungkin Mutiara akan bisa memanggil Ayah pada Aryo.


"Pak Aryo ku mohon berdirilah. Ibu memintaku memaafkanmu, jadi sekarang akan aku coba untuk memaafkanmu." Mutiara mengalihkan pandangannya saat mengatakan hal itu pada Aryo. Mutiara masih enggan mengakui dirinya pun sangat merindukan Aryo.


Mendengar ucapan putrinya itu, Aryo segera menghapus air matanya dan segera berdiri sesuai permintaan Mutiara. Walaupun ada sedikit rasa kecewa karna Mutiara tak memanggilnya ayah, dalam hati Aryo mengatakan tak mengapa yang penting saat ini putri yang dirindukannya itu telah memaafkannya. Perlahan Aryo akan berusaha membuat putrinya itu memanggilnya ayah. Hanya butuh sedikit waktu. Aryo hanya perlu memberikan setiap kasih sayang yang hilang untuk Mutiara, ia akan menebus setiap penderitaan yang dirasakan Mutiara selama ini. Saat Aryo hendak memeluk Mutiara, Mutiara menghindari Aryo. Sorot mata Mutiara mengatakan, tidak, tidak untuk saat ini. Dan Aryo berusaha memaklumi hal itu. Ya perlahan-lahan Mutiara akan bisa menerimanya sebagai ayah.


"Setidaknya bolehkah ayah menggenggam tanganmu, Nak?" Tanya Aryo setelah Mutiara menolak dipeluk olehnya. Mutiara tampak berpikir mendengar permintaan Aryo. Namun akhirnya Mutiara mengangguk mengijinkan.


"Terima kasih, Mutia. Terima kasih karna sudah memaafkan ayah. Ayah sangat bahagia." Ucap Aryo sembari menggenggam erat kedua tangan Mutiara. Air mata keduanya kembali bercucuran. Tak ada kata yang keluar dari mulut Mutiara, hanya air matanya yang terus lolos dari pelupuk matanya.


"Sebaiknya kita tinggalkan mereka berdua. Mereka pasti butuh privasi untuk mengungkapkan banyak hal setelah sekian lama tak bertemu." Ucap Rose yang sejak tadi merasa terharu melihat hubungan ayah dan anak ini telah mencair. Rose pun merasa ikut bahagia. Setelah mendengar apa yang dikatakan Rose, Pram dan Surya pun meninggalkan Mutiara dan Aryo. Melihat ada orang lain mungkin mereka jadi tidak bebas saling mengungkapkan isi hati.


"Setelah tiga tahun ayah meninggalkan kamu dan ibumu, ayah kembali ke rumah untuk mencari kalian." Ucap Aryo saat mereka sudah duduk saling berseberangan di ruang keluarga Pram. "Tapi ayah tak menemukan kalian, rumah yang dulu kita tempati ternyata sudah di jual. Bertahun-tahun ayah mencari keberadaan kalian, tapi nihil kalian seperti hilang di telan bumi. Ayah sempat putus asa. Ayah mengerahkan semua anak buah ayah untuk mencarimu, sampai akhirnya kita bertemu di restoran milik ayah. Ayah merasa sangat lega saat itu. Setidaknya ayah tahu kamu baik-baik saja walaupun kamu tak mengakui keberadaan ayah. Ayah bisa memahami itu."

__ADS_1


"Benarkah pak Aryo mencari saya dan ibu?" Tanya Mutiara. Lagi-lagi saat mendengar Mutiara hanya memanggil namanya hatinya terasa nyeri. Aryo menghembuskan napas pelan untuk mengurangi kekecewaannya. Mutiara hanya butuh waktu untuk terbiasa memanggilnya ayah.


Aryo menggangguk penuh keyakinan sebagai jawaban dari pertanyaan Mutiara. "Iya, saat itu ayah sukses dengan bisnis restoran ayah. Ayah ingin mengajak kalian pindah ke rumah baru saat itu."


Aryo ingat sekali saat itu, saat ia sukses dengan restoran ikan bakarnya ia kembali pulang untuk menjemput Mutiara dan ibunya. Tapi sayang mereka tak berada di rumah itu. Yang lebih mengejutkan lagi rumah warisan dari orang tua Aryo telah di jual. Aryo masih belum ingin menanyakan perihal rumah itu kenapa harus di jual. Ia tak ingin hubungan dengan Mutiara yang telah mencair menjadi buruk lagi hanya karena rumah warisan itu.


"Tapi anda kini sudah memiliki keluarga baru dan nampak sangat bahagia. Sepertinya nampak lucu kalau anda mencari saya dan ibu saya. Saya paham bagaimana sangat tidak pentingnya kami bagi pak Aryo. Sejak saya kecil, anda hanya menyakiti ibu saya dengan berselingkuh dengan banyak perempuan." Sarkas Mutiara.


"Ayah minta maaf telah membuat kalian menderita. Ayah sangat menyesal terutama pada ibumu, ayah belum sempat meminta maaf." Ucap Aryo menunduk. Air matanya menetes menyesali perbuatannya.


"Mereka juga menantikan kedatanganmu." Ucap Aryo. "Mendengar kamu akan menikah mereka sangat bahagia dan tak sabar bertemu denganmu." Imbuhnya, Aryo tampak antusias membicarakan keluarga barunya yang turut bahagia dengan kabar gembira menikahnya Mutiara.


"Haha, untuk apa mereka menantikan saya? Saya tak ada hubungan apapun dengan mereka." Mutiara memang sudah memaafkana ayahnya sesuai permintaan ibunya tapi ia belum bisa menerima keluarga baru Aryo, ayahnya.

__ADS_1


"Istri ayah juga turut mencari dimana keberadaanmu, Mutia." Aryo mencoba menjelaskan pada Mutiara. "Dulu Santi adalah asisten ayah saat ayah merintis restoran ikan bakar. Saat ayah pergi mencarimu, Santi yang mengurus restoran. Kadangkala ia juga mencari informasi tentang dirimu. Dia tahu bagaimana ayah sangat menyesal telah meninggalkan kalian dan betapa ayah sangat merindukan kamu, Mutia. Santi adalah wanita yang baik, dan bisa menjadi ibu yang baik pula untukmu."


"Bagaimana mungkin anda ingin saya menggantikan posisi ibu dengan orang lain?" Sarkas Mutiara.


"Tidak bukan begitu, Mutia. Ayah tidak memaksamu menerima Santi sebagai ibumu. Ayah hanya ingin kamu tahu, mereka, Santi dan kedua adikmu, Bintang dan Tiara akan menerimamu dengan tangan terbuka. Kamu akan tahu setelah bertemu dengan mereka bahwa mereka sangat menantikan kehadiranmu. Dan ayah mohon tinggalah bersama kami sebelum pernikahanmu dan nak Pram di gelar." Aryo ingin berkumpul lagi dengan Mutiara. Ia ingin menghabiskan sedikit waktu yang tersisa untuk bisa menebus kesalahannya di masa lalu. Walaupun mungkin hal itu tak mungkin menghapus luka di hati Mutiara.


"Tentang rumah yang di jual, saya yang menjualnya. Saya tak ingin hidup dengan mengenang masa lalu yang buruk, kalau anda ingin tahu. Saya juga butuh biaya untuk hidup." Mutiara tak merespon ajakan Aryo untuk tinggal di rumah Aryo. Bukan tak ingin, hanya saja melihat ayahnya bahagia dengan keluarga barunya, Mutiara takut tak bisa menerimanya.


"Tidak apa-apa, Mutia, ayah mengerti. Semuanya terjadi karna kesalahan ayah." Semenderita itu kamu, Nak. Batin Aryo. Ia sangat sedih mendengar hal itu dari Mutiara.


"Dan ayah mohon pertimbangkan permintaan ayah untuk tinggal bersama kami sebelum kamu menikah." Ucap Aryo lagi. "Ayah ingin menghabiskan waktu bersamamu dan menebus semua penderitaanmu selama ini, Mutia." Tatapan Aryo penuh harapan Mutiara bersedia menyetujui permintaannya. Mutiara diam, ia nampak sedang berpikir. Haruskan ia tinggal dengan ayahnya dan keluarga baru ayahnya? Selama bertahun-tahun Mutiara bersusah payah melupakan masa lalu dan menutup luka di hatinya. Apakah ia sanggup bila luka itu terbuka kembali dan kembali tersakiti? Benarkan keluarga barunya sebaik itu yang katanya menantikan kehadirannya? Benarkah seperti itu?


"Baiklah, ayah tidak akan memaksamu, kamu bisa menolak permintaan ayah yang konyol ini." Melihat Mutiara diam saja, Aryo menganggap sebagai bentuk penolakan untuk permintaannya.

__ADS_1


"Bisakah anda menebus penderitaan saya di masa lalu? Apa yang akan anda lakukan untuk menebusnya?" Tanya Mutiara.


__ADS_2