Mutiara

Mutiara
Keluarga Baru


__ADS_3

Setelah permintaan Aryo disetujui oleh keluarga Pram, Aryo berpamitan karna malam sudah semakin larut. Sebenarnya Rose meminta mereka untuk kembali besok pagi saja tapi Aryo menolak karna besok pagi ia ada pertemuan penting karna akan membuka cabang restoran lagi di luar kota.


"Hati-hati, Sayang. Mama akan sangat merindukanmu." Rose memeluk mutiara saat Mutiara berpamitan.


"Mutiara juga akan sangat merindukan mama." Mutiara baru saja merasakan kasih sayang seorang ibu, tapi kini ia harus berpisah sementara waktu dengan Rose. Ia pasti juga akan merindukan calon ibu mertuanya itu.


Dalam perjalanan Mutiara hanya diam saja. Ia duduk disebelah Aryo sedangkan mobil dikendarai oleh sopir pribadi Aryo dan satu pengawal yang duduk di samping kursi pengemudi. Masih ada kecanggungan diantara keduanya, sekian lama mereka tak bertemu apalagi duduk sedekat ini, baik Mutiara maupun Aryo tak tahu harus membicarakan apa.


"Besok ayah ada pertemuan penting mengenai pembukaan cabang baru restoran ayah, kamu mau ikut?" Tanya Aryo memecah keheningan.


"Besok saya harus bekerja." Jawab Mutiara singkat.


Aryo tersenyum lalu menatap Mutiara yang menatap lurus ke depan tanpa menoleh pada Aryo.


"Ayah sudah meminta Pram untuk memberimu cuti selama kamu bersama ayah." Ucap Aryo. "Kamu calon istri seorang direktur, apa perlu masih harus bekerja?"


"Saya ingin terus berkerja." Jawab Mutiara, lagi-lagi tanpa menoleh pada Aryo.


"Saya tahu, karna itu setelah menikah kamu bisa mengambil alih restoranmu. Bukankah lebih baik kamu juga mengurus bisnismu sendiri?" Papar Aryo. "Ada orang kepercayaan ayah yang akan membantumu, kamu bisa menghandle restoran dari rumah, sesekali kamu harus mengecek langsung tentunya. Jadi kamu juga bisa tetap mengurus keluargamu dengan baik."


"Ayah pun ingin setelah menikah kamu tetap mandiri secara finansial. Kemungkinan-kemungkinan buruk dalam pernikahan bisa saja terjadi. Ayah hanya ingin kamu tidak bergantung pada suamimu walaupun dia dari keluarga kaya. Ayah ingin menjamin kamu bisa hidup dengan sangat layak. Ayah juga akan memantaumu dari jauh."

__ADS_1


Mutiara terharu, ternyata Aryo memikirkan masa depannya. Benar kata ibu Mutiara, seburuk apapun seorang laki-laki ia akan tetap menyayangi putrinya. Begitulah yang dirasakan Mutiara pada Aryo saat ini. Aryo menginginkan yang terbaik untuknya. Dan tentunya memberikan yang terbaik untuknya.


Mandiri secara finansial memang sangat diperlukan seorang wanita meskipun ia menjadi istri seorang konglomerat sekalipun. Karna apa yang akan terjadi dalam pernikahan tidak akan ada yang pernah tahu. Setidaknya jika hal buruk terjadi seorang wanita akan mampu berdiri tegak menghadapinya. Mutiara harus berkaca dari ibunya. Hidupnya harus menderita sejak Aryo meninggalkan mereka dalam kemiskinan. Tanpa tumpuan hidup dan tanpa materi.


"Bagaimana besok kamu mau ikut?" Tanya Aryo lagi.


"Baiklah, saya akan ikut." Jawab Mutiara akhirnya menyetujui.


"Ayah yakin kamu nantinya bisa sukses mengembangkan bisnis ayah." Aryo sangat bersemangat setelah Mutiara menyetujui ajakan Aryo.


Saat mobil Aryo masuk di halaman rumahnya, terlihat seorang wanita dan dua orang remaja laki-laki dan perempuan sedang berdiri di teras rumah Pram. Mereka adalah istri dan anak-anak Aryo. Mereka tampak antusias saat melihat mobil Aryo masuk di halaman rumah.


Rumah Aryo sangat besar tak kalah besar dari rumah Pram. Ternyata Mutiara merupakan putri dari seorang pengusaha kaya raya. Orang-orang yang selama ini meremehkannya pasti akan terkejut melihat siapa sebenarnya Mutiara. Dari dulu Mutiara meyakini, bergelimang harta akan membuat orang-orang menghormatinya. Tak akan ada yang berani mencibirnya. Dengan uang bisa membuat orang lain mengaku saudara. Sebaliknya jika tak punya uang, saudarapun tak akan mau mengakui kita sebagai saudara. Begitulah kenyataannya.


"Tiara pengen ketemu kak Mutia, Yah. Kenapa lama sekali?" Tanya Tiara putri bungsu Aryo.


"Aku sudah menyuruh mereka tidur, tapi mereka tidak sabar ingin bertemu dengan Mutia." Ucap Santi, istri Aryo.


Aryo sangat senang mendengarnya. Bersyukur memiliki mereka yang mau menerima Mutiara. Ia akan merasa sangat tenang karna ada keluarganya yang juga menyayangi Mutiara.


"Kak Mutia!!" Tiara langsung menghampiri Mutiara dan langsung memeluknya saat melihat Mutiara keluar dari mobil. Tentu saja pelukan yang tiba-tiba itu mengejutkan Mutiara. Dengan cepat Mutiara melepaskan pelukan Tiara. Mutiara merasa tak nyaman tiba-tiba dipeluk orang asing. Walaupun Tiara adalah adiknya tetap saja bagi Mutiara keluarga baru Aryo adalah orang asing.

__ADS_1


"Maaf kalau membuat kakak terkejut tapi aku seneng banget ketemu, Kakak." Tiara tampak sangat bahagia bertemu dengan Mutiara.


"Selamat datang, Mutia. Semoga kamu betah ya tinggal disini." Santi menyapa Mutiara. Ia tersenyum sangat ramah pada Mutiara. Tapi Mutiara mengabaikan Santi, ia hanya melihatnya sekilas. Mutiara tahu wanita itu adalah Santi, istri Aryo. Mutiara ingat betul wajah istri Aryo saat mereka bertemu di restoran kala itu.


"Aku sangat lelah, tunjukkan saja dimana kamarku." Ucap Mutiara ketus tanpa basa basi. Melihat sikap Mutiara, Aryo hanya diam tapi tangannya menggenggam tangan Santi. Tatapannya mengisyaratkan untuk memahami Mutiara saat ini. Santi memberi jawaban dengan senyum yang sangat meneduhkan bagi Aryo. Aryo bersyukur memiliki istri sebaik Santi.


Dengan antusias Tiara mengantar Mutiara ke kamarnya. Mutiara melewati Santi tanpa menyapanya. Dan Tiara tak peduli bagaimana sikap Mutiara padanya, mendengar ia memiliki seorang kakak perempuan saja sudah membuatnya sangat bahagia. Aryo sering menceritakan tentang Mutiara pada Tiara, karna itu walapun Tiara tak pernah bertemu dengan Mutiara tapi Tiara sudah merasa dekat dengan kakaknya itu.


Sebaliknya Mutiara sangat risih dengan Tiara yang sok kenal dan sok dekat padanya. Adik tiri baginya seperti orang lain. Mutiara tak menyukainya. Mereka hidup bahagia bergelimang harta selama ini, sedangkan Mutiara harus menderita. Mutiara tak menyukai keluarga baru Aryo


"Ini kamar kakak." Ucap Tiara saat mereka sudah berada di depan pintu kamar Mutiara. Kemudian Tiara membukakan pintu untuk Mutiara. "Aku sendiri loh kak yang membersihkan dan merapikan kamar kakak, semoga kakak betah ya tinggal disini. Aku seneng banget ternyata aku punya seorang kakak perempuan." Ocehan Tiara membuat Mutiara sakit kepala. Mutiara tak terbiasa dengan orang-orang yang terlalu banyak bicara seperti Tiara.


"Aku ngantuk, kamu bisa keluar nggak?" Mutiara tak tahan lagi akhirnya ia mengusir Tiara dari kamarnya.


Walaupun nampak terkejut dengan sikap kakaknya itu, tapi Tiara mencoba memahami mungkin Mutiara sedang lelah karna itu Mutiara bersikap seperti itu padanya.


"Baiklah, selamat istirahat kak Mutia." Tiara tersenyum sangat manis pada Mutiara. Tapi Mutiara menatapnya datar.


"Anak itu seharusnya tak terlalu bersikap berlebihan padaku. Membuat orang tak nyaman saja." Ucap Mutiara bermonolog setelah melihat Tiara keluar dari kamarnya. Mutiara menganggap keluarga baru ayahnya adalah orang lain. Mereka yang merebut ayahnya darinya jadi tak perlu bersikap baik pada mereka.


Mutiara merebahkan tubuhnya di ranjang yang sangat nyaman dan besar di kamarnya. Kamar ini sangat luas sama seperti kamarnya di rumah Pram. Hanya saja kenapa kamarnya harus bernuansa pink seperti ini? Pikir Mutiara. Mutiara memang tak menyukai warna itu. Warna yang membuatnya terlihat lemah. Mutiara tak suka terlihat lemah.

__ADS_1


"Anak itu, seenaknya sendiri menata kamarku seperti ini." Mutiara kembali bermonolog. " Biarlah malam ini aku istirahat saja, besok aku akan meminta asisten rumah tangga disini untuk membuang semua barang-barang berwarna pink ini."


__ADS_2