
Hari ini adalah hari terakhir Mutiara bekerja di kantor Pram sebagai sekretaris. Pram tak merekrut orang baru untuk menjadi sekretarisnya, ia memilih menunjuk salah satu karyawan yang sudah bekerja lama di kantornya agar tak perlu lagi beradaptasi. Pram tak ingin membuang-buang waktu. Atas rekomendasi Mutiara akhirnya Pram menunjuk Shireen sebagai sekretarisnya. Memang Shiren tak menyukai Mutiara dan sering menghina Mutiara tapi kinerja Shiren sangat bagus selama bekerja di perusahaan milik Pram jadi Mutiara tetap merekomendasikan Shiren untuk menggantikan dirinya.
Shiren terlihat sangat senang saat tahu dirinya dimutasi sebagai sekretaris Pram. Kesempatan yang bagus untuk karirnya dan ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depan mata Shiren langsung menyetujuinya. Pram memerintahkan manager HRD untuk mencari pengganti Shireen.
Mutiara menunjukkan apa-apa yang harus Shiren lakukan saat menjadi sekretaris Pram. Mutiara sudah mencatat hal-hal penting yang harus Shiren lakukan untuk membantu Shiren mempermudah pekerjaannya. Dengan cepat Shiren mengerti dengan penjelasan yang diberikan Mutiara. Satu hari ini, Mutiara dan Shiren akan bekerja di dalam satu ruangan.
"Kamu harus menghafal semua yang aku katakan padamu, dan juga di catatan yang ku berikan padamu." Ucap Mutiara setelah selesai menjelaskan jobdesk Shiren sebagai Sekretaris baru Pram.
"Baiklah, aku mengerti." Jawab Shiren. Mutiara tak salah pilih, Shiren memang salah satu karyawan dengan kinerja yang sangat baik pasti dirinya akan mampu dengan cepat beradaptasi dengan cara kerja Pram.
Pram memberi memberikan tugas pertama untuk Shiren untuk menyiapkan berkas-berkas yang yang diperlukan untuk meeting nanti siang dengan klien serta membuat proposal proyek selanjutnya. Dengan cepat Shiren melakukan apa yang diperintahkan bosnya itu. Mutiara tersenyum puas melihat cara kerja Shiren yang cekatan, ia yakin Pram pasti menyukai cara kerja Shiren.
"Kamu nanti ikut meeting kan, Ra?" Tanya Shiren pada Mutiara setelah dirinya selesai mengerjakan apa yang diperintahkan Pram.
"Sepertinya tidak." Jawab Mutiara singkat.
"Kenapa?"
"Sekarang kamu sekretaris pak Pram, kamu yang akan mendampinginya saat meeting di luar." Jawab Mutiara tanpa melihat ke arah Shiren, ia sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Iya iya calon nyonya Direktur."
__ADS_1
Sebenarnya Shiren berharap Mutiara bisa ikut meeting nanti siang, bukannya Shiren takut hanya saja ini adalah meeting pertamanya dengan sang bos, ia hanya gugup. Tapi setelah mendengar ucapan Mutiara memang sebaiknya ia berusaha sendiri. Lagi pula menjadi sekretaris bos adalah pencapaian yang bagus selama karirnya selama ini. Shiren hanya perlu melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin.
"Oh ya, Ra, gimana ceritanya kamu dan pak Pram akan menikah?" Tanya Shiren penasaran dan ia yakin karyawan yang lain juga begitu. Walapun dalam benak Shiren menebak karna kebersamaan mereka selama ini, mengingat setiap hari mereka bertemu dan lagi Mutiara memang wanita yang sangat cantik jadi bukan tak mungkin Pram tak jatuh hati padanya.
Mendengar pertanyaan Shiren, Mutiara tak langsung menjawab. Ia menghela nafas pelan. Mutiara menebak, pasti semua karyawan di kantor ini mengira dirinya menggoda bos mereka. Sebenarnya tebakan mereka tak salah, Mutiara memang sempat menggoda Pram. Hanya saja sekarang keinginan itu tiba-tiba hilang setelah Pram mengutarakan keinginannya untuk melakukan pernikahan kontrak dengannya. Mutiara merasa kecewa, tapi entah kenapa ia tak berniat menolak pernikahan kontrak itu walaupun dirinya tak merasa bahagia. Uang yang ditawarkan Pram kah yang menjadi alasan? Entahlah. Yang pasti Mutiara tak ingin kehilangan kasih sayang seorang ibu dari Rose, ibu Pram.
Tak mungkin pula Mutiara mengatakan pada orang lain jika pernikahan itu bukanlah pernikahan yang sesungguhnya, pernikahan palsu, pernikahan kontrak. Itu hanya akan membuat dirinya dipojokkan lagi dan lagi. Ia hanya mengincar harta Pram, walaupun awalnya iya tapi saat ini dirinya mewarisi kerajaan restoran yang di bangun Aryo, ayahnya. Tapi orang-orang itu hanya akan memandang rendah dirinya jika mereka tahu yang sebenarnya. Ah, sejak kapan kamu memperdulikan hal seperti itu, Mutiara?
"Kenapa kamu ingin tahu? Mau kamu jadikan bahan gosip lagi di kantor ini?" Ucapan Mutiara menyentil Shiren yang selalu menjadikan Mutiara sebagai bahan gosip di kantor.
"Bu—bukan begitu." Shiren tergagap, memang benar yang dikatakan Mutiara.
"Ya, semua rekan-rekan kerja kita juga pasti penasaran dengan cerita yang sebenarnya." Shiren mencari alasan. Dirinyalah yang sebenarnya penasaran.
"Sudahlah, itu urusan pribadiku aku tak perlu membuat laporan apapun padamu, kan. " Ucap Mutiara ketus. "Kerjakan saja pekerjaanmu dengan baik."
Shiren mencebik saat mendengar ucapan Mutiara. Mutiara meninggalkan Shiren di ruangan seorang diri sedangkan dirinya pergi ke ruangan Pram. Tak Mutiara pedulikan bagaimana pandangan Shiren. Yang pasti kini Mutiara menang telak dari Shiren, Shiren tak akan mungkin berani merendahkannya atau karirnya yang menjadi taruhannya. Walaupun Mutiara sebenarnya tak berniat melakukan hal sepicik itu hanya saja dengan menjadi calon istri Pram membuat Shiren tak bisa lagi menghina dirinya dan tentu saja Shiren tak akan berani melakukan hal itu.
Tok tok tok
Mutiara masuk ke ruangan Pram setelah Pram mempersilahkannya masuk.
__ADS_1
"Tugas saya sudah selesai hari ini, saya sudah menjelaskan semua jobdesk Shiren sebagai sekretaris, Bapak." Ucap Mutiara dengan ekspresi dingin. "Saya akan pulang sekarang."
Mendengar ucapan Mutiara, Pram menghentikan pekerjaannya, ia menutup laptop yang ada di hadapannya. Pram menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Walaupun belum lama Mutiara menjadi sekretarisnya tapi Mutiara sudah sangat membantu pekerjaannya selama ini. Tapi mengingat pekerjaan Mutiara sebagai sekretarisnya berakhir hari ini membuatnya merasa kehilangan. Walaupun sebentar lagi Pram akan menikah dengan Mutiara tetap saja Pram merasa ada yang hilang.
"Kamu tidak menunggu sampai jam kantor selesai?" Tanya Pram.
"Saya rasa tidak perlu, saya yakin Shiren mampu melakukan pekerjaannya dengan baik." Ucap Mutiara yang lagi-lagi terdengar dingin di telinga Pram. Mutiara berubah menjadi orang lain, begitu yang dirasakan Pram.
"Baiklah, sampe bertemu di rumah." Jawab Pram lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Saya rasa kita tidak akan bertemu sampai hari pernikahan tiba." Ucapan Mutiara kembali membuat Pram menghentikan pekerjaannya. "Sopir pak Aryo sedang dalam perjalanan menjemput saya, saya akan pulang ke rumah pak Aryo hari ini."
"Begitu, ya. Baiklah, hati-hati di jalan dan sampaikan salam saya pada Pak Aryo." Ucap Pram setelah itu Mutiara keluar dari ruangan Pram.
Mutiara memesan taksi online untuk pulang ke rumah Pram, ia belum mengemasi barang-barangnya. Mutiara berniat mengemasi barang-barangnya sekaligus berpamitan pada Rose. Taksi yang ditumpangi Mutiara membelah jalanan kota, jalan yang beberapa waktu terakhir selalu dilewatinya bersama Pram. Mutiara yang dulu tak sama lagi. Dengan Mutiara yang sekarang, luka yang tertoreh di hatinya, rasa kecewa yang dirasakannya, membuat Mutiara menjadi manusia yang lebih tangguh lagi.
Setelah sampai di rumah Pram, Mutiara tak langsung menemui Rose, ia langsung masuk ke kamarnya dan mengemasi barang-barangnya. Pasti akan sangat sedih jika harus berpisah dengan Rose, wanita yang telah memberikan kasih sayang seorang ibu seperti yang selama ini ia rindukan. Tapi perpisahan ini hanya sementara waktu, mereka akan bertemu lagi saat hari pernikahan palsu itu tiba.
Ya, memang benar, perpisahan sementara itu membuat Rose sedih pasalnya Rose tidak tahu rencana Mutiara pulang ke rumah Aryo lebih awal. Mutiara pun tak merencanakannya, semalam Santi menghubungi Mutiara untuk segera kembali ke rumah. Santi mengatakan sopirnya akan menjemputnya esok hari. Santi tak mengatakan apa alasannya, ia hanya mengatakan akan menjelaskannya saat Mutiara tiba di rumah mereka.
Rose memeluk Mutiara dengan erat sebelum dirinya berpisah dengan calon menantunya. Rose pun menyampaikan salam untuk Aryo dan Santi. Air mata menetes dari pelupuk mata Rose menandakan dirinya sedih harus berpisah dengan Mutiara walaupun hanya sementara waktu.
__ADS_1