
keesokan harinya
mutiara POV
Aku mendatangi makam kedua orang tuaku seorang diri. rindu akan keduanya membuatku nekad datang dengan keadaan ku yang belum sepenuhnya pulih. Seandainya saja mereka berdua masih ada,mungkin aku bisa berbagi kesedihan ini dengan mereka. Terkadang aku berpikir mengapa Tuhan selalu membuat aku harus berpisah dengan orang-orang yang aku sayangi begitu cepat? Mengapa aku harus selalu hidup sendiri? Rasanya tidak adil tapi inilah garis hidup yang harus aku lalui. Aku menaburkan bunga diatas makam kedua nya,dan tanpa aku sadari Alex mengikuti ku.
"bukannya kakak pergi kekantor hari ini? "
Alex menggelengkan kepalanya tanpa suara
" apa aku tidak boleh berziarah ke makam mertuaku?" tanya Alex membuatku terpaku akan ucapannya. Alex duduk bersimpuh dan membacakan doa di depan makam ibuku,entah apa yang ada dalam pikirannya aku melihat ia sesekali mengusap kedua matanya.
" kita pulang sekarang,atau mau jalan-jalan dulu?" tanya Alex
" terserah kakak saja,"
" baiklah."
aku dan Alex berjalan bersama menuju mobil.
Alex membawaku ke suatu tempat. tempat yang sudah tidak asing bagiku ya,tempat itu adalah hamparan kebun teh yang dulu pernah kami datangi. Sedikit banyak aku merasa senang berada disini,hamparan hijau daun teh mampu membuatku tenang berada di tempat ini. Alex memeluk tubuhku dari belakang,aku merasakan debaran jantungnya dan aroma wangi tubuhnya yang selalu membuatku terhipnotis didalamnya.
" bukan kah dulu aku pernah berjanji akan memberikan perkebunan ini untukmu?" ucap Alex ditelinga ku. Aku membalikkan tubuhku sehingga kami berdua saling memandang
__ADS_1
" iya. Tapi,kakak tidak sungguh-sungguh kan?" tanya ku. Alex tersenyum dan berkata,
"aku sudah merubah semua surat kepemilikan tanah ini menjadi namamu."
aku terkejut mendengar ucapan alex dan Aku tak percaya ia akan melakukan hal itu.
" tapi ini terlalu berlebihan."
" tidak ada yang berlebihan untuk seseorang sangat istimewa bagiku." Alex mengecup bibirku seakan tidak punya rasa malu ia mencium ku di tempat terbuka seperti ini.
Aku mendorong dada bidangnya dan berkata
" ini tempat umum."
Aku menatap wajah tampan itu,aku tak ingin melepaskan dan tak ingin pula berpisah dengannya. tapi aku harus pergi menghilang dari kehidupannya mulai dari hari ini,aku mengambil secarik kertas dan pulpen aku ingin meninggalkan pesan untuknya sebelum aku pergi. setelah selesai menulis aku menatap kembali wajah itu,ada perasaan perih dan teriris sakit mengingat semua kebaikan yang ia berikan kepadaku. Aku perlahan bangkit dari tempat tidur,mandi dan mengenakan kembali pakaian ku yang tergeletak di lantai.
" maaf kan aku kak,aku harus pergi." bisik hatiku pilu
Alex POV
aku masih dalam keadaan setengah sadar mencoba meraba tempat tidur dengan harapan masih bisa melakukan adegan bercinta lagi pagi ini dengan istriku. Aku segera bangun ketika menyadari bahwa mutiara sudah tidak ada ditempat ini
" kemana dia? " ucapku dalam hati
__ADS_1
pandanganku terhenti pada sepucuk surat yang tergeletak di samping lampu hias kamar ini. perlahan aku mengambilnya berharap ada petunjuk yang mengatakan dimana aku harus menemukan Mutiara.
kakak,
aku mohon maaf karena pergi tanpa pamit hari ini,maaf jika aku harus memaksakan keinginan ku untuk berpisah darimu.
Kakak,
terima kasih atas kebaikan yang telah kau berikan padaku. Terimakasih atas jutaan kasih sayang yang selalu kau berikan padaku dan maaf jika sampai detik ini aku belum bisa menjadi seorang istri yang baik.
Kakak
Jangan pernah mencariku karena ketika kau berusaha mencari ku,aku akan semakin pergi menjauh. Cukup kau doakan saja aku bahagia dengan caraku sendiri dan aku akan selalu mendoakan mu dari jarak yang sudah tak bisa kita satukan kembali.
Kakak
Berjanjilah untuk bahagia,berjanjilah untuk mendapatkan kan wanita yang sempurna untukmu,dan berjanjilah untuk tidak mengingatku lagi. Aku menunggu surat perceraian darimu kakak,,,dari aku istrimu
Mutiara
Aku menutup lembar surat tersebut. Aku tak pernah menyangka ia benar-benar ingin meninggalkan ku. ketahuilah aku rela memberikan apa pun agar terus selalu bersamanya,aku tak ingin siapapun bahkan seorang anak sekalipun yang aku mau hanya dia hanya! Karena hanya dengan dia kebahagiaan itu dalam hidupku. Aku kecewa atas sikapnya disaat aku ingin memperbaiki hubungan ini dia malah pergi meninggalkan ku dan memaksaku untuk menyerah dengan keadaan ini. Aku menangis,aku bersedih ternyata bukan hanya kehilangan kedua bayi kembarku saja,tapi aku juga harus merelakan kepergian istriku.
Aku berusaha menguatkan diri meninggalkan tempat ini,aku pikir bisa membawa kebahagian setelah melalui malam ini ternyata,yang ku telan hanyalah pil pahit yang sangat mencekik leherku.
__ADS_1
lanjut,,,,