
" aku nggak apa-apa kak," mutiara menolak ketika Alex membawanya menuju rumah sakit.
" kamu harus tetap di periksa?!" Alex tetap bersikeras membujuk Mutiara agar mau turun dari mobilnya. Mutiara masih bersikeras menolak dan tetap tak mau beranjak dari tempatnya duduk.
" kita sudah sampai sayang,,,ayolah kita temui dokter Erwin?" bujuk Alex
Mutiara menatap wajah Alex yang terlihat putus asa,dia.mendekatkan wajahnya dan berkata
" aku masih punya stok obat kan? Kita pulang saja ya,aku akan lebih baik jika minum obat tersebut."
" tapi,,," ucapan Alex terhenti ketika Mutiara memaksa Alex untuk diam.
" kak,sekalipun kau membawa aku menemui dokter Erwin, keadaan ku tidak akan lebih baik. Yang terjadi justru aku semakin ingat akan kematian ku sendiri." Mutiara lagi-lagi mencoba menahan air matanya. Alex mendekap erat Mutiara, seandainya saja bisa ingin rasanya ia bertukar tempat dengan Mutiara.
" kita pulang? " tanya Alex
Mutiara mengangguk perlahan. Untuk saat ini Alex menuruti kata-kata Mutiara ia berputar arah dan mengurungkan niat nya untuk bertemu dokter Erwin. Semoga saja malam ini tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Waktu berlalu dari hari ke hari keadaan mutiara tidak lebih baik. Semakin hari keadaannya semakin memburuk, Alex sempat ingin membawa nya berobat keluar negri namun untuk kesekian kalinya Mutiara menolak. sepertinya Mutiara sudah enggan memperjuangkan kehidupannya ia merasa hidupnya sudah berada di ujung kematian.
Di pemeriksaan terakhir dokter meminta Mutiara untuk di rawat di rumah sakit karena kondisinya memang sudah sangat tidak memungkinkan berada di rumah. Dengan sangat terpaksa ia mengikuti saran dokter dan menyerah harus tinggal di rumah sakit.
Hingga di suatu pagi
Alex masih terpejam karena semalem ia harus menjaga istrinya yang untuk kesekian kalinya harus berjuang melawan maut. Mutiara membangunkan Alex namun Alex tak juga bangun. Mutiara menatap langit-langit kamar rumah sakit,entah sudah berapa botol air infus masuk kedalam tubuhnya karena hanya dengan cairan itu Mutiara bisa bertahan sampai saat ini. Tubuhnya sudah sangat kurus,rambutnya juga sudah botak akibat kemoterapi yang dijalaninya. Mutiara mencoba bangun dari tempat tidurnya berjalan tertatih menuju kamar mandi. Hem,,,sudah lama rasanya ia tidak melihat dirinya sendiri di cermin,benarkah yang Alex katakan jika ia masih cantik? Lantas mengapa kaca kamar mandi ini harus di tutup? Alex masih terpejam ketika Mutiara berada di dalam kamar mandi. Perlahan ia membuka pembungkus cermin tersebut dan,,,
"PRANK,,,!" Mutiara menjatuhkan cermin tersebut kelantai. Alex terbangun dan segera berlari ke arah sumber suara tersebut. Alex mendapati mutiara menangis disudut kamar mandi menutup wajahnya dengan sangat ketakutan.
" ada apa sayang?" tanya Alex
" jangan pernah mendekat,pergi dan jauhi aku?!" teriak Mutiara
__ADS_1
" kenapa? " tanya Alex heran
" apa yang kau harapkan dari ku? Aku ini hanya seorang monster? " ucap mutiara lagi
Alex mengerti apa maksud dari perkataan mutiara,pasti ia terkejut melihat wajahnya saat ini. Karena alasan ini,Alex melarang Mutiara untuk bercermin.
" dengar,seperti apa pun keadaan mu. Aku tetap mencintaimu. " ucap Alex tulus. Perlahan Alex mendekat dan memeluk tubuh mutiara. Berusaha menenangkan dan menguatkan hatinya untuk tetap bersemangat.
Alex menatap wajah Mutiara yang sangat pucat tersebut,pasti rasa sakit itu sangat luar biasa sehingga mampu membuat istrinya,menjadi seperti ini. wanita yang terlihat kuat dan mandiri harus menyerah dengan keadaanya seperti ini.
Alex menggendong tubuh mutiara dan membawanya kembali keatas tempat tidurnya.
" istirahat ya,jangan pernah berpikir macam-macam." pesan Alex
" kak,sepertinya waktu ku sudah dekat." ucap mutiara lirih
" bicara apa kamu ini?" jawab Alex tak percaya
" seandainya aku tidak bisa bertahan sampai hari esok,maukah kau berjanji?" pinta Mutiara dengan suara yang mulai melemah
" esok kau akan ada,kau tidak akan meninggalkan ku." jawab Alex yang masih tak pedulikan ucapan mutiara. Mutiara meraih jemari Alex dan menggenggamnya erat
" berjanjilah untuk tetap hidup walau tanpa aku." Hening sejenak ketika mutiara mengucapkan kata-kata tersebut ,Alex melihat mutiara terpejam dan saat itu pula ia tersadar jika apa yang mutiara katakan adalah pesan terakhir untuknya.
" Tiara,,, mutiara,,,tolonglah jangan bercanda!" ucap Alex panik. Alex mengguncang-guncang tubuh mutiara namun tetap tak ada jawaban. Alex pun segera memanggil dokter dan ternyata,,
" maaf Alex. Mutiara sudah tidak ada." ucap dokter Erwin
Alex mengecup dahi yang sudah tak bernyawa tersebut dengan linangan air mata. ternyata sampai disini kisah percintaannya dengan mutiara berakhir.
Saat pemakaman berlangsung
__ADS_1
Alex hanya terdiam membisu menatap gundukan tanah yang ada dihadapannya. Memori dari awal pertemuan nya dengan mutiara hingga sampai maut memisahkan seolah-olah menari dalam ingatannya. Tak ada kata yang mampu yang ia ucapkan ketika orang-orang berdatangan mengucapkan bela sungkawa kepadanya.
" sabar Lex,lu pasti kuat." ucap Willy
" kuat? Untuk apa? separuh jiwa gue udah nggak ada." jawab Alex dengan tatapan hampa
" lu masih punya kedua orang tua,dan gue yakin mutiara juga nggak mau lu larut dalam kesedihan ini."
mendengar perkataan Willy hati Alex sedikit terbuka
" bahagia lah walau tanpa aku." itu pesan terakhir yang mutiara ucapkan. Alex bersimpuh diatas papan nisan tersebut
" aku akan bahagia untuk dirimu,aku akan bahagia menjalani hidupku,dan aku berjanji tidak akan pernah melupakanmu. Tenang lah sayang,,,aku akan segera menemanimu." ucap Alex sedih. Alex bangkit meninggalkan pusara Mutiara,berjalan meninggalkan Willy dan orang-orang yang masih berada disana tanpa sepatah kata pun. Entah apa yang akan ia lakukan yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah ingin berjumpa dengan mutiara. Willy yang seakan tau apa yang sedang Alex pikirkan segera mencegah alex untuk berbuat konyol!
Willy menarik tangan Alex ketika Alex berusaha membuka pintu mobilnya
" jangan konyol! " cegah Willy
" minggir." jawab Alex menantang
" lu harus pikirin perasaan kedua orang tua lu? Sadar,,,Alex yang gue kenal nggak kaya gini? " ucap Willy dengan nada meninggi
" lantas buat apa gue hidup sekarang? lu tau seberapa pentingnya mutiara buat gue? Dan sekarang buat apa gue ada disini? " Alex memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi kepada Willy. Menambah rasa sakit dan sesak di dadanya Alex meninju pohon besar yang ada di sampingnya
" kenapa kau selalu membuatku berpisah dengannya? mengapa? Apakah aku tak pantas untuknya? Jika memang demikian mengapa kau pertemukan aku dengannya? Mengapa kau selalu membuat ku sakit berkali-kali tuhan,,," Alex berteriak,menangis sejadinya menumpahkan kesemua kekesalannya pada pohon besar yang ada di hadapannya.
Mama datang menghampiri Alex dengan penuh kasih ia memeluk tubuh Alex
" kita pulang ya nak,mama dan papa sayang kamu. Jadi mama mohon jangan pernah merasa sendiri." ucap mama sedih
" kita pulang nak,tugas kita sudah selesai." papa datang menghampiri.
__ADS_1
sesuatu yang paling menyakitkan itu adalah perpisahan, perpisahan dengan orang yang sangat kita cintai untuk selamanya.