Mutiara

Mutiara
Bertemu dengan Ibu


__ADS_3

"Bagaimana kabar anak ibu yang cantik ini?" Tanya ibu Mutiara saat mereka berdua sudah sangat tenang dan melepaskan pelukan dan kembali menggenggam kedua tangan putrinya.


"Mutia baik, Ibu. Mutia hidup dengan sangat baik." Mata Mutiara berkaca-kaca. "Andai saja ibu tak pergi Mutia akan selalu membahagiakan ibu dengan apa yang saat ini Mutia capai, Bu."


"Semuanya sudah takdir, Sayang. Kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan." Ibu Mutiara berkata dengan sangat lembut pada Mutiara. Perlakuan ibunya yang seperti inilah yang membuat Mutiara sangat rindu pada ibunya. Tutur katanya yang lembut dan penuh kasih sayang. Tak pernah sekalipun ibunya membentaknya walaupun Mutiara melakukan kesalahan. Ibunya hanya akan menasehati Mutiara dengan kata-kata yang bijak sehingga Mutiara mampu memperbaiki kesalahanya dan menjadi lebih baik.


"Sebentar lagi Mutiara akan menikah." Mendengar ucapan Putrinya mata Ibu Mutiara nampak berbinar. "Tapi Mutiara merasa hampa." Lanjut Mutiara dengan wajah menunduk.


Ibu Mutiara mendongakkan wajah putrinya yang nampak sedih, kemudian berkata, "ibu yakin kelak kamu akan bahagia, Sayang. Kamu hanya perlu melewati sedikit jalan berliku untuk mendapatkan kebahagiaanmu.”


"Maksud ibu apa?" Tanya Mutiara yang sedikit bingung dengan kata-kata ibunya.


" Nanti kamu akan tahu, Mutia." Jawab ibu Mutiara. "Dan lagi, ibu berharap kamu mau memaafkan ayahmu. Seburuk apapun ayahmu ia tetap ayahmu, kamu tak bisa menghapus jejak bahwa dia ayahmu."


"Mutia belum bisa memaafkannya, Ibu. Laki-laki seperti dia tak pantas di maafkan." Mutiara tetap teguh pada pendiriannya.


"Pikirkan baik-baik apa yang ibu ucapkan padamu, tak baik menyimpan dendam apalagi untuk ayahmu sendiri." Ibu Mutiara memeluk Mutiara dengan sangat erat. "Ibu tak bisa berlama-lama disini, ibu harus pergi." Ucap ibu Mutiara lagi setelah melepas pelukannya pada Mutiara. Tak berapa lama tubuh ibu Mutiara perlahan menjadi transparan dan kemudian menghilang dalam sekejap.

__ADS_1


"IBU! IBU! IBU!!!"


Seketika Mutiara terbangun. Keringat dan air mata membasahi wajahnya. Mutiara baru menyadari bahwa pertemuannya dengan ibunya hanya mimpi, mimpi yang seperti nyata.


"Apakah kamu tadi memimpikan ibumu?" Mutiara terkejut ada seseorang di dalam kamarnya. Mutiara baru menyadari siapa pemilik suara itu, Ya, Pram yang ada di kamarnya.


"Pak Pram? Apa yang bapak lakukan di sini?" Tanya Mutiara tanpa menjawab pertanyaan Pram.


"Mama meminta saya untuk memanggilmu, sudah waktunya makan malam." Jawab Pram. "Saya mengetuk pintu kamarmu berkali-kali, tapi sama sekali tak ada jawaban. Karna saya khawatir terjadi sesuatu jadi saya masuk saja. Dan benar,saya melihat tidurmu sangat gelisah dan menyebut kata ibu. Sepertinya kamu sangat merindukan ibumu." Pram memberi penjelasan.


Menyadari ucapan Pram, Mutiara segera menghapus air mata di pipinya tanpa mengatakan apa-apa pada Pram. Tapi memang benar ia sangat merindukan ibunya. Mengingat mimpinya itu, matanya mulai berkaca-kaca lagi. Ia masih bisa merasakan aroma tubuh ibunya yang seperti candu yang mampu menenangkan hatinya. Suaranya dan tutur kata yang lembut yang selalu ia rindukan kini terngiang-ngiang di kepalanya. Mutiara mengingat setiap kata yang diucapkan ibunya. Kata demi kata tak ada yang terlewat. Setiap nasihat yang ibunya tuturkan benar-benar masuk ke dalam hatinya.


Sisi lain Mutiara ingin memaafkan ayahnya, tapi di sisi lainnya lagi mengatakan tak perlu memaafkan laki-laki yang menjadi penyebab kepergian ibunya. Mutiara seperti dilanda kebimbangan. Tak bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan. Hatinya rindu pada ayahnya tapi sekaligus membencinya, mengingat sekarang ia sudah hidup bahagia dengan keluarga barunya.


"Rapikan dirimu, karna kamu sudah di tunggu untuk makan malam bersama." Ucapan Pram menyadarkan Mutiara yang sedang melamun.


"Ah iya, Pak. Saya segera kesana." Mutiara segera beranjak dari ranjangnya menuju ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.

__ADS_1


Pram meninggalkan kamar Mutiara. Setelah berada di balik pintu. Ia terdiam sejenak. Seperti ada yang dipikirkannya tapi tak ingin mengungkapkannya. Pram memilih menyimpannya untuk dirinya sendiri.


Setelah makan malam, terdengar suara bel pintu berbunyi. Asisten rumah tangga di rumah Pram dengan langkah cepat berjalan ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Tak lama ia kembali menghampiri Pram dan keluarganya di ruang keluarga yang terletak di samping ruang makan. Mereka tengah berbincang santai, seperti yang selalu keluarga Pram lakukan setelah makan malam sebelum mereka kembali ke kamar untuk beristirahat.


"Nyonya, ada tamu yang ingin bertemu dengan Nyonya dan Tuan." Ucap asisten rumah tangga itu.


"Siapa, Bik?" Tanya Rose.


"Kalau tidak salah tadi namanya pak Aryo." Jawab asisten rumah tangga yang dipanggil bibik itu.


Mendengar hal itu tentu saja membuat Mutiara terkejut. Ia tak mengerti apa yang akan dilakukan ayahnya di sini. Bukankah kalau mengenai acara lamaran, seharusnya keluarga pak Surya yang datang kerumahnya. Pikir Mutiara. Tapi ia pun enggan untuk beranjak dari tempat duduknya walaupun Pram, dan orang tuanya sudah meninggalkan ruang keluarga. Mutiara masih enggan bertemu dengan ayahnya. Memang ibunya sudah memintanya memaafkan Aryo melalui mimpinya tapi saat ini Mutiara belum siap. Pedihnya luka yang di torehkan Aryo masih bisa Mutiara rasakan. Tak mudah bagi Mutiara memaafkan Aryo.


Bukankah ini hanya pernikahan kontrak? Biarlah mereka saja yang mengatur semuanya. Aku rasa aku tak perlu peduli. Setidaknya aku tak ingin melihat laki-laki itu. Pikir Mutiara


Akhirnya Mutiara beranjak dari tempat duduknya, ia bermaksud pergi ke kamarnya saja. Tak ingin ada kesempatan bagi Aryo untuk bisa menemuinya.


"Mutia." Mutiara mengenali suara yang memanggilnya itu. Ia menghentikan langkahnya tapi tak menoleh ke belakang. Dadanya bergemuruh, air matanya mencoba untuk membanjiri pelupuk matanya tapi Mutiara berusaha menahannya. Ia tak ingin Aryo melihat ia menangis. Aryo menghampiri putrinya itu, kemudian mencoba menyentuh tangan Mutiara setelah mereka saling berhadapan. Dan tentu saja tangan Aryo di tepis dengan kasar oleh Mutiara. Mutiara menatapnya nanar, air mata yang ia tahan lolos juga akhirnya. Aryo yang melihat Mutiara menangis hatinya terasa pilu dan sedih. Aryo menyadari karnanya Mutiara harus menjalani hidup yang keras dan harus menderita.

__ADS_1


"Pukul ayah, Mutia, kalau itu bisa meringankan beban di hatimu. Pukul ayah kalau itu bisa membuatmu memaafkan ayah. Ayah minta maaf. Ayah sangat menyesal." Tutur Aryo dengan deraian air mata dan penyesalan yang dalam. Aryo luruh, berlutut di hadapan Mutiara. Mencoba memohon pengampunan pada putrinya itu. Mutiara yang melihat Aryo berlutut dan menangis di hadapannya itu tak ayal semakin membuat tangisnya pecah. Hanya tangis tak ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Isak tangis dan deraian air mata menjadi pemandangan yang memilukan hati.


Rose yang melihat apa yang terjadi di hadapannya, ikut merasakan kesedihan mereka. Air matanya lolos dari pelupuk mata. Ikut menangis sesenggukan menyaksikan pertemuan ayah dan anak yang tengah mengalami konflik. Pram sudah menceritakan tentang hubungan ayah dan anak itu yang tidak berjalan baik. Peristiwa masa lalu yang menjadi penyebab konflik diantara keduanya. Rose melihat masih ada kasih sayang di mata Mutiara untuk ayahnya. Sekaligus rasa benci,bukan, bukan benci hanya rasa marah yang tak tersalurkan yang bertumpuk-tumpuk selama bertahun-tahun. Pram juga mengatakan bahwa Mutiara adalah gadis yang baik, cerdas, tegas dan penuh percaya diri. Rose juga tahu bahwa sebenarnya Mutiara juga sangat menyukai uang atau bisa dibilang matrealistis. Tapi bukankah di balik kelebihan yang dimiliki seseorang pun ada kekurangan di dalamnya. Rose berpikir mungkin peristiwa di masa lalu yang membentuknya menjadi Mutiara yang sekarang.


__ADS_2