Mutiara

Mutiara
Pernikahan Kontrak?


__ADS_3

”Beberapa waktu yang lalu, aku sudah membuat ini." Pram menyodorkan secarik kertas pada Mutiara. "Bacalah!" Titahnya kemudian.


"Pernikahan kontrak???" Tak terlintas dalam benak Mutiara bahwa hal ini adalah rencananya. Haha.. bagaimana mungkin seorang Pram memikirkan hal seperti ini.


Pram hanya memberikan jawaban melalui kedipan matanya.


"Apakah pak Pram sudah gila??" Mutiara masih tak habis pikir dengan jalan pikir Pram.


"Saya tidak gila. Saya akan memberikan apapun yang kamu mau selama pernikahan kontrak kita berjalan dengan lancar." Papar Pram. "Satu lagi saya tak ingin ada seorang pun yang tahu tentang hal ini, termasuk kedua orang tua saya."


Mutiara tak tahu harus berkata apa. Memang ia sudah menduga Pram sedang merencanakan sesuatu, tapi apakah harus pernikahan kontrak? Astaga...


"Banyak keuntungan yang bisa kamu dapat dari pernikahan ini. Seperti yang tertera di surat perjanjian pernikahan kontrak ini." Jelas Pram. "Bacalah baik-baik sekarang! Dan saya ingin kamu menandatangani surat perjanjian itu saat ini juga."


"Saya pikir, pak Pram lelaki yang berbeda. Ternyata saya salah." Ucap Mutiara setelah membaca surat perjanjian di tangannya. Nada bicara dan raut wajahnya terlihat kecewa. Mutiara menatap tajam pada Pram.


"Seperti inilah saya kalau kamu ingin tahu." Pram membalas tatapan Mutiara.


"Bagaimana kalau saya menolak pernikahan kontrak ini?" Tanya Mutiara.


"Saya tidak menerima penolakan. Tentu saja kalau kamu menerima, saya akan menjamin kehidupanmu dengan kemewahan dan harta. Seperti yang kamu inginkan selama ini." Pram meyakinkan Mutiara. Pram mencoba memanfaatkan kelemahan Mutiara yang sangat menyukai uang.


"Sebelum saya menandatangani ini." Mutiara mengangkat secarik kertas di tangannya. "Saya ingin bertanya, kenapa harus pernikahan kontrak?"

__ADS_1


"Kamu tak perlu tahu alasannya. Kamu hanya perlu menikmati setiap sen yang kamu terima dari pernikahan kontrak ini." Ucap Pram tegas.


Laki-laki ini benar-benar susah ditebak. Kadang ia bisa bersikap manis, lembut, tapi di juga bisa bersikap seenaknya seperti ini. Kalau pun memang mau menikahi seharus menikah saja kenapa harus ada pernikahan kontrak seperti ini walaupun isi dari perjanjian itu pun memang malah lebih menguntungkan untuk Mutiara. Selama pernikahan kontrak Mutiara akan diberi gaji sebesar seratus juta sebulan belum termasuk uang belanja dengan nominal yang sama dengan gajinya. Sebuah apartemen mewah pun akan Mutiara miliki setelah menikah dengan Pram. Belum lagi gajinya sebagai sekretaris Pram naik tiga kali lipat dari sebelumnya. Ya di dalam perjanjian itu Pram tetap menginginkan Mutiara bekerja sebagai sekretarisnya.


Ingin sekali rasanya Mutiara menolak pernikahan kontrak ini. Kalau boleh jujur, Mutiara ingin menikah secara normal dan memiliki keluarga yang mencintainya. Selama ini ia hanya sendiri dan sering merasa kesepian. Tapi melihat nominal yang tertera di surat perjanjian itu juga sangat menggiurkan untuk Mutiara. Setidaknya hidupnya akan terjamin setelah menikah dengan Pram, walaupun pernikahan itu hanya pernikahan kontrak. Dan mungkin saja ia akan merasakan kasih sayang seorang ibu dari Rose dan merasakan memiliki keluarga. Selama satu tahun kedepan Mutiara akan menikmati kemewahan dan kasih sayang dari keluarga Pram. Seperti itulah yang ada dipikiran Mutiara. Ya, di dalam surat perjanjian pernikahan Kontrak itu berlaku selama satu tahun saja.


Dan akhirnya tanpa banyak bicara lagi Mutiara menandatangani surat perjanjian itu, kemudian menyerahkan surat perjanjian itu pada Pram yang kemudian ditandatangani pula oleh Pram.


"Baiklah, kamu urus segala keperluan pernikahan kita, cari Wedding Organizer yang bagus di kota ini." Ucap Pram setelah menandatangani surat perjanjian pernikahan kontrak itu. "Simpanlah surat perjanjian ini." Imbuhnya.


"Saya sendiri, Pak?" Mutiara mencoba memastikan.


"Iya, tentu saja kamu." Jawab Pram tegas.


"Baiklah, Pak." Setelah itu Mutiara meninggalkan ruang kerja Pram, tak lupa ia membawa surat perjanjian pernikahan kontrak yang diberikan Pram padanya. Tentu saja setelah menyimpannya di dalam amplop berwarna coklat yang juga diberikan oleh Pram.


"Saya hanya ingin tahu apa rencana Pram tiba-tiba bersedia untuk menikah denganmu." Jawab Rose tanpa basa-basi.


Sepertinya ibunya juga tahu kalau putranya itu memiliki rencana terselubung di balik keputusannya menikah denganku. Tapi apakah dia mendengar pembicaraan kami? Batin Mutiara.


"Apa maksud nyonya?" Mutiara pura-pura tidak tahu.


"Saya hanya tidak percaya pada keputusannya yang tiba-tiba itu. Apakah dia tidak memberi penjelasan padamu?" Tanya Rose menyelidik.

__ADS_1


Sepertinya nyonya Rose tak mendengar apa-apa. Pikir Mutiara.


"Pak Pram tak mengatakan apapun, Nyonya. Kami hanya membicarakan pekerjaan." Mutiara berbohong. "Beliau hanya meminta saya untuk mencari wedding organizer yang bagus untuk pernikahan kami." Imbuhnya.


"Anak itu, kok malah menyerahkan semuanya ke kamu sih." Gerutu Rose. "Untuk masalah pernikahan kalian, biar saya saja yang urus semuanya. Kamu jangan khawatir." Rose membelai rambut Mutiara dengan lembut sembari tersenyum menatap Mutiara.


"Terima kasih, Nyonya." Perasaan hangat dirasakan Mutiara saat Rose membelai rambut Mutiara. Hal yang ia rindukan yang tak bisa lagi ia rasakan dari ibunya. Sepertinya ada baiknya Mutiara menyetujui pernikahan kontrak ini. Karna dengan begini dirinya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang telah lama tak ia rasakan.


"Sama-sama. Hmmm...ngomong-ngomong apa yang kamu bawa itu?" Tanya Rose saat ia melihat amplop cokelat di tangan Mutiara.


Deg!


"Ah ini?" Mutiara mengangkat amplop cokelat di tangan kanannya. "Ini berisi kontrak dengan klien yang harus ditandatangani, Nyonya. Pak Pram meminta saya membawa berkas ini karna besok saya yang akan bertemu langsung dengan klien." Mutiara berbohong lagi.


"Begitu? Baiklah. Saya mau bicara dengan Pram kalau begitu." Ucap Rose setelah mendengar penjelasan Mutiara. Kemudiaan melangkah menuju ruang kerja Pram.


"Ah iya, karna sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini, berhentilah memanggil saya nyonya. Panggil saya Mama seperti Pram memanggil saya." Rose berbalik badan saat tangannya sudah menyentuh gagang pintu ruang kerja Pram.


"Iya, Nyonya, eh, Mama." Mutiara tersenyum begitupun dengan Rose. Panggilan "mama" masih terasa asing bagi Mutiara. Bagaimanapun mereka baru saling kenal. Tapi Mutiara sangat bahagia karna kali ini ia menemukan keluarga yang begitu hangat. Tapi bukan termasuk Pram, karna ternyata ia sama seperti laki-laki lain yang hanya menganggapnya matrealistis walaupun memang begitu kenyataannya. Hanya saja perlakuannya beberapa waktu lalu tak menggambarkan Pram seperti sekarang. Dan bodohnya Mutiara menceritakan tentang kelemahan dan masa lalunya yang akhirnya saat ini dimanfaatkan oleh Pram.


*******


Dua minggu berlalu, Rose sibuk mengurus pernikahan Pram dan Mutiara. Memang mereka menggunakan jasa Wedding Organizer tapi Rose mau pernikahan kedua putranya itu berjalan sempurna. Karena itulah ia ikut turun tangan dalam persiapan pernikahan putranya. Rose sama sekali tak membiarkan Mutiara membantunya, Rose merasa sangat bahagia akhirnya putranya mau menikah lagi setelah sekian lama terpuruk karna kepergian mendiang istrinya, kini mau membuka hati untuk wanita lain. Walaupun pernikahan ini sangat mendadak tapi Rose yakin Mutiara akan sanggup membahagiakan putranya itu. Putra yang sangat dikasihinya.

__ADS_1


"Mutiara, Pram, walaupun acara pernikahan kalian sangat mendadak tapi kita dari pihak laki-laki harus melamar Mutiara pada keluarganya." Ucap Rose saat mereka baru saja menyelesaikan makan malam. "Adakah keluarga Mutiara yang bisa kita hubungi?" Tanya Rose pada keduanya.


"Ada, Ma." Jawab Pram. Mendengar ucapan Pram, Mutiara menunjukkan ekspresi tak setuju. Mutiara menggelengkan kepalanya saat Pram melihat kearahnya.


__ADS_2