
Keesokan harinya, Aryo mengajak Mutiara pergi ke kantor pusat. Selama ini Aryo tidak bekerja sendirian, ia memperkerjakan karyawannya untuk membantunya mengurus restoran-restoran miliknya. Aryo memperkenalkan Mutiara pada karyawan dan para petinggi di kantor pusat miliknya.
Mutiara terlihat kagum melihat kantor milik ayahnya itu. Mutiara tak menyangka jika Aryo bisa sesukses ini. Selama tinggal dengan Aryo, yang Mutiara tahu Aryo lebih sering berada di rumah hanya sesekali Aryo pergi untuk mengecek restorannya. Ternyata sungguh diluar dugaan Aryo memperkerjakan orang-orang ini untuk mengurus restoran-restoran miliknya. Dan mulai saat ini dirinyalah yang akan memimpin kerjaan restoran milik Aryo.
"Perkenalkan, ini adalah putri sulung saya Mutiara. "Aryo mulai memperkenalkan Mutiara yang duduk di sampingnya pada karyawan-karyawannya. Saat ini mereka tengah berada di ruang meeting yang cukup besar. Hari ini bertepatan dengan waktu meeting untuk laporan bulanan perusahaan. Aryo sengaja memilih hari ini untuk memperkenalkan Mutiara sebagai putrinya untuk menggantikan posisinya saat ini. Kesehatannya kurang baik akhir-akhir ini jadi ia merasa harus segera membuat Mutiara bisa memimpin perusahaannya dengan baik sebelum ia pergi. Ia merasa usianya sudah tidak lama lagi.
"Mulai hari ini Mutiara adalah wakil saya di kantor ini, yang akan menghandle segala urusan kantor selama saya tidak ada." Ujar Aryo lagi.
"Selamat datang bu Mutiara, selamat bergabung." Ujar salah satu staff di ruang meeting itu.
"Terima kasih, mohon kerja samanya agar saya bisa mengemban tugas yang di berikan pak Aryo dengan baik." Mutiara menanggapi.
Selanjutnya acara meeting dilanjutkan dengan membahas tentang laporan bulanan dari para staff. Mutiara menyimak dengan baik semua yang disampaikan dalam meeting pagi ini. Melihat Mutiara sangat antusias Aryo merasa senang dan bangga. Walaupun seorang perempuan tapi dia memiliki jiwa pemimpin ia mampu memimpin meeting kali ini walaupun baru pertama kali hadir di kantor milik Aryo.
"Baiklah kita sudahi meeting kali ini, silahkan kembali ke ruangan masing-masing." Aryo menutup meeting pagi ini, ia sangat puas dengan laporan dari staff-staffnya itu. Para staff membubarkan diri keluar dari luar meeting. Kini hanya tinggal Aryo, Mutiara dan Andi, assisten Aryo.
"Andi, tolong bantu Mutia. Tunjukkan apa saja yang harus di kerjakannya disini, bimbing dia. Ku percayakan Mutia padamu di sini." Perintah Aryo pada Andi saat mereka bertiga sudah di ruangan Aryo. Andi adalah orang kepercayaan Aryo. Selama ini Andi yang membantu Aryo menangani segala urusan kantor dan usahanya mencari keberadaan Mutiara.
__ADS_1
"Baik, Pak." Jawab Andi.
"Kalau begitu saya pulang dulu." Aryo berdiri. "Mutia, bekerjalah dengan baik, ayah mengandalkanmu." Aryo mengusap kepala Mutiara dengan lembut kemudia ia melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangannya. Mutiara hanya menganggukan kepalanya. Andi mengantar kepergian bosnya itu. Di luar dugaan, sesaat setelah Andi membukakan pintu untuk Aryo, Aryo tiba-tiba jatuh pingsan, dengan sigap Andi memindahkan tubuh Aryo ke atas sofa di ruangan itu. Tentu saja hal itu membuat Mutiara terkejut. Mutiara bergegas menghampiri Aryo sedangkan Andi langsung menghubungi ambulance.
Melihat Aryo yang terkulai tak berdaya ada kesedihan di hati Mutiara. Bulir bening lolos dari matanya. Apakah ia harus merasakan lagi sakitnya kehilangan? Ia pandangi wajah ayahnya, sebenci-bencinya pada Aryo ternyata dirinya begitu sedih dan takut melihat kondisi Aryo.
Tak lama kemudian ambulance datang dan membawa Aryo ke rumah sakit terdekat. Mutiara tidak mau ikut mobil ambulance, ia merasa takut. Mutiara lebih memilih pergi ke rumah sakit dengan mobil Aryo. Karna terlalu syok Mutiara sampai lupa menghubungi keluarga Aryo. Ia baru menghubungi Santi setelah sopir pribadi Aryo mengingatkan.
Santi sangat syok mendengar kabar mengejutkan dari Mutiara. Hal yang ia takutkan terjadi. Aryo terlalu menganggap enteng penyakitnya. Kalau saja Aryo mau di rawat di rumah sakit secara intensif mungkin hal ini tak akan terjadi. Santi bergegas menyusul Mutiara ke rumah sakit.
"Mutia, apa yang terjadi dengan ayahmu?" Tanya Santi saat melihat Mutiara di depan ruang inap pasien.
"Kamu tidak ikut masuk?" Tanya Santi lagi saat dirinya hendak masuk ke kamar Aryo.
Mutiara hanya menggelengkan kepalanya. Setelah mengetahui Aryo baik-baik saja itu sudah cukup bagi Mutiara. Lagi pula ia juga harus segera kembali ke kantor karna ini adalah hari pertamanya bekerja.
"Ayahmu pasti senang jika kamu mau menemaninya di dalam." Sambung Santi.
__ADS_1
"Saya harus kembali ke kantor, masalah pak Aryo saya yakin tante bisa mengurusnya dengan baik." Mutiara berdiri kemudian mengambil tasnya.
"Apakah sampai detik ini kamu masih belum memaafkan ayahmu, Mutia?" Santi mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Aryo. Kini Santi berdiri tepat di hadapan Mutiara. Ia menuntut jawaban dari pertanyaannya.
"Masuklah, saya akan kembali ke kantor." Setelah mengatakan hal itu, Mutiara melangkahkan kakinya tapi dengan cepat Santi mencegah Mutiara pergi.
"Tolong jawab pertanyaan saya, apakah kamu masih belum memaafkan ayahmu?" Santi mengulangi pertanyaannya. Ia menatap lekat kedua netra Mutiara, mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya. Tapi Mutiara hanya diam tak menjawab pertanyaan ibu sambungnya itu.
Mendapati sikap Mutiara yang seperti ini membuatnya frustasi. Santi sangat mencemaskan keadaan Aryo, ia sangat mencintai suaminya itu. Dengan tulus santi menerima kehadiran Mutiara di tengah-tengah keluarganya, ia pun menganggap Mutiara sebagai putrinya sendiri walaupun selama ini Mutiara tak pernah bersikap baik padanya maupun pada Aryo dan anak-anaknya. Santi hanya ingin Mutiara berlapang dada untuk memaafkan Aryo sehingga Aryo memiliki semangat untuk sembuh. Ia tak ingin kehilangan Aryo.
"Saya tahu mungkin sulit untukmu memaafkan ayahmu, tapi bagaimanapun dia adalah ayahmu." Santi meraih tangan Mutiara kemudian mereka duduk berdampingan di kursi tunggu rumah sakit. "Ayahmu selalu merindukanmu, dia menyesali dan merutuki kesalahannya di masa lalu. Andai saja waktu bisa diputar kembali tentu dia ingin kembali di masa itu dan memperbaiki semuanya. Hanya satu keinginan ayahmu, putri yang sangat ia rindukan ini bisa memaafkannya dan memanggilnya ayah."
"Tolong jaga pak Aryo, saya harus kembali ke kantor." Mutiara tak menanggapi apa yang dikatakan Santi. Ia lebih memilih pergi dadanya terasa begitu sesak mendengar ucapan Santi. Sekuat tenaga Mutiara menahan air matanya tak jatuh. Mutiara berjalan menjauhi Santi sembari meremas dadanya menahan sesak.
"Maafkan ayahmu, Mutia!" Ucap Santi setengah berteriak setelah melihat Mutiara pergi. "Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari." Santi hanya bisa memandang punggung Mutiara yang semakin menjauh. Santi tak habis pikir, kenapa begitu sulit memaafkan Aryo. Setelah Mutiara hilang dari pandangannya, Santi masuk ke kamar Aryo.
Mutiara sama sekali tidak berbalik. Air mata yang sedari tadi coba ia tahan kini luruh juga. Mutiara berjalan dengan cepat ia berusaha menghapus air matanya yang terus saja membanjiri pipinya. Tak dapat dipungkiri melihat Aryo sakit membuat Mutiara sedih dan takut kehilangan tapi lagi-lagi Mutiara dikalahkan oleh egonya. Egonya yang selalu menolak memaafkan Aryo dan memanggil Aryo 'ayah'. Padahal jauh dilubuk hatinya ia pun merindukan dan menyayangi Aryo bagaimanapun sikap Aryo di masa lalu.
__ADS_1
Di dalam mobil tangis Mutiara pecah. Ia menangis sesenggukan, tangis yang sedari tadi ia tahan kini ia lampiaskan sepuasnya di dalam mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil ia melarang sopir Aryo masuk sebelum ia menyuruhnya.