
Alfian kini tak dapat memendam perasaannya sukanya pada gadis didepannya ini. Ia ingin mengungkapkan perasaannnya pada Mutiara. Apapun jawabannya Alfian akan ikhlas menerimanya. Toh sesudah itu setidaknya Alfian lega. Alfian mencoba membuka suara.
"Ara",ucap Alfian.
"Iya ada apa Al", balas Ara.
Alfian menarik nafas panjang dan melontarkan isi hatinya.
"Aku suka sama kamu Ara, aku cinta kamu. Kamu mau *** sejak kapan? sejak pertama kali kita bertemh aku langsung jatuh cinta padamu Ara, aku benar benar jatuh cinta pada pandangan pertamaku. Maafkan aku karena aku telah jatuh cinta padamu, tapi rasa ini datang begitu saja. Aku merasa nyaman saat berada di sisimu, entah apa yang membuat ini terjadi tapi aku benar benar mencintaimu Mutiara. Aku harap kamu juga menyimpan rasa bagiku. Aku mau jadi pacarmu"
"Maksud kamu apa Al?" Mutiara bingung tapi terlihat rona wajahnya sudah merah merona.
"Apa kurang jelas Ara? AKU CINTA SAMA KAMU. APA KAMU MAU JADI PACARKU?" Alfian berkata dengan sedikit berteriak.
Mutiara terheran heran mendengar perkataan Alfian. Ia syok karena mengira ia baru saja kenal.
"Beri aku waktu untuk menjawab Al"
"Baik Ara, aku harap kamu punya perasaan yang sama.
Kutunggu jawabanmu 3 hari lagi". ucap Alfian penuh harap.
Mutiara hanya tersenyum.
Setelah Alfian melontarkan perasaannya pada gadis yang telah membuatnya jatuh cinta pandangan pertama ini membuat suasana jadi hening seketika.
Mutiara sudah sampai didepan rumahnya, kali ini Alfian tidak mau menurunkan Ara sebelum tiba di rumahnya seperti waktu itu.
__ADS_1
"Makasih Al", ucap Ara.
"Kutunggu jababanmuuu", balas Alfian.
Mutiara hanya tersenyum dan membalikkan badan menuju kamarnya. Ia tampak senyum senyum sendiri dalam perjalanannya ke kamar.
"Ciee nona lagi bahagia ya, ehem ehem", ledek seorang satpam di rumah Mutiara.
"Ih apaan sih pak", Mutiara tersenyum malu malu.
"Assalamualaikum", salam Mutiara masuk kedalam rumah utama.
"Dari mana aja kamu? mentang-mentang saya pergi kamu keluyuran sana sini.",oceh Ibu Tirinya tanpa menjawab salam Mutiara.
Apesss!! kenapa ibu udah pulang? bukannya ini baru sore.*batin Mutiara*.
"Maaf maaf, kamu itu maaf terus, saya bosan mendengar maafmu".
"Cuci pakaian yang saya pakai liburan bersama ayahmu! saya sudah menaruhnya di keranjang depan kamar saya", titah Ibu.
"Baik bu"
Mutiara bergegas ke depan kamar ibu tirinya untuk menjalankan perintahnya.
Sabrar Muti sabar, Allah bersama orang-orang yang sabar.*batin Mutiara*.
"Siapa yang nyuruh kamu pakai mesin cuci itu! nanti baju saya rusak. cuci pakai tangamu, sikat pelan pelan! lebih baik tanganmu lecet daripada baju saya yang lecet", oceh Maya.
__ADS_1
Ya Allah, tega-teganya ibu berkata seperti itu.*batin mutiara*
"Baik bu"
Mutiarapun mencabut colokan mesin cuci yang sudah ia colokkan tadi dan mulai mengucek baju ibu tirinya tersebut. Dan tidak terasa kristal bening itupun kembali bercucuran dari mata tiara bercampur dengar air cucian.
Kini Mutiara sudah selesai dengan cucian baju Maya. Ia kembali ke kamarnya meluruskan punggungnya. tangannya pegal karena pakaian kotor Maya cukup banyak.
Mutiara rebahan sambil menatap langit langit kamarnya. ia kembali melamun dengan pikiran yang kosong. itu adalah kebiasaan buruk Mutiara. Ia sering mengosongkan pikiran yang merupakan sesuatu yang tidak baik dilakukan.Mau gimana lagi, ia tidak mempunyai nyali dan tidak punya keinginan untuk berbagi dukanya pada orang lain.
Seketika Mutiara tiba-tiba mengingat perkataan Alfian di cafe tadi membuat mutiara tersenyum tipis. Mutiara belum jelas dengan perasaannya. dia juga bingung apakah ia suka atau tidak pada Al. tapi Mutiara juga merasa nyaman dan aman saat dia ada disisi Al. Alfian yang bersikap dingin pada semua orang tapi mengala Mutiara merasakan kehangatan Alfian.
"Ahhh apa-apaan aku ini", ucap mutiara yang keluar dari lamunannya.
.
.
.
.
.
Kira kira Mutiara terima atau tidak?
stay toon ya kak♡
__ADS_1
jgnlupa vote commentnya~♥~