
Mendengar ada keributan di bawah, Pram segera turun. Pram seperti mengenali siapa biangkladi dari keributan di rumahnya. Benar dugaannya, orang yang membuat keributan itu adalah Virda, mertuanya. Atau bisa dikatakan mantan mertua? Karna memang istrinya telah meninggal. Ya, Virda adalah orang yang selalu merecoki kehidupan Pram, dari Winda menjadi istrinya hingga istrinya itu berpulang. Apa lagi kalau bukan uang, uang dan uang. Berapapun yang Pram berikan tak akan pernah cukup untuk Virda. Virda selalu berdalih bahwa ia telah menikahkan putrinya yang sangat berharga, jadi sepantasnya Pram memberikan apa yang Virda mau. Hingga Winda meninggal pun Virda juga tetap menggunakan Winda sebagai alasan untuk meminta uang pada Pram. Tapi berbeda setelah Winda meninggal, ia selalu menyalahkan Pram atas kematian putrinya. Dengan dalih itulah ia selalu meminta uang pada Pram.
Karna rasa bersalah Pram pada Winda, Pram membenarkan tudingan Virda yang selalu menyalahkannya atas kematian Winda yang akhirnya Pram selalu menuruti keinginan Virda. Entah sudah berapa banyak harta yang Pram berikan pada Virda. Melihat hal itu, tentu saja kedua orang tua Pram tak terima. Bukan karena materi yang di berikan Pram pada Virda tapi mereka tidak terima anaknya selalu disalahkan atas kematian Winda. Kematian Winda adalah kecelakaan, murni kecelakaan. Ya, saat itu, Pram dan Winda berencana untuk liburan di luar kota. Keduanya memilih menempuh perjalanan menggunakan mobil tanpa di dampingi sopir. Mereka hanya ingin berdua saja saat itu. Mereka nampak sangat bahagia. Pram pun berkendara dengan kecepatan sedang tapi tiba-tiba dari sisi kursi Winda sebuah mobil yang sepertinya hilang kendali menghantam mobil yang mereka tumpangi dan Winda meninggal saat itu juga.
Pram yang mengetahui istrinya meninggal benar-benar merasa terpukul. Pram seperti kehilangan dunianya. Ia tak lagi tahu apa tujuan hidupnya. Kematian Winda mengubah Pram yang hangat menjadi lelaki dingin yang gila kerja. Pram memilih menyibukkan dirinya dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Sepeninggal Winda tak ada satupun yang membuat dirinya tertarik dengan dunia ini. Semuanya ia lampiaskan pada pekerjaanmya.
"Ada apa ini?" Ucap Pram.
"Akhirnya kamu menampakkan dirimu Pram." Virda menatap tajam Pram. "Jelaskan siapa perempuan ini? Apakah benar dia calon istrimu?" Tatapan Vira menyelidik ke arah Pram. Virda sedang menuntut jawaban.
Pram yang mendengar pertanyaan Virda tentu saja bingung. Sejak kapan Mutiara menjadi calon istrinya. Pram menatap ke arah Rose karna ia tahu pasti ini ulah ibunya itu. Karna selama ini memang Rose tak menyukai sikap Virda yang selalu menyalahkannya atas kematian Winda. Dan juga Rose tak suka jika Virda terus memeras Pram dengan mengatasnamakan Winda sebagai alasan. Pram tak punya pilihan lain selain menuruti semua kemauan Virda. Ia pikir itu untuk menebus segala penyesalannya karna kematian Winda. Pram berusaha membahagiakan orang tua Winda. Tapi ternyata hal itu dimanfaatkan oleh Virda untuk merong-rong Pram.
"Iya, Ma. Mutiara adalah calon istri Pram." Saat Pram menuntut jawaban pada Rose dengan tatapan matanya, Rose mengedipkan matanya. Pram mengerti dan beralih menatap Virda.
"Apa?!?! Apa katamu??!! Jangan bercanda Pram!! Winda belum lama meninggal kamu sudah mau menikah lagi??" Virda memekik mendengar jawaban Pram. Yang ada dipikiran Virda sebenarnya kalau sampai Pram menikah lagi ladang uangnya akan hilang begitu saja. Dan tentu saja dirinya tak mau hidup susah tanpa uang Pram.
"Pram sedang tidak bercanda, Ma." Hanya itu yang keluar dari mulut Pram. Entahlah Pram merasa aneh kenapa ia harus menuruti kebohongan ibunya itu dengan mengatakan Mutiara adalah calon istrinya. Padahal kenyataannya Mutiara hanya sekretarisnya saja. Dan tiba-tiba terlintas ide konyol di kepalanya.
Sedangkan Mutiara sendiri pun terkejut karna Pram mengakuinya sebagai calon istrinya. Kalau Rose yang mengatakannya Mutiara tak terlalu terkejut karna memang Rose yang meminta dirinya mendekati Pram dan membuatnya jatuh cinta padanya. Tapi Pram?? Bos satu ini tak bisa di tebak. Pikir Mutiara. Lagi-lagi mau tidak mau dirinya hanya diam saja dan melihat apa yang sedang terjadi.
Virda menatap tak suka pada Mutiara. Sedangkan Mutiara yang sering mendapat tatapan seperti itu, memandang Virda biasa saja tanpa rasa takut sedikitpun. Tak ada yang perlu ia takutkan pada parasit seperti Virda, Pikir Mutiara.
__ADS_1
"Kami mau sarapan. Mama mau sarapan bersama kami?" Ajak Pram dengan sopan.
"Tak perlu. Aku tak terima anakku dilupakan begitu saja. Kau pikir bagaimana perasaanku kehilangan anakku, he?!?" Virda menampakkan wajah sedihnya. Rose yang melihat ekspresi wajah Virda tersenyum sinis. Rose tahu Virda hanya sedang berakting.
Tanpa memperdulikan Virda lagi Pram meninggalkan Virda menuju ruang makan. Raut wajah Virda terlihat sangat marah. Baru pertama kali Pram tak peduli pada kedatangan Virda. Padahal biasanya ia akan selalu menuruti kemauan Virda. Apapun itu. Sepertinya rasa bersalah itu sudah sedikit memudar di hati Pram. Pram sudah mulai sedikit mengikhlaskan kepergian Winda.
Rose menggandeng tangan Mutiara, mengajak Mutiara ke ruang makan meninggalkan Virda. Saat tepat di hadapan Virda Rose menyunggingkan senyum sinisnya.
"Maaf ya jeng Virda, tapi saya tak mengundangmu untuk sarapan bersama kami. Kamu tahu kan dimana pintu keluarnya??" Mendengar Ucapan Rose, Virda menghentakkan kakinya kemudian meninggalkan rumah Pram dengan marah.
"Awas saja kalian, aku akan membuat kalian menyesal memperlakukanku seperti ini." Virda bermonolog setelah keluar dari rumah Pram. Virda memandangi rumah Pram dengan kemarahan.
Sementara itu di ruang makan...
" Maaf, Pak Pram..." Mutiara menjeda ucapannya.
"Ada apa Mutiara?" Tanya Pram.
"Hmmm, kenapa Pak Pram mengatakan pada Bu Virda kalau saya calon istri Pak Pram?" Jawab Mutiara tanpa basa-basi. Pram tak langsung menjawab pertanyaan Mutiara. Ia diam sambil beberapa kali memasukkan makanan ke mulutnya dengan tenang.
"Kalau kamu sudah selesai makan, temui saya di ruang kerja. Ada yang mau saya bicarakan." Pram mengelap mulutnya menggunakan tissu kemudian pergi meninggalkan Rose dan Mutiara di ruang makan. Tanpa menjawab pertanyaan Mutiara.
__ADS_1
Apa yang sedang kamu rencanakan, Pram? Batin Rose. Rose tahu betul bagaimana tabiat putra tunggalnya itu. Begitu besar cintanya pada Winda, Rose tahu tak mungkin secepat itu Pram melupakan mendiang istrinya itu. Walaupun memang saat ini ada kilatan cinta di mata Pram untuk Mutiara tapi Rose yakin ada yang direncanakan Pram saat ini.
Tak lama sepeninggal Pram dari ruang makan, Mutiara pun berpamitan pada Rose untuk menemui Pram di ruang kerjanya kemudian diikuti anggukan kepala dari Rose.
Mutiara tahu, ada sesuatu yang akan terjadi. Mutiara belum melihat cinta di mata Pram, jadi tak mungkin secepat itu Pram memutuskan mau menikah dengan wanita lain termasuk dirinya. Mengingat, bagaimanapun usaha Mutiara untuk menggoda Pram sampai detik ini sama sekali tak membuahkan hasil. Walaupun kadang Pram bersikap lembut padanya. Tapi Pram tak seperti laki-laki lain yang dengan cepat di takhlukan oleh Mutiara. Gadis cerdas seperti Mutiara tak mungkin percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan Pram. Pasti ada sesuatu yang direncanakan Pram. Hal itulah yang ada di pikiran Mutiara.
Tok tok tok....
Mutiara mengetuk pintu ruang kerja Pram kemudian masuk setelah Pram mempersilahkannya masuk.
"Apakah kamu bisa mengatur pesta pernikahan kita?" Ucap Pram tanpa basa-basi setelah Mutiara duduk di depannya. "Lebih cepat lebih baik." Ucap Pram lagi tanpa menunggu jawaban dari Mutiara. Pertanyaan yang Pram ajukan lebih merujuk pada perintah yang harus Mutiara lakukan.
"Pernikahan kita? Apakah pak Pram serius? Kenapa harus saya?"
"Karna orang tua saya menginginkan kamu menjadi menantunya, bukankah begitu?"
Ternyata laki-laki ini tahu rencana kedua orang tuanya. Batin Mutiara.
"Kenapa pak Pram menyetujuinya? Bukankah bapak sangat mencintai bu Winda?"
"Inilah tujuan saya meminta kamu datang ke ruangan ini untuk membicarakan tentang masalah ini."
__ADS_1
Benar memang ada sesuatu yang direncanakan Pram saat ini. Pikir Mutiara.